
Setelah panggilan vidio terputus dengan mamanya, Bram menarik nafas dalam, kemudian menghembuskannya perlahan,
“Ma, sebenarnya Neyna itu adalah calon menantu mama, tapi memang takdir berkata lain, hingga kami harus berpisah dan ternyata dia menikah dengan sepupu ku sendiri ma, aku disini hanya ingin menghapus luka hati ini ma, mudah-mudahan sepulang dari sini aku bisa menerima takdir yang udah dituliskan tuhan padaku” Ucap Bram.
Neyna sudah kembali bergabung dimeja makan, Wanda meraih tangan Neyna dari bawah meja dan menggenggamnya erat.
Kemudian opa mengajak mereka untuk duduk berkumpul di ruang keluarga.
Semua berbaur, mengobrol hingga sore menjelang, semua masuk kekamar mereka untuk bersih - bersih dan Bersiap menunggu waktu shalat maghrib.
Dikamar Wanda, Neyna sedang menyiapkan baju ganti untuk Wanda yang sedang mandi, tak lama Wanda keluar dari kamar mandi dengan handuk melingkar dipinggangnya.
Wanda tersenyum mendapati bajunya sudah tersedia ditempat tidur, kemudian pandangannya mencari - cari keberadaan Neyna, pandangannya pun tertuju pada pintu balkon kamarnya yang sedikit terbuka, setelah Wanda mengenakan pakaiannya, ia langsung menuju balkon menemui Neyna.
Dilihatnya Neyna sedang melamun menatap kejalan didepan rumah opa, dimana dulu dia sering melihat Bram parkir disitu sambil menatap ke balkon dan melambaikan tangannya ke Neyna.
Kemudian Wanda menghampiri Neyna, melingkarkan tangannya pada pinggang Neyna, tapi tangan Wanda tidak dapat melingkar di perut Neyna yang sudah sangat besar karena perutnya yang kian membuncit.
“Sayang lagi liatin apa?” Ucap Wanda tepat ditelinga Neyna
“Eh..gak liat apa - apa, Cuma senang aja kena angin sore di balkon ini, kamu udah selesai mandi?” Tanya Neyna
“Udah,,udah segar banget, kamu udah mandikan? Ayo masuk, udah hampir maghrib, gak baik ibu hamil maghrib - maghrib masih diluar, pamalih, ayo masuk” ajak Wanda sambil merangkul bahu Neyna.
Mereka berdua masuk, sembari menunggu azan maghrib, mereka duduk di sofa dan mengobrol,
“Kamu kepikiran ucapan bude waktu dimeja makan tadi ya?” Tanya Wanda sambil memainkan jari jemari Neyna Yang masih digenggamnya
“ucapan bude yang mana?” Tanya Neyna balik
“Waktu di meja makan tadi, waktu bude bilang dia pengen punya menantu yang pandai masak kaya kamu, sampai kamu keselek mendengarnya” Ucap Wanda
“Gak ah,,,emang aku lagi keselek kok,,gak ada hubungannya dengan ucapan bude tadi” Ucap Neyna
“Tapi wajah kamu gak bisa menipu Sayang, keliatan wajah kamu langsung berubah, aku paham kok, Bram masih memiliki tempat yang spesial dihati kamu, aku juga mau minta maaf karena sudah berada diantara kalian, aku janji akan menebus semuanya, aku akan mengembalikan kebahagiaan kamu dan Bram yang telah aku renggut secara paksa” Ucap Wanda dengan wajah sendu
“Kamu apaan sih ngomongnya, aneh banget,,gak ada yang direnggut jadi gak ada yang perlu dibalikin” Ucap Neyna menegaskan
“Tapi kan kenyataannya aku udah merusak hubungan kalian sayang, mungkin sakit ku ini adalah hukuman buat aku yang kudah merebut kamu dari Bram” Ucap Wanda
“Udah ya,,aku gak mau kita ngebahas masalah ini lagi, itu masa lalu, sekarang kita fokus kemasa depan aja, gimana caranya supaya kamu sembuh dan fokus pada kehamilan aku, itu aja,,jangan merembet kemana - mana” Ucap Neyna tegas.
