
Wanda menggenggam tangan Neyna dan membawa keruangannya. Didalam ruangan Wanda Neyna kesal dan melepaskan tangannya yang digenggam Wanda
“Kamu apa - apaan sih, kenapa kamu bilang didepan mereka kalau aku istri kamu?!” Ucap Neyna
“Memang kenyataan nya begitu kan? Kamu memang istri aku, untuk apa ditutupi lagi?” Ucap Wanda
“Aku kan udah bilang agar tetap merahasiakan status pernikahan kita, aku gak mau diperlakukan berbeda dengan karyawan lain di kantor ini” ucap Neyna
“Tapi kenyataan nya kamu malah di fitnah kan? Aku gak tahan mendengar kamu di fitnah dan mereka berfikir buruk tentang kamu Ney,,suami mana yang tahan mendengar nya!!” Kesal Wanda.
Neyna terdiam mendengar ucapan Wanda, Entah kenapa Neyna merasa kehilangan kata - kata atas ucapan Wanda barusan.
“Mulai sekarang, aku gak akan menutupi lagi pada siapapun itu tentang pernikahan kita” ucap Wanda.
Wanda mendekat pada Neyna memegang kedua lengan Neyna dan menatap wajah Neyna dalam,
“Mulai detik ini, aku akan selalu menjaga kamu, melindungi kamu dan tetap berada disisi mu, sampai hembusan nafas terakhir ku” ucap Wanda sambil memeluk erat tubuh Neyna.
Neyna terkejut dengan perlakuan Wanda, entah apa yang menyebabkannya jadi seperti ini fikir Neyna, dan entah mengapa Neyna tidak melepaskan pelukan Wanda, dia merasa nyaman dan tenang dalam dekapan Wanda.
“Mulai hari ini, kita akan pulang dan pergi bekerja bersama - sama, aku gak mau main kucing - kucingan lagi” ucap Wanda masih tetap mendekap tubuh Neyna.
“Terserah...” ucap Neyna singkat.
Mendengar ucapan Neyna Wanda tersenyum. Tak bisa dipungkiri memang saat ini dia gak mau jauh - jauh dari Neyna, apalagi dia tau saat ini Neyna sedang mengandung anaknya.
Sore harinya saat jam pulang kantor, Wanda menghampiri ruangan Neyna membuka pintunya,
“Kamu udah selesai, kita pulang sekarang?” Ajak Wanda
“Ya udah..” jawab Neyna sambil beranjak dari meja kerjanya menuju pintu.
Saat berjalan menuju lift, Wanda meraih tangan Neyna kemudian menggenggamnya erat, terlihat seluruh pasang mata menatap kearah mereka namun tidak berani berkomentar sedikit pun.
Mereka memasuki lift khusus, didalam lift Wanda masih menggenggam tangan Neyna. Neyna hanya diam dan menatap kesisi kanannya kearah wajah Wanda kemudian berganti menatap kearah tangannya yang digenggam erat Wanda.
Wanda masih tetap santai menggenggam tangan Neyna dan tak banyak bicara. Hingga di lobby utama mobil Wanda sudah terparkir, lalu dia membukakan pintu untuk Neyna kemudian dia menuju sisi kemudi.
Setelah keributan tadi siang, semua karyawan dikantor itu tidak ada lagi yang berani membicarakan Neyna, bahkan mereka merasa iri atas perlakuan Wanda terhadap Neyna.
Nadia yang juga melihat perlakuan Wanda yang terus menggenggam tangan Neyna, dia merasa semakin kesal dan iri.
Masih diperjalanan pulang keapartemen,
“Kamu pengen makan apa?” Tanya Wanda ke Neyna
“Aku lagi gak pengen makan, lagi gak selera makan, kita pulang aja” jawab Neyna
“Yakin gak pengen makan apa - apa? Kamu harus makan, ntar kamu sakit lagi,,kita makan masakan arab yok,,ada nasi briyani enak banget, kamu pasti suka” Ucap Wanda
“Mau ya,,mau ya,,mau ya sayang?” Ucap Wanda sambil mengedipkan matanya
Neyna mengerutkan dahinya, heran melihat tingkah aneh Wanda, Neyna menempelkan punggung tangannya ke dahi Wanda,
“Kamu kenapa,,sakit atau kesambet?” Tanya Neyna heran
“Iya aku kesambet setan arab, jadi pengen makan nasi briyani, mau ya?” Pinta Wanda, karena Neyna memiliki keluhan hipotensi sehingga Wanda mengajaknya makan - makanan yang menaikkan tekanan darah.
“Ya udah..” ucap Neyna, Wanda pun tersenyum dan melajukan mobilnya menuju restauran Arab tersebut.
Wanda memesan nasi briyani hanya satu, karena Neyna tidak mau dan dia hanya memesan samosa.
