Deja Vu

Deja Vu
06| THIS PAIN



"Apa syaratnya?" tanya Siyeon membuat pria itu tersenyum lebar, ia tak percaya Siyeon mengatakan kata itu. Langsung saja, ia mengubah ekspresi wajahnya menjadi biasa-biasa saja, ketika Siyeon menatapnya aneh. Ia tidak ingin Siyeon menghindarinya.


"Kau harus berada di tempat ini sampai kau berhasil menguasai semuanya, apakah kau bersedia?" tanyanya yang kini menatap wajah ragu Siyeon.


"Kenapa? Apakah kau tidak ingin keluargamu mengkhawatirkan mu?" tanyanya membuat tubuh Siyeon menegang. Pria itu menyadari kesalahannya dan langsung menatap Siyeon dengan tatapan bersalahnya, ia tak menyangka ucapannya membuat Siyeon terpukul.


"M—maaf, aku tak bermaksud," ucapnya dengan penuh penyesalan. Siyeon tertawa hambar dan menatap kosong kedua tangannya.


"Kau tak perlu meminta maaf, karena bukan hanya kau yang mengucapkan kalimat itu!" jelas Siyeon dengan suara bergetar nya, ia berusaha keras untuk menahan tangisannya. Ia tidak ingin terlihat lemah di hadapan orang lain, ia adalah Siyeon yang selalu angkuh dan kuat.


"Aku tidak punya keluarga, bahkan wajah mereka saja aku tidak tahu. Semua orang menatapku sebagai orang aneh, aku sudah biasa menahan sakit ku sendiri. Jadi, kapan kita latihan?" tanya Siyeon dengan senyum paksa di bibirnya. Pria itu tertegun dan langsung berdiri melangkah ke sebuah jalan setepak di dekat air terjun. Siyeon mengikutinya dari belakang.


"Kita latihan di sini!" serunya setelah mereka sampai di sebuah tanah lapang dengan tanah putihnya. Semua di sini seperti tidak nyata dan membuat Siyeon terus menatapnya dengan kagum, tempat yang sangat nyaman dan ia ingin tinggal di sini. Meskipun dirinya akan kembali sendirian, namun setidaknya ia merasa tenang berada di sini. Tidak seperti di tempat tinggalnya, di mana semua orang akan meninggalkannya sendiri.


"Kau sudah siap?" tanyanya membuat lamunan Siyeon sirna. Siyeon menatap pria yang kini mengeluarkan api dengan warna merah gelap di tangannya. Warna apinya tidak seperti milik Siyeon yang terdapat warnah putih di pinggirnya.


"Kenapa warna apimu begitu merah?" tanya Siyeon membuat pria itu tersenyum lebar sampai giginya terlihat, pandangan Siyeon terpaku dengan senyum menawan itu. Jantungnya kembali bergetar begitu cepat, lebih cepat dari yang tadi ia rasakan.


"Karena clan-ku berbeda denganmu," jelasnya membuat Siyeon menatapnya bingung.


"Clan? Maksudmu? Aku memiliki clan?" tanya Siyeon yang di balas anggukan dari pria yang kini merubah api menjadi crystal merah.


"Kau berasal dari clan putih, sedangkan aku dari clan hitam," jelasnya membuat Siyeon sedikit kebingungan, ia tidak mengerti dengan perbedaan warna tersebut.


"Bukannya putih itu artinya suci? Lalu hitam?"


"Iya, putih itu suci dan netral. Sedangkan hitam, itu adalah kebencian," tatapan yang lembut kini berganti dengan tatapan dingin dan menusuk.


"Sudahlah! Kau ingin mengendalikan kekuatanmu kan?" celanya ssat Siyeon hendak bertanya lagi, sehingga Siyeon hanya mendengus kesal.


Pria itu mulai melatih Siyeon dengan begitu lama, tetapi Siyeon tak pernah merasakan lelah atau pun kelaparan. Ia merasa bahwa dirinya sudah berada di tempat ini lebih dari satu minggu dan dirinya sudah bisa mengendalikan semua kekuatannya, kecuali satu. Kekuatan crystal-nya, ia akan mempelajarinya setelah keempat elemen ia kuasai.


