Deja Vu

Deja Vu
34. Hari Pernikahan



Wanda dan Neyna pun tiba didepan pintu ruangan ICU. Wanda langsung memeluk oma, sementara papa dan mama Neyna bertanya-tanya dalam hati melihat Wanda dan Neyna bisa bareng kerumah sakit.


Kemudian Wanda masuk kedalam ruangan ICU, untuk melihat kondisi opa, karena dia juga seorang dokter.


Sementara oma, Neyna dan kedua orang tuanya menunggu diruang tunggu khusus pasien ICU. Lima belas menit kemudian Wanda keluar dari ruangan ICU


“Gimana keadaan opa nak?” Tanya oma


“Opa sudah mulai normal, tapi belum bisa pindah keruangan perawatan karena opa masih di dalam pantauan, opa minta oma masuk kedalam”


Kemudian Wanda pamit ke kedua orang tua Neyna untuk masuk keruangan ICU bersama oma.


Neyna dan kedua orang tuanya menunggu diluar. Tak lama oma dan Wanda keluar dari ruangan.


Papa menanyakan keadaan opa


“Gimana keadaan opa nak?”


“Opa sudah mulai stabil om, tapi suatu waktu opa bisa kambuh sesak nafasnya, jadi harus segera dioprasi om, tapi rencananya opa mau dioprasi disingapur aja, karena dokter disini merekomendasikan dokter ahli jantung yang ada disana om”


“Kalau gitu, segera saja opa dibawa kesingapur nak,,lebih cepat lebih baik”


“Ya itu dia om,,opa masih bersikeras, opa maunya saya nikah dulu baru opa bersedia dibawa ke singapur, katanya kalaupun sesuatu yang terburuk terjadi padanya, dia sudah siap om” ucap Wanda dengan suara yang sedikit bergetar. Papa Neyna terdiam sejenak, tak lama oma mendekati Neyna


“Nak,,,bagaimana kalau pernikahan kalian dipercepat nak, agar opa segera di bawa kesingapur, setidaknya nikah saja dulu, untuk resepsi menyusul” Neyna seperti tersengat listrik, dia terdiam dan tak mampu berkata-kata, sementara papa dan mama Neyna saling pandang.


“Oma,,izinkan Neyna membicarakannya dengan papa dan mama dulu ya oma” ucap Neyna pelan, dibalas anggukan oma sambil menepuk lembut tangan Neyna berharap Neyna segera memberikan jawaban.


Wanda duduk tertunduk sambil mengatupkan kedua telapak tangan di wajahnya seperti sedang memohon disudut ruang tunggu ICU.


Kemudian oma mendekatinya dan menghapus lembut punggungnya.


Sementara itu Neyna mendekati kedua orang tuanya dan bicara.


“Gimana menurut papa?” Tanya Neyna, papanya paham betul perasaan putrinya itu, ia tidak mau memaksakan kehendaknya dan ia menyerahkan sepenuhnya pada Neyna, sambil meraih bahu Neyna menguatkan


“Nak,,ikuti kata hatimu, papa tidak akan memaksa karena nantinya Neyna yang akan menjalani, apapun yang menjadi keputusanmu papa akan dukung nak” dengan nada suara yang lembut namun tegas.


Neyna meneteskan air mata, dia pun menangis didalam pelukan papanya. Mama juga tak kuasa menahan air matanya. Selang beberapa menit kemudian, Neyna menghapus air matanya.


“Ya Tuhan sang pemilik hati,,


Engkau maha pengasih lagi maha penyayang, meskipun ini sulit, hamba mohon berkahi keputusan hamba, semoga ini yang terbaik buat hamba dan buat orang-orang yang ada di sekeliling hamba. Bismillah”


Kemudian Neyna melangkah mendekati oma dan Wanda. Neyna meraih tangan oma


“Baiklah oma, Neyna setuju pernikahannya dipercepat” ucap Neyna lirih, mendengar ucapan Neyna oma langsung menangis dan memeluk Neyna


“terima kasih sayang, kamu memang anak yang baik, pantas saja opa sangat mengharapkan kamu menikah dengan Wanda, sekali lagi terima kasih nak” oma masih sambil memeluk Neyna.


Sementara Wanda yang juga mendengar keputusan Neyna merasa lega dan berucap dalam hati


“Alhamdulillah ya Allah.,,


Semoga ini menjadi awal Yang baik untuk kesembuhan opa, mudahkan dan lancarkanlah ya Allah. Neyna,, terima kasih telah bersedia menikah denganku demi kesembuhan opa, walau kau sangat membenciku, tapi aku berjanji akan membuatmu mencintaiku”


Lalu Neyna beralih ke Wanda,


“Aku mau bicara sebentar”.


