
Neyna masih membisu, tidak ada sepatah kata yang keluar dari bibirnya, pikirannya berkecamuk, baginya saat ini bukan perkara yang gampang untuk memutuskan, banyak Yang perlu dipertimbangkan untuk memutuskan sesuatu dalam hidupnya.
“Kamu gak perlu jawab sekarang Ney, mungkin kamu belum siap atau ragu,, jawab saja sampai kamu sudah dapat jawabannya, kakak akan menunggu keputusan kamu” Ucap Bram
“Makasi kak..” ucap Neyna singkat.
Tak lama terdengar kumandang adzan shubuh, tepat pukul 04.50 wib, Bram pun mengajak Neyna untuk menunaikan shalat shubuh di masjid satu - satunya di perkampungan yang ada di sekitar hotel yang sedang dibangun.
“Udah adzan shubuh Ney,, kita shalat yuk” ajak Bram
“Eh..iya..kak..” jawab Neyna yang juga bergegas dari duduknya dan berjalan beriringan dengan Bram menuju masjid.
Setelah mereka selesai menunaikan shalat shubuh, Bram melihat ada sebuah warung kecil yang baru dibuka oleh pemiliknya.
“Ney..sambil nunggu terang,,kita sarapan di warung itu yuk” ajak Bram
“Iya kak..” jawab Neyna singkat, semenjak Bram mengutarakan niatnya, Neyna jadi semakin irit berbicara, hanya menjawab ketika ditanya dan berkata seperlunya saja, karena ucapan Bram tadi masih terngiang difikirannya.
“Ibu baru buka warungnya, boleh saya bantu” ucap Bram menyapa si Ibu pemilik warung yang sedang kesusahan membuka warungnya.
“Eh..iya mas ini siapa ya ?” Tanya si Ibu
“Kita orang baik bu, kita ada pekerjaan di hotel yang sedang dibangun itu, jadi karena nyampenya kepagian, kita mau sarapan di warung Ibu” terang Bram sambil membantu si Ibu.
“Oh...iya..iya..terima kasih ya mas, udah mau Bantuin Ibu, biasanya anak ibu yang bantuin buka warung, semenjak ada pembangunan hotel itu, anak Ibu jadi pengawas dan penjaga di sana nak, lumayanlah, walaupun dia gak bisa bantuin Ibu diwarung, tapi Ibu senang, dia sudah punya pekerjaan, banyak lo nak orang kampung sini yang merasa terbantu keuangannya akibat dari pembangunan hotel itu, terutama Ibu sendiri, yang tadinya warung Ibu sepi, sekarang semenjak ada pembangun itu, para pekerjanya sering ngopi disini, jadi warung Ibu rame nak, penghasilan ibu juga alhamdulillah meningkat” ucap si Ibu
“Syukur Alhamdulillah ya bu,,” ucap Bram, Neyna hanya memperhatikan interaksi antara Bram dan si Ibu, rasa kagum terpancar di wajah Neyna, mengagumi Bram yang dengan ikhlas membantu si Ibu.
Setelah sang Ibu selesai membuka warungnya yang dibantu oleh Bram, kemudian mereka pun memesan makanan dan minuman.
Si Ibu pun menyiapkan makanan pesanan mereka, sambil menunggu pesanan mereka, Neyna pun meraih ponselnya.
Mencoba menghubungi Tari pengasuh Rey, untuk menanyakan kabar Rey, namun tidak ada jaringan, Neyna pun mencoba berdiri dan menggeser posisi mencari signal, hingga akhirnya Neyna bisa menghubungi Tari.
Posisi Neyna lumayan jauh dari warung tersebut. Kemudian muncul dua orang laki - laki dan langsung duduk di warung tersebut.
“Bu...saya pesan biasa ya” ucap salah seorang dari dua laki - laki tersebut
“Saya pesan nasi rames plus kopi ya bu” ucap yang satunya, kemudian mereka lanjut mengobrol dan mengabaikan Bram yang juga duduk tak jauh dari tempat mereka.
Kedua pria itu bernama Anton penanggung jawab proyek dan Benny asistennya.
