
Di dalam mobil masih diperjalanan pulang dari rumah sakit, Neyna masih berfikir apa yang sudah terjadi dengan Wanda, karena dia sempat mendengarkan percakapan Wanda dan Rian dirumah sakit .
“Wanda kenapa ya? Sepertinya dia menyembunyikan sesuatu, apa dia sakit parah ya, tapi keliatannya dia sehat - sehat aja sih” batin Neyna.
“Sayang kamu gak ada pingin sesuatu gitu, atau ada yang mau dibeli?” Tanya Wanda
“Gak ada, kita langsung pulang aja, aku pengen rebahan” Pinta Neyna.
“Siyap,,kita pulang ya” ucap wanda sambil memutar kemudi.
Sementara Neyna masih penasaran, apa yang terjadi dengan Wanda, penyakit apa Yang diderita Wanda.
Sesampainya diapartemen, Neyna
Langsung masuk kekamarnya dan mengganti pakaiannya dengan pakaian ternyaman untuk pada Ibu - ibu hamil yaitu daster.
Sebelum tidur, Wanda membuat kan segelas susu untuk Neyna minum
“Sayang, minum susu dulu biar kesayangan yang didalam sehat” Ucap wanda sambil menyodorkan segelas susu ibu hamil.
Neyna pun tersenyum dan menerima gelas susu yang diberikan Wanda lalu meminumnya
“Makasi ya papa” Ucap Neyna sambil tersenyum, membuat Wanda senyum sumringah mendengar ucapan Neyna.
“Sama - Sama sayang, kamu baik - baik didalam ya, jangan suka loncat - loncat, kasian mama kamu loncatin terus, nanti kalau udah lahir baru deh loncat - loncat ya nak” Ucap Wanda sambil mengelus perut Neyna lalu menciumnya.
“Waktunya bobo, jangan main lagi,udah malam, toss dulu dong” ucap Wanda sambil menempelkan telapak tangan kanannya di perut Neyna, lalu perut Neyna pun bergerak merespon ucapan Wanda.
Wanda tertawa geli melihatnya,
“Ihh...dia dengar sayang,,pasti dia balas tos aku,,uhh..gumessh jadi gak sabar pengen ketemu kamu Sayang” Ucap Wanda masih mengelus perut Neyna, Neyna kemudian bertanya
“Tadi kamu sama temen kamu itu ngomong apa sih, kok keliatannya serius banget?” Tanya Neyna
“Oh...nggak,,dia Cuma cerita soal pasiennya kok, ngobrol soal penyakit pasiennya” Ucap wanda sekena nya.
Lalu Neyna bergegas kedapur, karena barusan perutnya terasa lapar, sejak hamil dan sudah tidak mual - mual lagi, ***** makan Neyna meningkat, hampir setiap malam sebelum tidur dia makan, Ntah itu makanan besar maupun ringan.
“Kamu mau ngapai sayang?” Tanya Wanda
“Aku lapar, mau buat kentang goreng, kamu mau?” Tanya Neyna
“Kamu lapar? Perasaan kita barusan nyampe kerumah Setelah makan malam tadi dan sekarang kamu sudah lapar lagi?? Wah...bumil sedang kelaparan ditengah malam, udah biar aku aja yang goreng ya” Ucap Wanda
Wanda pun membuka lemari pendingin dan mengambil kentang dan nugget, Lalu Wanda menyalakan kompor dan mulai menggorengnya.
Selesai Wanda menggorengnya, dia langsung menaruh diwadah dan membawakan saos botolan.
“Silahkan Ibu, ada lagi yang bisa dibantu?” Tanya Wanda sambil tersenyum, Neyna pun menanggapinya dengan tersenyum.
Neyna merasa Wanda berbeda malam ini, tapi dia merasa bahagia diperlakukan Wanda seperti itu, entah memang dia sudah benar - benar menerima Wanda sebagai suaminya atau karena pembawaan Ibu hamil yang maunya dimanja oleh suami.
Neyna mulai menyantap kentang goreng dan nugget yang ditemani oleh Wanda di ruang tv, Tiba - tiba Neyna melihat darah keluar dari hidung Wanda
“Wanda kamu mimisan lagi” Ucap Neyna dengan mimik wajah khawatir.
Lalu Wanda meraba lubang hidungnya dengan jari tangan kirinya, dilihatnya noda darah yang menempel dijari tangan kirinya itu.
Kemudian Wanda mengambil tissue untuk menghapusnya, sementara Neyna yang melihat noda darah yang keluar dari hidung Wanda langsung panik.
“Kamu gak apa - apa ? Bukan baru kali ini kamu mimisan kan? Apa kita kedokter aja, ayuk aku anterin, aku masih bisa nyetir kok” ucap Neyna
“Gak apa - apa sayang, ini karena kecapean aja kok, nanti kalau udah istirahat pasti hilang” Ucap Wanda menenangkan.
“Kamu demam, kamu biasa minum obat apa biar aku ambil obatnya” Ucap Neyna
Wanda memejamkan matanya karena merasa pusing yang sangat hebat sambil tangannya memegang kepalanya, tubuhnya bergetar seperti orang yang menggigil kedinginan, sambil kedua tangannya yang masih memegang kepalanya.
