Deja Vu

Deja Vu
09| I CAN'T LET GO OF YOU AGAIN



"Taeyong Bleak?" Siyeon mengucapkan nama itu dengan jantung yang berdetak tak karuan, ia menatap jelas wajah dan tatapan pria di hadapannya. Manik mata merah yang terdapat titik hitam di tengahnya. Tatapan dengan sorot yang begitu tajam, menusuk dan juga mengerikan. Siyeon ingat jelas dirinya tak salah orang.


"Kenapa ini bisa terjadi? Kenapa kau datang dan menghilang? Kau membuatku takut dan juga bingung, apa yang kau lakukan kepadaku? Apa kau menyihir ku?" tanya Siyeon kepada Taeyong yang berdiri di hadapannya itu. Pria itu tidak bergeming dan terus menatap dingin Siyeon yang kini menatapnya tajam.


"Aku bukan seorang penyihir," jelasnya membuat Siyeon tak percaya.


"Kalau kau bukan seorang penyihir? Lalu apa yang kau lakukan kepadaku saat ini? Kenapa tiba-tiba aku kembali ke tempat ini? Bukankah aku di rumahmu tadi?" pertanyaan beruntun itu sama sekali tidak mendapatkan jawaban sama sekali.


"Kenapa kau diam saja? Apakah kau takut?" tanya Siyeon dengan mengeluarkan pisaunya, tangan tiba-tiba bergetar saat Taeyong melangkah mendekatinya.


"Jangan mendekat atau ku bunuh kau!" ancam Siyeon tak mengurungkan langkah Taeyong yang terus melangkah semakin mendekati Siyeon yang terus melangkah mundur untuk menjauhinya. Siyeon memberanikan dirinya untuk menusuk jantung Taeyong dengan mata tertutup, dirinya mulai membuka kedua matanya dan menatap tak percaya apa yang di lihatnya.


"Lakukan saja!" serunya dengan tenang membuat Siyeon menahan geramannya, dengan cepat ia menusukkan pisau yang di genggamnya ke arah jantung Taeyong. Namun, yang ia lihat tidak ada darah yang keluar dari tubuh Taeyong, pria itu juga tersenyum miring menatap raut kebingungan yang di tampilkan Siyeon.


"K—kenapa kau masih hidup?" tanya Siyeon dengan gugup, ia melangkah mundur dan membiarkan pisau kesayangannya tertancap di dada Taeyong.


"Pisau atau benda tajam apa pun, tidak akan bisa membunuhku. Kau tidak akan lepas dariku! Mulai sekarang, aku tidak akan melepaskanmu lagi!" cahaya pekat keluar dari mata Taeyong membuat tubuh Siyeon kaku, perlahan mata Siyeon mulai menutup dan ia merasakan tubuhnya berada dalam dekapan seseorang yang sedang terbang.


Mata indah Siyeon mengerjap perlahan, ia merasakan kepala sangat sakit sehingga pandangannya sedikit mengabur. Ia mencoba menghilangkan rasa pening itu dan bangkit dari tidurnya, saat pandangannya kembali normal Siyeon menatap dirinya sedang berada di dalam kamar dengan nuansa hitam dan cokelat. Aroma kayu manis kembali menyeruak ke dalam hidungnya, Siyeon turun dari tempat tidur dan melangkah ke arah pintu.


"Di kunci? Sial!" umpat Siyeon ketika pintunya di kunci, ia mencoba mencari kunci pintu tersebut di dalam kamar itu. Dirinya terus mengobrak seisi kamar yang hanya terisi beberapa perabotan, lemarinya saja hanya terapat selimut, piayama dan jubah hitam.


"Di mana kuncinya? Apakah pria itu menculik ku?" kesal Siyeon, ia juga tidak membawa apa-apa. Dompet dan ponselnya terjatuh di hutan, saat dirinya melihat Taeyong tadi.


"Aku sangat yakin, kalau pria itu bukan seorang manusia!" Siyeon mengusap wajahnya. Ia merasa terancam, dirinya tidak tahu apa yang akan terjadi kepadanya.


