Deja Vu

Deja Vu
31. Aku hancur !!



Satu jam berlalu, Neyna masih terduduk diatas kap depan mobilnya, sambil masih terisak.


Wanda juga masih memperhatikan dari kejauhan. Ponsel Neyna berbunyi berkali-kali, panggilan dari papanya, dia tidak memperdulikannya.


Neyna masih menangis menatap langit malam, ditemani suara jangkrik dan hewan malam. Sesekali ia menyeka air matanya yang masih mengalir dipipinya.


Lalu Neyna mengambil ponselnya mencoba menghubungi Bram.


“Jurusan yang anda tuju sedang diluar jangkauan, coba lah beberapa saat lagi”


Masih tetap dengan suara Yang Sama. Neyna menenggelamkan wajahnya dilengannya menangis.


Kemudian dia mengangkat wajah dan menghapus kasar wajahnya. Menarik nafas dalam dan menghembuskannya.


Dia bergerak turun dan masuk kedalam mobil. Entah apa yang ada difikirannya, dia menyalakan mobilnya dan memutar kemudi.


Sementara Wanda masih memperhatikan dari kejauhan dan berlahan mengikuti Neyna. Akhirnya Neyna menuju arah pulang, tepat pukul 02.30 wib Neyna tiba di apartemennya.


Wanda memperhatikan dari kejauhan dan memastikan Neyna tiba dirumah dengan selamat.


“Assalamu’alaikum om,,Neyna udah pulang om, mungkin masih di lift, maaf Wanda gak bisa ikut antar sampai atas, Wanda Cuma liat dari kejauhan aja, takut nanti Neyna tambah emosi om”


Wanda menelpon papa Neyna memberi kabar, karena memang papanya masih khawatir menunggu Neyna pulang.


“Iya gak apa nak, om ngerti kok, makasi banyak ya nak, udah mau repot jagain Neyna”


Ucap papa Neyna.


“Iya Sama-Sama om, Wanda balik ya om, Assalamu’alaikum”


“Iya nak, hati-hati dijalan, ok Neyna udah nyampe kok, Walaikumsalam”.


Wanda pun bergegas balik kerumah sakit. Sesampainya Neyna di apartemen, dia langsung masuk kekamarnya, merebahkan tubuhnya diatas kasur, sambil memandang kosong kelangit-langit kamarnya.


Fikirannya melayang entah kemana, sampai akhirnya dia menemukan solusi atas masalah yang sedang dia hadapi, kemudian dia menuju kamar mandi dan berwudhu untuk melaksanakan shalat tahajud.


Memohon petunjuk pada Yang maha kuasa. Selesai shalat tahajud Neyna memulai curhatnya pada Yang maha kuasa, karena hanya dia yang maha mengetahui segalanya.


“Ya Allah sang penguasa langit, bumi dan segala isinya, hanya padamu hamba meminta dan hanya padamu hamba memohon petunjuk atas segala yang sudah terjadi pada hamba saat ini. Engkau maha mengetahui apa Yang terbaik untuk hamba-hamba mu dan hamba yakin Kau tidak akan memberikan cobaan di luar batas kemampuannya dan tak ada masalah Yang tidak ada penyelesaiannya. Ya Allah hamba mohon berikan Yang terbaik kepada hamba, kedua orang tua hamba dan orang-orang di sekeliling hamba, hamba tidak meragukan rencanamu, maka dari itu hamba berserah kepadamu, jika itu Yang terbaik untuk hamba, in syaa Allah hamba ikhlas. Berikan hamba kekuatan menjalani ini semua ya Allah. Aamiin” .


Setelah selesai berdo’a Neyna pun terlelap diatas sajadahnya dengan masih mengenakan mukena. Tak lama azan shubuh pun berkumandang.


Mama mengintip dari balik pintu kamar Neyna, Neyna masih terlelap, lalu mama membangunkan Neyna untuk melaksanakan shalat shubuh


“Ney..bangun nak,,,sudah azan shubuh,,ayo shalat nak”


ucap mama membangunkan Neyna, Neyna pun bergegas menuju kamar mandi membersihkan diri dan berwudhu.


Selesai shalat shubuh Neyna pun bersiap berangkat kerja. Papa dan mama sudah duduk di meja makan menunggu Neyna sarapan, namun Neyna tidak sarapan.


“Neyna gak sarapan mah,Neyna puasa, ney langsung berangkat kekantor ya ma, pa, Assalamu’alaikum”


Neyna pun pamit pada kedua orang tuanya dan mencium tangan.


Neyna berangkat ke kantor dengan berjalan kaki, karena jarak apartemen dan kantornya hanya beberapa meter saja.


Papa dan mamanya hanya terdiam menyaksikan anak perempuan mereka satu-satunya. Papa membiarkan Neyna berfikir, dia tidak mau memaksakan kehendaknya, karena Neyna Yang menjalani dan papa menyerahkan sepenuhnya pada Neyna.


Dikantor Neyna tidak fokus bekerja, selain kurang tidur dia juga memikirkan masalah yang sedang dihadapi, juga memikirkan Bram yang belum bisa dihubungi sampai saat ini.


Neyna memikirkan ucapan kedua orang tuanya tentang Bram, apa benar Bram sedang berada dihutan, dan tidak bisa dihubungi Sama sekali ? atau jangan-jangan Bram hanya menghindari Neyna, ataupun dia sudah punya pilihan lain, semua fikiran itu berkecamuk dikepala Neyna sehingga dia tidak konsentrasi dalam bekerja.


Siang hari papa menelpon Neyna,


“Assalamu’alaikum nak,,nanti kamu ada rencana kemana?, kalau kamu gak ada rencana Kemana-mana, papa bawa mobil kamu ya kerumah sakit”


“Walaikumsalam, gak kok pa, Neyna gak kemana-mana, Iya bawa aja pa, papa Sama mama hati-hati ya”.


Teleponpun terputus, papa dan mama Neyna pun berangkat menuju rumah sakit.


Dirumah sakit, Wanda sedang ngobrol dengan opa dan omanya.


“Gimana nak, kamu udah ngomong ke Neyna tentang niat baik kamu mau melamarnya?” Tanya oma.


Sambil melirik kearah opa yang juga menanti jawaban Wanda.


“Udah oma, dalam beberapa hari ini dia akan memberikan jawabannya oma” ucap wanda sekenanya, agar tidak menjadi fikiran opa.


“Alhamdulillah, mudah-mudahan Neyna mau ya nak, eh..apa dia juga belum punya pacar, Sama kaya kamu? Atau jangan-jangan kalian memang berjodoh ya?” Ucap oma


menerka-nerka, lalu tersenyum dan disambut senyum opa juga.


“Yeee oma,,mana Wanda tau, Iya kali, dia gak punya pacar, soalnya dia kan orangnya sibuk kerja terus,,gak sempat pacaran” ucap Wanda meyakinkan opa dan omanya, padahal dia sendiri belum yakin Neyna bersedia apa tidak menikah dengannya, tapi setidaknya opa bisa tersenyum mendengarnya.


*“Maafin Wanda opa dan oma, sebenarnya Wanda tidak yakin kalau Neyna mau menerima lamaran Wanda, tapi Wanda tidak punya pilihan lain*, selain berbohong demi membahagiakan opa”


Kemudian opa memanggil Wanda mendekat.


Opa memberi isyarat agar Neyna secepatnya dilamar, setidaknya menikah dulu, untuk resepsi bisa menyusul dan opa meminta Wanda membawa Neyna malam ini juga kerumah sakit untuk membicarakannya.


Wajah Wanda berubah pucat, dia bingung bagaimana caranya membawa Neyna malam ini juga, sedang kan Neyna tidak mau bertemu dengannya.


Tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk dan muncullah kedua orang tua Neyna. Lalu oma berucap,


“Alhamdulillah ya nak, Neyna menerima lamaran Wanda, akhirnya keinginan ayah terkabul, apa jangan-jangan mereka memang berjodoh ya,hahaha..” ucap oma meluapkan kebahagiaannya, sedangkan kedua orang tua Neyna memasang wajah bingung dan memandang kearah Wanda, Wanda pun mendekati papa Neyna dan mengajaknya bicara diluar.


“Maaf kan Wanda om,,Wanda udah berbohong Sama opa dan oma, Wanda bilang ke mereka kalau Neyna sudah setuju menikah dengan Wanda, dan sekarang yang jadi masalah, opa minta malam ini juga Neyna datang kerumah sakit, agar Wanda melamar Neyna didepan opa dan oma” terlihat wajah cemas Wanda.


Papa paham betul posisi Wanda, dia ingin membahagiakan opanya namun dia tidak memikirkan rencana kedepannya apa dan bagaimana. Papa Neyna juga tidak tega mengecewakan oma dan opa Usman.


Mendengar kabar dari Wanda saja wajah mereka sudah tersenyum bahagia, apalagi opa, Yang tak henti-hentinya tersenyum.


Sekarang mereka berdua sedang berfikir keras bagaimana caranya membawa Neyna malam ini kerumah sakit. Sambil menunggu apa rencana mereka berikutnya.


