
Terdengar suara teriakan dari dalam rumah, kemudian seorang ART datang dengan setengah berlari menemui ibu Rahayu
“Bu Ayu,,bu..mas Wanda jatuh didepan pintu kamar mandi, hidungnya berdarah!!” Ucap sang ART
Ibu Rahayu langsung memerintah untuk memanggil security dan sopir, Pakde Altri dan Bude Nia juga datang melihat kedalam rumah,
“Ada apa bu Ayu? Kok berisik sekali?” Tanya bude Nia, yang setengah berlari masuk kedalam rumah.
Mereka terkejut melihat Wanda sudah terbaring dilantai depan pintu kamar mandi dengan posisi kepala dipangku ibu Rahayu dengan hidung Yang mengeluarkan darah.
sementara opa dan oma masih diteras belakang, karena kondisi opa Yang sedikit susah berjalan dia pun memilih tetap duduk.
Neyna dan Rheina pun menyusul masuk kedalam rumah,
“Ada apa bude?” Tanya Neyna pada bude Rania, Neyna kaget hingga membuat tubuhnya sedikit terhuyung kebelakang dan langsung ditahan oleh Rheina
“Kak Neyna..kakak duduk dulu kak” Ucap Rheina memapah Neyna duduk dikursi, kemudian sopir dan security datang dan langsung mengangkat tubuh Wanda kedalam mobil, yang diikuti bude Nia.
Mobil yang dikendarai sopir keluarga opa melaju dengan cepat, membawa Wanda, Neyna dan bude Nia.
Neyna menangis, membayangkan kemungkinan terburuk yang terjadi, dia menghapus air matanya sambil menggenggam tangan Wanda,
“Bertahanlah...bertahanlah Nda..kamu pasti kuat, kamu harus melihat anak kita lahir, aku mau suara kamu yang pertama kali di dengarnya didunia ini, aku mohon Wanda,,bertahanlah demi anak kita” Ucap batin Neyna sambil meneteskan air mata dan menggenggam tangan Wanda, bude Nia yang duduk disamping Neyna, menghapus lembut punggung Neyna menguatkan, firasatnya mengatakan kalau Wanda tidak pingsan biasa seperti kebanyakan orang kelelahan atau tekanan darah yang naik ataupun turun, pasti Wanda sedang menderita penyakit yang serius, ditambah lagi kekhawatiran Neyna yang tak henti nya menangis dan menggenggam erat tangan Wanda.
Sesampainya di depan ruang IGD, para perawat langsung memindahkan Wanda ke tempat tidur lalu mendorongnya masuk keruang periksa Instalasi Gawat Darurat,sementara Neyna dan bude Nia menunggu diluar.
Tak hentinya Neyna berdo’a untuk kondisi Wanda, dia berharap agar Wanda bisa kuat dan bertahan, bude Nia mendekati dan duduk persis di sebelah Neyna kemudian merangkul bahu Neyna dan memeluknya.
Sebagai seorang wanita, bude Nia bisa melihat kesedihan yang mendalam pada sorot mata Neyna
“Menangis lah nak, luapkan kesedihan yang kau simpan dihatimu dan jika kau merasa tak kuat memikul kesedihanmu sendiri, berbagilah pada bude, bude siap membantumu nak” Ucap bude Nia sambil masih memeluk tubuh Neyna dan mengusap punggungnya.
Tangis Neyna semakin meraung, tambah lagi karena kondisinya yang sedang hamil hingga membuatnya sensitif dan gampang menangis.
Nia meraih wajah Neyna dengan kedua telapak tangannya dan menghapus butiran air mata yang mentes dipipinya,
“Kenapa nak? Boleh bude tau?” Ucap Nia
Neyna menatap wajah Nia, menarik nafas dalam kemudian menghembuskannya perlahan,
“Sebenarnya Wanda sedang sakit bude” ucapnya terputus
“Lalu..sakit apa Yang diderita Wanda nak?” Tanya Nia lagi
“Wanda menderita...leukhemia bude, stadium akhir” Ucap Neyna lirih
Seketika tubuh Nia bergeser menatap lurus kedepan, tak terbayang olehnya sebelumnya, keadaan ini akan menimpa pada keponakan satu - satunya dan juga sebagai pembawa nama belakang keluarga Hussein.
