Deja Vu

Deja Vu
12| THE TRUTH?



"Siapa bayangan hitam itu? Pasti kau tahu kan?" tanya Siyeon setelah penampilan Taeyong kembali lagi, mata merahnya manatap datar Siyeon yang duduk di hadapannya. Mereka sedang berada di ruang tengah dengan api yang menyala di cerobong cokelat.


"Bayangan tadi adalah salah satu jiwa yang di miliki olehnya, iblis yang menginginkan kematianmu," jawab Taeyong dengan wajah datarnya.


"Salah satu jiwa? Berarti masih ada jiwa yang lain?" tanya Siyeon yang mulai penasaran dengan sosok iblis itu. Entah ini kebenaran atau kebohongan yang di ucapkan oleh Taeyong, tetapi dirinya ingin mengetahui lebih dalam tentang dirinya, Taeyong dan sosok bayangan hitam yang mengerikan itu. Mata merah yang begitu menyeramkan.


"Iya, jiwa yang memiliki kekuatan besar seperti pemilik tubuhnya yang asli," jelas Taeyong. Siyeon meneguk cokelat panas yang di buatkan Taeyong untuknya tadi. Malam ini keduanya terjaga, karena untuk tidur saja tidak ada dalam pikiran mereka.


"Ada berapa jiwa di dalam tubuhnya?" tanya Siyeon.


"Ada tujuh jiwa, ketika kau membunuhnya dalam waktu kurang dari sepuluh detik ia akan bangkit lagi di gantikan oleh jiwanya yang lain," Taeyong menghela nafas panjang, pria itu memejamkan matanya sejenak sebelum matanya berubah warna menjadi hitam legam. Untuk kedua kalinya Siyeon terkejut dengan perubahan mata Taeyong.


"Kenapa matamu berubah lagi? Apa sebenarnya itu?" tanya Siyeon dengan terus menatap mata hitam Taeyong yang sangat indah itu.


"Aku memiliki tiga mata yang berbeda," jelasnya membuat Siyeon mengangguk paham. Kini keheningan kembali tercipta, Siyeon ingn bertanya lagi. Namun, dirinya sedikit ragu dengan aura Taeyong yang sungguh berbeda, sangat menyeramkan.


"Apa yang ingin kau ketahui?" sepertinya Taeyong tahu dengan pikiran Siyeon.


"Apakah iblis itu bisa di musnahkan dengan sekali saja? Maksudku, semua jiwa di dalam tubuhnya langsung lenyap dengan sekali membunuhnya?" pertanyaan Siyeon membuat Taeyong terdiam, ia beranjak dan mengambil sebuah buku dari laci.


Buku kecil berwarna empat warna dengan crystal di tengahnya. Pria itu membuka halaman pertama dan melebarkan matanya, ia tak percaya buku yang selama ini kosong tanpa tulisan tiba-tiba terdapat sederet kalimat yang sangat di butuhkan olehnya.


"Bisa, iblis itu bisa di musnahkan dengan tongkat crystal empat warna. Crystal abadi yang akan memimpin seluruh kerajaan crystal dan alam Dewa," ujar Taeyong sambil menyerahkan buku tersebut kepada Siyeon. Dengan cepat Siyeon membaca isi buku tersebut dan apa yang di katakan oleh Taeyong benar adanya.


"Tapi, bagaimana cara mendapatkannya?" bingung Siyeon.


"Hanya keturunan crystal putih yang bisa mendapatkan tongkat itu," jawab Taeyong dengan menatap lekat ke arah Siyeon yang masih menunduk membuka setiap lembar buku tersebut. Siyeon membaca beberapa deret kalimat yang terdapat di dalam buku.


"Keturunan crystal putih yang memimpin alam crystal dan juga Dewa. Sebenarnya buku apa ini?" Taeyong duduk di sebelahnya dan mengambil kembali buku tersebut.


"Ini adalah buku yang aku temukan di sebuah perpustakaan tua di alam crystal. Buku yang di incar semua kaum crystal di alam sana, mereka ingin mendapatkan buku yang akan menjelaskan segalanya. Tetapi, buku ini hanya sebuah buku kosong yang tidak ada tinta sama sekali. Anehnya, sekarang buku ini terdapat tulisan di dalamnya," heran Taeyong yang masih tak percaya dengan apa yang di lihatnya.


