Deja Vu

Deja Vu
28. Permintaan



Satu bulan berlalu setelah Bram berangkat ke Papua. Neyna menjalani hari-harinya dengan segudang kesibukannya.


Begitu juga dengan Mimi yang mulai disibukkan dengan pekerjaannya dikantor Rosi, semenjak ada Mimi segala urusan yang berhubungan dengan perusahaan asing di handle Mimi.


Sesekali mereka bertiga berkumpul di caffe langganan mereka, mencurahkan segala uneg-uneg mereka, terkadang mereka melepas kangen dengan sahabat mereka Caca melalui panggilan vidio call, yang betah menjadi tenaga pengajar di daerah asal mereka.


Malam itu Neyna, Mimi dan Rosi makan malam bersama di restauran di sebuah Mall, tertawa bersama bercanda melepas lelah setelah seharian sibuk dengan pekerjaan mereka. Sedang asyik ngobrol,


tiba-tiba ponsel Neyna berbunyi, panggilan dari papanya.


“Assalamu’alaikum nak, kamu dimana, sudah pulang kerja ?” Ucap papa yang langsung dijawab Neyna


“Walaikumsalam pa, Ney lagi makan pa bareng Rosi dan Mimi, kenapa pa ?”


“Ney,,malam ini papa sama mama berangkat naik kereta malam ya, besok pagi kamu bisa jeput distasiun ?” Ucap papa Neyna


“Lohh,,,koq dadakan pa, emang ada apa? papa sama mama sehatkan?” Tanya Neyna sedikit khawatir, lalu papa menjawab


“alhamdulillah sehat nak, papa sama mama mau liat opa Usman, tadi siang Wanda telpon papa, katanya Opa Drop, Ok ya nak,,papa udah jalan ya nak, kamu jangan malam-malam pulangnya, ntar kesiangan jeput papa, Assalamu’alaikum” lalu telpon pun terputus.


Keesokan paginya, tepat pukul 04.30 Wib neyna sudah berada distasiun kereta. Setelah papa dan mamanya tiba Neyna langsung membawa keapartemennya.


Kemudian pukul 08.00 Wib, sehabis sarapan, Neyna dan kedua orang tuanya bersiap menuju rumah sakit tempat opa dirawat.


Kebetulan hari sabtu jadi Neyna libur dan bisa ikut menjenguk opa. Tiga puluh menit kemudian mereka sudah tiba di rumah sakit. Mereka menaiki lift menuju lantai paling atas, letak ruangan ICU.


Sesampainya Didepan pintu ruangan ICU, terlihat oma sedang terduduk diruang tunggu sambil memegang tasbi berzikir


“Assalamu’alaikum ibu, gimana kabar ayah bu?” Sapa papa kepada Oma, sambil mencium tangan oma yang diikuti mama dan Neyna


“Kamu kapan nyampe nak? begitulah ayah tidak sadarkan diri, kemarin ayah sedikit ribut dengan Wanda, mereka sama-sama keras kepala, akhirnya ayah jatuh pingsan dan langsung dilarikan kesini” papa dan mama mengangguk


“sekarang Wanda dimana bu?” Tanya papa ke oma


“Wanda sedang didalam terus menemani opanya, dia terlihat sangat menyesal atas kejadian kemarin, begitu opa masuk ICU, dia memohon izin pada dokter jaga yang kebetulan kakak seniornya untuk bisa menemani opa dan memantau keadaan opa langsung”.


Wanda keluar dari ruang ICU, menyapa dan mencium tangan papa dan mama Neyna


“gimana keadaan opa nak, apa ada kemajuan?” Tanya papa Neyna, Wanda hanya menggeleng dengan raut wajah sedih.


Lalu dia memeluk omanya, “oma,,maafkan Wanda oma, ini semua karena Wanda oma, maafin Wanda,,Wanda gak mau kehilangan opa sama oma, cuma kalian yang Wanda punya” oma berusaha menenangkan Wanda dan mengelus lembut punggung cucunya


“sudahlah nak, ini bukan salah kamu, Kita berdoa saja, mudah-mudahan opa cepat sadar ya nak, kamu belum makan dari kemarin,nanti kamu sakit, pergi makan dulu dan


bersih-bersih, biar oma yang nunggu disini, kan ada om dan tante Wira yang nemeni oma” lalu Wanda bergegas menuju ruangan rawat inap yang sudah disiapkan untuk opa, jika sudah sadar opa segera dimasukkan keruangan VVIP tersebut.