Neyna memang wanita tegas yang konsisten dengan keputusan yang sudah diambilnya, sekalipun itu bertentangan dengan hatinya, bila dia sudah memutuskannya pantang baginya untuk merubah keputusan yang sudah diambilnya.
“Tapi buat apa kita melakukan pekerjaan yang sia - sia, karena penyakitku ini sudah stadium akhir Ney, dia sudah menjalar keseluruh tubuhku, lebih baik kita menjalani sisa kebersamaan ini dengan hal yang indah, agar jika saat aku sudah tiada nanti, ada hal manis yang bisa kamu ingat denganku bukan sebagai mimpi buruk kamu” Ucap Wanda Lirih
“Udah ya,,,aku gak mau dengar lagi kata - kata pesimis, kita harus optimis Berusaha demi kesembuhan kamu, apa kamu gak pengen liat anak kamu lahir kedunia ini, bermain dan bercanda dengannya? Dan apa kamu gak kasihan jika dia terlahir kedunia tapi tidak tau seperti apa wajah ayahnya, bahkan suara yang pertama kali dia dengar itu suara kamu ayahnya” Ucap Neyna yang mulai terisak
Wanda menenggelamkan wajah Neyna didadanya, dipeluknya erat dan keduanya meluapkan kesedihan mereka, tak lama terdengar suara adzan berkumandang.
“Kita shalat maghrib berjamaah yuk?” Ajak Wanda, Neyna mengangguk kemudian beranjak kekamar mandi mengambil wudhu, begitu jugak dengan Wanda, selanjutnya mereka memulai shalat maghrib dengan khusuk, setelah mengucap salam, Wanda berdo’a sambil sesekali menghapus butiran air matanya yang jatuh dari sudut matanya.
Shalat maghrib kali ini terasa beda dari biasanya, entah mengapa Wanda merasa waktunya sudah semakin dekat, dia merasa akan pergi jauh dan tak kembali.
Setelah selesai shalat, Neyna mencium tangan Wanda Lalu Wanda mengecup kening Neyna lama sambil memejamkan matanya.
Kemudian terdengar suara ART mengetuk pintu kamar mereka,
Tok..tok..
“Mas Wanda mba Neyna dipanggil Bapak untuk makan malam” Ucap ART
“Iya mba,,kami segera turun” Ucap Neyna.
Kemudian mereka merapihkan alat shalatnya dan bergegas menuju ruang makan.
“Kenapa nak,,Neyna kelelahan ya?” Tanya oma, Neyna tersenyum dan menjawab
“Ehh..Iyaa oma,,Neyna ketiduran,,maaf ya oma, opa, bude dan pakde” Ucap Neyna berbohong, Wanda tersenyum menatap wajah istrinya, kemudian mereka duduk dan mulai menikmati makan malamnya.
Sesekali terdengar obrolan dan candaan dari bude Nia, Bima dan Rheina, terlihat opa dan oma tergelak melihat tingkah anak cucunya itu. Sepertinya keluarga bude Rania adalah keluarga yang hangat, kompak dan penuh Canda tawa, Wanda menyaksikannya sambil tersenyum, merasa hangat berada di keluarga yang lengkap, walaupun papa dan mamanya tidak ada, setidaknya dia memiliki keluarga lain selain opa dan omanya, selama ini mereka hanya berkumpul bertiga saja, tapi hari ini Wanda baru merasakan kehangatan keluarga.
Selesai santap malam, mereka beralih ke teras belakang, tempat dimana opa selalu bersantai membaca koran sambil minum kopi, kali ini opa mengajak Wanda untuk bermain catur, kebiasaan yang sudah lama tidak mereka lakukan
“Wanda,,opa mau nantangin kamu main catur, masih punya nyali gak kamu melawan opa?” Tantang opa
“Waduh,,,rasanya harga diri ini tercabik - cabik kalau tidak menerima tantangan dari opa, baiklah kalau opa udah siap kalah dari aku,,siap - siap ya opa!” Tantang Wanda balik
“Wahh...sombong sekali anak jaman sekarang ini, ayo kita mulai” Ucap opa
“Baiklah,,,do’akan papa ya nak,,agar papa menang melawan eyang buyut kamu, mmuahh” Wanda berbicara didepan perut Neyna dan mengecup perutnya, membuat yang lain tertawa melihat tingkah Wanda.
