
Taeyong membuka kedua matanya, ia menatap sekitarnya. Ternyata mereka masih berada di dalam hutan, Siyeon masih terlelap di dalam dekapannya. Wajah wanita itu masih terlihat begitu lelah, hingga ia tidak tega untuk membangunkannya. Mata Taeyong terus terpaku menatap wajah cantik Taeyong, tangannya bergerak untuk menyentuh garis wajah Siyeon yang membuat jantungnya terus berdebar.
"Kau sangat cantik," ucap lembut Taeyong yang memuji kecantikan wanita yang berada di dalam dekapannya itu. Tubuh Siyeon menggeliat kecil, tetapi wanita itu tetap enggan untuk bangun. Matahari menyinari tubuh keduanya.
Usapan lembut di kepalanya membuat tidur Siyeon sedikit terusik, dengan perlahan kelopak mata indahnya mengerjap menyesuaikan cahaya yang menusuk ke dalam matanya. Matahari bersinar begitu terang membuat penglihatannya sedikit terganggu, setelah penglihatannya membaik. Siyeon menatap tubuh seseorang yang di peluk olehnya.
"Maafkan aku yang sudah mengganggu tidur nyenyak mu," sesal Taeyong ketika Siyeon bangkit dan duduk di atas tanah, Taeyong juga ikut duduk di sebelahnya. Pria itu tidak bosan melihat wajah cantik Siyeon, meskipun wanita itu baru bangun tidur.
"Kita masih di hutan?" pertanyaan konyol dari Siyeon itu membuat Taeyong menahan tawanya, ia merasa jiwa Siyeon belum kembali ke tubuhnya. Wanita itu tampak menguap lebar dengan mata mengantuk nya, menambah kesan manis di mata Taeyong.
"Pertanyaanmu sangat konyol, padahal jelas-jelas kita masih berada di tempat semalam," ujar Taeyong yang kini sudah berdiri. Siyeon menatap pria itu dengan mata mengerjap, dirinya belum sepenuhnya terbangun. Rasa lelah membuatnya kembali mengantuk, Taeyong yang menyadarinya membuat sebuah alas dengan daun-daun.
"Kau tidurlah di atas daun itu dan aku akan mencari makan untuk kita!" belum sempat Siyeon menyahut, pria itu sudah menghilang dalam sekejap mata membuat Siyeon mendengus kesal melihat hal tersebut. Pandangannya beralih kearah daun yang di buat oleh Taeyong dengan senang hati, wanita itu langsung berbaring di sana.
"Sangat nyaman dan membuatku semakin mengantuk," gumam Siyeon sebelum memejamkan kedua matanya untuk kembali tidur. Tak ia sadari, daun yang di tidurinya mulai menjalar menutupi tubuhnya seperti selimut hangat yang membuatnya semakin nyaman.
Taeyong mencari hewan untuk di buru olehnya, dirinya juga kelaparan. Karena, dari kemarin ia tidak sarapan. Penampilannya kini berubah dengan mata merahnya, ia menatap seisi hutan dengan tatapan tajamnya. Menghirup aroma sekitar untuk memastikan keberadaan hewan yang bisa di makan olehnya. Matanya menangkap tubuh hewan kecil.
"Kelinci tidak masalah," gumamnya melangkah ke arah kelinci kecil itu berada. Matanya semakin menajam saat dirinya hampir sampai di tempat kelinci tersebut. Dengan gesit, kelinci itu sudah berada di tangannya. Taeyong melangkah lebar untuk kembali ke tempat Siyeon berada, pria itu mengumpulkan ranting untuk membakar kelinci buruannya.
Taeyong sampai di tempat Siyeon tidur, pria itu menggelengkan kepalanya ketika melihat wajah lelah Siyeon. Dengan cepat, ia merubah kelinci buruannya menjadi daging panggang dengan api yang di buat olehnya. Lemak dari tubuh kelinci itu tercium kemana-mana, harumnya membuat mata Siyeon terbuka. Perutnya sudah berbunyi dan ia melihat Taeyong yang sedang memanggang daging kelinci di sebuah api.