Sekilas Wanda melirik kearah Neyna yang berdiri di sebelah mamanya.


Neyna masih Dirumah sakit menemani papa dan mamanya yang menemani oma, sebenarnya dia sudah tidak betah, lalu dia pamit pada kedua orang tuanya mau membeli kopi di caffe yang terletak dilantai 1 rumah sakit itu.


Neyna duduk disalah satu meja yang ada didalam caffe tersebut dan melihat menu lalu Neyna memesan minumannya.


Sambil menunggu pesanannya datang, Neyna mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi Bram tapi tidak ada jaringan, terlihat raut wajahnya sedikit kecewa.


Sedang asyik memainkan gadgetnya, tiba-tiba Wanda duduk dihadapannya


“boleh duduk disinikan?” Tanyanya, belum ada jawaban dari Neyna dia langsung duduk Didepan Neyna.


Neyna menatap Wanda, lalu kembali fokus pada layar ponselnya, tak memperdulikan Wanda.


Wanda pun memesan makanannya. Tak lama minuman pesanan Neyna pun tiba, dan beberapa menit kemudian pesanan Wanda pun tiba.


Wanda langsung melahap makanannya karena dia memang sangat lapar sedari kemarin belum makan.


Neyna yang masih memainkan ponselnya sesekali melirik kearah Wanda yang sedang makan.


Selesai Wanda makan dia langsung berucap


“Udah kenyang?” Ucap Neyna dingin, disambut anggukan Wanda.


Kemudian Neyna bergegas bangkit meninggalkan Wanda, hendak membayar minumannya, tiba-tiba Wanda menarik tangan Neyna, Neyna melihat kearah tangan Wanda yang sedang memegang tangannya


“Maaf Ney” lalu melepaskan pegangan tangannya


“Ney,,nanti dulu, aku mau ngomong” Neyna menoleh kearah Wanda, dengan tatapan dingin


“Mau ngomong apa, diatas aja ngomongnya” ucap Neyna, namun Wanda menolaknya


“Aku mau ngomong disini, gak mau diatas, gak enak ada oma sama orang tua kamu” ucap Wanda.


Lalu Neyna duduk kembali, “kamu mau ngomongi apa?” Tanya Neyna, tapi Wanda masih terdiam


*******-***** kedua tangannya, mengisyaratkan dirinya sedang gugup.


Beberapa menit tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut Wanda


“kalau gak ada yang mau diomongi, aku mau naik keatas” ucap Neyna sambil berdiri dari duduknya, namun Wanda lagi-lagi menahan Neyna


“Ok Ney Ok,,aku akan bicara, kamu duduk dulu” ucap Wanda, lalu Neyna pun duduk kembali dan menatap kearah Wanda, tatapan Neyna membuat Wanda semakin gugup, dia pun berusaha mengumpulkan kekuatannya untuk bicara.


“ Neyna, semalam aku bertengkar hebat dengan opa, aku sedang sibuk mengurus kuliah spesialisku, sementara opa merongrong terus menyuruhku untuk segera menikah, sampai akhirnya kami ribut,,yahh ini semua salahku, andai saja aku tidak berdebat dengan opa, mungkin semua ini tidak akan terjadi” lalu kalimat Wanda terhenti, Neyna masih menunggu dan terdiam.


Lima menit berlalu mereka hanya saling diam, dan tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut Wanda. Akhirnya Neyna pun bicara “jadi rencana lo apa?” Ucap Neyna singkat.


Wanda menundukkan wajahnya kemudian berucap


“lo sakit ya? berobat gih,,mumpung Dirumah sakit !” Ucap Neyna memberi saran karena dia menganggap Wanda sedang tidak sehat sehingga ucapannya ngelantur.


