Deja Vu

Deja Vu
86. Berdamai dengan hati



Sejak Pertemuan dengan keluarga Altrialman di restauran puncak, Harry sudah kembali bekerja menjadi asisten Wanda, karena Neyna tidak diperbolehkan Wanda bekerja, agar Neyna tidak terlalu lelah.


Usia kandungan Neyna sudah memasuki 27 minggu, perutnya sudah terlihat besar. Seharian dia dirumah tidak melakukan apa - apa, hanya membaca tips dan info seputar kehamilan.


Wanda pulang lebih awal dari kantor, dilihatnya Neyna sedang duduk disofa sambil membaca artikel tentang kehamilan di Gadget nya.


“Assalamu’alaikum,,Sayang..kamu lagi ngapai?” Tanya Wanda sambil berjalan mendekati Neyna.


“Lagi nambah ilmu” ucap Neyna singkat, dilirik Wanda pada layar Gadget Neyna, terlihat tulisan artikel yang berjudul Tips dan Trik Menghadapi Persalinan, kemudian ia tersenyum


“Aku mandi dulu ya” ucap Wanda sambil berlalu masuk kekamarnya.


Neyna sedang belajar menjadi istri yang baik dari artikel yang dibacanya selama dia sudah tidak bekerja. Saat Wanda mandi, dia masuk kekamar Wanda, lalu mengambil baju ganti untuk Wanda dan meletakkannya diatas tempat tidur.


Selesai mandi, Wanda keluar dari kamar mandi dengan menggunakan handuk yang melilit dipinggangnya. Dilihatnya diatas kasur, sudah ada baju ganti lengkap dengan pakaian dalamnya.


“Haa..? Siapa yang naruh ini disini ya? Apa mungkin Neyna? ahh...kenapa dia melakukannya ya?” Wanda tersenyum.


Setelah selesai mengenakan pakaian, Wanda keluar dari kamarnya menuju sofa di ruang TV


“Sayang,,Makasi ya..udah nyiapin baju aku tadi,,aku tuh berasa diperhatikan banget deh” ucap Wanda sambil senyum - senyum.


Neyna hanya menanggapinya dengan senyum tipis. Tak lama berselang, suara azan maghrib berkumandang.


“Udah masuk waktu maghrib, kita shalat berjama’ah yuk” aja Neyna. Wanda kaget mendengarnya,


“Sayang kamu yakin mau di imamin sama aku?” Tanya Wanda karena tidak percaya


“Iya,,,memang ada yang salah, kamu bisa kan?” Tanya Neyna balik


“Iiiya...bisa sih,,,tapi ya gitu deh,,seadanya” jawab Wanda malu sambil menggaruk kepalanya


“Yaudah apalagi,,yuk mulai” ucap Neyna


Wanda pun mengambil posisi Didepan Neyna, sedang Neyna berada disebelah kiri belakang Wanda.


Mereka pun mulai melaksanakan shalatnya, Wanda terlihat khusuk, walaupun surah yang dibaca adalah surah yang hanya tiga ayat saja.


Setelah Wanda mengucapkan salam menoleh kekanan dan kekiri yang diikuti Neyna, kemudian Neyna meraih tangan Wanda lalu menciumnya.


Jantung Wanda terasa berdesir namun masih detakan yang wajar, ada kehangatan yang dirasakannya malam itu, dimana dia baru merasa benar - benar menjadi seorang suami dan menjalani rumah tangga yang sesungguhnya.


Usai shalat, Neyna mengajak makan malam bersama. Neyna pun menuju dapur mulai menyiapkan makan malam mereka yang dibantu oleh Wanda.


Duduk berdua di meja makan sambil menikmati makan malam dengan menu seadanya, karena Neyna memang sedang kehabisan stok bahan masakan di kulkas, tapi entah mengapa walau hanya makan dengan menu seadanya yaitu hanya dengan sup ayam plus bakwan jagung tapi mereka sangat menikmati sekali, mungkin terbawa suasana hangatnya hubungan mereka.


Neyna juga sudah berdamai dengan keadaan dan mulai menerima Wanda sebagai suaminya. Semenjak Neyna sering membaca artikel dan mendengarkan ceramah ustadz soal nasihat pernikahan, perlahan Neyna mulai merubah sikapnya.


Sedikit demi sedikit ia mulai melakukan perannya sebagai istri yang melayani suami. Walau untuk masalah ranjang Neyna belum berani untuk memulainya.


Selesai makan malam mereka bedua duduk santai Didepan TV, Wanda membuka obrolan


“Ya udah, besok jam berapa biar aku siap - siap?” Tanya Neyna


“Malam aja ya, selesai shalat maghrib, besok aku kabari ya, biar aku telpon dokternya dulu” Ucap wanda.