Sambil menunggu pesanan mereka datang, Wanda mengajak Neyna ngobrol,
“Ney,,kamu udah enakan kan, udah gak pusing lagi!?” Tanya Wanda
“Kalau pusing sih udah nggak, tapi mual nya itu masih, apalagi pagi hari, segitu aku makan yang segitu juga aku keluarkan” curhat Neyna.
Wanda tersenyum menanggapi ucapan Neyna, membuat Neyna merasa aneh
“Kamu kenapa sih,,hari ini tuh aneh banget, gak kaya biasanya, ada apa?” Neyna mencoba menanyakan nya
“Ohh..gak kok cuma lagi pengen makan diluar berdua aja, kaya orang pacaran, kita kan gak pernah pacaran” ucap Wanda
“Ya gak pernah lah!! Yang ada berantem terus,,bikin naik darah” ucap Neyna
“Ya itu dulu,,sekarang kita berdamai lupakan semua kenakalan dan tingkah laku aku yang dulu membuat kamu jengkel, kesal, emosi, marah, naik darah atau apa pun itu aku minta maaf,,” ucap Wanda
Neyna terdiam sejenak, menatap wajah Wanda, dia merasa ada yang aneh pada dirinya, entah mengapa saat ini emosinya tidak meluap - Luap jika berhadapan dengan Wanda, tak seperti awal pernikahan mereka, ia lebih memilih menghindar agar tidak terjadi keributan.
Wanda juga tidak lagi memancing keributan dengan Neyna seperti yang selalu dilakukannya saat awal menikah. Kedua nya masih terdiam dan saling tatap, Neyna merasakan hal yang aneh saat menatap wajah Wanda, dia merasa ada kenyamanan dan keamanan disana.
“Ney...kamu mau kan maafin aku?” Tanya nya lagi
“Aku belum yakin akan ketulusan permintaan maaf kamu, soalnya sejak dulu tuh kamu cuma nge prank aja, jadi aku belum percaya kalau kamu bener - bener tulus” ucap Neyna
Wanda menghela nafasnya, ia merasa wajar Neyna berfikiran seperti itu, mengingat kelakuannya yang meminta maaf tapi tidak benar - benar meminta maaf, yang terkadang dibarengi dengan keisengan nya.
Wanda memberanikan diri meraih kedua tangan Neyna dan menatap mata Neyna
“Aku kali ini tulus mau minta maaf ke kamu Ney,,tolong maafin aku ya? Aku berjanji,,kedepannya aku gak akan godain, jahilin atau bikin kamu kesal lagi, aku mau kita membuka lembaran baru dalam menjalani pernikahan ini, kamu mau kan maafin aku,,please..?” Wanda memohon
Neyna merasa gugup diperlakukan seperti itu oleh Wanda, Neyna melihat ada ketulusan dari sorot matanya, dari nada bicara nya dan dari perlakuannya, sampai akhirnya Neyna pun menerima permohonan maaf Wanda
“Baiklah...aku maafin kamu” ucap Neyna singkat, Wanda langsung memeluk tubuh Neyna.
Neyna terkejut dan terdiam, lagi - lagi dia merasa aneh akan tingkah laku Wanda,
“Apa yang sudah terjadi padanya ya?kenapa dia berlaku aneh seharian ini, tadi siang di pergi dan berjumpa dengan siapa ya, kok tiba - tiba jadi aneh kaya gini sih?!” Batin Neyna.
Makanan yang mereka pesan pun datang, mereka pun mulai melahap makannya. Wanda mulai melahap nasi briyani yang terletak diatas nampan bulat yang lumayan besar, dengan potongan daging kambing panggang diatasnya dengan aroma bumbu rempah - rempah yang menyengat.
“Ini tuh enaknya makan pake tangan, lebih nikmat,, hmmm...kamu mau?” Tanya Wanda, Neyna hanya menggelengkan kepala, memperhatikan Wanda yang makan dengan lahapnya.
Karena mata Neyna terus memperhatikan Wanda yang makan dengan sangat lahap, lalu Wanda menyuapkan nasi pada Neyna,
“Ayo...kamu cobain,,ini tuh enak,,a’...” Wanda menyuapi Neyna dengan tangannya langsung, Neyna pun membuka mulutnya.
Setelah dirasa oleh Neyna, terlihat ekspresi wajahnya seperti merasa makanannya lumayan enak, kemudian Wanda memberi suapan berikutnya dan Neyna membuka mulutnya.
Akhirnya mereka makan nasi briyani sepiring berdua dan Wanda yang menyuapinya Neyna.
“Tuh kaaan,,,apa aku bilang,,pasti kamu suka, apa kita pesan lagi ?” Tanya Wanda
“Gak..udah..aku udah kenyang” tolak Neyna merasa perutnya sudah sangat kenyang.
Setelah Wanda membayarnya, mereka pun beranjak menuju parkiran dan masih dengan perlakuan yang sama, Wanda tetap membukakan pintu untuk Neyna, kemudian Wanda melajukan mobilnya menuju apartemen.