
Seperti biasa, setiap pagi Neyna sudah bersiap - siap berangkat ke kantor, sebelum berangkat dia selalu menyempatkan diri memandikan Rey, setelah itu dia sarapan dan bersiap berangkat ke kantor.
“Sayang,, mama berangkat dulu ya,, baik Budi sama mba ya nak,,I Love you” pamit Neyna pada Reyhan yang sudah tau bakal ditinggal, dan seperti biasa, ada drama tangisan Rey melepas kepergian mamanya bekerja.
Neyna pun berangkat ke kantor dengan diantar oleh Budi supir pribadinya, diperjalanan Neyna membuka agenda kegiatannya hari ini.
Melihat jadwal kegiatannya yang padat hingga malam hari dan dapat dipastikan dia akan bertemu dengan Rey malam hari disaat Rey sudah terlelap.
Ada rasa bersalah dihati Neyna, karena harus meninggalkan anak semata wayangnya, namun harus dilakukan demi masa depan Reyhan.
Sesampainya dikantor, pak Harry sudah tiba terlebih dahulu dan mengikuti Neyna menuju ruang kerjanya
“Pagi Mba Neyna, pagi ini kita ada meeting internal bulanan bersama para staff, setelah itu jam 10.00 Wib kita akan menghadiri launching produk baru dari perusahaan rekanan kita, setelah itu jam makan siang nanti kita ada janji makan siang bersama CEO Wijaya corp, sekaligus membicarakan proses pembangunan hotel di pulau W” ucap Harry menjelaskan sederet kegiatan Neyna hari ini
“Ok pak,,,kita segera keruang meeting,,” ucap Neyna singkat dan pak Harry pun mempersiapkan.
Begitu banyak kegiatan yang harus dijalani Neyna setiap hari, hingga terkadang dia harus pulang larut malam dan hanya bertemu saat Rey sudah terlelap, sehingga sebisa mungkin di pagi hari Neyna mengurus Reyhan.
Saat jam makan siang, Neyna dan Harry sedang bersiap menuju mobil yang sudah terparkir di lobby, mereka akan pergi makan siang di sebuah restauran mewah bersama CEO Wijaya Corp untuk membahas mega proyek mereka membangun hotel bintang lima di pulau W.
Setelah sampai dihalaman parkir restauran tersebut, Harry dan Neyna langsung menuju ruang VIP yang sudah di reservasi.
Saat makan siang berlangsung, tiba - tiba ponsel Neyna berbunyi, terlihat pada layar ponselnya nomor mba pengasuh Reyhan, firasat Neyna mengatakan ada sesuatu yang terjadi pada Reyhan, dia pun langsung keluar ruangan VIP sambil membawa ponselnya
“Ya Hallo mba,, Rey kenapa?”
“Hallo bu,, anu bu,, Reyhan badannya panas bu, suhu tubuhnya 39 derajat, tadi udah saya kasi obat demam yang biasa tapi ndak turun juga bu”
“Oh..Ok..saya segera pulang ya,,kasi minum air putih dulu ya mba, saya mau jalan pulang ini”
“Eh iya..bu”
Neyna langsung menutup ponselnya dan berjalan dengan tergesa kembali masuk keruangan VIP.
Neyna pun berbicara pada Harry,
“Ada apa mba Neyna, ada yang urgen ?” Tanya Harry melihat wajah panik Neyna
“Pak,,Reyhan panas tinggi, saya izin pulang mau bawa Reyhan kerumah sakit ya pak” ucap Neyna
“Oh..ya sudah..mba Neyna balik saja biar saya yang handle, biar saya suruh Budi untuk mengantar mba Neyna pulang ya” ucap Harry
“Gak usah pak,,,biar saya naik taksi aja, nanti setelah ini kan pak Harry ada meeting dengan klien, saya gak apa naik taksi aja pak,,saya jalan ya pak”
“Maaf pak Wijaya, saya izin ada urusan mendadak, saya tinggal dengan pak Harry ya pak, sekali lagi saya mohon maaf” pamit Neyna
“Ok Bu Neyna, silahkan,,nanti hasil meetingnya akan disampaikan oleh bapak Harry, silahkan bu”
“Terima kasih, Ok saya pamit ya pak, selamat siang” Neyna pun langsung keluar dari ruangan VIP dengan setengah berlari menuju pintu keluar, sambil memesan taksi online melalui ponselnya, sakin tergesa - gesanya Neyna, ia tidak melihat jalan Didepan hingga ia menabrak seseorang,
Gubraak.....