"Sudah tidak mengantuk lagi?" tanya Taeyong ketika Siyeon melangkah mendekatinya. Siyeon mendudukkan dirinya di samping Taeyong yang masih sibuk dengan daging kelinci yang hampir matang itu.
"Sudah lebih segar," jawab Siyeon yang matanya tidak lepas dari daging menggiurkan itu, perutnya semakin meronta dan tak tahan untuk di beri asupan.
"Silahkan di nikmati!" Taeyong memberikan Siyeon daging tersebut, sedangkan dirinya kembali membakar daging kelinci yang sempat ia temukan saat mencari ranting tadi. Dengan lahap Siyeon menghabiskan sarapannya dan aktivitasnya itu tidak luput dari pandangan Taeyong yang merasa senang melihat ekspresi wajah Siyeon.
"Kau ingin pergi kemana?" tanya Siyeon ketika Taeyong beranjak, setelah menghabiskan sarapannya. Taeyong menghentikan langkahnya dan tersenyum kecil membuat Siyeon menatapnya tak percaya, ini adalah kali pertama dirinya melihat Siyeon tersenyum seperti di saat mereka berada di alam Dewa. Senyum yang membuatnya rindu.
"Aku akan mencari buah-buahan untuk kita," jawabnya dan hendak melanjutkan langkahnya. Namun, dengan cepat Siyeon berdiri dan menahan lengan pria itu.
"Tidak perlu ragu, katakan saja apa yang ingin kau tanyakan!" titah Taeyong dengan lembut, kali ini nada bicara pria itu sudah kembali lembut seperti di alam Dewa. Sungguh, Siyeon merindukan sosok Siyeon yang lembut dan hangat seperti ini.
"Apakah aku boleh ikut denganmu mencari buah-buahan?" tanya Siyeon dengan sedikit ragu, dirinya bosan bila harus berdiam diri dan menunggu Taeyong kembali.
"Kenapa kau tidak beristirahat saja? Bukankah kau masih lelah?" tanya Taeyong yang masih tetap menggunakan suara lembutnya membuat hati Siyeon terenyuh mendengarnya.
"Tapi, aku akan bosan bila menunggumu datang. Lagi pula, aku juga ingin menikmati suasana di hutan ini. Dari kemarin aku hanya mengitari tempat ini," jelas Siyeon.
"Baiklah, kau bisa ikut denganku. Ayo," Taeyong mengulurkan tangannya di hadapan Siyeon, dengan ragu wanita itu menerima uluran tangan dari Taeyong. Mereka mulai berjalan menyusuri hutan yang ternyata begitu indah, Siyeon menatap takjub pemandangan hutan tersebut. Sedangkan Taeyong menatap sekitar untuk mencari buah-buahan.
"Di sana ada pohon apel!" tunjukk Siyeon ketika ia melihat pohon apel yang begitu lebat di depannya. Taeyong menatap arah yang di tunjuk oleh Siyeon dan ia tersenyum tanpa sadar. Dirinya banyak merasakan hal aneh dan sifatnya mulai melembut, setelah memeluk erat Siyeon malam itu. Hati Taeyong langsung berubah menjadi lebih berwarna.
"Mari kita ke sana!" mereka berdua pun melangkah mendekati pohon apel dengan buah yang sangat banyak itu. Siyeon pun menatap tak percaya dengan pohong tinggi yang berwarna merah itu, persis seperti warna apel yang tumbuh.
"Apakah apel tersebut tidak berbahaya? Pohonnya berwarna merah tidak seperti yang lainnya," Taeyong menatap sekilas ke arah pohon itu dan ia ingat apa yang membuat warna pohonnya berubah. Pohon itu sengaja ia ambil dari hutan merah dan menanamnya di sini.
"Tidak akan, aku sengaja menanamnya di sini. Aku sangat terpikat dengan warna pohonnya yang indah. Kau tak perlu khawatir, aku akan mengambil buahnya," Taeyong mengeluarkan kekuatannya yang membuat buah apel itu berjatuhan.
Siyeon memperhatikan buah apel yang jatuh. Sampai pandangannya terpaku oleh bayangan Taeyong yang tidak terlihat. