Deja Vu

Deja Vu
26. LDR



Pagi sekali Bram sudah bangun dan mengobrol dengan Tante Lany di ruang makan, Neyna merasa tidak enak karena terlambat bangun


“tante,,,maaf ney kesiangan jadi gak bantuin tante didapur, maaf ya tan” ucap Neyna merasa tidak enak, Tante Lany pun tersenyum


“gak apa Ney, kamu kan capek seharian kemarin, Bram udah cerita semua ke tante kok, tapi kamu memang berhati baik ya, mau mencabut laporan kamu dan meminta polisi untuk merehabilitasinya saja, setelah apa yang dilakukannya Sama kamu ney, Yang hampir saja mengancam nyawa kamu sendiri, Tante salut Sama kamu nak, mau memaafkannya” Neyna tersenyum yang ditanggapi Bram


“nahh itu dia tan,,itulah yang membuat Bram jatuh hati tan,,gumess rasanya,,,ihhhh” Bram mencubit pipi Neyna, Neyna mengaduh kesakitan sambil menghapus pipinya yang memerah karena cubitan bram, Tante Lany tertawa melihat tingkah keponakanya itu lalu berucap


“Jangan gemes- gemes aja dong,,,dilamar atuh,,ntar kedeluanan orang baru nyahok lo!!” Goda Tante Lany ke Bram, langsung ditanggapi Bram dengan bersemangat


“asssiyaap Tante ku,,otw halal,,”Lalu mereka bertigapun tertawa bahagia.


Sore itu rencananya Neyna akan kembali ke hotel Y di puncak tempat dia tryning, Bram akan mengantarkannya.


Selesai mereka sarapan, Bram pun membawa tante Lany untuk menemani Neyna membeli oleh - oleh untuk dibawa pulang.


Selesai berbelanja mereka kembali kerumah Tante Lany dan Neyna pun bersiap - siap kembali ke puncak.


Tepat pukul 16.00 wib Neyna pamit pada Tante Lany


“Tante ney pamit ya tan, makasi ney udah dikasi nginap dirumah tante terus ditemeni beli oleh - oleh lagi, salam sama om ya tan,,tante sehat - sehat ya” Neyna pun mencium tangan dan pipi tante Lany, Bram juga pamit untuk mengantarkan Neyna


“Bram, hati - hati dijalan ya nak, jangan ngebut ya” Bram mengacungkan jempolnya ke Tante Lany.


Sepanjang perjalanan menuju puncak, mereka mengobrol lepas, tertawa yang sesekali bercanda dan saling ledek.


Kemudian Bram melajukan kendaraan menuju puncak pass, tepatnya di masjid atta'awun karena sudah masuk waktu shalat maghrib.


Setelah mereka menunaikan shalat maghrib, Bram mengajak Neyna santai sejenak menikmati udara malam.


Di seberang masjid tersebut terdapat warung tempat bersantai menikmati ubi cilembu yang manis, jagung rebus atau bakar menikmati malam dan menatap lampu kota bogor yang terlihat dari ketinggian 2.000 meter.


Neyna terlihat sangat bahagia sekali, menikmati langit malam yang bertaburan bintang dengan udara yang sejuk menusuk tulang.


Bram sangat tau hal yang paling disukai Neyna sambil menikmati secangkir kopi.


Neyna berdiri menengadahkan kepalanya keatas, merentangkan kedua tangannya dan menatap bintang - bintang sambil tersenyum, lalu memejamkan matanya, dan berucap


“nikmat mana lagi yang engkau dustakan, hamba sangat bersyukur atas nikmat ini semua, jangan engkau cabut nikmat ini ya Allah” Lalu Bram mengaminkannya sambil menatap Neyna dan tersenyum.


Setelah selesai menikmati langit malam itu, Lalu mereka bergegas menuju hotel Y tempat Neyna tryning. Sesampainya diparkiran hotel


“sayang aa' antar sampai lobby aja ya, ntar gak enak sama yang lain, kamu hati - hati ya, jaga kesehatan dan jaga hati kamu hanya buat aa'” Lalu Neyna pun berucap


“makasi ya sayang, udah mau ngajakin ney jalan - jalan walaupun dengan beberapa insiden yang membuat aa' repot, makasi udah jagain dan melindungi ney, sayang hati - hati dijalan, jangan ngebut, jangan ngantuk dan jaga diri dan jaga hati aa' Cuma untuk Neyna ya,,eh satu lagi,,,jaga mata ya,,jangan suka jelalatan liat Yang bening- bening ya !!” Ucap Neyna sedikit mengancam, Bram tertawa mendengar pesan - pesan Neyna


“air kali ah bening,.ahahaha...iya neng cantik,,hayuk turun...eh...gak mau cipika cipiki dulu nih Sama aa'?” goda Bram, lalu Neyna memajukan bibirnya cemberut


“apaan...banyak setan !!” sambil Neyna mencubit manja lengan Bram, dan mereka pun tertawa.


Setelah Bram mengantar Neyna dilobby utama, sebelum beranjak, Bram sempat berucap pada Neyna dengan sedikit berbisik


“aa' halalin mau ya neng ? kali ini aa' serius,, kelar urusan perizinan tambang aa' mau nemui camer ya, buat minta izin halalin putri kesayangannya” ucapnya genit sambil mengedipkan sebelah matanya, Neyna tersenyum malu dan berucap ''aamiin'' dan Bram pun langsung balik kebandung.


Diperjalanan pulang Bram bernyanyi mengikuti alunan musik di radionya sambil senyum - senyum sendiri membayangkan akan segera melamar Neyna, karena dia sudah memantapkan hati dan mengumpulkan nyalinya untuk meminta kepada papa Neyna.


Hal yang serupa dengan Neyna, didalam kamar hotelnya, langsung meloncat kegirangan diatas kasur, berguling kekanan dan kekiri, menarik selimut dan bersembunyi didalam selimut, seperti artis film India yang sedang bergulingan diatas rumput.


Dua hari berlalu setelah Neyna berkunjung ke Bandung, akhirnya jadwal tryning sosialisasi Neyna pun berakhir dan rencana Neyna akan berangkat menaiki pesawat pukul 18.00 wib sore.


Neyna dan teman rombongan lainnya akan berangkat melalui Bandara soeta, pukul 11.00 wib bus yang membawa rombongan mereka sudah beranjak menuju jakarta, mereka singgah sejenak membeli fresh milk, yogurt dan cemilan lainnya di Cimory.


Setelah selesai mereka pun melanjutkan perjalanan menuju jakarta.


Tepat pukul 16.00 Wib bus yang membawa rombongan Neyna tiba di bandara Soeta, lalu mereka mengambil bagasi mereka masing - masing dan menuju counter check in.


Setelah selesai check in Neyna menunggu di sebuah caffe didalam bandara, lalu terdengar panggilan vidio di hp Neyna, nama dan foto Bram muncul dilayarnya, Neyna langsung menerimanya


Bram


“Assalamu’alaikum calon bidadari surgaku, udah nyampe mana?”


Neyna


“Walaikumsalam a',,Neyna udah nyampe Soeta, lagi nunggu berangkat jam 18.00 Wib, sayang lagi dimana ?”


Bram


“aa' lagi di kampus sayang, di ruangan Profesor, lagi ngurus perizinan, in syaa Allah kelar hari ini, abis itu tinggal nunggu kabar selanjutnya deh, kapan proyek mulai jalan. Duuhhh baru juga beberapa hari gak ketemu aa' udah kangen, gimana kalau berhari - hari ya ? Kayanya sebelum aa' kelapangan harus buru -buru dihalalin ini, gak bisa nih kaya gini terus menahan rindu, apalagi gak ada jaringan, gak bisa telponan gak bisa vc,,mana tahaaaann !!”


Neyna


“Makanya cepetan dong, kalau nunggu aa' pulang dari Papua bisa - bisa Ney amnesia lagi sama aa', soalnya pasti penampilannya udah berubah, udah kaya Tarzan deh pasti,,hahaha..”


Bram


“iddihh sayang tega amat sama aa' dikatai Tarzan, tapi gak apa deh jadi Tarzan asal Jane nya kamu, biar kita bisa mesra - mesraan terus diatas pu'un, jadi gak ada yang gangguin,,hahaha”


Neyna


“ihhh,,,ge er..!! Emang siapa yang mau jadi Jane ? Ogah ah !! Biar aa' aja deh yang jadi Tarzan, Neyna mah tetap jadi Neyna aja,,,weekk”


sambil melet kearah Bram


Bram


“pake melet lagi,,koq gitu sih sayang,,koq gak setia kawin gitu sih ?! Udah mau dikawini juga masih ogah - ogahan,,awas ntar ya !!”


Neyna


“awas paan ? Gak takut ah,,!!”


Bram


“Ok fine,,liat aja,,,ntar kalau udah halal ya,,gak dikasi ampun nanti,, gumeess...!!” eh..sayang udah dulu ya,,Prof udah balik,,dahh sayang,,,


hati - hati ya, kalau udah nyampe kabari, Love you,,,mmuaahh Assalamualaikum”


Neyna


“hahaha....rasain !! Bukannya kerja malah vc an,,, ok sayang,,sayang juga hati - hati ya, jaga kesehatan,, love you too,,walaikumsalam”


Kemudian Neyna meneguk kopinya, sambil memainkan gadgetnya.