“Eh...maaf..maaf..saya gak sengaja” ucap Neyna sambil mengambil ponsel dan tas nya yang terjatuh dilantai,
“Neyna...”
Seketika Neyna menoleh keatas, dan dia melihat sosok yang sangat dikenalnya,
“Kak Bram,, maaf kak Ney gak liat tadi”
“Kamu mau kemana kok buru - buru banget?” Tanya Bram
“Iya kak,,,Ney mau pulang, barusan dapat telpon dari rumah, Reyhan panas tinggi, tadi Ney lagi ada meeting dengan klien disini, tapi udah ada pak Harry yang Handle, tadi Ney lagi mau pesan taksi online sampai gak liat kakak Didepan”
“Apa..Rey demam tinggi?? Ya udah ayo biar kakak antar pulang, nunggu taksi online ntar kelamaan”
“Oh...kakak kesini tadi mau ngapain? Gak usah deh kak,,biar Ney naik taksi aja”
“Tadi kakak ada janjian sama teman disini, tapi gak apa kok, ada yang lebih urgen, Ayo Ney !” Ajak Bram sambil menarik tangan Neyna menuju parkiran mobilnya.
Mereka pun berlari kecil sambil Bram menggandeng tangan Neyna menuju parkiran. Bram pun mengemudikan mobilnya dengan lebih cepat dari biasanya.
Sesampainya dirumah opa, Neyna langsung menuju kamarnya yang terletak di lantai 2 melihat kondisi Reyhan.
Sementara Bram menemui opa yang sedang duduk diruang keluarga
“Bram..kok kamu bisa bareng Neyna nak?” Tanya opa
“Iya tadi Bram ketemu Neyna di restauran, Neyna lagi ada meeting dengan klien, terus Bram liat Neyna buru - buru berjalan ke parkiran, Bram tanya katanya Rey demam, ya udah,,Bram anterin,,opa apa kabar, sehat kan?” Ucap Bram sambil mencium tangan opa
“Alhamdulillah opa sehat nak” jawab opa sambil menepuk pundak Bram
“Bram...tolong anterin Neyna kerumah sakit ya nak” pinta oma dengan wajah panik
“Iya oma,,ayo Ney” ajak Bram sambil membawa tas perlengkapan Reyhan, sementara Tari dan oma tetap tinggal Dirumah.
Diperjalanan menuju rumah sakit, Reyhan terus menangis, hingga Neyna kewalahan menenangkannya
“Sayaang...sabar ya nak,,,sebentar lagi kita nyampe rumah sakit, Reyhan anak pintarnya mama, harus kuat ya nak, jagoan mama harus kuat gak boleh nangis,,”
Bram sesekali melirik kearah Neyna yang sedang menenangkan Reyhan, ada rasa rindu dan haru dalam hatinya.
Sesampainya Dirumah sakit, Bram langsung menghentikan mobilnya Didepan pintu utama IGD, kemudian Bram keluar dari mobilnya dan membukakan pintu Neyna dan mengantarkannya kedalam
“Dok,,,tolong anak saya dok,, dia panas tinggi” ucap Bram Spontan pada dokter yang menyambut mereka, sementara tak sepatah kata pun keluar dari mulut Neyna.
Reyhan pun dibaringkan diatas tempat tidur periksa pasien, dokter mulai memeriksa keadaan Reyhan, sementara Bram keluar ruangan untuk memarkirkan mobilnya.
Selama diperiksa, Rey terus saja menangis, membuat Neyna tak tega mendengarnya, Neyna mencoba menenangkannya namun tetap saja Reyhan terus menangis.
“Ibu,, untuk menghindari hal yang tidak diinginkan, lebih baik putra ibu dirawat disini dulu agar bisa terus kami pantau suhu tubuh dan kondisinya” ucap sang dokter jaga
“Baik dokter,,lakukan apapun yang terbaik untuk anak saya dok” ucap Neyna cemas.