Wanda langsung mengangkat wajahnya dan berucap


“Neyna aku serius,,mungkin selama ini aku jutek, jahat dan jahil sama kamu, aku minta maaf, tapi kali ini aku bicara serius, maukah kau menikah denganku Neyna?” Neyna yang memasang wajah jutek langsung berucap ketus


“atas dasar apa lo ngajakin gua nikah sama lo? Gak ada angin gak ada hujan, gua juga bukan pacar lo, jangankan pacar temen aja kita nggak, terus kenapa tiba-tiba ngajak gua nikah? emang lo yakin gua bakal mau?”


Wanda terdiam sejenak, lalu berucap, “Kemaren aku bertengkar hebat dengan opa, dia menyuruhku segera menikah, sebenarnya aku mau menyelesaikan kuliahku dulu, tapi dia tetap bersi keras menyuruhku menikah, aku bilang aku belum punya calon, lalu dia menyuruhku untuk menikah denganmu, dari situlah pertengkaran kami terjadi, akhirnya opa drop” Neyna masih memasang wajah jutek


“Terus dengan mengambing hitamkan opa kau mengajak ku menikah begitu? Maaf aku gak bisa” ucap Neyna dan langsung beranjak meninggalkan Wanda.


Wanda menghapus kasar wajahnya dan membiarkan Neyna pergi.


Sesampainya di depan ruang tunggu ICU, terlihat kedua orang tua Neyna dan oma sedang berbicara serius, kemudian mereka mengalihkan pembicaraan setelah melihat kedatangan Neyna.


Neyna lalu menghampiri papanya dan berbisik


“pah,,,kita masih lama ya disini ?” Papa menatap Neyna dan berucap


“Sabar ya nak, kasian oma sendirian, kita harus menghiburnya,,” ucap papa Neyna pelan. Neyna pun duduk disamping papanya.


Tiba-tiba perawat keluar dari ruang ICU “keluarga bapak Usman?” Lalu oma berdiri dan berucap


“iya suster,,saya istrinya, ada apa dengan suami saya suster?” Tanya oma khawatir, “begini bu, pak Usman sudah sadar, dan dia menyebut nama Wanda, bisa tolong dipanggilkan bu?” Oma langsung menelepon Wanda yang masih berada di caffe


“hallo nak,,kamu dimana, bisa segera kesini, opa kamu udah sadar nak, dia mau ketemu kamu,cepat ya nak!” Wanda langsung berlari menuju lift.


Sampai Didepan ruangan ICU Wanda langsung masuk kedalam dan diikuti omanya. Neyna dan kedua orang tuanya menunggu diluar dengan cemas.


Sementara Wanda dan oma sudah berada disisi kanan dan kiri tempat tidur opa


“ya opa, ini Wanda, opa maafin Wanda opa, Wanda akan segera mengikuti kata opa, Wanda akan meminta Neyna pada om Wira, opa sembuh ya, Wanda akan segera menikah” ucap Wanda yang Terisak sambil memegang tangan opa.


Terlihat bulir-bulir air mata keluar dari sudut mata opa, kemudian opa berucap terbata-bata “oopa maau mee.li..haat ka..mu me..ni..kah de..ngan Ney...na se..ce.patnyaa, o..pa su..dah ti..dak kuat la..gi” Wanda menangis tersedu melihat kondisi opanya


“Opa sembuh ya, semangat opa, Wanda akan segera melamar Neyna.,opa sembuh ya, sekarang opa Istirahatlah” lalu Wanda dan oma keluar dari ruang ICU, dengan wajah yang sembab.


Papa dan mama mendekati mereka


“Gimana keadaan ayah bu? Ayah baik-baik saja kan bu?” Tanya papa ke oma, oma mengangguk, sementara Wanda menghilang entah kemana.


Malam semakin larut, Wanda belum kembali, entah kemana dia menghilang.


Neyna dan kedua orang tuanya tidak tega meninggalkan oma sendirian, maka mereka menunggu sampai Wanda pulang. Tepat pukul 23.00 Wib Wanda kembali kerumah sakit.


“Om Wira, tante koq belum balik?” Lalu papa Neyna berucap “kami sengaja menunggumu nak, kami tidak tega meninggalkan oma sendirian disini, jadi berhubung kamu sudah kembali, om sama tante pamit pulang dulu ya, in syaa Allah besok om akan datang lagi” Wanda pun berterima kasih pada papa dan mama Neyna, sementara Neyna memilih menghindar, Neyna langsung berpamitan pada oma yang diikuti kedua orang tua Neyna.