Kemudian Neyna dan Wanda berjalan menuju caffe yang ada di lantai 1 rumah sakit. Sesampainya mereka di caffe, Neyna langsung memilih satu meja yang berada disudut ruangan, Wanda mengikutinya dan mereka duduk saling berhadapan.


“aku udah menyetujuinya dan perjanjian itu berlaku setelah ijab qobul selesai” ucap Neyna tegas.


“Ok,,aku setuju, yang terpenting saat ini adalah kesembuhan opa, aku akan mengurus semua persiapannya” ucap Wanda.


“Aku gak mau resepsi, aku hanya mau kita ijab qobul saja dan hanya dihadiri kerabat terdekat, juga sahabat-sahabatku”


“Ok...ada lagi syaratnya?”ucap Wanda, Neyna melirik kearah Wanda lalu mengalihkan pandangannya dan menggeleng.


Lalu mereka beranjak menemui oma dan kedua orang Tua Neyna. Mereka berunding membicarakan kapan dan dimana ijab qobul akan di gelar.


Akhirnya mereka sudah sepakat ijab qobul akan digelar dua hari lagi dirumah sakit karena opa masih dalam perawatan, untuk masalah perlengkapan dan keperluan untuk acara tersebut oma sudah menyerahkan segala urusannya pada ibu Rahayu orang kepercayaan oma.


Neyna dan kedua orang tuanya berpamitan ke oma dan Wanda


“Ibu,,hari sudah malam, kami pamit pulang dulu ya, kalau ada apa-apa jangan sungkan hubungi om ya nak” ucap papa ke Wanda, lalu Wanda pun mencium tangan mama dan papa Neyna, kemudian Wanda memeluk papa dan berucap


“om,,,Wanda akan selalu ingat pesan om, Wanda akan selalu menjaga dan melindunginya om” papa membalas pelukan Wanda sambil menepuk lembut punggung Wanda


“iya,,,om percaya Sama kamu, om balik dulu ya, kalau ada perkembangan segera kabari om dan Tante” lalu Neyna pun mencium tangan oma dan memeluk oma


“terima kasih ya nak, hati-hati di jalan” ucap oma dan Neyna pun mengangguk.


Keesokan harinya sepulang kerja, Neyna menuju kantor Rosi dan Mimi untuk mengabarkan pernikahannya


“Mi,,,Rosi mana?” Tanya Neyna ke Mimi yang sedang sibuk di meja kerjanya.


“Tuh lagi didalam ruangannya, jadi gimana ney, lo jadi nikah Sama Wanda?” Tanya Mimi, Neyna hanya tersenyum getir dan mengajak Mimi ikut masuk keruangan Rosi.


“Ehh,,,lu Ney,,jadi gimana, lo gak jadi nikah kan? Lo udah batalin kan?” Tanya Rosi, Neyna hanya menggelengkan kepalanya.


Terlihat sorot mata Neyna yang mulai


berkaca-kaca, lalu dia menjatuhkan kepalanya di meja kerja Rosi dan menangis


“Aku hancur, aku hancur,,,aku udah gak tau lagi harus gimana, pernikahanku akan digelar besok” Mimi yang tak kalah shocknya dengan Rosi, dia langsung memeluk Neyna


“Neyna sayang,,,,gua ngerti banget perasaan lo, menangis la sekencang-kencangnya, luapkan semuanya, agar lo lega” Neyna pun menangis dipelukan sahabatnya Mimi.


“Gua benci dia Mi, tapi gua sayang dan kasihan dengan opanya, opanya harus segera dioprasi kesingapur, tapi dia gak mau berangkat sebelum menyaksikan pernikahan ini Mi!!” Mimi ikut larut dalam kesedihan Neyna, dia pun menangis sambil menenangkan Neyna. Lalu Rosi angkat bicara


“Ini sudah menjadi keputusan lo Ney, jalani dengan ikhlas, toh lo juga udah buat perjanjian pra nikah dengan Wanda kan, dengan berkorbannya lo Demi kebaikan orang lain, akan menjadi ladang pahala buat lo Ney”


“Gimana kalau kak Bram kembali Ci, aku harus bilang apa? Aku mencintainya Ci, dia pasti beranggapan kalau aku udah menghianatinya”


“Kak Bram pasti ngerti, udah kamu jangan nangis terus ya,,” ucap Mimi menenangkan Neyna. Kemudian Mimi mengambil segelas air dan memberikannya ke Neyna.


