Deja Vu

Deja Vu
45. Neyna Siuman



Wanda keluar ruangan untuk membeli makanan untuk dia dan kedua orang tua Neyna.


Dilihatnya Bram tertidur dikursi tunggu didepan ruangan VVIP tersebut.


“Bram,,kamu masih disitu, kamu sangat menghawatirkan Neyna pastinya” Ucap Wanda dalam hati.


Tak lama Bram bangun dari tidurnya, dilihatnya jam di pergelangan tangannya menunjukkan pukul 8 pagi.


Dia bergegas masuk kedalam ruangan Neyna, untuk melihat kondisi Neyna.


Tok..


tok..


Bram membuka pintu, Wanda tidak terlihat, hanya ada papa dan mama Neyna yang sedang duduk disofa.


“Assalamu’alaikum om dan tante” ucap Bram sopan.


“Walaykumsalam” jawab keduanya bersamaan.


“Om,,,maaf saya mengganggu om, perkenalkan nama saya Bram om teman Neyna, saya kesini mau lihat kondisi Neyna om” Bram memperkenalkan dirinya pada kedua orang tua Neyna.


“Oh..iya..iya.. nak, silahkan duduk nak Bram” ucap papa Neyna.


“nak Bram ini kakak kelasnya Neyna waktu SMU kan, yang katanya lagi ada proyek di Papua itu ya?” Tanya mama ke Bram.


“Iya benar tante, saya sudah hampir 3 bulan menetap di Papua, tepatnya lagi dihutan Papua om tante” ucap Bram sopan.


Papa Neyna pun ingat, karena Neyna pernah cerita kalau dia sedang dekat dengan kakak kelasnya waktu SMU yang sekarang sedang tugas di Papua.


“Kemaren itu kan kita lagi ada acara reunian sekalian saya pulang om” terang Bram yang dibalas anggukan papa Neyna.


Wanda masuk membawa makanan untuk sarapan.


“Assalamu’alaikum,,ini pah mah, makan dulu” ucap Wanda dan melihat Bram sudah duduk bergabung.


“Kenapa kamu beli sarapan segala sih nak, kamu masih lemes, nanti kan papa bisa beli, mendingan kamu istirahat dulu nak, semalam kamu tidur di kursi nemeni Neyna” ucap papa.


“Gak apa - apa kok pa, ini juga tadi mba Dian yang antar sekalian saya suruh derek mobil dan ambil barang - barang yang ketinggalan di mobil” terang Wanda


Bram merasa kaku karena kehadiran Wanda, dia pun pamit pada kedua orang tua Neyna, sebelum Bram beranjak pamit tiba - tiba Neyna mengigau


“Kak Bram, maaf,,kak Bram maaf kak!” Kata itu yang keluar dari mulut Neyna dengan mata yang masih terpejam.


Sontak Bram yang sudah membelakangi dan hendak membuka handle pintu, berbalik arah menatap kearah Neyna yang masih terbaring dan memejamkan matanya.


Wanda dan kedua orang tua Neyna mendekat dan memanggil nama Neyna


“Neyna..Neyna sayang bangun nak, ini mama sama papa sudah datang, buka matanya nak,,” panggil mama.


Sementara Bram tak berani mendekat karena dia sadar dia tidak pantas berada diantara mereka.


Bram pun langsung membuka handle pintu dan keluar.diluar ruangan hatinya terasa sakit sekali, di saat orang yang dia sayangi menyebut namanya tapi dia tidak bisa mendekat.


Kemudian Bram meraih ponsel dalam saku celananya untuk menelpon Rosi.


“Hallo Rosi kamu dimana, ada yang ingin kakak bicarakan Ros, kita bisa ketemu?” Ucap Bram.


“Iya kak,,aku lagi dikantor nih mau ambil laptop kemarin ketinggalan di kantor,bisa kak, kakak masih Dirumah sakit ? kalau gitu biar Rosi kesana aja sekalian liat kondisi Neyna, gimana?”


“Kita ketemuan diluar aja Ros, di caffe dekat rumah sakit aja ya, biar nanti kamu dekat kalau mau jenguk Neyna” ucap Bram


“Ok kak, bentar aku kesana ya, nanti aku wa nama caffe nya” ucap Rosi mengakhiri.


Sambil menunggu kabar dari Rosi, Bram masih terduduk Didepan ruangan VVIP tempat Neyna dirawat.


“Ney, saat kamu menyebut nama aku, kenapa hati ini terasa sakit sekali, kamu meminta maaf,,soal apa Ney ?”


Papa dan mama Neyna memperhatikan wajah Wanda setelah mendengar igauan Neyna tadi.


Terlihat wajah yang sedikit kecewa dan sedih, bahkan di saat - saat kritisnya, Neyna tak sudi menyebut namanya.


Papa mendekati Wanda dan menghapus pundak Wanda, menguatkan Wanda.