"Untuk mengeluarkan kekuatan ini, kau harus membuat targetmu menjadi beku terlebih dahulu. Lalu matamu di fokuskan ke arah jantung target, bila itu makhluk hidup, mereka akan menjadi crystal dan jiwa mereka akan berpisah dengan raganya, mereka akan mejadi roh crystal putih yang akan menjadi benteng pertahananmu. Tetapi, kalau benda mati kau hanya mengedipkan matamu tiga kali dan mereka akan berubah menjadi crystal yang akan menjadi debu kalau kau menginginkannya lenyap. Permainan pikiran sangat penting untuk kekuatanmu," penjelasan itu membuat Siyeon tersenyum senang.


"Apakah aku bisa mencobanya?" tanya Siyeon kepada pria yang kini duduk di atas batu di belakangnya. Siyeon menatap rusa putih yang melintas di hadapannya.


"Kau sangat hebat! Tidak salah aku mengajarimu," ujar pria itu menatap kagum Siyeon yang sudah berhasil mengusai kekuatannya sendiri.


"Ini sudah satu minggu kau di sini," pernyataan itu membuat Siyeon cukup terkejut.


"Selama itu kah? Tetapi, mengapa aku tidak merasa lelah atau pun kelaparan?" tanya Siyeon membuat pria itu tertawa kencang. Merekas menjadi sangat akrab dan sering melontarkan canda, meskipun pria itu yang lebih banyak mengeluarkan candaannya.


"Itu, karena ini bukan bumi," jelasnya.


"Lalu ini tempat apa?" tanya Siyeon yang kini duduk di sebelah pria itu.


"Siyeon!" pekik seseorang membuat Siyeon mengerjapkan matanya, ia menatap ruangan berwarna putih dengan bau obat-obatan yang langsung menyengat di hidungnya.


"Akhirnya kau sadar juga!" serunya dan langsung berlari keluar untuk memanggil dokter.


"Syukurlah, pasien sadar dari koma dan jantungnya kembali berdetak normal," jelas sang dokter setelah selesai memeriksa keadaan Siyeon yang baru sadar setelah seminggu mengalami koma. Siyeon hanya menatap datar temannya—Jiu yang terlihat menghembuskan nafas lega, orang yang selalu menjemputnya saat menjalankan misi.


"Kenapa aku bisa berada di sini?" tanya Siyeon dengan mendudukkan tubuhnya. Ia tidak merasakan sakit sama sekali, melainkan tubuhnya begitu bugar dan penuh dengan energi alam. Itu yang di rasakan oleh Siyeon, dirinya sudah berhasil mengendalikan kekuatannya.


"Aku menghubungimu siang itu. Tetapi, kau tak menjawabnya sampai aku kesal dan akhirnya aku memutuskan untuk mencarimu di apartemen. Aku melihatmu sedang tertidur dan mencoba untuk membangunkanmu. Tetapi, kau tak bangun-bangun, hingga aku membawamu ke rumah sakit. Kata dokter kau sedang koma, tetapi tidak ada luka yang serius. Sehingga mereka bilang penyebab komamu ini tidak jelas dan hasil medis tidak ada yang menjelaskan tentang penyakitmu. Sebenarnya ada apa denganmu? Kenapa kau bisa koma?" Siyeon menatap jengah Jiu yang sedang mengomel kepadanya.


"Aku baru sadar dan kau malah mengomeliku!" kesal Siyeon yang di balas cengiran lebar dari Jiu. Tak selang beberapa saat ponsel Jiu berbunyi, ternyata ia mendapat tugas dari markas untuk menggantikan Siyeon yang sedang sakit. Dengan kesal wanita itu pergi meninggalkan Siyeon yang berpura-pura tertidur agar menghindari ocehan Jiu.


"Apakah kekuatanku bisa di kendalikan di sini?" gumam Siyeon yang menatap kamar tempatnya di rawat. Ia melihat sekitar ruangan untuk memastikan tidak ada cctv di sini dan ternyata tidak ada cctv sama sekali di kamarnya.


"Aku akan mencobanya," Siyeon merubah gelas minumnya menjadi es dan merubahnya menjadi crystal. Ia tersenyum puas ketika itu berhasil dengan sangat muda.


"Aku mengantuk, lebih baik kembali tidur," Siyeon menutup matanya dan kembali tertidur. Setelah benar-benar terlelap ada seseorang yang masuk ke dalam kamarnya, tidak menggunakan pintu. Orang itu menembus dinding dan berdiri di samping Siyeon. Ia menatap lekat wajah Siyeon dengan perasaan bersalahnya.


"Maafkan kesalahanku."


TBC...