Diperjalanan menuju apartemen, mereka tidak berbincang sepatah kata pun. Hingga tiba Dirumah mereka masih membisu, lalu mama dan papanya masuk kekamarnya dan begitu juga Neyna.


Neyna heran dengan kedua orang tuanya yang bersikap tidak biasa. Biasanya papa atau mamanya selalu ada bahan yang dibicarakan selama diperjalanan tapi malam ini tidak.


Neyna pun menganggap mungkin mereka lelah pikirnya dan Neyna pun masuk kekamar mandi untuk bersih-bersih dan berwudhu melaksanakan shalat Isya.


Selesai shalat Neyna merebahkan tubuhnya diatas kasur, dan kembali terbayang ucapan Wanda saat di caffe tadi kemudian dia kembali terbayang ucapan Shifa, kalau sebenarnya Wanda menyukainya.


Semua berkecamuk didalam fikirannya, hingga tanpa sadar dia tertidur.


Keesokan harinya, Neyna bangun kesiangan dan dia langsung buru-buru berwudhu untuk melaksanakan shalat shubuh.


Kemudian dia keluar dari kamarnya, Neyna mencium aroma masakan yang sangat lezat.


“Mama,,,masak apa pagi-pagi begini?hari ini bukannya mama sama papa mau kerumah sakit lagi ya? Ngapai masak sih ma, ntar Mama capek lo!” Ucap Neyna sambil meminum segelas susu yang sudah tersedia di meja makan


“Mama bosan makan diluar terus, mama pengen makan masakan rumahan, terus mama liat stok di kulkas kamu komplit, ya udah mama masak aja” ucap mama sambil terus menyiapkan masakannya


“Waahh harum banget mah,,,Neyna laper,,makan ahhh..” lalu mama memukul tangan Neyna yang sedang mengambil piring yang sudah tertata di meja


“Eh..!anak gadis belom mandi udah langsung nyempil di meja makan, gak sopan tau!! mandi gih,,” Neyna kaget langsung memonyongkan bibirnya, ma..ini kan hari minggu, kasilah sedikit kelonggaran untuk anakmu ini mandi agak siangan dikit, bosan mandi pagi buta terus,,lagian mandi dengan keadaan perut kosong itu gak bagus mama, ntar masuk angin, jadi Ney harus isi perut ya..ya..ya?!”


Mama langsung melotot “gak bisa, mandi dulu, ntar kalau sarapan pagi belum mandi, jodohnya jauh lo!!”


Neyna mengerutkan jidatnya “massaa..syiiihh??!mamah pelit!!” Neyna pun langsung bergegas masuk kekamarnya untuk mandi.


Papa yang memperhatikan tingkah ibu dan anak itu hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya, lalu mama berucap


“jam berapa katanya dia akan datang pa?”, papa melihat jam yang ada di pergelangan tangannya “jam 09.00 wib ma,,mama udah selesai masaknya?” Dan mamapun mengangguk.


Ternyata kedua orang tua Neyna sedang menunggu kedatangan seseorang.


Selesai mandi Neyna langsung keluar kamar dan menuju meja makan, “eit..eit..eit...gak sopan ya! orang tua aja belum pada makan, ehh...nih anak malah nylonong aja” sergah mamanya sambil menampol ringan tangan Neyna yang sudah meraih sendok nasi


“mamah...apa lagi sih ma, masa anak sendiri gak boleh makan, tega deh mama, anak mama ini udah lapar mah,,ah boddo ahh!!” Neyna gak perduli, dan dia langsung menyendok nasi keatas piringnya, mamanya hanya geleng-geleng kepala.


Tiba-tiba suara bel berbunyi, papa yang sedang asyik membaca koran diruang TV memanggil Neyna


“Ney tolong bukain pintu, ada yang mencet bel nak” Neyna yang sudah bersiap mendaratkan sendokkan pertamanya kedalam mulut terganggu lagi karena suara bel tersebut


“ihhh...siapa sih pagi-pagi namu, gak tau apa ini hari minggu, yang punya rumah lagi gak terima tamu!” Sambil ngomel Neyna beranjak dari kursinya membuka pintu.


Jegleek.....


Eloo....???!!.