Papa tau bahwa Bram lah laki - laki yang selama ini dekat dengan Neyna.


Tak lama ponsel Bram berbunyi tanda pesan masuk dari Rosi yang memberi tahu caffe tempat mereka bertemu.


Sesampainya dicaffe tersebut, Bram langsung menuju meja dimana Rosi sudah menunggu bersama Rendy.


“Kalian udah lama nyampenya?” Tanya Bram pada Rendy dan Rosi


“Gak kok,, baru juga nyampe” ucap Rendy.


“Kakak mau ketemu Rosi ada apa? Kakak pasti mau tau mengapa Neyna bisa menikah dengan Wanda kan?” Tebak Rosi dan Bram pun mengangguk.


Setelah mereka memesan minuman Rosi pun mulai menceritakan awal mula mengapa Neyna bisa menikah dengan Wanda.


Sampai pada perjanjian pranikah yang dibuat dan ditanda tangani Didepan Rosi.


“Jadi Neyna membuat perjanjian ini sebelum menikah?” Ucap Bram


“Iya kak,,dia tidak bisa menolak karena opa Wanda yang sudah dianggap papa Neyna seperti orang tua sendiri dan opa juga hanya mau dibawa berobat keluar negeri kalau mereka sudah menikah” terang Rosi sambil menyerahkan copy dari perjanjian itu.


Bram pun membaca isi perjanjian tersebut poin demi poin dan setelah selesai dibacanya dia langsung menghapus wajahnya.


“Jadi kakak percaya kan kalau Neyna itu tidak menghianati kakak, hanya saja dia berada di posisi yang sulit saat itu, Neyna sangat mencintai kakak, kakak itu cinta pertamanya kak” terang Rosi meyakinkan Bram.


Bram terdiam sambil menatap kertas perjanjian itu.


”aku gak tau lagi kedepannya mau apa dan gimana, semua rencanaku hancur” ucap Bram lirih.


“Bro,,jangan patah semangat gitu dong,, perjanjian itu kan hanya berlaku Setahun, setelah itu Neyna dan Wanda pasti berpisah, toh mereka menikah bukan didasari saling cinta kan, hanya karena permintaan opa Wanda” ucap Rendy memberi semangat.


Bram masih terdiam, menatap kosong. Memikirkan apa yang akan dilakukan selanjutnya.


Setelah mereka selesai, Rosi dan Rendy pun pamit kerumah sakit hendak melihat keadaan Neyna, sedang Bram pulang kerumahnya, dia merasa canggung jika dirumah sakit karena merasa tidak enak.


Sementara Caca yang menginap diapartemen Mimi sedang bersiap - siap mau menjenguk Neya Dirumah sakit.


Rosi dan Rendy sudah tiba dirumah sakit dan tak lama berselang, Caca dan Mimi juga tiba dirumah sakit.


“Assalamu’alaikum” ucap Rosi.


“Walaikumsalam” sahut mama dari dalam ruangan.


“Tante, om kapan nyampe kesini?” Tanya Rosi sambil mencium tangan keduanya yang diikuti Rendy, Mimi dan Caca.


“Tadi subuh nak, kalian sehat kan?” Tanya mama


“Alhamdulillah sehat tan, gimana kabar Neyna, udah ada kemajuan?” Tanya Rosi.


“Tadi sih dia ngigau, tapi matanya masih tertutup” ucap mama.


Sedang mengobrol dengan sahabat - sahabat Neyna, tiba - tiba Neyna membuka matanya karena mendengar suara - suara yang sangat dikenalnya.


Wanda langsung mendekati Neyna


“Neyna,,kamu sudah bangun? Kamu mau apa, mau minum?” Terlihat ekspresi sedikit bahagia di wajah Wanda.


Neyna masih diam, melihat sekelilingnya, sambil masih memegang kepalanya yang pusing.


“Neyna sayang, alhamdulillah kamu sudah sadar nak? Mama sama papa khawatir sekali, apa yang kamu rasakan nak?”


Neyna melihat satu persatu wajah - wajah mereka.


“Aku dimana ini,,kalian siapa ? Apa yang terjadi ? Suara ambulance itu?? Keras sekali..” dengan wajah yang Kketakutan.


Kedua orang tua Neyna saling pandang, begitu juga para sahabat Neyna menatap heran, Wanda langsung memanggil dokter.


Dokter pun memeriksa keadaan Neyna. Lalu dokter tersebut berucap,


“Sepertinya dia mengalami amnesia atau lupa ingatan” ucap dokter.


Sontak mereka semua panik, terutama kedua orang tua Neyna, mamanya tak kuasa menahan tangisnya.


Hai..hai...


masih semangat ngikuti kisah cinta Neyna kan? Jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya, biar author tambah semangat up up nya. Makasi buat semuanya🙏🏻


Salam,


La Shakila🌷