Setengah jam kemudian terdengar suara panggilan melalui pengeras suara, agar para penumpang segera menaiki pesawat, Neyna pun bergegas menuju pintu boarding pass.


Setelah didalam pesawat Neyna langsung memasang sabuk pengamannya, tak lupa Neyna berdo'a.


Neyna bukan baru kali pertama naik pesawat, tapi Ntah mengapa setiap bepergian dengan pesawat dia selalu merasa nervous.


Pesawat belum tinggal landas dia sudah bolak balik ke toilet, membaca leafleat do’a semua agama dibaca sakin nervousnya.


Setelah pesawat take off dan Neyna merasa tenang, dia pun memasang earphone mendengarkan lagu dari hp nya.


Terdengar alunan suara Annet yang menyanyikan lagu berjudul Mungkin Hari ini, Esok atau Nanti.


Kemudian Neyna membuka matanya menatap keluar jendela pesawat,


tiba - tiba dia merasa sangat sedih lalu meneteskan air mata.


“apa yang terjadi padaku?,, kenapa rasanya sangat sedih, padahal bukan baru kali ini aku menjalani LDR dengan kak Bram, tapi kenapa ini terasa sangat menyakitkan, aku merasa sepertinya kami akan berpisah sangat lama, lebih lama dari sebelumnya. Ya Allah restuilah kami, jika memang dia jodoh hamba, berikanlah jalan agar kami bersatu, jaga dia dan hatinya untuk hamba”


Tepat pukul 20.10 wib pesawat yang membawa Neyna mendarat. Setelah selesai mengambil bagasinya dia pun memesan taxi langsung menuju rumah Opa Usman.


Didalam Taxi telponya berdering, panggilan dari papanya,


“Assalamu’alaikum papa, Neyna udah nyampe pa, papa sama mama sehatkan?”


“walaikum salam,,Alhamdulillah kamu udah nyampe nak, papa Sama mama sehat, ohya..kamu langsung kerumah opa Usmankan ambil mobil kamu ? Sekalian terima kasih sama Wanda, kemarin dia udah repot nganterin mobil kamu”


“Iya papa, nih Neyna udah di Taxi mau kerumah Opa”


“syukurlah nak,, sampaikan salam papa Sama mama ke opa dan oma ya nak, terus nanti kamu hati - hati nyetirnya ya”


“Iya papa, beres,,dah papa,


Assalamu’alaikum”


Telponpun terputus. Tiga Puluh menit kemudian, taxi yang Neyna tumpangi sudah memasuki gerbang perumahan opa Usman, tak jauh dari gerbang utama, Neyna pun tiba dirumah opa Usman.


Setelah menurunkan barangnya Neyna pun memencet bel


“Assalamu’alaikum ibu, opa Sama


oma ada?” terlihat dibalik pintu, ibu Rahayu tersenyum pada Neyna dan mempersilahkan Neyna masuk.


Neyna pun langsung diajak ibu Rahayu ke ruang keluarga, karena opa dan oma sedang menonton televisi. Neyna mengucap salam


“Assalamualaikum opa dan oma ?” sambil mencium tangan opa dan kemudian oma.


Terima wajah opa tersenyum bahagia melihat kedatangan Neyna


“kamu Sama siapa nak, sendiri ?” tanya opa, Neyna pun menjawab


“Iya opa, ney dari Bandara langsung kesini mau sekalian jeput mobil, takut ngerepoti opa Sama oma”ucap Neyna santun.


Lalu oma mendekati Neyna dan memegang pundaknya lalu berucap


“gak ngerepoti koq nak, kan ada Wanda, biar diantar Wanda keapartemen kamu, soalnya kamu capek baru nyampe dari Bandung, besok juga harus kerja kan ?” Neyna tersenyum


“gak apa kok oma,, sekalian jalan, papa sama mama titip salam ke opa dan oma. Ohyaa..ini ada sedikit oleh - oleh buat oma sama opa”


Neyna menyerahkan beberapa bingkisan


“koq repot - repot sih nak, pake bawain opa sama oma segala” ucap opa, Neyna hanya tersenyum menanggapi ucapan opa.


kemudian muncul Wanda turun dari lantai 2, Lalu oma memanggil Wanda


“nak,,ini lo ada Neyna, dia baru nyampe dari Bandung langsung kesini, ohyaa,,,Neyna bawa


oleh - oleh nih,,ada susu Sama yogurt kesukaan kamu” Wanda pun ikut bergabung.


