
Masih dikamar Wanda, Neyna berharap Wanda mau menceritakan apa yang terjadi, namun Wanda hanya diam tak kunjung bicara,
“Baiklah,,kalau memang kamu tidak mau bercerita, tapi satu hal yang harus kamu tau kalau aku ingin menjalani rumah tangga yang sebenar - benarnya rumah tangga, yang selalu berbagi suka dan duka, dan yang selalu ada dalam susah dan senang” Ucap Neyna sambil beranjak dari sisi tempat tidur Wanda.
Saat Neyna akan berdiri, Wanda menarik tangan Neyna, Neyna menoleh dan menatap Wanda,
“Tetap lah disini, temani aku” Ucap Wanda masih menatap Neyna.
Mengambil posisi duduk diatas kasur, Lalu Wanda memintanya untuk duduk bersandar ditempat tidur dengan menambahkan bantal intuk menyanggah punggung Neyna, agar Neyna tidak merasa pegal karena perutnya yang sudah membuncit, Wanda pun duduk persis disebelah Neyna dengan posisi bersandar pada sisi tempat tidurnya.
Beberapa menit mereka masih diam, tak ada yang memulai pembicaraan, hingga akhirnya Wanda memulai pembicaraan,
“Aku gak tau mau memulai cerita ini dari mana, yang jelas saat ini memang aku sedang sakit, hanya tinggal menunggu waktu” Ucap wanda lirih
Seketika Neyna menoleh kearah Wanda yang berada disisi kanannya
“Maksud kamu menunggu apa?” Tanya Neyna
“Aku menderita leukemia, sudah stadium akhir, kemungkinan untuk sembuh itu sangat kecil dan parkiraan dokter aku tidak bisa bertahan lebih dari 2 tahun, bahkan bisa kurang dari itu” Ucap Wanda menatap kosong didepannya
Neyna terkejut mendengarnya, dadanya terasa bergemuruh, jantungnya berpacu lebih kencang dari biasanya,
“Apa dokter itu tuhan, sampai - sampai dia bisa memprediksi umur seseorang?” Ucap Neyna dingin
“Dia memang bukan tuhan Ney, tapi dia bisa melihat dari hasil pemeriksaan aku selama ini, melihat riwayat keturunan ku, aku mewarisi penyakit Mama yang juga meninggal karena leukemia, aku hanya tidak bisa membayangkan jika nanti aku tidak ada lagi di dunia ini, sebelum anak kita lahir, dia akan kehilangan figur seorang Ayah dalam hidupnya, aku kehilangan ibu sejak aku masih kecil, itu sudah cukup membuatku hancur berkeping - keping, membuatku haus akan perhatian, kasih sayang seorang ibu, cinta seorang Ibu dan omelan seorang Ibu Yang sangat aku rindukan, bagaimana anakku akan menghadapi kehidupannya tanpa seorang Ayah” Ucap Wanda dengan tatapan kosong.
Neyna merasa sulit bernafas, seperti ada yang menutupi saluran pernafasannya, terasa berat menghimpit. menarik nafas dalam lalu menghembuskannya
“Bukan kah jodoh, rezeki dan maut itu adalah rahasia Tuhan, kenapa manusia mau mendahului tuhan untuk masalah itu, apa pun bisa saja terjadi, jika DIA berkehendak, maka segalanya bisa terjadi, tinggal kita berikhtiar dan do’a, segala yang tidak mungkin bisa jadi mungkin” Ucap Neyna
“Tapi Ney, aku udah punya contoh, mama ku sendiri, kala itu dokter mengatakan kalau mama hanya bisa bertahan kurang lebih 1 tahun, padahal semua usaha sudah dilakukan, dari mulai kemotherapy, pengobatan tradisional sampai pengobatan alternatif, semua diusahakan, tapi memang yang dikatakan dokter itu benar, tak sampai satu tahun mama pergi meninggalkan kami” Ucap Wanda dengan mata yang mulai menggenang, teringat saat terakhir kalinya ia melihat mamanya.
“Kamu percaya tuhan kan? Gak ada Yang gak mungkin asal kita berusaha, jika memang setelah kita berusaha tuhan tetap berkehendak lain, setidaknya kita sudah mencoba, aku akan selalu ada disamping kamu melalui nya” Ucap Neyna menguatkan.
Wanda menoleh kearah Neyna yang juga menatapnya, terlihat butiran kristal bening terjatuh dari sudut matanya, Neyna tersenyum menguatkan, Lalu Wanda meraih tangan Neyna,
“Ney,,aku gak sanggup harus berpisah dari kamu, dari anak kita nanti, baru saja aku merasakan hangatnya kehidupan berumah tangga sambil menanti ke lahiran buah hati kita, aku gak tau apa aku sanggup menghadapi ini semua, menatap wajah orang - orang terkasih dalam hidupku, nantinya akan aku tinggalkan” Ucap Wanda lirih dengan kelopak mata yang basah karena air mata.
Mendengar ucapan Wanda, Neyna pun tak kuasa menahan genangan dipelupuk matanya dan akhirnya genangan itu menetes dipipi mulusnya.