Sementara opa dan Wanda bermain catur, oma dan bude ngobrol, Bima, Rheina dan Pakde Altri membakar jagung, yang sesekali dibantu Neyna
“Kamu dirumah aja Ney,,biar pakde Sama Bima yang bakar, Rhey ajak kakak kamu duduk nak, nanti dia kecapean” perintah pakde Altri pada Rheina
“Gak apa - apa om, Neyna seneng kok, nanti kalau capek kan Neyna istirahat” Ucap Neyna
“Udah ah kak,,biarin aja papa Sama Bima yang lanjutin, kita para lady’s duduk manis aja sambil menunggu Yang mateng, hayuk kak” ajak Rheina sambil menggandeng lengan Neyna.
Rheina dan Neyna pun duduk dikursi taman yang letaknya diluar teras
“Kita duduk sini aja yuk kak” ajak Rheina, Neyna pun menurut, mereka pun duduk dikursi taman itu.
“Kamu udah semester berapa dek?” Tanya Neyna memulai pembicaraan, Rheina terkejut mendengar panggilan Neyna terhadapnya, karena mirip seperti Bram memanggil dia dengan kata “Dek”.
“Udah semester tiga kak, kakak panggil Rheina dek, Rhey jadi ke ingat kak Bram yang memanggil Rheina begitu, Rheina kangen banget Sama kak Bram” Ucap Rheina
“Ohyaa...kak Bram juga sama panggil kamu dek ya, wah..kebetulan banget ya dek,,hehehe..” Ucap Neyna salah tingkah
“Kak,,,kak Bram itu dulu cinta banget lo Sama kakak, tiap apa - apa dia selalu curhat ke Rhey, Tanya ini lah, Tanya itulah, cewek itu sukanya digimanain sih dek, cewek itu suka dikasi hadiah apa ya dek,,pokoknya dia selalu cerita ke Rhey, sampai cara nembak cewek aja dia Tanya ke Rheina, kadang suka kesel digangguin terus Sama dia, tapi sekarang jadi kangen digangguin kak Bram” Ucap Rheina,
“Mungkin kakak sama kak Bram gak jodoh kali ya dek, mungkin jodohnya jadi saudara seperti ini” Ucap Neyna sambil tersenyum
“Iya sih,,tapi sepertinya kak Bram yakin banget kalau kaka bakal jadi jodohnya dia, walaupun kakak udah menikah, dia bilang ke Rheina kalau dalam hatinya dia yakin kalau kakak bakal kembali padanya dan gitu dia tau kak Wanda adalah sepupunya, dia langsung kembali ke Papua dan gak pernah kembali sampai saat ini, mungkin dia kecewa kenapa ternyata yang jadi suami kakak masih ada pertalian darah dengan dia” Ucap Rheina.
Neyna tak berkata apa - apa, dia hanya terdiam mendengarkan Ucap Rheina.
Mungkin karena perjanjian pra nikah nya dengan Wanda waktu itu, Bram merasa masih punya harapan untuk bersama Neyna namun ketika dia tau suami Neyna adalah sepupunya sendiri jadi dia memilih pergi menjauh menenangkan diri.
“Kak..ini jagungnya” Ucap bima sambil memberikan jagung bakar untuk mereka berdua. Saat asyik menyantap jagung bakar mereka, tiba - tiba terdengar suara teriakan dari dalam rumah,
“Ya ampun...Mas Wanda....”
Sontak semua yang ada diteras belakang, Neyna dan juga Rheina terkejut mendengarnya.
Hai..hai...para readers...
Lama tak menyapa kalian, semoga semua dalam keadaan sehat dan tak kurang satu apa pun.
Semoga masih tetap setia mengikuti kisah cinta Neyna ya, jangan lupa juga tinggalkan jejak kalian, like, vote, commen, favorite dan juga hadiahnya.
Next ada novel berikutnya, yang masih bertema cinta dan persahabatan.
All,,,big thanks yang udah ngikuti sampe ke episode ini. Semoga kalian sehat dan bahagia selalu.🙏🏻
Salam,
La Shakila🌷