“Baik bu,,, tolong ibu tunggu di luar dulu ya” ucap salah satu perawat
“Tapi saya gak mau jauh dari anak saya sus” ucap Neyna dengan mata yang sudah mulai berkaca - kaca
“Iya bu,,,nanti ya bu,, setelah kami tangani” ucap perawat tersebut
Dengan wajah yang masih terlihat cemas, Neyna pun duduk di kursi tunggu yang tersedia Didepan ruangan IGD tersebut, kemudian Bram pun muncul
“Ney,,gimana keadaan Rey ?” Tanya Bram dan duduk disebelah Neyna
“Kata dokter Rey harus dirawat inap dulu kak, biar lebih terpantau, kak...Semoga Rey gak kenapa - napa ya kak,,” ucap Neyna dengan pipi yang mulai basah karena air mata, dia takut Rey mengalami hal yang sama seperti almarhum Wanda.
Bram mencoba menenangkan Neyna dengan menghapus lembut punggung Neyna, Neyna yang saat ini sedang butuh seseorang yang menguatkannya, seseorang yang bisa menjadi pelindungnya dan Reyhan dan seseorang sebagai tempat untuk berbagi suka dan duka, hingga tanpa sadar Neyna merebahkan kepalanya pada lengan Bram yang kekar dan berotot itu.
Bram tersentak, namun tetap membiarkan kepala Neyna menempel pada lengan kirinya itu, ada rasa hangat dirasakan keduanya.
Dokter yang menangani Rey keluar dari ruangan IGD
“Ibu Neyna,, sebentar lagi putra ibu akan kami pindah keruang rawat inap, sebentar ya bu” ucap sang dokter
“Terima kasih dok, saya sudah boleh ketemu anak saya kan?” Tanya Neyna
“Oh..iya silahkan bu”
Neyna pun langsung melihat keadaan Reyhan
“Sayaang...anak jagoannya mama,,sehat - sehat ya nak,,jangan sakit dong, kita berdua harus kuat ya nak,,” ucap Neyna sambil memeluk dan mencium Reyhan yang terbaring dengan selang infus ditangannya.
Reyhan masih merengek, mungkin karena merasa tidak nyaman dengan selang infus ditangannya, kemudian Neyna pun menggendong mencoba menenangkannya namun Neyna tidak berhasil, hingga membuatnya semakin bingung.
Bram yang melihatnya mencoba untuk Membantu menenangkannya,
“Ney...boleh kakak coba gendong Rey ?” Ucap Bram, Neyna pun mengangguk dan menyerahkan Rey pada Bram.
“Hai...anak gantengnya mama Neyna,, jangan nangis dong.. kasian mama jadi ikutan nangis, jagoan gak boleh cengeng ya dan gak boleh sakit juga, kan biar bisa jagain mama, anak pintar” ucap Bram sambil mengelus lembut kepala Rey dan sukses membuat Reyhan tenang dalam gendongannya hingga akhirnya tertidur dalam gendongan Bram.
Neyna heran melihat Rey yang terlihat sangat nyaman dalam dekapan Bram hingga membuatnya tertidur, kemudian perawat datang untuk memindahkan Rey keruangan perawatan.
“Ibu...kita pindah keruangan ya,,” ucap perawat tersebut
“Iya sus...tapi anak saya baru aja tidur, nanti kalau di taruh di tempat tidur dia terbangun lagi” ucap Neyna
“Gak apa bu,,biar dede digendong papanya aja, biar infusnya di bawa” ucap perawat
Neyna dan Bram saling pandang mendengar ucapan perawat tersebut yang mengira kalau Bram adalah papa Reyhan.
Mereka pun berjalan berdua menuju ruangan VVIP, Bram menggendong Reyhan sedang Neyna memegang botol infus dan perawat membawa tas perlengkapan Reyhan.
Sesampainya didalam ruangan VVIP, Bram belum meletakkan Rey diatas tempat tidur
“Kak...Reyhan udah nyenyak, letakkan aja ditempat tidur” ucap Neyna
“Gak apa - apa Ney, bentar lagi aja, biar dia lebih nyenyak lagi” ucap Bram.
Bram menggendong Rey sambil menatap lekat wajah bayi kecil yang tertidur di dekapannya itu.
“Nak,,,senyaman itu kamu digendong om sepupu papa kamu yang juga teman mama kamu, apa kamu merasa dipeluk papa kamu nak,,? Apakah ini pertanda kamu menginginkan om dan mama kamu bersatu, apakah ini jalan jodoh kami yang tertunda ?”