Deja Vu

Deja Vu
24| I AM PRINCESS



Siyeon menatap sekitarnya, tempat berdirinya kini sangat berbeda. Sangat indah dengan nuansa putih, gemercik air terdengar jelas di telinganya. Siyeon terpaku menatap dirinya dari air yang tenang di danau berwarna bening, rambutnya hitam, matanya hitam legam dan bajunya seperti seorang penyihir dengan gaun hitam panjang yang sampai menyapu lantai. Siyeon meringis menatap penampilannya yang sangat menyeramkan itu.


"Apakah itu aku? Kenapa penampilanku sangat menyeramkan?" gumam Siyeon yang masih tak percaya dengan apa yang di lihatnya, bahkan ia sampai menatap dirinya lagi dari air danau itu. Lagi-lagi, ia meringis ngeri melihat penampilannya.


"Benar itu aku! Tapi, kenapa penampilanku menjadi menyeramkan? Apa yang sudah terjadi kepadaku?" ucapnya dengan terduduk lemas di pinggir danau. Wanita itu memejamkan matanya dan berharap penampilannya kembali berubah seperti Siyeon Lambency. Saat ia membuka kedua matanya, lagi-lagi penampilannya masih menyeramkan.


"Kenapa penampilanku masih belum berubah? Bagaimana ini?" desahnya yang terlihat mulai putus asa, Siyeon mengambil kerikil kecil di sebelahnya dan melempar kerikil itu ke tengah-tengah danau. Wanita itu terus melakukan hal yang sama dengan tatapan kosongnya, ia tidak tahu apa yang sudah terjadi kepadanya.


"Apakah ini akhir dari hidupku?" tanyanya entah untuk siapa, karena di sana ia hanya sendirian. Tidak ada hewan atau orang di tempatnya. Siyeon menekuk lututnya dan menyembunyikan wajahnya di lipatan kakinya, wanita itu memejamkan matanya.


Mencoba menghilangkan segala keresahan yang menghinggapi hatinya. Ia mulai merasa takut dengan kenyataan yang sudah berada di depan matanya. Siyeon hanya bisa pasrah dengan apa yang akan terjadi nantinya. Ia sudah tidak bisa menghindarinya, mati atau tetap hidup. Itu adalah pilihannya. Dua opsi yang cukup membuatnya ketakutan dan juga merasa bersalah, wanita itu tidak ingin rakyatnya menderita, jika iblis menguasainya.


"Siyeon, putriku," panggilan lembut itu membuat jantungnya berhenti berdetak, dengan hati-hati Siyeon mengangkat wajahnya dan ia melebarkan matanya. Ia melihat sepasang orang berdiri di atas danau yang tenang tadi, kedua orang itu tersenyum hangat kepadanya dan melangkah pelan ke arahnya dengan menapakkan kaki mereka di atas air.


"Ayahanda, Ibunda?" lirihnya dengan mata berkaca-kaca, wanita itu menatap lekat kedua orang tuanya yang masih tersenyum hangat menatapnya. Tanpa menunggu banyak waktu, Siyeon menghamburkan tubuhnya ke arah mereka dan ia merasakan pelukan hangat yang sangat nyaman. Siyeon, tidak pernah merasakan pelukan itu sejak lama.


"Biarkan Siyeon ikut dengan kalian, Siyeon ingin bersama kalian saja," ujar Siyeon yang masih menangis di dekapan kedua orang tuanya. Tubuhnya pun mulai bergetar hebat, tangisan pilu yang keluar dari bibirnya membuat kedua orang tuanya menatap sendu ke arah putri mereka. Hati mereka terasa sakit saat melihat putrinya menangis seperti itu.


"Tenangkan dirimu dulu, sayang," ucap lembut ayahnya dengan mengusap pelan punggung putrinya, Siyeon masih terus menangis hingga ia mulai merasa lelah sendiri. Dengan sisa-sisa isakan kecil dari bibirnya, Siyeon mulai menguraikan pelukannya. Wanita itu menatap kedua orang tuanya dengan wajah memerah.


"Mari kita duduk di bangku sana!" tunjuk ibunya membuat mereka bertiga melangkah ke arah kursi panjangan berwarna putih. Siyeon duduk di tengah-tengah mereka, tangannya masih menggenggam erat tangan kedua orang tuanya. Wanita itu tidak ingin keduanya menghilang, ketika ia melepaska tangannya dari mereka.