Setelah si Ibu mengantarkan makanan yang dipesan Bram dan Neyna, dia pun melanjutkan membuat makanan yang dipesan kedua laki - laki tersebut, sambil sesekali menanggapi obrolan kedua lelaki tersebut.
Anton dan Benny adalah pelanggan setiap hari di warung tersebut, hampir satu harian mereka selalu duduk santai di warung, tak jarang sang Ibu bertanya kepada mereka berdua sebenarnya mereka bekerja sebagai apa, karena seharian mereka hanya mengobrol, tak jarang si Ibu mengingatkan mereka untuk melakukan tugas dan tanggung jawab mereka, namun kedua nya hanya tertawa dan berkata bahwa mereka dibayar buat bersantai.
“Mas Anton dan mas Benny enak banget ya kerjanya, cuma duduk - duduk dari pagi sampai sore terus dapat duit lagi, memangnya bagian apa sih mas?” Tanya si Ibu
“Pokoknya posisi saya disini yang paling penting bu, kalau gak ada saya, mungkin proyek hotel ini tidak akan berjalan, kerja enak kan bu, seperti yang ibu lihat,, saya dari pagi setelah apel pagi, saya langsung nongkrong diwarung Ibu dari pagi sampe sore,Ibu senang juga kan, warung Ibu jadi ada pelanggan tetapnya” ucap Anton sambil tersenyum
“Ya saya sih senang - senang saja mas tapi masalahnya kan mas berdua ini bekerja tho,, digaji dari hasil kerjanya, lah terus kalau masnya gak ngapa - ngapain tapi tetap menerima gaji, apa itu gak curang namanya? Mas menuntut hak mas sama perusahaan yang sudah mempekerjakan mas tapi mas nya sendiri tidak melakukan kewajiban dan tanggung jawab yang sudah diberikan pihak perusahaan pada mas - mas berdua, ndak baik itu mas” ucap si Ibu mengingatkan kedua laki - laki tersebut.
“Sudah Ibu gak usah mikirin itu, yang terpenting dagangan Ibu laku, kalau masalah pekerjaan kami, biarlah kami yang mengurusnya, ya kan Ben..” ucap Anton sambil tertawa
“Iya benar bos,, yang pentingkan kalau bos - bos dikota minta data dan fotonya, pasti kita kirim, walaupun Ntah foto pembangunan proyek siapa yang kita kirim” Benny menambahkan,lalu mereka berdua tertawa, si Ibu hanya menggeleng - gelengkan kepalanya.
Sementara Bram sedari tadi mendengar pembicaraan mereka berdua. Kemudian Anton dan Benny beranjak dari duduknya.
“Ben,,kita jalan liat - liat kondisi sebentar, sambil ambil foto, siapa tau nanti diminta big boss” ajak Anton dan kemudian kedua pria itu pun beranjak meninggalkan warung tersebut.
“Mereka itu siapa bu ?” Tanya Bram pada si Ibu pemilik warung
“saya juga kurang tau mas, setiap saya tanya katanya posisinya itu yang paling penting disini, ya saya percaya aja,, lah Wong dia kerjanya Cuma duduk - duduk, terkadang pergi sebentar melihat proyek, abis itu dia balik lagi kesini, bisa dibilang dia lebih lama di warung saya daripada di proyek mas” Ucap si Ibu, Bram hanya mengangguk mendengar penjelasan si Ibu.
Tak lama, Neyna selesai melakukan panggilan telepon dengan Tari pengasuh Rey, dia pun kembali ke warung si Ibu.
“Gimana Rey, dia baik - baik aja kan?” Tanya Bram
“Iya kak,, dia baik kok, barusan selesai mandi, lagi main sama opa dan oma, kakak udah makan ?” Tanya Neyna
“Belum,,ini masih kumplit,, nungguin kamu selesai” Ucap Bram
“Kenapa nungguin Ney sih,, makan aja duluan, emak - emak mah rempong, harus cek anak dulu biar tenang sarapannya” terang Neyna
“Gak enak makan sendirian,, Ya udah...makan yuk” ajak Bram,
Mereka pun mulai menyantap sarapan mereka, si Ibu warung memperhatikan mereka, kemudian berkomentar
“Duuhh... si mba dan mas nya romantis banget ya,, makan aja harus bareng - bareng, suaminya gak mau makan duluan kalau istrinya belum makan, Ibu jadi teringat almarhum suami Ibu juga dulu begitu, apa - apa harus bareng sama Ibu, apalagi makan, harus selalu Ibu temani,, semoga langgeng sampai maut memisahkan ya mba dan mas nya” Ucap si Ibu tulus, sementara Neyna dan Bram saling berpandangan namun tak berusaha menjelaskan pada si Ibu tentang status mereka.
