
Wanda memikirkan ucapan oma, yang menyarankan Neyna untuk bekerja diperusahaan opa yang sekarang dikelolanya.
Wanda pun akan merencanakannya, tapi dengan cara yang membuat Neyna terjebak dan tidak bisa mengelak.
“Tapi dia pergi kemana ya,,apa jangan - jangan dia janjian ketemuan lagi dengan Bram? Ahh...gak mungkin,,Bram kan di Papua, paling juga dikantor Rosi,,ehh...apa dia mau membahas soal perjanjian pranikah itu dengan Rosi? emang udah berapa bulan berjalan ya? Wahh..sampai lupa!!” Wanda berbicara sendiri sambil mencari - cari sesuatu.
Setelah pulang dari penjahit langganan mereka, Neyna langsung mengantarkan kedua temannya itu ke kantor Rosi,
“Guys,,gua gak singgah lagi ya, ntar kesorean,,gua langsung jalan ya!” Neyna berpamitan
“Ok Ney,,thanks ya,,hati - hati” ucap Rosi dan membalas lambaian Neyna.
Neyna melajukan kendaraannya menuju rumah opa, diliriknya jam di pergelangan tangannya, tepat pukul 15.30 Wib, tak lama dia memasuki pintu gerbang rumah opa.
“Assalamu’alaikum,,oma lagi ngapai?” Tanya Neyna yang melihat oma sedang berada diantara tanaman dihalaman depan
“Ehh..sayang kamu udah pulang,,ini oma lagi beberes taneman, kan udah lama ditinggal, paling para asisten cuma tau nyiramin doang, tapi gak disemprot, ohyaa..kamu dari mana nak, kok Wanda tadi nelpon ke rumah? Kamu gak bilang kalau kamu mau keluar?” Ucap oma, membuat Neyna merasa tidak enak
“Neyna kabari kok, tadi Ney telpon, sekalian mo nanya kunci mobil di letak dimana” jawab Neyna
“Oh...gitu,,ya udah gih kamu bersih - bersih, sebentar lagi suami kamu pulang nak” perintah oma,
“Ok oma,,Ney masuk dulu ya” ucap Neyna.
“Wahh!! Ini gak bisa dibiarkan!! Aku harus cari cara untuk pindah dari rumah ini, lama - lama oma bisa tau lagi soal pernikahan kami,,nanti aku akan omongkan ke Wanda” ucap Neyna.
Tepat pukul 17.30 WIB Wanda tiba dirumah dan langsung masuk kekamar.
Dilihatnya Neyna sedang tertidur pulas, Wanda menghampirinya dan menatap lekat wajah Neyna
“Ya ampun!! Gimana bisa aku kehilangan pemandangan seindah ini, hanya menatap wajahnya yang sedang tertidur pulas seperti ini saja sudah membuat imun tubuhku bertambah beratus - ratus kali lipat, wajahnya itu lucu, Ngegemesin, walaupun terlihat jutek” gumam hati Wanda sambil tersenyum - senyum.
Kemudian Wanda beranjak masuk kekamar mandi membersihkan diri.
setelah Wanda selesai membersihkan diri, Neyna pun terbangun karena mendengar suara azan maghrib dari aplikasi di ponselnya.
Neyna membuka matanya, sambil meregangkan tubuhnya, dilihatnya Wanda sedang duduk disofa sambil memainkan ponselnya.
Neyna mengacuhkan keberadaan Wanda, dia pun langsung beranjak menuju kamar mandi untuk berwudhu.
Selesai berwudhu, Neyna melihat Wanda sedang melaksanakan shalat maghrib.
“Wahh..tumben hari ini dia bener,,,baru dapat hidayah kali yak!” Gumam Neyna dalam hati, kemudian dia meraih mukenanya untuk melaksanakan shalat maghrib.
Wanda kembali duduk disofa dan masih memegang ponselnya. Setelah Neyna selesai menunaikan shalat maghrib dan masih mengenakan mukena, dia langsung menghampiri Wanda
“Aku mau bicara soal kita” ucap Neyna singkat
Wanda yang sedang asyik menatap layar ponselnya, terkejut mendengar ucapan Neyna
“Kenapa dia? Apa yang dibicarakannya dengan sahabat - sahabatnya itu, sehingga tiba - tiba dia berucap seperti ini? Apa ada kaitannya dengan perjanjian itu?” Gumam hati Wanda, tapi dia tetap bersikap santai walau sedang gugup
“Soal apa, bicara saja” ucap Wanda yang masih bersikap santai
“Gimana aku mau bicara, sementara mata kamu masih aja melototi hp!” Kesal Neyna
“Ok,,baiklah” ucap Wanda sambil meletakkan ponselnya dan menatap kearah Neyna, saat yang bersamaan Neyna juga sedang menatap Wanda, dan tatapan mata mereka pun bertemu
Deg.....
Keduanya mengalami debaran jantung yang dahsyat, hingga nyaris terdengar.
