Deja Vu

Deja Vu
03| THE HURTS



Happy Reading


Siyeon terbangun dari mimpi buruknya, nafasnya mulai memburu dan tubuhnya sangat lembab dengan keringat dingin di sekujur tubuhnya. Dadanya terasa sesak dan matanya mulai menggelap. Mimpinya begitu aneh, dirinya melihat ada sesosok bertubuh besar yang memegang sebuah pedang, wajahnya tidak terlihat sama sekali. Tapi, matanya berwarna merah menyala.


"Aku akan membunuhmu, seperti keluargamu. Tunggulah aku," kalimat itu yang di katakan oleh sosok tersebut, sebelum menghilang dengan cahaya pekat dan sangat hitam.


"Siapa orang itu?" gumam Siyeon setelah ia meneguk air yang selalu di taruh nya di atas nakas sebelah tempat tidurnya. Siyeon mengusap wajahnya dengan kasar, perasaannya mulai tidak tenang. Sekelebat bayangan menyakitkan terlintas di pikirannya.


"Aku tidak tahu siapa mereka? Tetapi, ketika aku melihat kejadian memilukan itu. Aku akan merasa kesakitan, sakit yang tak pernah hilang. Sakitnya sudah sangat dalam, hingga aku tidak bisa merasakan hal lain, kecuali sakit saat melihat mereka. Aku tidak pernah kasihan atau pun iba kepada orang jahat! Aku selalu ingin melenyapkan mereka!" Siyeon menatap dirinya di depan cermin. Matanya memancarkan kebencian yang penuh dengan luka.


Siyeon melirik ke arah jam yang terdapat di kamarnya, ia menghela nafas dan mulai menuju ke kamar mandi. Ternyata sudah pagi, ia akan keluar untuk berbelanja kebutuhannya sehari-hari. Sudah dua minggu dirinya berbelanja dan semua bahan-bahan di dapur dan di kulkas sudah habis tak tersisa, dirinya sangat malas bertemu dengan banyak orang. Dirinya lebih suka menyendiri dan tak mau menampakkan wajahnya di depan orang. Termasuk tetangganya yang selalu menatapnya aneh, karena ia tidak pernah mau berbaur dengan mereka semua.


"Aku akan menggerai rambutku, karena masih basah," gumam Siyeon yang sudah rapi dengan pakaian santainya. Ia keluar dari apartemen mewahnya dengan tas kecil yang terdapat dompet, ponsel dan juga pisau sangat kecil untuk berjaga-jaga.


Siyeon menatap sekitar apartemennya yang sangat sepi, ia tersenyum miring dan mulai melangkah menuju lift di dalam tidak ada orang sama sekali, sehingga ia sendirian. Hal yang sangat tenang dan nyaman untuknya, setelah pintu lift terbuka Siyeon melangkah ke basemen dan membuka pintu mobil mewahnya. Mobil yang jarang ia gunakan, ia lebih suka berjalan kaki atau bersama salah satu temannya yang bekerja di tempat yang sama dengannya. Orang yang selalu mengantarnya untuk menemui targetnya atau lebih tepat korban dari kesenangannya. Siyeon menatap jalanan yang cukup padat.


"Ck! Aku benci situasi ini!" decak kesal keluar dari bibirnya. Wanita itu sedang menahan emosinya, karena sudah setengah jam dirinya terjebak macet yang sangat panjang ini.


"Apakah tidak ada yang berniat menjalankan mobilnya?" kesal Siyeon dengan membuka pintu mobilnya. Ia melangkah keluar menghampiri orang yang sedang berkumpul di sebuah gedung yang terlihat mewah, lebih tepatnya jalan kecil yang bersebelahan dengan gedung tersebut. Ia melihat ada satu orang yang sedang menutup hidungnya.


"Maaf, ini ada apa ya?" tanya sopan Siyeon kepada wanita yang berumur tiga puluh tahunan itu, wanita menatap Siyeon sekilas dan menghirup udara.


"Di sana ada mayat pria yang tubuhnya membiru dan baunya sangat busuk, akh...aku sudah tidak tahan!" pekiknya dan berlari untuk menjauhi semua orang, wanita itu memuntahkan isi perutnya. Mungkin, terlalu jijik dengan apa yang di lihatnya. Sedangkan Siyeon menyeringai kecil saat korban yang di bunuhnya tadi malam kini sudah membusuk.