Selesai makan, Bram pun membayarnya, dan saat hendak beranjak dari warung si Ibu, Ibu tersebut berpesan
“Pasangan yang serasi, yang satunya ganteng dan yang satunya cantik,, semoga kalian bahagia selalu ya nak” pesan si Ibu pada Bram sebelum mereka meninggalkan warung, Bram hanya tersenyum kemudian berucap,
“Aamiin..Terima kasih bu,,” kemudian Bram berlalu meninggalkan si Ibu, sementara Neyna tertunduk.
Bram pun melihat - lihat sekitarnya, sementara Neyna fokus mengambil foto dan vidio bangunan, sedang asyik mengambil foto, tiba - tiba seorang laki - laki bertubuh kelar mendekati Neyna,
“Maaf mba,, ada keperluan apa mba mengambil foto dan vidio di lokasi ini, mba sudah melanggar undang- undang, kan sudah jelas didepan pintu masuk ada tulisan peringatan bagi yang tidak berkepentingan dilarang masuk apalagi mengambil foto sekitar lokasi proyek ini, maaf boleh saya pinjam ponselnya ?” Ucap laki-laki itu yang tak lain adalah Benny asisten Anton.
“Iya..saya tau,,saya juga sudah baca, saya rasa saya tidak melakukan kesalahan” Ucap Neyna
“Apa..? Mba bilang tidak melakukan kesalahan ? Yang barusan mba lakukan itu sudah melakukan kesalahan, mengambil foto dan vidio tanpa seizin kami” Ucap Benny
“Saya sudah memiliki izin kok, sampai izin mendirikan bangunan ini juga saya punya” Ucap Neyna
Sesaat Benny terdiam mendengar ucapan Neyna, tak lama muncul Anton karena mendengar suara kegaduhan.
“Ada apa ini ribut - ribut Ben ?” Tanya Anton pada Benny
“Oh ini bos, mba ini ambil foto dan vidio sekitar proyek tanpa seizin kita, malah katanya dia punya izin, bahkan izin mendirikan bangunan ini juga dia punya bos” terang Benny
Anton pun memandang Neyna dari ujung rambut sampai ujung kaki, kemudian dia bertanya,
“Mba ada keperuan apa kesini?” Tanya nya
“Saya mau memeriksa pembangunan hotel ini sudah sampai dimana, ternyata benar dugaan saya, dari data foto dan vidio yang dikirim tidak sesuai dengan keadaan sebenarnya, dalam laporan proses pembangunan sudah 30 %, tapi kenyataan dilapangan, masih 10%, saya akan menindak lanjutin ini” Ucap Neyna sambil berlalu meninggalkan kedua pria itu
“Maaf,, mba gak bisa pergi seenaknya, kami minta foto dan vidio tadi segera dihapus” Ucap Anton
“Anda Ibu Neyna kan? Tolong kerja samanya bu, atau....” Anton mencoba mengancam
“Atau apa..??” Tentang Neyna
“Atau Ibu tidak akan bisa pulang dengan selamat dari pulau ini” ancamnya
“Apa yang akan kalian lakukan?!! Lepaskan..!!” Ucap Neyna sambil mencoba melepaskan cengkraman Benny di kedua lengannya, sementara Anton mencoba merampas ponsel Neyna.
Bram pun muncul, karena mendengar suara gaduh tak jauh dari tempat dia memantau lingkungan sekitar proyek tersebut.
“Heiii...lepasin dia!!” Teriak Bram
“Wah..ada yang coba - coba jadi pahlawan kesiangan nampaknya,, eh... kamu kan Pria yang di warung itu kan? kalau saya gak mau lepasin terus anda mau apa?!” Ucap Anton
“Jangan kabar Sama perempuan,,lepasin dia, Cuma pengecut yang mau berhadapan dengan perempuan” Ucap Bram
“Wah..wah...songong banget lu ya,, jadi ceritanya lo nantangin gua,, ok..!! Gua jabani,,” Jawab Anton.