Setelah Neyna agak tenang, Lalu mereka menelpon Caca untuk memberi tahu kabar pernikahan Neyna.


“Hallo Ca, lo dimana?”


“Gua lagi dirumah nih, baru pulang ngajar, kenapa Ci?”


“Kita mau ngabari kalau besok Neyna mau nikah” ucap Rosi.


“What..??!! kok mendadak dangdut gitu, tapi dia baik-baik aja kan? Dia gak MBA kan? Koq aku baru dikasi tau sekarang sih, kalian jahat ya!!”


“Udah lo jangan banyak komplain, pokoknya besok lo harus udah ada disini, karena nikahnya disini, bukan dirumah orang tua Neyna”


“Laahh??! Koq gak dirumah orang tuanya? Jangan-jangan bener lagi si Neyna MBA!! duhhh!! kok kaya anak ABG aja sih dia!!”


“Udah ah,,,,besok aja dijelasin setelah lo nyampe sini,,jangan lupa,,sampai ketemu besok ya,,daaa” Rosi mematikan telponnya.


Setibanya Neyna diapartemennya


“Assalamu’alaikum, ma”


“Walaikum salam, kamu darimana aja nak, kok jam segini baru pulang? Besok itu hari pernikahan kamu lo, harusnya kamu tuh gak kerja dan istirahat dirumah” ucap mama


“Ney,,dari tempat Rosi ma, kasi kabar ke mereka”


“kamu udah makan nak? Oya,,,tadi ibu rahayu datang nganterin baju dan semua perlengkapan kamu besok, jadi penata riasnya akan datang besok pagi kesini, coba kamu fitting dulu bajunya nak, mana tau ada yang perlu dibenerin” Neyna pun beranjak masuk kekamarnya


Didalam kamarnya sudah ada baju kebaya berwarna putih yang terlihat mewah dan elegant, lengkap dengan heels dan semua aksesorisnya.


Dimeja rias Neyna ada kotak perhiasan berwarna biru, Lalu dia membukanya, seperangkat perhiasan berlian keluaran terbaru dari toko perhiasan ternama dikota itu.


Neyna tidak menjawab, dia langsung mencoba baju kebaya tersebut dan terlihat pas sekali ditubuh Neyna, tidak ada yang perlu di benerin lagi, seperti sudah pernah di fitting sebelumnya.


Setelah mencoba baju kebaya itu Neyna langsung menuju kekamar mandi untuk membersihkan diri dan melaksanakan shalat maghrib.


Selesai shalat Neyna pun langsung merebahkan tubuhnya diatas kasur. Memejamkan matanya, lalu bulir-bulir kristal bening menetes dari sudut matanya.


Tepat pukul 04.30 wib, alarm handphone Neyna berbunyi, Neyna membuka matanya yang terasa berat karena terlalu banyak menangis.


Terdengar suara mama memanggil,


“Ney,,,bangun nak,,,sudah Azan”


Neyna pun bangkit dari tidurnya, masih terduduk ditepi tempat tidurnya dan memandangi kebaya putih pernikahannya.


Mama masuk kekamarnya,


“Nak,,nanti keburu penata riasnya datang, buruan gih mandi terus shalat shubuh ya” lalu mama mengecup kening putri kesayangannya.


Neyna pun beranjak dari duduknya menuju kamar mandi.


Setelah selesai bersih-bersih dan shalat shubuh, terdengar suara ketukan dipintu kamar Neyna


“nak,,,kamu sudah selesaikan? Penata riasnya sudah datang” kemudian Neyna menyuruhnya masuk.


Selama 2 jam Neyna berdandan, akhirnya tepat pukul 07.30 wib Neyna selesai berdandan dan mengenakan baju kebaya.


Neyna keluar dari kamarnya, dia terlihat sangat cantik dengan balutan kebaya putih nan elegant bertabur batu swarovski Yang dipadukan dengan kain batik sutra berwarna coklat dengan riasan wajah yang simple namun terkesan mewah Yang membuat wajah cantiknya semakin terpancar.


Mba Dian asisten ibu Rahayu yang bertugas menjeput Neyna dan kedua orang tuanya.


“Gimana sudah selesai mba, kita bisa langsung jalan?” Tanya nya, lalu Neyna mengangguk dan mereka pun bergegas menuju parkiran apartemen menuju rumah sakit tempat opa dirawat.


Diperjalanan pandangan Neyna kosong, fikirannya melayang entah kemana.