Tiba - tiba Neyna mengaduh,


“Aduh...aw..” Ucap Neyna sambil memegang perutnya


“Ney,,kamu kenapa? ada yang sakit?” Wanda refleks ikut memegang perut Neyna.


“Perut aku kram,,dia aktif banget didalam, gerak terus” Ucap Neyna, Wanda yang masih memegang perut Neyna ikut merasakan gerakan dari dalam perut Neyna,


“Ya ampun nak,,,kamu lincah banget didalam,,jangan loncat - loncat dong nak,,kasian mama kamu kesakitan tuh,,baik - baik didalam ya nak” Ucap wanda sambil mengelus perut Neyna.


“Coba deh sebelah sini,,ini mungkin kakinya kali ya,,kencang banget tendangannya,,uhh...fyuuh..baik budi ya nak,,” Ucap Neyna sambil menarik tangan Wanda kearah perutnya yang bergelombang karena pergerakan dari dalam.


Wanda takjub sekaligus bahagia, karena bisa merasakan gerakan dari dalam perut Neyna, sesekali keduanya tertawa melihat perut Neyna yang sudah miring kekanan dan kekiri,


“Kamu kangen ya sama papa, Sama papa juga kangen banget nih Sama kamu, kamu jangan loncat - loncat terus dong nak, kasian mama,,udah istirahat ya,,ntar kalau udah brojol baru deh loncat - loncat,,ok?! Toss dulu dong” Ucap Wanda sambil menempelkan telapak tangannya ke perut Neyna.


Melihat kelakuan Wanda Neyna hanya tersenyum, lalu pandangan mereka bertemu, keduanya terdiam sesaat, Lalu Wanda menjauhkan tangannya dari perut Neyna, namun Neyna menahannya, membiarkan tangan Wanda tetap menempel di perut Neyna, Wanda menatap Neyna Yang mengisyaratkan pertanyaan apa masih boleh aku menyentuhnya, lalu Neyna mengangguk lembut dan tersenyum tanda mengizinkannya.


Wanda tersenyum sumringah dan mencari - cari arah gerakan perut Neyna.


Neyna tersenyum melihat Wanda, dia mulai menerima kenyataan bahwa saat ini dia sedang mengandung anak Wanda, membiarkan Wanda berkomunikasi dan menyentuh perutnya.


“Ney,,,dia udah gak terlalu banyak bergerak, mungkin dia ngantuk kali ya,,Ney,,aku boleh mencium nya?” Neyna tersenyum dan mengangguk.


Lalu Wanda menempelkan telinganya pada perut Neyna, mencoba mendengar suara dari dalam sana.


“Nak,,sekarang kamu bobo ya, istirahat, biar mama juga bisa istirahat,,besok main lagi tapi jangan main loncatan terus ya,,kasian mama, Assalamualaikum sayang” ucapnya sambil mengecup perut Neyna.


Kemudian Wanda menatap kearah Neyna sambil tersenyum, dia meraih tangan Neyna dan mengecupnya,


“Makasi ya sayang” Ucap Wanda, kemudian dia meminta izin lagi,


“Peluk boleh gak? Aku kangen Ney..” ucap Wanda, Neyna tersenyum dan mengangguk.


Wanda pun meraih kedua lengan Neyna lalu memeluk tubuh Neyna, melepaskan rasa rindunya Yang selama ini terpendam, meluapkan kebahagiaan nya atas pernikahan mereka Yang sudah berjalan seperti sebenar - benarnya pernikahan, walaupun dokter sudah memvonisnya kanker stadium akhir, tapi dia tetap berharap ada keajaiban agar dia diberi kesempatan untuk dapat melihat anaknya lahir kedunia ini dan memeluknya.


Tanpa sadar air mata menetes dari sudut matanya, lalu dia menghapusnya,


“Kok kamu nangis?” Tanya Neyna


“Ini tangisan bahagia sayang, aku janji mulai saat ini aku akan terus menjaga dan melindungi kalian berdua hingga akhir hayat, izin kan aku menjadi suami siaga untuk kamu dan papa superman buat anak kita, kamu mau kan?” Neyna mengangguk dan juga meneteskan air mata, dia pun membalas pelukan Wanda dengan melingkarkan tangannya dipinggang Wanda, air mata Wanda kian meluap karena bahagia.


Keduanya masih duduk disofa ruang TV, Neyna tertidur disofa, Wanda tidak tega membangunkannya hingga dia mengangkat tubuh Neyna masuk kedalam kamar, meletakkan Neyna diatas kasur lalu menyelimutinya, sebelum Wanda keluar dan masih duduk disisi tempat tidur, ditatapnya wajah Neyna sambil membelai lembut pipinya, kemudian dia beranjak dari kamar Neyna, sebelum keluar ia mengecup kening Neyna.