Melihat kondisi Wanda, Neyna semakin khawatir, lalu dia mengambil kotak obat yang ada dikamar Wanda kemudian berucap
“Kita kerumah sakit aja ya, aku telpon security biar bopong kamu kemobil” ucap Neyna panik, namun Wanda hanya memberikan isyarat dengan menggelengkan kepalanya,
Wanda meminta Neyna mengambil obat didalam laci nakas yang terletak disebelah tempat tidurnya.
Dengan tergesa Neyna mengambil obat yang ada di laci tersebut dan mengambilkan air minum untuk Wanda.
Setelah Wanda selesai meminum obatnya, barulah dia merasa sedikit tenang, tubuhnya sudah tidak bergetar Neyna tidak masih dikamar Wanda, dia tidak tega meninggalkan Wanda sendiri dikamarnya.
Masih duduk ditepi tempat tidur Wanda, mata Neyna tertuju pada obat yang barusan diminum Wanda hingga membuat ia merasa tenang,
“Ini obat apa ya? Jangan - jangan ini obat terlarang lagi, atau sejenis obat penenang? Aku cek aja deh” ucap batin Neyna
Ia pun mengambil botol obat yang diminum Wanda tadi, lalu membrowsing di internet.
Betapa terkejutnya Neyna ternyata obat yang diminum Wanda adalah obat pereda nyeri bagi penderita kanker.
Neyna terus mencari tau, tentang obat tersebut, kegunaan dan efek sampingnya.
Masih dikamar Wanda, Neyna sibuk dengan ponselnya untuk mencari tau apa yang sebenarnya sedang dialami Wanda hingga dia meminum obat tersebut.
Pelan - pelan dia membuka kembali laci nakas yang ada disebelah tempat tidur Wanda karena saat dia mengambil obat tadi sekilas Neyna melihat ada amplop coklat bertuliskan nama sebuah rumah sakit.
Meraih amplop tersebut kemudian membukanya. Walaupun dia tidak begitu paham dengan isinya, tapi ada tulisan yang menyimpulkan hasil diagnosa dokter, bahwa Wanda menderita leukemia.
Neyna terdiam sejenak sambil menatap kearah Wanda yang sedang terbaring. Kembali ia membuka lembaran demi lembaran dari hasil pemeriksaan itu.
Walaupun Neyna kurang begitu paham dari hasil pemeriksaan laboratorium dan cek darah yang tertulis, namun Neyna yakin kalau Wanda saat ini sedang menderita penyakit serius.
Neyna masih terpaku duduk di sisi tempat tidur sambil masih menatap wajah Wanda
“Apa sebenarnya yang sudah terjadi pada dirimu, apa yang sedang kamu tutupi dan berusaha menunjukkan pada semua orang bahwa kamu dalam keadaan baik - baik saja, kenapa tak membaginya padaku Nda, setidaknya ada teman kamu untuk cerita dan bertukar fikiran” batin Neyna.
Perlahan mata Wanda terbuka, dilihatnya Neyna masih duduk menatapnya.
“Gimana sudah mendingan?” Tanya Neyna
Wanda tersenyum dan mengangguk, dilihatnya Neyna sedang memegang amplop hasil pemeriksaan nya, kemudian diraihnya tangan Neyna,
“Aku gak apa - apa kok, itu cuma hasil check up rutin, hasilnya gak ada masalah” ucap Wanda sambil tersenyum menenangkan Neyna.
“Kamu yakin gak mau cerita? Setidaknya kamu tidak akan merasa sendiri menghadapinya” Ucap Neyna
“Aku gak apa - apa sayang, aku iu Cuma kecapean aja, memang dari kecil aku sering mimisan kalau udah kecapean, apa lagi habis panas - panasan, kepala aku langsung pusing terus mimisan,,istirahat sehari apa dua hari juga sembuh kok,,udah kamu tenang aja ya,jangan mikir macam - macam,,kasian kesayangan didalam ikutan stres..”terang wanda sambil mengelus perut Neyna.
Neyna tau kalau Wanda sedang berbohong, menutupi nya dari seluruh keluarga besar,
“Ini obat apa? Aku udah gogling dan ternyata ini adalah obat penghilang rasa sakit bagi penderita kanker, betul kan?” Ucap Neyna.
Wanda terkejut dan terdiam sejenak sejenak, lalu bangkit dari posisi berbaring dan duduk menghadap ke Neyna launmenempelkan kedua telapak tangannya di pipi Neyna
“Aku serius sayang, aku gak apa - apa, itu semua hanya check up rutin saja, percaya sama aku ya” ucap wanda meyakinkan sambil menatap dalam pda bola mata Neyna untuk meyakinkan.
“Tapi aku gak percaya, setelah bukti - bukti Yang aku dapat ini, ditambah lagi pembicaraan kamu dengan Rian waktu dirumah sakit. Kamu masih gak mau berbagi cerita Sama aku?” Ucap Neyna.