
Pagi sekali opa sudah sibuk bersiap- siap untuk berangkat menuju restauran yang ada dipuncak, dimana Harry yang sudah mengatur segala nya.
Oma yang tau rencana opa tersebut membuatnya bahagia bercampur tegang, gimana oma tidak tegang, karena opa akan membawanya bertemu dengan orang yang sudah lama dirindukan nya, orang yang disayanginya.
Senyum bahagia terpancar dari keduanya orang tua tersebut, karena memang sejak lama mereka menantikan moment ini. Setelah semua barang opa dan oma di masukkan ke mobil, opa dan oma pun masuk kedalam mobil yang diikuti Ibu Rahayu.
Saat mobil mulai berjalan, opa meminta oma untuk menghubungi Wanda dan Neyna, apakah mereka sudah siap.
“Assalamu’alaikum nak,,dimana, udah jalan?” Tanya oma pada Wanda
“Walaykumsalam oma, Iya ini kita lagi siap - siap kok, oma sama opa jalan aja duluan ntar kami nyusul” Ucap Wanda
“Baiklah nak,,tapi jangan terlalu lama berangkatnya, takutnya nanti kena macet, soalnya ini kan weekend” ucap oma mengingatkan
“Sip oma,,tenang aja,,oma masa gak kenal Sama cucu oma ini sih, untuk perkara jalanan oma Gak perlu khawatir deh,,opa Sama oma hati - hati ya” ucap wanda.
“Iya kalian juga hati - hati dijalan, jangan ngebut nak, Alon - alon asal kelakon ya, Assalamu’alaikum nak” tutup oma
“Iyya oma ku sayang,,oma tenang aja deh, lagian si opa ngapai juga sih pake buat acara meeting bisnis sampe kepuncak bawa keluarga,,ok deh oma Sayang,,Walaykumsalam” jawab Wanda mengakhiri Panggilan oma.
Kemudian Wanda menghampiri pintu kamar Neyna yang sedikit terbuka
“Ney,,kamu udah siap? Kita jalan sekarang?” Tanya Wanda sambil meraih handle pintu kamar dan mendorongnya, di edarkannya pandangan ke seluruh penjuru ruangan kamar Neyna namun dia tak menemukannya,
“Ney,,Neyna..sayang kamu dimana?” Panggil Wanda, Wanda mendengar suara dari kamar mandi.
Wanda mendekat kearah pintu kamar mandi,
“Ney,,kamu gak apa - apa?” Tanya Wanda karena Neyna sedang mual - mual dan mengeluarkan Isi perutnya.
Neyna tidak menjawab, Lalu Wanda mendekat dan menghapus lembut punggung Neyna sambil memijit leher sebelah belakang Neyna.
Wanda tak tega melihat kondisi Neyna, hampir setiap pagi Neyna merasa seperti ini, di raihnya minyak kayu putih yang ada dimeja rias Neyna lalu mengusapkan nya pada leher sebelah belakang Neyna dan yang terakhir Wanda pmenghapuskan minyak kayu putih itu ke hidung istri nya.
Setelah Neyna sedikit tenang, Wanda memberikan segelas air putih hangat untuk Neyna minum.
“Kita kedokter aja yuk? Aku gak tega liat kamu begini terus, mau ya?” Ajak Wanda, dia ingin sekali membawa Neyna ke dokter ahli kandungan untuk mengecek Kondisi bayi yang ada dalam kandungan Neyna, memantau perkembangannya.
Neyna terdiam, dia sedang memikirkan ucapan Mimi kala itu, Yang mengatakan kalau Neyna seperti orang hamil. Neyna memang buta soal kehamilan, tapi sejak Mimi menebak dia sedang hamil, Neyna sering browsing di internet perihal kehamilan.
“Ney,,kamu gak apa - apa kan,,apa kita batalkan aja pergi ke puncak nya?” Tanya Wanda yang merasa khawatir pada keadaan Neyna
“Eh...gak..gak..kita tetap berangkat, gak enak sama opa, kita berangkat” ucap Neyna sambil membasuh wajahnya di wastafel.
