Deja Vu

Deja Vu
02| TWO EYES



Happy Reading


Siyeon menatap penampilannya di depan kaca, dress berwarna hitam dengan renda di bagian bawahnya. Sehingga, lututnya tertutup. Lengannya terbuka dan rambutnya terurai panjang sampai punggung. Di umur yang sudah menginjak dua puluh tahun ini, wajahnya masih terlihat muda dan berumur delapan belas tahun.


"Sempurna," gumamnya setelah memasang sebuah anting panjang di telinga kirinya, sedangkan telinga kanannya menggunakan anting kecil yang terdapat sebuah earphone kecil.


"Aku sudah mendapatkan mimpi untuk misi ini, aku akan lebih cepat. Sehingga, aku bisa melanjutkan hobiku untuk mencari orang-orang brengsek lainnya," senyum mengerikan muncul di bibir merahnya. Ia sangat senang menambah porsi korbannya. Karena, ia sangat benci dengan orang-orang tak tahu diri yang merendahkan orang lain.


Pekerjaannya memang tidak mudah, jika itu di lakukan oleh orang lain. Tetapi, ini Siyeon. Ia akan cepat melenyapkan korbannya dan menghilangkan jejaknya sendiri. Pekerjaan ini sudah ia geluti sekitar delapan tahun, semenjak umurnya masih tujuh belas tahun. Di mana, ia harus mencari uang sendiri untuk menghidupinya. Ia lupa dengan orang tuanya, bahkan wajahnya saja ia tidak ingat atau bisa di bilang ia tidak pernah melihat kedua orang tuanya. Hanya namanya saja yang ada di ingatannya dan itu membuatnya menjadi orang aneh.


"Apakah anda menunggu lama, tuan?" tanya Siyeon kepada pria yang berumur tiga puluh tahun dengan pakaian formalnya. Pria beristri satu itu menatapa tajam Siyeon yang baru datang.


"Kenapa kau lama sekali? Aku sudah setengah jam menunggumu?" tanyanya dengan nada marah, membuat Siyeon menyeringai dalam hatinya. Sekarang dirinya mendapat tugas untuk meleyapkan salah satu koruptor yang berhasil memanipulasi bukti yang ada di tangan polisi. Cukup pintar, namun ia sangat bodoh dan tidak menyadari nyawanya akan lenyap dalam beberapa menit lagi. Siyeon meliri ke arah jam tangan yang di kenakan pria tersebut dan ia menyeringai saat tahu dalam sepulu menit korbannya akan lenyap.


"Maafkan aku, tuan. Mobil yang menjemputku ssedikit ada masalah sehinga, aku terlambat untuk menemuimu. Maafkan, aku," ujar Siyeon dengan wajah bersalahnya. Ia juga menggenggam tangan pria di hadapannya yang menurutnya sangat menjijikan itu.


"Oke, aku akan memaafkanmu. Tetapi, kita harus lebih cepat! Karena, aku akan menemui putraku," jelasnya dengan menarik lengan dengan tergesa-ges Siyeon keluar dari sebuah restoran mewah yang sudah Siyeon rusak cctv-nya. Mereka menuju ke arah mobil mewah miliknya.


"Kita ke mana, tuan?" tanya Siyeon mencoba untuk berbasa-basi. Padahal nyawa pria di sampingnya ini akan lenyap kurang dari lima menit dan tepat mereka berada akan menjadi pria tersebut menghembuskan nafas terakhirnya.


"Sungguh menyedihkan!" seru Siyeon membuat pria tersebut menghentikan mobil dan menatap bingung Siyeon yang sedang menyeringai menatapnya.


"Apa yang kau katakan? Kenapa kau menatpku seperti itu?" tanyanya dengan ketakutan di wajahnya ketika Siyeon mengeluarkan sebuah pisau yang sangat mengkilat dari tas yang ia pegang. Pria tersebut, membuka pintu mobilnya dan berlari ke segala arah.


"Kau tidak bisa kabur kaparat!" sinis Siyeon yang melangkah kecil menyusul pria tersebut. Siyeon dapat melihat jalan yang di ambil pria itu buntu dan kini tubuhnya semakin bergetar, ketika Siyeon semakin dekat dengannya.


Siyeon sudah berdiri di hadapannya dan kini tatapan Siyeon berubah menjadi sangat tajam, ia semakin mendekati pria itu. Samapi sebuah suara seruling yang selalu menemaninya ketika ia menhabiskan korbannya mulai terdengar, bukan hanya dirinya yang mendengar seruling yang sangat mengerikan itu. Tetapi, para korban-korbannya juga akan mendengar bunyi tersebut.