Dengan sigap Bram pun mengelak dari pukulan tiba - tiba yang dilayangkan Anton pada wajahnya, kemudian terjadi pertaringan antara keduanya, Neyna yang berusaha melepaskan cengkraman Benny pada lengannya dengan menggigit tangan Benny.
“Awww...sia***!!” Teriak Benny
Neyna pun berhasil melepaskan cengkraman Benny, dia pun langsung berlari mencari bantuan, sementara Anton yang sudah mulai kewalahan menghadapi serangan Bram, hingga Benny ikut membantu Anton menyerang Bram.
Tak lama kemudian,Neyna datang membawa beberapa orang pria untuk membantunya melerai pertarungan Bram dan Anton.
Akhirnya Anton dan Benny berhasil diamankan oleh tiga orang pria, yang salah satunya adalah putra Ibu pemilik warung Yang bernama Andika.
Anton dan Benny pun di bawa ke pos polisi yang ada di daerah tersebut untuk diproses, sementara Neyna dan Bram membuat laporan.
Setelah Anton dan Benny ditahan dan akan diproses selanjutnya, Neyna dan Bram pun bergegas menuju warung si Ibu.
Sesampainya diwaeung tersebut, si Ini menyuguhkan Teh pada mereka, karena dia sudah mendengar cerita dari putranya Andika.
“Diminum dulu mas,,mba,,kok bisa sampai terjadi seperti ini ya ? Saya juga baru dengan dari anak saya, katanya mba pemilik hotel ini ya,, aduhh...mimpi apa saya bisa ketemu sama pemilik hotelnya langsung” Ucap si Ibu
“Terima kasih teh nya bu,, Ibu salah,, sebenarnya bukan saya pemiliknya, tapi mas Bram lah pemiliknya, saya hanya bekerja” Ucap Neyna
“Loh...namanya suami istri itu, ya harta suami jadi harta istri juga,, begitu pun sebaliknya nak,,ayo diminum dulu..saya tinggal sebentar ya” ucap si Ibu, Bram dan Neyna hanya saling pandang mendengar ucapan si Ibu.
“Silahkan bu,,,terima kasih ya bu,, terima kasih juga buat Dika dan kawan yang lain,, yang udah bantuin mas Bram tadi” Ucap Neyna
“Gak apa - apa bu,, pak Anton dan Benny itu memang sudah lama begitu, Cuma kami sebagai bawahan tidak berani untuk menegurnya, ditambah lagi orang nya begitu itu,, suka menghalalkan segala cara,, syukurlah Ibu dan bapak datang untuk mengecek langsung, hingga cepat terbongkar kecurangannya” Ucap Andika
“Iya..sekali lagi terima kasih ya,, ohya...kalau kapal penyeberangan jam berapa ya?” Tanya Bram
“Bapak dan Ibu mau balik ya? Bisa kok,, teman saya punya kapal, biar pakai kapalnya aja, karena kalau nunggu kapal yang biasa, itu baru ada sekitar jam 5 sore nanti bu,, kalau ibu dan bapak mau berangkat sekarang biar saya antarkan” Ucap Andika menawarkan diri untuk mengantarkan mereka
“Boleh..kalau tidak merepotkan,,” Ucap Neyna.
Kemudian mereka pun berpamitan pada si Ibu dan berjanji akan datang kembali berkunjung.
“Ibu..kami pamit pulang dulu ya bu, terima kasih atas semua bantuan Ibu, insyaa Allah kita bakal datang lagi kok kesini” pamit Neyna sambil menyalami si Ibu yang diikuti Bram
“Iya mas,,mba,, saya juga terima kasih ya,,udah mau mampir ke warung saya,, mas dan mba hati - hati dijalan” Ucap si Ibu tulus
“Iya bu,,, kita jalan dulu ya bu,, mari bu..” Ucap Bram.
Mereka pun berjalan menuju dermaga lalu menaiki kapal penyeberangan yang sudah menunggu mereka.