Setelah sampai dilobby utama rumah sakit, mba Dian turun dari mobil dan mempersilahkan Neyna dan kedua orang tuanya turun.


Mereka beranjak menuju lift, didepan pintu lift Neyna bertemu dengan keempat sahabatnya, lalu Caca memeluk Neyna


“selamat ya Ney sayang,,gua udah tau ceritanya, lo yang kuat ya” Neyna pun mengangguk.


Sambil menunggu lift, Neyna memperhatikan keadaan disekitarnya, semua memakai baju berwarna putih, ada papa dan mamanya, para sahabatnya dan beberapa keluarga terdekat mereka, semua yang ada disitu mengenakan pakaian berwarna putih.


Neyna merasa pernah mengalami kejadian seperti ini tapi ntah dimana, Yang diingatnya hanya ada sahabat-sahabatnya.


Neyna berusaha mengingatnya, dimana dia pernah mengalaminya, tapi dia tidak berhasil dan tak lama pintu lift pun terbuka, Neyna dan kedua orang tuanya pun masuk duluan kedalam lift.


Sesampainya di depan pintu ruangan opa, ada rangkaian bunga mawar putih yang sangat indah, Neyna memang sangat menyukai bunga mawar putih, kemudian mereka dipersilahkan masuk kedalam ruangan VVIP tempat opa dirawat.


Didalam ruangan opa, sudah dihias dengan rangkaian bunga mawar putih dan beberapa ornamen pelengkap Yang di dekor dengan simple namun tetap terlihat cantik.


Neyna menatap sekeliling ruangan itu dan dia merasa seperti pernah berada ditempat seperti ini, Yang di penuhi bunga mawar putih di dekor dengan sangat cantik.


Dia berusaha keras mengingat dimana dia pernah merasa berada ditempat seperti ini, sampai dia tidak sadar oma sedang berbicara padanya


“Masyaallah cantiknya, oma sampai pangling tadi, Neyna,,Neyna,,ney??” Panggil oma tapi Neyna masih terdiam karena berusaha mengingat-ingat dimana dia merasa berada ditempat yang Sama seperti saat ini.


Mama menyentuh pipinya, “Neyna,,,disapa oma koq malah diam aja sih?”


“Ehh..aanu maaf oma,,” Neyna langsung meraih dan mencium tangan oma. Lalu oma menuntun Neyna duduk ditempat yang sudah disiapkan untuk proses ijab qobul.


Wanda belum terlihat dalam ruangan itu, ternyata dia berada di toilet menenangkan diri, dia sangat gugup, menarik nafas panjang dan menghembuskannya kasar.


Dia berasa mimpi bisa berjumpa kembali , bahkan akan menikah dengan Neyna. Neyna adalah cinta pertamanya, walaupun dia selalu membuat Neyna kesal dan benci padanya.


Kemudian setelah merasa sedikit tenang, Wanda pun menuju ruangan opa.


“Kamu darimana saja nak, oma cari kemana-mana, acara sudah mau dimulai” sambil oma merapihkan jas dan rambut Wanda kemudian menuju meja ijab qobul,


Wanda melihat Neyna dan papanya sudah hadir, begitu juga penghulu dan saksi.


Kemudian oma memasangkan kerudung putih pada Neyna dan Wanda. “Baiklah bisa kita mulai?” Tanya pak penghulu, lalu semua setuju untuk dimulai. Terlihat papa Neyna berjabat tangan dengan Wanda.


“Saya nikahkan dan kawinkan engkau ananda Wanda Auriza Husein bin Ridwan Husein almarhum dengan putri kandung saya Neyna Wira Tanaya dengan mas kawin berupa seperangkat alat shalat dibayar tunai”


“Saya terima nikah dan kawinnya Neyna Wira Tanaya binti Wira Hadi Kusuma dengan mas kawin tersebut tunai”


Sah...


Sah...


Ucap para saksi, dan semua yang ada diruangan itu berucap “alhamdulillah”


Kemudian Wanda memasangkan cincin dijari Neyna, namun dijari manis Neyna masih tersemat cincin pemberian Bram, dia tidak melepasnya bahkan tidak menggeser posisinya.


Lalu Neyna memberikan tangan kirinya, kemudian Wanda pun memakaikannya, begitu juga dengan Neyna, dia pun memakaikan cincin kejari tangan Wanda, kemudian Neyna mencium tangan Wanda.