"Bunyi apa itu?" tanyanya dengan menatap Siyeon yang kini tertawa kencang.


"Sudah waktunya ternyata," ujar Siyeon.


"Apa maksudmu?" tanyanya yang masih sangat ketakutan.


"Tenanglah kau di neraka!" seru senang Siyeon dengan mencabut pisaunya. Setelah itu, ia kembali mendengar suara seruling yang menjadi penutup untuk misinya kali ini.


"Menjijikkan," gumam Siyeon menendang kepala pria yang sudah tak bernyawa itu sampai membentur batu bessar di sebelah mayatnya.


"Maaf aku sengaja haha," tawa yang terdengar bukanlah sebuah tawa yang sangat indah atau pun biasa, tawa tersebut sangat menyeramkan dan begitu keras sampai hewan-hewan yang berada di atas pohon bertebrangan.


"Misiku sudah selesai!" seru Siyeon yang berjalan santai kepada earphone yang terhubung dengan markasnya.


"Bagus, kau bisa beristirah dan besok pagi aku akan memberitahumu misi selanjutnya," balasan dari markass pusat. Siyeon mematikannya dan mulai memakai jaket lipat yang selalu tersedia di dalam tasnya. Ia memakai jaket panjang itu dan tak lupa menutup kepalanya dengan tudung jaket berwarna hitam itu. Dirinya menyusuri jalan kota yang cukup sepi, karena sekarang sudah pukul sepuluh malam lewat.


"Hmm? Bullying? Satu lawan tiga? Sungguh mengasikkan, aku akan membunuh ketiganya sekaligus!" gumam Siyeon ketika melihat empat pria yang sedang adu cekcok. Satu di antara di siksa dengan di jambak dan di suluti putung rokok di lehernya. Siyeon akan melakukan hal yang sama kepada mereka bertiga. Dengan langkah tenang, ia mendekati jalan sepi yang hanya ada empat orang tersebut, mereka menyadari kedatangannya dan membalikkan tubuhnya.


"Siapa kau?" tanya salah satu dari orang yang membully itu, dalam tuduh jaket itu Siyeon menyeringai mengerikan dan mulai tertawa membuat mereka berempat terkejut dengan suaranya yang terkesan sangat menyeramkan. Orang yang menjadi target bully-nya melarikan diri setelah tangan yang menahannya terlepas.


"Jangan lari kau! Kembalilah bedebah!" teriak orang yang bertanya kepada Siyeon tadi.


"Siapa kau? Kau sudah membuat target kami kabur!" suaranya yang terdengar marah itu membuat Siyeon langsung membuka tudung jaketnya.


"Wah...ternyata seorang wanita cantik yang berkeliaran malam-malam!" serunya dengan menatap sinis Siyeon yang hanya menatap mereka datar.


"Karena, kau sudah membuat target kami terlepas. Maka, kau yang mengantikannya!" pria tersebut melangkah mendekati Siyeon yang masih terdiam. Tetapi, tak lama kemudian pria itu terjatuh di tanah tak sampai tiga detik. Sekarang tinggal dua, satu dari mereka mendekati Siyeon dan menatapnya dengan amarah yang sangat jelas.


"Kau—," pria itu juga ikut tumbang di samping temannya. Satu orang menatap Siyeon dengan wajah ketakutan. Bibirnya mulai memucat dan tubuhnya bergetar ia tidak bisa beranjak dari tempatnya berdiri. Sehingga Siyeon melepar pisau yang di pengannya dan pisau itu langsung menancap di bola matanya yang masih terbuka.


"Menyedihkan sekali," gumam Siyeon dengan mengambil putung rokok yang mereka gunakan tadi. Ia kembali mendekati mereka bertiga dan mulai menghiasi wajah mereka dengan putung rokot tersebut, hingga wajah mereka terdapat bintik-bintik hitam yang sangat banyak.


"Pisau kesayanganku," kekeh Siyeon dengan memasukkan pisau tersebut di dalam tasnya. Ia meninggalkan ketiga mayat itu, dua orang dengan luka tusuk di perut dan satu lagi di matanya. Siyeon menatap ke arah langit yang sangat gelap, namun tidak segelap matanya yang kehilangan kilauannya. Kedua mata Siyeon tidak pernah memancarkan cahaya, kecuali kegelepan. Karena, kilauan cahaya di matanya sudah hilang.


TBC...