Kalau dirinya mati, mungkin hal itu tidak buruk juga, sehingga ia tidak usah bersusah payah mengakhiri hidupnya sendiri. Sejak lama, dirinya mencoba bunuh diri. Namun semua benda yang menusuknya tidak satu pun membuatnya mati, hanya sedikit darah yang keluar dan lukanya cepat menutup. Siyeon mendengar derap langkah yang mulai mendekat.


"Aku tidak akan membunuhmu!" suara serak dan berat itu mengalun di telinga Siyeon dari balik pintu yang Siyeon yakini adalah Taeyong. Perlahan pintu itu terbuka tanpa terdengar suara kunci sama sekali, membuat Siyeon menatapnya tak percaya.


"Kau sudah bilang kalau aku bukan manusia kan?" tanya baliknya membuat Siyeon mengangguk ragu, Siyeon melihat Taeyong melipat tangannya di depan dada dan menatap dirinya dengan intens, namun terkesan datar membuat Siyeon mengalihkan pandangannya.


"Aku bisa membaca pikiran setiap orang, itu adalah salah satu ke istimewaanku dan untuk pintu, aku tidak pernah menguncinya. Tetapi, aku membuatnya hanya aku yang bisa membukanya," Taeyong menjelaskan segala pertanyaan yang di pikirkan oleh Siyeon.


"Kau makanlah dan bersihkan dirimu, setelah itu kau kembali beristirahat. Aku akan keluar sebentar untuk menyelesaikan urusanku," Taeyong beranjak dari duduknya membuat Siyeon bergegas menahan lengan pria itu sebelum benar-benar pergi.


"Ada apa?" tanyanya tanpa menatap ke arah Siyeon.


"Apakah kau benar-benar ingin mengurungku di sini? Kenapa kau melakukan hal ini?" kini manik mata Taeyong menatap Siyeon yang sedang menatapnya sangat tajam.


"Ini demi ke amananmu! Jadi, turuti saja perkataanku!" Taeyong menghempaskan tangan Siyeon dan melangkah keluar dari kamar tersebut. Siyeon hanya menatap nanar pintu yang baru saja tertutup itu. Jika, Taeyong tak ingin membunuhnya. Lalu kenapa dirinya di culik dan tadi ia mengatakan ini demi ke amanannya? Ke amanan dari mana? Dirinya merasa tidak aman saat berdekatan dengan pria itu, tidak seperti saat dirinya berada di alam Dewa.


"Aku tidak akan makan sampai ia kembali!" Siyeon memilih naik ke atas tempat tidur dan merebahkan tubuhnya, matanya menatap kosong langit-langit kamar yang berwarna cokelat.


"Sebenarnya ada apa? Aku merasakan kekuatan yang sangat kuat dan mengerikan yang sedang mencariku," gumam Siyeon dengan mata yang terus mengerjap dengan cepat.


"Sudah tiga jam dan aku kelaparan!" kesal Siyeon memilih untuk memakan makanannya, niatnya menunggu Taeyong pun sirnah ketika perutnya terus meronta meminta untuk di isi.


Jendela kecil yang ada di kamar menyita perhatian Siyeon, ia melangkah mendekati jendela itu dan menarik tirai putih yang menutupinya. Siyeon menatap kondisi hutan yang sangat asri dan langitnya pun sudah berganti menjadi gelap, sinar rembulan membuat pemandangan hutan menjadi begitu indah. Setidaknya, ia tidak terus-terusan menatap tembok.


"Apakah jendela ini bisa di buka?" gumam Siyeon yang kini timbul senyum miring saat kunci jendela itu bisa di bukanya. Dirinya tidak mendengar derap langkah atau pun tanda-tanda Taeyong datang, dengan cepat ia mendorong jendela yang cukup untuk di lewatinya.


"Akhirnya bisa keluar juga!" seru Siyeon, ketika dirinya berhasil keluar dari kamar yang berada di lantai dua itu. Dirinya tidak takut ketinggian dan sangat pandai meloncat, dengan ancang-ancang yang sudah ia persiapkan dirinya bersiap untuk meloncat ke bawah. Tetapi, tubuhnya tiba-tiba kaku ketika mendengar suara yang membuat nafasnya tercekat.


"Kau tidak akan bisa kabur kemana pun!" suara itu tepat di sampingnya. Membuat Siyeon mengumpat di dalam hatinya, sebantar lagi dirinya bebas.


TBC...