"Iya, aku berasal dari alam crystal. Aku bukanlah dewa atau pun manusia, di alam sana perawakan kita menyerupai manusia setengah dewa. Aku pun tidak tahu dengan diriku yang sebenarnya, cukup sulit untuk menjelaskannya," jelas Taeyong dengan menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa, Siyeon tidak percaya bahwa pria di sampingnya bukan manusia.


"Lalu aku? Kenapa aku memiliki kekuatan dan penampilanku berbeda? Gaun putih, rambut putih dan juga mata putih?" Siyeon juga merasa aneh dengan keadaan tubuhnya. Bahkan, dirinya tidak bisa terluka atau pun mati, karena keracunan.


"Kau sama sepertiku, kita berasal dari alam yang sama," ujar Taeyong membuatnya sangat terkejut. Ia masih tak percaya dengan apa yang di dengar olehnya.


"Oleh karena itu, kau tidak akan bisa mati seperti manusia layaknya. Tentang mimpi yang kau alami itu adalah sebuah dimensi yang membawamu ke alam yang berbeda. Kau juga bisa melihat masa depan, sehingga kau selalu merasa déjà vu dengan hal aneh itu," jelas Taeyong dengan tenang, pria itu dapat melihat kebingungan di wajah Siyeon.


"Seruling yang selalu kau dengar itu adalah isyarat dari keberadaanmu, seruling yang selalu melindungi mu," lanjut Taeyong membuat Siyeon tertegun.


"Berarti tentang kerajaan yang di mimpi itu?" tanya Siyeon yang di balas anggukan oleh Taeyong. Siyeon menutup mulutnya tak percaya, matanya mulai meleleh dengan air mata yang terus keluar dari pelupuk matanya. Taeyong yang melihat hal itu sangat terkejut dan langsung menariknya ke dalam dekapan pria itu.


"Apakah kau tahu siapa pembunuh kedua orang tuaku?" tanya Siyeon yang masih menangis di dalam pelukan Taeyong. Tangan Taeyong yang mengusap punggung bergetar Siyeon tiba-tiba berhenti. Mata pria itu kini berubah kembali menjadi merah, Siyeon masih menangis dengan sangat kencang membuat pria itu terdiam cukup lama.


"Kenapa kau diam saja? Apakah kau tahu siapa orangnya?" tanya Siyeon lagi dengan melepaskan pelukan Taeyong, wanita itu menatap tatapan kosong di mata merahnya.


"A—aku tidak tahu pelakunya," jawab Taeyong dengan suara lirihnya.


"Apakah kau yakin dengan ucapanmu?" Siyeon terus menatap Taeyong yang enggan menatapnya, pria itu hanya terdiam dan beranjak dari duduknya meninggalkan Siyeon yang masih menatap ke pergi nya tanpa mengucapkan sepatah kata.


"Kenapa ia menghindar? Apa yang sebenarnya ia sembunyikan dariku?" gumam Siyeon dengan menatap telapak tangannya. Siyeon menghembuskan nafas lelah, dirinya merasakan dadanya begitu sesak. Ada dua batu yang menghimpitnya, sehingga ia susah untuk bernafas, sangat menyakitkan ketika mengetahui kedua orang tuanya meninggal tepat di hadapannya dan ia tidak bisa melakukan apa-apa untuk menyelamatkan mereka.


"Ayah, Ibu maafkan Siyeon yang tak bisa menyelamatkan kalian. Siyeon berjanji akan membalas dendam kalian kepada orang itu, Siyeon akan membunuhnya dengan kebencian yang ada di dalam diri Siyeon. Siyeon sangat membenci orang itu dan tak akan melepaskannya," ujar Siyeon dengan tatapan penuh kebencian, kilatan putih berada di atas kepalanya. Wanita itu tak bisa mengontrol kekuatannya hingga menjadi petir.


Di balik pintu ada seseorang yang mendengar pernyataan dari Siyeon, tak terasa hatinya begitu sakit mendengar kata benci dari bibir wanita itu. Dirinya tak menyangka, wanita itu sangat membenci orang yang sudah membunuh kedua orang tuanya.


TBC...