Wanda pergi kesatu mall ternama yang letaknya tidak jauh dari rumah sakit tempat opa dirawat, dia bertujuan membeli cincin untuk melamar Neyna, walaupun dia belum tau kapan dia akan menyematkan cincin itu ke jari Neyna, setidaknya dia sudah memiliki persiapan, fikirnya.


Sementara itu Neyna yang masih berada dikantor dengan kondisi tubuhnya yang lemah karena puasa dan kurang tidur masih membolak balik berkasnya, membuka laptopnya.


Fikirannya bercampur aduk gak karuan. Akhirnya dia izin pulang lebih awal pada atasannya, Lalu dia menelpon Rosi


“Halo Ci,,lo dimana? Gua kekantor lo ya, lo gak sibuk kan?”


“Iya Ney,,gua dikantor kok ini lagi Sama Mimi, ya udah kesini aja, kita tunggu ya” ucap Rosi.


Neyna pun memesan taxi dan menuju kantor Rosi. Sesampainya dikantor Rosi,


“Ney,,lo sehat? Koq lo pucat banget ya?” Tanya Mimi dan Mimi langsung mengambilkan segelas air putih, namun Neyna menolak karena dia sedang puasa kemudian Rosi menyuruh Neyna untuk berbaring di sofa yang ada diruang kerjanya.


Tepat jam 18.10 Wib, terdengar suara azan berkumandang, lalu Mimi membangunkan Neyna yang masih tertidur pulas disofa,


“Ney,,bangun,,udah azan maghrib, udah waktunya buka puasa Ney” ucap Mimi, lalu disambut Rosi “iya Ney,,nih udah aku buatin teh sama ada buah kurma nih,,buka dulu gih, biar kamu bertenaga, abis itu kita makan ya”


Neyna pun bangun dan langsung minum minuman yang tersedia dan memakan sebutir kurma, “alhamdulillah,,akhirnya nyampe juga puasa gua hari ini, kita makan keluar aja ya, tapi shalat maghrib dulu” Rosi dan Mimi yang baru selesai shalat maghrib pun setuju.


Setelah Neyna selesai shalat, mereka pun berangkat ke sebuah caffe langganan mereka dengan mobil Rosi.


Sesampainya di caffe tersebut, mereka langsung memesan makanan dan minuman. Sambil menunggu pesanan mereka datang, Rosi bertanya ke Neyna.


“Gimana masalah lo Ney, apa papa sudah ngomong ke Wanda kalau kamu gak setuju dengan perjodohan kalian?” Sambil menarik nafas panjang Neyna pun menceritakan kejadian malam kemarin.


“Dan sampai hari ini papa juga gak ada menyinggung masalah pernikahan itu, kalau papa pasti ngerti kok, tapi yang aku takutkan kalau Wanda yang mendesak papa, karena dia juga terdesak oleh opa dan dia tidak punya pilihan lain” ucap Neyna, lalu Mimi pun menanggapai


“kok lu repot amat sih Ney, tinggal lo bilang aja ke si Wanda Wanda itu,apa urusan lo, kalau gua gak mau masa lo mo maksain gue sih!! emang lo siapa berani maksa-maksa gue,,bapak emak gua aja gak maksa in gua,,kenapa jadi lo yang repot !!Bilang gitu aja Ney!! Kok jadi gemes sendiri gua dengar cerita lo sih,,sebenarnya kan lo tuh gak ada urusan sama opa nya dia?!” Ucap Mimi berapi-api, yang langsung dijawab Rosi,


“Masalahnya gak segampang itu markonah!!


Lo juga nyap nyap aja kaya petasan!! Sekarang yang jadi masalah tu ya,,si Wanda minta bantuan papanya Neyna buat ngebujukin Neyna, karena dia tau papa Neyna gak mungkin menolak keinginan opanya yang udah sekarat itu,,faham?!!” Mimi pun manggut-manggut mendengar penjelasan Rosi.


Tak lama makanan yang mereka pesan pun datang dan mereka langsung menikmati makanan mereka.


Setelah selesai makan


“Gua juga kepikiran kak Bram, koq sampai sudah hampir 2 bulan dia gak menghubungi gua, gua jadi khawatir dia kenapa-napa, atau jangan-jangan dia udah lupa sama gua?!” Neyna mengutarakan isi hatinya kepada sahabat-sahabatnya.


Lalu Rosi menenangkan


“Udah Ney,,jangan berfikir macam-macam, kak Bram orangnya setia kok, gua jamin” ucap Rosi, lalau Mimi nyeletuk “yakin lo Ci?? laki gua aja yang tiap hari bisa telponan dan ketemuan ama gua aja bisa selingkuh, gimana kak Bram yang nun jauh disana? Laki jaman sekarang tuh susah dipercaya!” Rosi melotot mendengar ucapan Mimi.


