Deja Vu

Deja Vu
32. Posisi Yang Sulit



Neyna sudah mulai gelisah ingin cepat-cepat pulang karena dia tidak mau bertemu Wanda, tapi oma masih mengajak Neyna dan kedua orang tuanya ngobrol.


Sampai akhirnya papa mulai melihat kegelisahan diwajah Neyna,


“Ibu, Ayah kami pamit pulang dulu ya,sebentar lagi jam besuk habis, biar ibu sama Ayah bisa istirahat juga. In syaa Allah kami besok datang kesini lagi” oma dan opa sedikit kecewa


“kok buru-buru nak, Neyna baru juga nyampe, ibu masih pengen ngobrol Sama Neyna” ucap oma, lalu mama tersenyum dan berucap


“ besok kami kesini lagi koq bu, ini udah terlalu malam, biar Ayah Sama ibu juga bisa istirahat”


Oma pun tersenyum kemudian berucap


“Baiklah nak, tapi besok Neyna juga kesini ya, biar rame” Neyna hanya tersenyum menanggapi ucapan oma, kemudian mereka berpamitan pada oma dan opa Usman.


Ketika Neyna hendak meraih handle pintu, tiba-tiba pintu terbuka dan munculah Wanda dari balik pintu Yang membuat pandangan Neyna dan Wanda bertemu.


Neyna cepat-cepat mengalihkan pandangannya.


“Akhirnya Yang ditunggu datang juga, dari mana saja kamu nak, oma sama opa nunggui kamu dari tadi ?” Sambut oma ke Wanda.


Wanda sedikit gugup mendengar ucapan oma, ditambah lagi ada Neyna, karena dia mengira Neyna tidak mau datang lagi kerumah sakit.


“Iya tadi Wanda pulang sebentar ambil baju ganti ma” ucap Wanda, lalu disambut senyuman oma dan langsung meraih lengan Wanda


“apa kamu sudah mempersiapkannya nak? Bagaimana kalau sekarang aja?” Ucap oma, Wanda bingung mendengar ucapan oma, begitu juga dengan Neyna dan kedua orang tuanya.


Wanda yang masih bingung dengan ucapan oma pun berucap


“Maksud oma apa malam ini?” tanya Wanda dengan ekspresi wajah bingung. Lalu oma berucap


“Lohh? kan opa minta Neyna dibawa kesini malam ini dan kamu akan melamar Neyna didepan opa Sama oma kan?” Wanda terkejut dengan ucapan oma, dia tidak mengira oma berharap secepat itu, terlebih Neyna yang mendengar ucapan oma, dia langsung memandang kearah kedua orang tuanya, tatapannya mengisyaratkan meminta penjelasan.


Namun belum sempat Neyna menerima penjelasan dari kedua orang tuanya, oma langsung menarik tangan Neyna dan Wanda kehadapan opa


“opa sekarang mereka sudah disini, opa senangkan? Dan secepatnya kita akan meresmikan mereka dan setelah itu kita akan berangkat kesingapur, opa semangat ya” terlihat senyum bahagia diwajah opa dan dia langsung mengangguk setuju.


Kemudian oma berucap lagi “nak,,sekarang dihadapan opa dan oma, kamu utarakan niat baik kamu ke Neyna, agar opa senang dan semangat untuk sembuh”


Alangkah terkejutnya Neyna mendengar ucapan oma, Wanda juga tidak bisa berbuat apa-apa, dia merasa terjebak akibat ulahnya sendiri yang sudah mengatakan pada opa dan oma kalau Neyna sudah setuju menikah dengannya.


Kedua orang tua Neyna pun hanya bisa terdiam dan tak bisa berbuat


apa-apa


“Ayo nak,,kenapa, kamu belum membeli cincinnya?” Tanya oma ke Wanda, Wanda menatap opa dan oma bergantian, dia tidak sanggup menghancurkan impian dan harapan kedua orang tua yang menjadi pengganti kedua orang tuanya itu.


Lalu berlahan Wanda mengeluarkan kotak kecil dari saku jaketnya, Lalu dia mengambil posisi berlutut menghadap Neyna dan berucap


“Neyna Wira Tanaya,,mau kah Kau menikah dengan ku ?” Ucap Wanda pelan dan tidak berani menatap wajah Neyna.


Ekspresi opa dan oma Wanda terlihat sangat bahagia, opa juga tak kuasa membendung air matanya yang mulai menetes membasahi pipinya.


Kedua orang tua Neyna hanya terdiam dan menatap haru. Neyna masih terdiam berdiri mematung.


“Ya tuhan,,apa yang terjadi ? Apa yang harus kulakukan, aku terjebak diantara orang-orang yang tak mungkin kusakiti, ingin rasanya aku menghilang dari hadapan mereka semua, tolong hamba ya tuhan,,berikan petunjukmu”


“Ney,,gimana nak, apa kamu bersedia menerima lamaran Wanda?” Tanya oma ke Neyna.