“Tapi kamu lagi kurang sehat, mendingan kita kedokter aja ya?” Pinta Wanda
“Aku sehat kok,,mungkin karena tadi malam sebelum tidur aku lupa minum obat asam lambung, bentar lagi juga baikan kok, udah kita jalan sekarang?” Ucap Neyna
“Kamu yakin gak apa - apa kan?” Ucap Wanda meyakinkan Neyna
“Iya...gak apa - apa” ucap Neyna
“Terus perut kamu udah kosong, kamu makan aja lagi, ntar keburu naik lagi asam lambungnya kalau gak diisi” ucap Wanda
“Aku bawa cracker kok, lagian aku udah gak selera, yuk kita jalan” ajak Neyna
“Tapi kalau kamu ngerasa gak enak, kamu kasi tau aku ya,,opa ngerti kok, namanya juga lagi sakit” ucap Wanda
“Iyyaaa...bawel ah!! Yuk jalan!!” Jawab Neyna.
Mereka pun menaiki lift menuju parkiran, kemudian berangkat menuju puncak.
Diperjalanan Neyna masih kepikiran tentang gejala yang dialaminya setiap pagi, tentang mual - mual yang dialaminya setiap pagi dua minggu belakangan ini, tentang berat badannya yang terasa semakin bertambah, tentang ***** makannya yang meningkat, semua gejala yang dialaminya itu persis gejala orang yang sedang hamil. Tiba - riba Neyna teringat,
“Dasar beg*!! Kenapa gak aku tes aja pake testpack ya? Haduw...kok gak dari Kemaren - Kemaren sih, Ok baiklah,,,nanti aku akan singgah ke apotik” gumam hati Neyna.
Wanda sedang menyetir dan sesekali melihat kearah Neyna yang masih melamun seperti sedang memikirkan sesuatu.
“Hemm..gak apa - apa” ucap Neyna
“Masih mual, perut kamu masih perih?” Tanya Wanda yang masih mengkhawatirkan keadaan Neyna
“Udah gak apa - apa kok!! Kamu fokus aja nyetirnya,, ntar nabrak lagi!” Ucap Neyna
Wanda kaget mendengar ucapan Neyna, tiba - tiba dia terbayang saat kecelakaan yang menimpa mereka saat Wanda menjemput paksa Neyna di acara reuni SMU nya.
Wanda terbakar cemburu karena Bram melamar Neyna saat itu, masih terbayang jelas dikepalanya semua yang terjadi, tapi berkat kecelakaan itu Neyna mengalami amnesia hingga dia menjalani pernikahan yang sesungguhnya hingga Neyna mengandung anaknya.
Di restauran yang sudah di rencanakan opa, terlihat Harry sedang sibuk mempersiapkan meja yang sudah di booking sebelumnya untuk mereka. Meja yang disusun memanjang agar semua keluarga duduk berbaur.
Opa dan oma yang melihat dari kejauhan, tersenyum bahagia
“Akhirnya kita bisa menemukannya ya pa,, aku sudah tidak sabar” Ucap oma
“Opa juga begitu, opa juga mau minta maaf atas kelakuan opa selama ini yang telah mengusirnya dari rumah kita, mungkin semua yang terjadi pada ku Adalah hukuman karena aku terlalu memaksakan kehendak pada anak - anak ma” penyesalan opa.
Flash Back On
Sore itu opa sedang duduk santai diteras belakang rumahnya sambil menikmati secangkir kopi, sedang asyik membaca koran tiba - tiba seorang wanita muda muncul dengan seorang lelaki mendekati opa.
“Pa,,,ada mas Al mau ketemu papa” Ucap Rania putri sulung opa
Opa menurunkan koran yang dibacanya kemudian menurunkan kacamata baca nya menatap kearah Rania dan Al.
“Ada apa kamu mau ketemu saya?” Ucap opa dingin.