Terlihat wajah opa dan oma tersenyum bahagia dan berucap syukur. Wanda dan Neyna sungkem pada kedua orang tua Neyna, tangis Neyna tak terbendung saat dia memeluk mamanya, dia tak berkata apa-apa


“Sayang,,,selamat ya nak,,semoga kalian menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah dan warahmah, sekarang Neyna sudah punya suami, berbakti pada suamimu ya nak” lalu mama mecium Pipi dan kening Neyna, kemudian Neyna beralih pada papanya


“Selamat ya putriku sayang, sekarang Kau sudah dewasa, sudah bersuami, berbaktilah pada suamimu ya nak, sekarang kamu sudah bukan tanggung jawab papa lagi, sekarang kamu menjadi tanggung jawab suamimu, raihlah Ridho suamimu nak, pelan-pelan kamu pasti bisa menerimanya” lalu papa mencium Pipit dan kening Neyna.


Kemudian Wanda sungkem pada papa Neyna


“Wanda, om serahkan putri kesayangan om padamu, tolong jaga dan lindungi dia, bimbing dia, jangan pernah Kau sakiti jiwa dan raganya nak, karena jika itu sampai terjadi berarti Kau sudah menyakiti om juga” lalu papa memeluk erat Wanda


“Insyaallah Wanda akan selalu ingat pesan om, makasi sudah mengizinkan Wanda menikah dengan putri om”.


Setelah acara sungkeman selesai, pada sahabat Neyna pun memberikan ucapan selamat kepada mereka.


Setelah acara selesai dan para tamu dan keluarga sudah berpamitan, diruangan opa hanya tinggal Neyna, Wanda, opa dan oma Serta kedua orang tua Neyna.


Lalu oma memberikan amplop berwarna putih


“Nak,,ini hadiah dari opa dan oma atas pernikahan kalian” oma menyerahkan amplop putih ke Neyna, Neyna pun membuka amplop itu.


Oma memberikan hadiah tiket bulan madu ke Bali, lalu Neyna menyerahkan amplop itu ke Wanda


“Makasi banyak oma dan opa atas hadiahnya, tapi Neyna belum bisa ambil cuti, karena Neyna sedang banyak kerjaan dan sedang ada kunjungan direksi, jadi Neyna belum bisa cuti oma” hanya alasan Neyna agar dia tidak pergi berbulan madu. Lalu oma berucap


“Wahh,,sayang sekali nak, tapi gak apa, nanti biar di cancel Ayu, nanti setelah pekerjaan kamu selesai saja nak, oh..ya,,rencananya oma dan opa akan berangkat kesingapur besok, jadi kalian malam ini nginap dirumah aja ya, oma dan opa besok berangkatnya dari sini aja, biar kalian gak terganggu” ucap oma sambil tersenyum menggoda cucunya


“Ya udah besok Wanda langsung kesini, besok pesawat jam berapa oma?”


“Loh,,,kamu gak usah ikut nak, kamu disini aja, Neyna kan gak bisa cuti, ntar Siapa yang nemeni Neyna, gak baik lo kalau pengantin baru itu jauh-jauhan, ya kan vin?” Ucap oma ke mama Neyna, Yang disambut tawa mereka, papa Neyna hanya tersenyum, karena dia tau perasaan anaknya.


“Tapi oma sama siapa kesana, siapa yang bantuin dan nemeni oma disana ?” Ucap Wanda


“Kamu gak usah khawatir, oma kan bawa Ayu buat bantuin oma selama disana, jadi selama Ayu disana Dian Yang handle kerjaan Ayu disini”


“Oma yakin Wanda gak perlu ikut kesana?”


“Yakin,,100% aman, kan ada Ayu, terus disana ada sepupu dokter Budi Yang nangani opa disini, jadi oma udah di titipin ke dia, kamu tenang aja, insyaallah aman, pokoknya kamu nikmati aja masa-masa pengantin barunya ya sekalian cepat-cepat kasi cicit buat opa Sama oma” goda oma lalu tertawa.


Opa yang susah bicara hanya tersenyum dan menggenggam tangan Wanda untuk meyakinkan Wanda.


Kemudian papà dan mama Neyna pamit ke opa dan oma untuk balik ke apartemen Neyna.


Neyna pun ikut berpamitan ke opa dan oma, mencium tangan oma, Lalu oma berucap


“Neyna mau kemana nak? Apa udah mau balik?” Papà yang melihat Neyna heran


“Kamu mau kemana nak? Yang mau balik itu kan papà Sama mama” ucap papanya sambil tersenyum.


Ternyata neyna lupa kalau dia sudah menikah, “biasa itu nak,,lupa kalau sudah punya suami, hahaha...” goda oma, wajah Neyna pun memerah.