"Kau sudah salah paham dengan Taeyong, putriku," ujar ayahnya membuat Siyeon tertegun, wanita itu mengalihkan tatapannya menuju sang ayah yang tersenyum hangat kepadanya. Tangan ayahnya yang terbebas mengusap pelan puncak kepala putrinya.


"Kenapa Ayahanda bisa mengetahui Taeyong?" tanyanya dengan tatapan heran.


"Tentu saja, pemuda itu sudah membantu kami," ayahnya menghembuskan nafas panjang. Tatapan matanya mulai berubah menjadi sendu, Siyeon yang melihat perubahan ayahnya cukup terkejut.


"Kau sudah salah sangka, putriku. Taeyong adalah pemuda yang membantu kami, ia hanya membunuh para prajurit dan beberapa pelayan. Sedangkan yang membunuh kami adalah Ayahnya, pemuda itu juga menahan Ayahnya saat Ibumu masih bernafas. Pemuda itu mengatakan kalau ia akan membunuh Ibumu, sehingga iblis pun pergi untuk mencari tongkat crystal. Padahal, pemuda itu ingin menyelamatkan Ibumu dan dirimu...


...tetapi, Ibumu melarangnya, karena nyawanya sudah sampai di ujung batas. Pemuda itu meminta maaf atas perbuatan Ayahnya dan ia berjanji untuk melindungi mu, karena pemuda itu adalah calon pendamping mu kelak. Ayah bisa melihat masa depan kalian, sehingga Ayah yang berpura-pura mati saat itu. Menyerahkan kalung crystal yang akan melindungi kepadanya dan ia memberikan kepada Ibumu sebelum pergi...


...kau tidak bisa membencinya. Saat itu dirinya sedang di kendalikan oleh Ayahnya, tetapi saat ia mengetahui wajah kami. Ia langsung tersadar, kau tidak bisa menyalahkannya. Kami sudah melihat, kalau kalian berdua yang akan melenyapkan iblis," ayah Siyeon menatap putrinya yang hanya terdiam mendengar fakta yang sebenarnya.


"Itu benar, sayang. Kami ingin kau kembali dengannya dan memusnahkan iblis bersama-sama. Liontin yang kau gunakan itu adalah warisan dari Ibunya," jelas ibunya.


"Tapi, bagaimana dengan penampilanku yang menyeramkan ini?" tanya Siyeon membuat kedua orang tuanya tersenyum penuh arti.


"Ini adalah transformasi sebelum kau memiliki tongkat crystal. Kau akan berubah seperti ini, tapi kalau kau sudah memiliki tongkat crystal, kau akan kembali ke wujudmu yang seharusnya. Sekarang, kau pejamkan kedua matamu dan kosongkan pikiranmu!" Siyeon langsung memejamkan kedua matanya dan pikirannya ia buat kosong.


"Berkonsentrasi lah!" perintah Ayahnya.


Cahaya dengan empat warna mulai menyelimuti tubuh Siyeon, wanita itu terangkat ke atas langit. Rambutnya mulai kembali menjadi warna putih, pakaiannya juga berubah menjadi gaun putih dengan beberapa renda biru di ujung gaunnya. Sayap empat warna mulai keluar dari punggungnya, cahaya yang mengelilingi tubuhnya itu mulai bertambah terang hingga menyilaukan mata yang melihatnya. Perlahan tubuh Siyeon kembali ke bawah.


"Sekarang bukalah kedua matamu, sayang!" Siyeon membuka kedua matanya, kini matanya berubah warna menjadi empat, putih, hitam, biru dan hijau. Sebuah tongkat crystal keluar dari tangannya kanannya, ia menatap tongkat dengan empat warna itu dengan tatapan takjubnya. Sangat indah, itulah kata yang terlintas di pikirannya.


"Aku adalah seorang putri! Sekarang penampilanmu sudah menjadi putri yang sebenarnya, kau bisa memusnahkan iblis dan kembali menghidupkan alam crystal dan juga alam Dewa. Kami akan selalu berada di sisimu, Taeyong juga sudah menunggumu. Pemuda itu sudah kami hidupkan kembali dan ia akan bertambah kuat dari sebelumnya. Berbahagialah dengan pangeranmu, putriku. Kami mencintaimu," semakin lama tubuh kedua orang tua Siyeon memudar dengan cahaya putih menutupi tubuh mereka.


"Aku akan selalu bahagia, karena kalian tidak akan meninggalkanku. Begitu juga dengan pria yang aku cintai," gumam Siyeon sebelum dirinya juga ikut menghilang.


TBC...