“yeee,,jangan samain kak Bram sama laki lo dong, gua tau gimana perasaan kak Bram ke Neyna, bahkan sejak kita masih SMU dulu, cuma gua yang tau kalau dia mau nembak elo Ney pas kita studi banding dulu!”


Neyna terkejut mendengar ucapan Rosi


“Maksud lo Ci? Kak Bram mau nembak gua pas malam perpisahan acara studi banding waktu itu?” Tanya Neyna


“Iya Ney,,cuma sama gua dan Reza yang tau, terus dia mencari tau apa kesukaan elu, dan malam itu dia nyanyi lagu yang mewakili perasaannya dia itu ya ke elu Ney!”


Mata Neyna berkaca-kaca


“jadi sekarang kenapa dia gak ada hubungi gua Ci?”


“Udah positif thinking aja ya, mungkin memang dia sedang sibuk didalam hutan jadi gak sempat keluar buat nyari signal, tapi gua yakin hatinya cuma buat elu, buktinya sekian lama dia memendam perasaannya karena gak punya keberanian buat nembak elu, sampai akhirnya dia menyatakan perasaannya ke elu sampe udah segede ini, hebat gak itu setianya?Bukannya dia gak laku ya ney, gua yakin waktu kuliah di Bandung itu pasti banyak cewek yang ngantri pengen jadi pacarnya, Tapi apa, bahkan dia gak punya pacar kan Ney,,kenapa coba? Ya karena hatinya dia Cuma buat elu Ney!” Neyna semakin berkaca-kaca memeluk Rosi.


“Jadi gua harus gimana Ci? Kalau papa mendesak gua, sementara kak Bram gak bisa dihubungi?”


Rosi pun menenangkan sahabatnya itu, “Udah sekarang lo ngomong ke papa, bilang kalau kak Bram akan segera melamar lo setelah dia balik dari Papua.


Dan bilang ke papa kalau lo dan kak Bram udah serius, ok??” Neyna pun mengangguk paham dan dia semakin yakin atas perasaan Bram ke dia Yang ternyata sejak masih duduk dibangku SMU, gadis misterius yang disukai Bram itu ternyata dia.


Kemudian ponsel Neyna berbunyi,


Kring...


Kring...


Panggilan masuk dari papanya.


“Assalamu’alaikum nak, kamu dimana, udah pulang kerja?”


“Walaikumsalam pa, Iya ney udah


Pulang kerja, ini lagi diluar bareng Rosi Sama Mimi pa, papa masih dirumah sakit?”


“Iya nak,,ini udah mau pulang,tapi kok kepala papa agak pusing, kamu bisa kesini gak, soalnya papa gak kuat nyetir, tadi papa mau minta tolong Wanda tapi wanda juga lagi gak ada, bisa kan nak?”


“Ohh,,iya pa,,ney langsung kesana ya pa, papa tungguin disitu aja, kalau gak papa sekalian berobat di polynya aja pa?”


“Ga usah nak,,papa ada obatnya kok dirumah, lagian mungkin papa kecapean aja, ya udah papa tunggu ya nak, Assalamualaikum”


Telepon terputus dan Neyna pun langsung pamit pada kedua sahabatnya itu, “


“gaes, gua jalan duluan ya, mau jeput papa kerumah sakit, tadi dia tuh bawa mobil tapi pas mau balik kepalanya agak pusing, jadi gak ada yang setirin, ya udah gua duluan ya Ci, Mi”


“Bareng kita aja Ney, biar sekalian gua anterin kerumah sakit?” Tawar Rosi, tapi Neyna menolak.


“gak ah,,jauh Ci,,kesian lo kejauhan ntar, udah gua naik taxi aja ya, da..” Neyna pun langsung menuju parkiran karena taxi online yang dipesannya udah datang.


Sesampainya dirumah sakit, sebelum membuka pintu ruangan tempat opa dirawat, Neyna menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan sambil berucap “bismillah, semoga Brutus beneran gak ada”


“Assalamu’alaikum” Ucap Neyna sambil membuka handle pintu. Terlihat oma, opa dan kedua orang tuanya sedang ngobrol.


“Ney,,darimana nak, kamu sehat nak?” Sapa oma, Yang dibalas senyuman dan Neyna langsung meraih tangan oma Lalu menciumnya kemudian Neyna mencium tangan opa Usman, terlihat wajah sumringah opa menyambut kedatangan Neyna.


Walaupun dia tidak bisa berbicara namun dari ekspresi wajahnya terlihat dia sangat bahagia melihat kedatangan Neyna.