“Sejak kapan Wanda menderita leukhemia nak?” Tanya bude Nia
“Lebih kurang tiga bulan yang lalu bude, awalnya dia juga masih merahasiakannya pada Neyna, dia sering demam dan mimisan” terang Neyna
“Jadi usaha apa yang dilakukannya nak?” Tanya Nia
“Neyna sudah memintanya mengikuti saran dokter untuk melakukan kemotherapi, hanya saja Wanda mengatakan itu hanya pekerjaan sia-sia, karena itu tidak akan membunuh sel kanker Yang sudah menjalar keseluruh jaringan ditubuhnya, dia hanya ingin menjalani sisa-sisa usianya dengan bahagia, sampai tiba saatnya nanti, Ney punya banyak kenangan indah bersamanya, itu permintaan nya bude, dia juga bilang kalau waktu almarhum ibunya dulu juga sudah divonis usianya kurang lebih satu tahun, jadi menurut dia tidak perlu repot melakukan kemo” Ucap Neyna
Kemudian salah satu perawat keluar dari ruang IGD tersebut, serentak bude Nia dan Neyna bangkit dari duduk nya
“Bagaimana keadaan suami saya sus?” Tanya Neyna pada perawat tersebut
“Ibu istri pasien Yang ada didalam, dokter ingin bertemu, tapi hanya Ibu saja” Ucap perawat tersebut, secara tidak langsung melayang bude Nia ikut bergabung
“Gak apa sus, dia orang tua saya, tolong izinkan sus?” Pinta Neyna
Suster tersebut pun mempersilahkan keduanya masuk kedalam ruangan Dokter jaga IGD.
Didalam ruangan dokter tersebut,
“Silahkan duduk bu” Ucap sang dokter, Neyna dan bude Nia duduk dihadapan dokter tersebut.
“Bagaimana kondisi suami saya dok, Tanya Neyna
“Daya tahan suami Ibu semakin menurun, sel kankernya sudah menyebar keseluruh tubuhnya, saya sudah menghubungi dokter Rian, sebentar lagi dia akan datang kesini” Ucap dokter jaga tersebut .
Tak lama, muncul dokter Rian, dokter spesialis penyakit dalam sekaligus teman kuliah Wanda, lalu dia menyalami Neyna dan bude Nia
“Apa kabar Ney, dengan Ibu?” Tanya Rian sambil tersenyum menatap kearah bude Nia
“Oh..kenalkan dok, saya budenya Wanda, kakak kandung dari papanya” Ucap bude Nia
“Oh ya..ternyata om Irwan punya saudara juga, Wanda selama ini gak pernah cerita kalau almarhum punya saudara, salam kenal Tante,,saya Rian dokter dan sekaligus sahabat kuliahnya Wanda” Ucap Rian memperkenalkan diri yang dibalas anggukan dan senyuman oleh Bude Nia.
Kemudian Rian menjelaskan kondisi kesehatan Wanda dan alasan Wanda tidak mau melakukan kemotherapy.
“Jadi langkah apa Yang harus dilakukan dok?” Tanya bude Nia
“Waduh..panggil Rian aja tante,,yah kita tunggu aja dulu Wanda sadar, terus nanti kita bicarakan dengan dia, kita juga harus menghargai keputusannya selama ini yang tidak mau melakukan kemo tante” Ucap Rian, bude Nia pun mengangguk setuju.
Lalu Neyna dan bude Nia pamit untuk melihat keadaan Wanda.
Wanda dipindah keruangan rawat inap dan masih tidak sadar. Kemudian oma, opa, pakde Al, Rheina dan Bima pun tiba dirumah sakit,
“Assalamu’alaikum...Neyna gimana kondisi Wanda nak?” Tanya oma pada Neyna, terlihat raut wajah khawatir oma dan opa.
Mereka duduk di sofa yang ada dalam ruangan VVIP tersebut,
Neyna dan bude Nia saling berpandagan, lalu bude Nia berucap pada Neyna,
“Sampai kapan harus di tutupi nak, sudah saatnya mereka tahu, mereka akan kecewa kalau kita tidak memberi tahu mereka” Ucap Bude Nia pada Neyna
“Bude saja yang sampaikan ya” ucap Neyna
“Loh..?! Ada apa ini, kok kalian membuat oma dan opa bingung, sebenarnya ada apa sih ? Tanya oma kembali.
Dengan menarik nafas panjang dan menghembuskan nya perlahan, bude Rania pun memberi tahu kondisi Wanda,
“Pa, Ma,,saat ini Wanda sedang sakit, dan sakitnya itu bukan penyakit biasa,,Dia...dia menderita leukemia,,
stadium akhir” Ucap Bude Nia pelan.