“Kita akan terus bersama melaluinya, apapun yang terjadi aku akan tetap disamping kamu, aku janji” Ucap Neyna
Wanda terkejut mendengar ucapan Neyna
“Tapi,,bagaimana dengan perjanjian itu? bukankah ini sudah mendekati masa perjanjiannya berakhir?” Tanya Wanda mengingatkan Neyna
“Perjanjian itu sudah tidak berlaku, yang terpenting sekarang adalah kita menjalani rumah tangga ini selayaknya rumah tangga pada umumnya, aku akan berusaha menjadi istri dan Ibu bagi keluarga kecil kita kelak” Jawab Neyna
Wanda pun meraih pundak Neyna dan memeluknya erat, mereka berpelukan dan saling menguatkan.
Keesokan paginya, Neyna lebih dulu terbangun, menggeser perlahan tangan Wanda yang melingkar dipinggangnya, sebelum beranjak dari tempat tidur, Neyna meletakkan punggung tangannya pada dahi Wanda untuk mengecek suhu tubuh Wanda, sudah normal dan tidak panas lagi, lalu Neyna pun bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan diri kemudian melaksanakan shalat shubuh dikamarnya.
Setelah shalat Neyna menuju dapur untuk menyiapkan sarapan pagi. Dibukanya lemari pendingin untuk mengecek persediaan bahan masakan.
Sudah lama Neyna tidak berbelanja, hingga stok bahan masakan di kulkasnya hanya tinggal telur, sosis, nugget dan kentang goreng, rencananya nanti dia akan pergi berbelanja.
Pagi ini Neyna akan memasak sarapannya dengan bahan yang ada, telur gulung Isi sosis dengan mayonnaise dan saos sambel.
Setelah selesai memasak Neyna menuju kekamar wanda untuk membangunkan Wanda.
Diketuknya pintu kamar wanda,
Tok..tok..
“Wanda kamu udah bangun,,Boleh aku masuk?” Ucap Neyna dari luar kamar, namun tak ada jawaban, dibukanya handle pintu kemudian ia masuk dan mencari keberadaan Wanda yang sudah bangun.
Terdengar suara gemericik air dikamar mandi, Neyna pun mendekat pada pintu kamar mandi,
“Nda,,kamu berangkat kerja hari ini?apa sudah enakan?” Tanya Neyna
“Iya,,Sayang aku kerja, udah kok udah enakan” Jawab wanda dari dalam.
Kemudian Neyna membuka lemari pakaian Wanda dan memilih pakaian Yang akan dikenakan wanda lalu meletakkan nya diatas kasur yang sudah Neyna rapikan.
Tak lama suara pintu kamar mandi terbuka, Wanda keluar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk yang melilit dipinggangnya.
Neyna yang masih beberes didalam kamar Wanda merasa canggung, ia pun bergegas keluar kamar, namun seketika wanda menarik tangan Neyna
“Kamu mau kemana? katanya kamu akan terus berada disamping ku, menemaniku” Ucap Wanda yang berdiri dihadapan Neyna sambil memegang lengannya.
“Aaa aku...Cuma mau ke dapur mau buat kopi kamu kok” Jawab Neyna terbata karena merasa gugup
“Nanti aja buat kopinya, sekarang bantuin aku pakai baju” Ucap Wanda di telinga Neyna, yang membuat Neyna menggeliat kegelian.
Lalu Wanda mulai mengenakan kaos ********** lalu mengambil kemejanya yang tadi sudah di siapkan Neyna,
“Bantuin makenya dong sayang, kan gak apa sekali - kali manja sama istri sendiri” Ucap wanda menggoda Neyna
Wajah Neyna bersemu merah, lalu dia mengambil kemeja tersebut dan memakaikannya ke Wanda, saat Neyna hendak mengancing kemeja Wanda, posisi mereka saling berhadapan, Wanda terus menatap Neyna hingga Neyna salah tingkah.
Wanda mengangkat dagu Neyna yang tertunduk dengan tangannya hingga tatapan mereka saling beradu
“Neyna Wira Tanaya,,istriku, cinta pertamaku, I Love You till die” ucap Wanda, membuat Neyna semakin gugup melihat Wanda semakin mendekatkan wajahnya menatap Neyna dengan tatapan kerinduan Yang sudah lama tertahan, kali ini dia akan melapiaskan kerinduannya pada kekasih halalnya yang sudah dengan ikhlas menyerahkan dirinya.
Berlahan Wanda mengangkat tubuh Neyna keatas tempat tidurnya, karena urusan ini harus dituntaskan pagi ini juga, batin nya, Neyna hanya diam mengikuti keinginan Wanda, karena dia sudah sadar, itu adalah hak suaminya jika menolak suami, dosa akibatnya.
Akhirnya pagi itu Wanda menuntaskan hasratnya yang sekian lama tertahankan. Namun ada sedikit perbedaan yang dirasakan Wanda, karena kali ini mereka melakukannya dengan ikhlas dan dalam keadaan waras tidak sedang lupa ingatan.