Opa dan oma terlihat bersemangat sekali mengajak Neyna mengobrol, Neyna yang sangat lelah merasa tidak enak untuk cepat - cepat pamit, melihat kedua orang tua itu sangat asyik mengajak Neyna ngobrol,


sedangkan Wanda terlihat cuek sambil bolak - balik memencet remot televisi.


Neyna melihat jam didinding sudah menunjukkan pukul 22.00 wib, Neyna pun mohon pamit pada oma dan opa


“opa oma,,Neyna pamit pulang dulu ya kapan - kapan Ney main kesini lagi” ucap neyna sambil mencium tangan opa dan oma Usman, lalu opa berucap ke Wanda


“Wanda, kamu tolong anterin Neyna bawa mobilnya ya, hari sudah larut malam nak, kasian anak gadis nyetir sendirian, nanti kejadian kaya kemarin lagi”


Lalu Wanda pun berucap


“lah..terus nanti Wanda pulang naik


apa opa ?”


opa yang mendengar ucapan Wanda langsung menjawab


“kamu tuh ya,,kan bisa naik taxi atau nanti opa suruh Rahmat jemput kamu”


Lalu Neyna yang merasa tidak enak pun menolak pada opa


“udah opa gak apa - apa biar Neyna nyetir sendiri aja, ney berani koq opa, lagian masih jam 10 malam kok, jalanan juga masih rame, udah gak apa koq opa, oma”


Ucap Neyna namun opa tetap memaksa agar diantar Wanda.


Akhirnya Neyna pun menurut.


Diperjalanan menuju apartemen Neyna, mereka tak berbicara sepatah katapun, kemudian Neyna menyalakan radio.


Tak lama ponsel Neyna berbunyi, nama Bram terlihat muncul dilayar, Neyna segera mengangkatnya


“Assalamualaikum aa',,ney udah nyampe, nih lagi di jalan menuju apartemen, naik taxi aa ',


Ok,,Iya nanti nyampe rumah Neyna telpon ya, walaikumsalam”


Mendengar ucapan Neyna barusan membuat Wanda berucap


“kamu bilang apa tadi, naik taxi ?? Emang kamu pikir aku sopir taxi kamu ya ?” Neyna menatap heran ke Wanda dan berucap


“gak baik loh ngupingi orang ngobrol, lagian aku gak bilang kamu sopir taxi kok, aku kan Cuma bilang naik taxi” Wanda langsung melotot mendengar ucapan Neyna


“eh...Siapa yang nguping? Orang punya kuping, lagian kamu ngomongnya kenceng, ya kedengaranlah !! udah dianterin malah bilang orang sopir taxi lagi, emang gak tau terima kasih!”


Neyna sebenarnya malas menanggapi Wanda, karena dia yakin ini akan panjang dan melebar kemana - mana, dia hanya berucap


“terserah deh mau ngomong apa!! Yang jelas aku gak ada bilang kamu sopir taxi dan aku juga gak minta dianterin kamu ya, aku bisa sendiri, Cuma gak enak Sama Opa aja!!” Ucap Neyna ketus.


Wanda memasang wajah kesal lalu berucap


“ya ampuuunn!! Nih anak keras kepala banget ya, gak ingat apa kejadian waktu kamu hampir di perkosa sama dua pemabuk itu!! Gitu masih sok nekat nyetir sendirian !!” Neyna tidak menjawab dan hanya memalingkan wajahnya kearah jendela dan berharap segera sampai diapartemennya.


Sesampainya diapartemen, Wanda langsung menelepon Rahmat sopir opa, untuk menjemputnya diapartemen Neyna.


Sambil menunggu Rahmat tiba, Wanda membantu Neyna membawa barang - barangnya ke lantai 6 apartemennya dan sesampainya didepan pintu apartemennya, Neyna bertanya “Lo mau masuk ?”


Mendengar ucapan Neyna Wanda sedikit emosi


“jadi maksud lo gua nunggu jeputan diparkiran gitu ? Udah dianterin, barangnya dibawain, masih juga gak terima kasih !!” Tak memperpanjang perdebatan lagi, Neyna pun mempersilahkan Wanda masuk.


Didalam apartemen, tanpa bertanya Neyna memberikan minuman kaleng.


Sementara itu, Opa dan Oma merasa senang karena rencana mereka menjodohkan Wanda dan Neyna selangkah lebih maju


“mudah - mudahan ini awal yang baik ya ma”


Ucap opa ke oma dibalas anggukan Oma dan tersenyum.