“Duhh!! apaan aku ini!! ngapai coba pake tatap matanya!!” Gumam hati Neyna
“Baiklah, ini soal kita dan perjanjian yang telah kita sepakati bersama. Berhubung opa dan oma sudah kembali, dan aku paling gak bisa terus - terusan bersandiwara, jadi lebih baik kita kembali ke apartemen, agar perjanjian kita tetap berjalan, ingat ini hanya satu tahun, setelahnya kita akan memilih jalan kita masing - masing” terang Neyna
Wanda kaget mendengar ucapan Neyna, batinnya berucap “ fix memang soal perjanjian itu”
“Jadi kamu mau kita pindah ke apartemen, terus alasan kita apa? Opa dan oma sangat senang kalau Kita tetap tinggal disini, mereka kesepian” ucap Wanda
“Kita bisa tiap hari kesini kalau opa dan oma memintanya, tapi untuk tidur malam, tetap kita harus kembali ke apartemen karena diapartemen semua perjanjian akan bisa berjalan” ucap Neyna
“Ok,,kalau kamu mau nya begitu, nanti aku akan sampein ke opa dan oma” ucap Wanda.
Tak lama terdengar suara pintu kamar diketuk oleh ART,
“Mas Wanda, mba Neyna disuruh turun makan malam”
“Iya mba, kita segera turun” ucap Neyna
“Ohya,,,tadi papa telpon, katanya besok mereka kesini mau jengukin opa” ucap Wanda
“Loh,,,kok papa nelpon kamu sih,,kenapa bukan nelpon aku?” Tanya Neyna
“Apa bedanya aku sama kamu sekarang, aku kan suami kamu berarti aku juga anak papa mama kamu dong” ucap Wanda santai
“Yahh,,suka - suka lo deh,,gua mau turun laper gua!” Ucap Neyna sambil berlalu menghindari perdebatan dengan Wanda.
Diruang makan, opa dan oma sudah duduk menunggu Neyna dan Wanda
“Oma, opa maaf kelamaan nunggu ya , Ney baru siap shalat maghrib soalnya tadi ketiduran” ucap Neyna merasa tidak enak karena sudah membuat kedua orang tua itu menunggu mereka di meja makan.
“Gak apa - apa nak,,oma sama opa maklum kok,,namanya pengantin baru ya gitu,,mau nya dua an terus, perut keroncongan juga gak berasa,,hehehe..” oma menggoda mereka.
Neyna dan Wanda pun duduk di meja makan, kemudian oma langsung meraih piring opa dan mengambilkan nasi dan lauk pauknya, Neyna pun melakukan hal yang sama ke Wanda dan mereka pun mulai menyantap makan malamnya.
Setelah selesai makan dan masih di ruang makan,
“Opa, oma kemungkinan besok kami balik tinggal di apartemen aku, udah lama apartemennya ditinggal, lagian biar Neyna lebih konsentrasi ngurusin aku oma, soanya dia kan seharian dirumah” ucap Wanda sambil melirik Neyna
Neyna yang mendengar ucapan Wanda, langsung melirik dengan tatapan tajam.
“Kok buru - buru nak,,kenapa gak tinggal disini aja dulu, biar rame” ucap oma
“Biarkan saja oma, biar mereka mandiri menjalani rumah tangga, toh kalau kita kangen kan kita bisa suruh mereka datang kesini, lagian masih dalam kota yang sama kok,,biarkan saja, biar mereka usaha lebih intens lagi, mudah - mudahan membuahkan hasil” ucap opa sambil tersenyum penuh arti.
“Iya oma nih kaya gak pernah muda aja deh,,” ucap Wanda
“Iya deh...tapi sering - sering main kesini ya nak,,oma kesepian,,biar oma ada temen masak bareng didapur, kalau sama ART udah sering, tapi kalau sama cucu mantu belum pernah, oma pingin belajar buat tempe mendoan buatan Neyna, enak banget lo nak,,lain kali ajari oma ya” ucap oma
“Ahh...oma bisa aja,,cuma itu yang Neyna bisa oma,,simpel buatnya,,iya Insyaallah nanti kita masak bareng ya oma” ucap Neyna menanggapi oma
“Ohya..pa, oma,,besok papa sama mama datang kemari, katanya mau jenguki opa” ucap Wanda
“Ohyaa..nak?? Naik kereta jam berapa nak? Jangan lupa kamu jeput di stasiun ya, ohya..berarti besok kita masaknya istimewa dong, karena mama dan papa kamu datang nak, berarti besok sekalian kamu ajari oma masak tempe mendoannya ya?” Pinta oma
“Siap oma,,besok Neyna ke pasar sama mba Vita” ucap Neyna
“Wahh,,berarti besok kita rame dong disini,,pasti opa senang kan?” Ucap oma ke opa
“Pasti dong oma,,,udah lama kita gak kumpul keluarga dirumah ini” ucap opa antusias
“Iya..besok Wanda jam makan siang langsung kestasiun jemput papa dan mama” ucap Wanda.
Mereka pun beranjak dari meja makan menuju ruang keluarga, menemani opa dan oma menonton tv.