Sejak dulu opa memang memiliki watak yang keras, otoriter dan semua harus sesuai dengan rencananya, jika ada yang tidak mau atau tidak setuju dengan pikiran dan rencananya, ia akan memberikan pilihan, yaitu pilih ikut aturan dan tetap tinggal atau memilih membangkang maka angkat kaki dari rumah ini.
Sore itu Rania anak sulung opa membawa Altrialman menemui opa untuk meminta restu atas hubungan mereka selama ini yang sudah mereka jalani. Sejak awal opa tidak menyetujui hubungan Rania dengan Al, karena latar belakang keluarga Al yang broken home, kedua orang tuanya bercerai dan opa sangat membenci perceraian, haram baginya jika salah satu dari anak ataupun keluarga nya berhubungan dengan keluarga korban perceraian.
“Ada apa kamu menemui saya?” Tanya opa lagi
“Maaf kalau saya mengganggu waktu istirahat om, ada yang ingin saya sampaikan om” ucap Al
“Jangan terlalu banyak basa basi,
langsung saja” Ucap opa yang sudah tau maksud dan tujuan Al
“Begini om, saya dan Rania putri om sudah lama menjalin hubungan dan saya berniat untuk menjalin hubungan yang lebih serius lagi, saya ingin melamar Rania menjadi istri saya om” Ucap Al
“Hem...bernyali juga kamu menemui saya, kamu kan tau saya tidak suka dengan latar belakang keluarga kamu, bagi saya kalau orang tuanya bercerai besar kemungkinan anaknya juga akan melakukan hal yang sama seperti orang tuanya, karena buah tidak jauh jatuh dari pohonnya dan pantang bagi saya ada kata perceraian” Ucap opa tegas
“Saya paham om, saya rasa mereka juga tidak menginginkan perceraian itu, tapi mungkin ada hal yang membuat mereka tidak sejalan atau mungkin keegoisan keduanya hingga mereka memutuskan untuk berpisah, tapi saya berjanji, saya tidak akan melakukan hal yang sama seperti kedua orang tua saya om, saya janji om” Ucap Al meyakinkan opa
“Hah..Yakin sekali kamu anak muda,,apa jaminannya kalau kamu tidak akan melakukan hal yang sama seperti kedua orang tua kamu?” Tanya opa
Al terdiam, tidak bisa memberikan jawaban,
“Pa,,papa apa - apaan sih? Kenapa harus pakai jaminan segala, gak ada yang tau nasib seseorang itu kedepannya bagaimana, bagi kita sebagai manusia hanya berusaha melakukan yang terbaik dan intinya adalah komunikasi, semua masalah bisa diselesaikan dengan komunikasi, tidak dengan emosi dan keegoisan masing - masing, mas Al punya niat baik melamar Nia pa” Ucap Rania
“Baiklah,,saya juga tidak mau banyak berbasa - basi, saya menghargai niat baik kamu melamar Rania, tapi mohon maaf saya tidak bisa menerima lamaran kamu, karena latar belakang keluarga kamu yang bagi saya adalah hal yang tidak bisa ditoleransi” Ucap opa tegas
“Pa,,itu kan masalah orang tua mas Al, kenapa papa samakan mas Al dengan orang tua nya ? nasib orang itu berbeda pa dan mas Al akan belajar dari kesalahan itu” jawab Rania
“Nia,,papa tidak akan merubah keputusan papa, sekali papa bilang tidak ya tidak” Ucap opa tegas
“Baiklah pa, kalau memang papa tidak menerima mas Al, biar Nia saja yang keluar dari rumah ini, maaf kalau Nia tidak patuh pada papa, tapi ada hal yang perlu Nia pertimbangkan dari keputusan papa, Nia pamit,,Assalamu’alaikum” pamit Rania kemudian meninggalkan opa.
Flash Back Off
Sejak itu opa tidak pernah bertemu dengan putri sulungnya Rania, kerinduan yang sekian lama ditahan opa karena keegoisannya.