Neyna menatap kearah kedua orang tuanya lalu bergantian menatap kearah oma dan opa yang sudah meneteskan air mata, sedangkan Wanda masih dengan posisi berlutut dihadapan Neyna dan tertunduk.


Ingin rasanya Neyna menjerit sekuat tenaga, dia merasa terintimidasi tak bisa melakukan apapun, hanya matanya yang sudah mulai berkaca-kaca, oma yang melihatnya langsung membuka kotak kecil Yang di Pegang Wanda dan mengeluarkan isinya, lalu memberikannya ketangan Wanda, dan mengisyaratkan agar Wanda memasangkannya ke jari Neyna.


Wanda pun menerimanya dan menatap kearah Neyna dan masih dengan posisi berlutut, agar Neyna menerimanya demi membahagiakan oma dan opanya.


Neyna menatap kearah Wanda dengan tatapan benci dan muak atas semua yang sudah terjadi, dia memanfaatkan situasi yang tak mungkin Neyna tolak.


Kemudian Neyna mengulurkan tangan kirinya, sementara pada jari manisnya masih melingkar cincin pemberian Bram, Neyna tidak mau membukanya, dia hanya menukar dengan tangan kanannya.


Wanda menatap Neyna meyakinkannya, Neyna tidak berekspresi apa-apa, oma berucap “ayo nak,,pasangkan kejari Neyna”


Dengan tangan bergetar, Wanda mulai memasangkan cincin ke jari manis Neyna.


Tak terasa bendungan air mata Neyna mulai meluap membasahi pipinya. Oma berucap syukur sambil menghapus wajahnya dengan kedua telapak tangannya


“Alhamdulillah,,opa Wanda sudah melamar Neyna” ucap oma ke opa sambil mencium kening opa, opa pun tak kuasa menahan haru, dan meneteskan air mata bahagia.


Sementara mama Neyna faham perasaan Neyna, dia juga tak kuasa menahan air matanya, papanya sekuat tenaga menahan air matanya agar jangan tumpah.


Kemudian Neyna berucap pada Wanda


“Aku mau bicara!!” Sambil dia berlalu keluar ruangan opa.


Wanda pun menyusul Neyna keluar, sementara itu opa, oma dan kedua orang tua Neyna saling meluapkan kebahagian mereka.


Diluar ruangan opa, Neyna dan Wanda mulai bicara,


“Apa ini semua rencana mu ??” Ucap Neyna ketus sambil menghapus sisa air matanya.


“Maksudnya? Aku gak ngerti, rencana yang mana?”


“Jangan belagak bego, Ya rencana barusan! Kamu sengaja membuat aku terjebak disituasi sulit seperti tadi kan?? Membuat aku tak bisa menolak dan membantah, hebat kamu!!!”


“Ney,,dengar dulu penjelasanku, aku juga gak nyangka kenapa bisa tiba-tiba jadi begini”


“Apalagi yang mau dijelaskan, aku gak butuh penjelasan mu, kalaupun pernikahan ini terjadi kita harus buat perjanjian hitam diatas putih”


“Perjanjian seperti apa maksudnya? Ney kamu juga harus ngerti posisi aku, aku juga terjebak ney”


“Apa kamu bilang,,terjebak?? Haahh,,,ada ya orang terjebak tapi sudah mempersiapkan cincin”


“Ney,,aku hanya menuruti opa dan oma, kamu tau gak setiap hari aku didesak terus, ditanyai sejauh mana persiapanku untuk melamar mu, terus aku sebagai cucu apa sanggup menolaknya, membantahnya, sementara aku tau disisa-sisa umurnya ini aku belum pernah memberikan kebahagiaan pada mereka, aku gak sanggup ney! Aku Cuma punya mereka di dunia ini dan aku belum siap kehilangan mereka”


“Ya..ya..dengan mengorbankan kebahagiaan orang lain begitu?! Terserah Kau saja, berbuat lah sesukamu,,asal Kau tau,,.rasa benciku padamu sudah tidak bisa ditawar lagi, bahkan sampai aku mati!!!”


“Neyna,,aku juga tidak menginginkan kejadian seperti ini, tapi aku gak sanggup mengecewakan mereka ney, kamu kan tau sendiri gimana opa dan oma sangat berharap kamu yang menjadi cucu menantunya. Ok aku minta maaf atas semua ini. Dan apapun itu konsekwensi dan perjanjiannya aku siap!”


“Baiklah..nanti akan aku kabari selanjutnya!” Lalu Neyna pergi meninggalkan Wanda dan masuk keruangan opa untuk mengajak kedua orang tuanya pulang.