Beberapa polisi datang untuk menambah pasukan yang sedang mengatur lalu lintas. Siyeon kembali ke dalam mobilnya dan tersenyum menyeramkan, ia mengeluarkan senandung kecil dari mulutnya. Dirinya tidak sabar untuk menghabiskan korbannya malam ini. Ia ingin mengetahui bagaimana kondisi ketiga pria pembully tadi malam.


"Sepertinya aku harus melintasi jalan itu juga, bagaimana kondisi mereka?" gumam Siyeon dengan menyeringai. Ia kembali menjalankan mobilnya, setelah polisi mengatur lalu lintas. Mobilnya berhenti di sebuah tempat yang tak kalah ramainya dengan tempat sebelumnya. Namun, kali ini tidak begitu banyak mobil, karena keberadaannya di dalam perumahan.


"Ada apa ya? Kenapa ada banyak polisi?" tanya Siyeon kepada salah satu wanita yang lebih muda darinya. Wanita itu menatap kagum wajah cantik Siyeon dan membuat Siyeon terbatuk kecil untuk menyadarkannya.


"Ada tiga mayat pria dengan wajah hancurnya, satu dari mereka tertusuk di matanya dan tubuh mereka mengeluarkan aroma yang sangat busuk. Padahal, mayatnya tidak sampai dua puluh empat jam. Sekarang keluarga sedang meminta polisi untuk menyelidiki kasusnya," jelas wanita tadi membuat Siyeon menatap ke arah tempat kejadian. Terlihat tiga orang wanita dan pria sedang menangis, Siyeon menatap mereka dengan datar.


"Memangnya korbannya siapa?" tanya Siyeon lagi.


"Mereka bertiga terkenal dengan kelakukan minusnya, selalu membully orang hingga mereka semua gila atau mereka akan memperkosa seorang wanita yang melintas di hadpaan mereka. Itu informasi yang aku dengar dari salah satu tetangga korban," penjelasan itu membuat Siyeon menggeram. Kenapa ia tidak lebih kejam lagi membunuh mereka bertiga? Kalau ia tahu, kelakuan mereka yang sangat keterlaluan. Siyeon akan memisahkan anggota tubuh mereka san melemparnya ke jalanan.


"Kenapa kau terlihat begitu marah?" tanya wanita itu ketika melihat wajah Siyeon.


"Aku hanya kesal kepada mereka! Kenapa mereka tega melakukan itu semua? Tapi, aku cukup senang, karena mereka mendapat karma," jelas Siyeon dengan tersenyum miring.


"Hmm, kau benar. Aku juga sedikit lega, karena dengan begitu orang seperti mereka akan berkurang," ujarnya membuat Siyeon melirik ke arahnya.


"Kau mau ke mana?" tanyanya dengan menahan lengan Siyeon. Ia langaung melepaskan tangannya setelah melihat tatapan tajam yang Siyeon berikan. Ia berlari menuju ke kerumunan orang dan Siyeon kembali memasuki mobilnya untuk melanjutkan perjalanannya.


Siyeon sudah sampai di salah satu mall terbesar di tempat tinggalnya, ia langsung menuju minimarket untuk membeli barang-barang kebutuhannya. Banyak orang yang menatap dirinya, tidak biasanya ia mengurai rambutnya. Biasanya ia akan mengikatnya tinggi dan memakai masker untuk menutupi wajahnya, sehingga banyak yang mengira ia aneh.


"Apakah ada yang aneh dengan penampilanku?" tanya Siyeon kepada orang-orang yang melihatnya. Semua langsung menggelengkan kepalanya.


"Lalu kenapa kalian menatapku seperti itu?" tanya Siyeon dengan tatapan tajamnya membuat mereka semua langsung pergi dan tak menatapnya lagi. Siyeon mengambil ikat rambut di saku jaketnya dan mengikat rambutnya, namun tangannya di tahan oleh seseorang membuatnya terkejut dan langsung membalikkan tubuhnya.


Ia melihat seorang pria yang menatapnya dengan dingin, saat tatapan mereka saling terkunci entah ada apa dalam diri Siyeon sehingga ia membirkan pria itu mengikat rambutnya dan ia hanya terdiam saja. Tiba-tiba saja dadanya sesak dan ia kesakitan dalam diam.


"Kau sangat cantik!"


TBC...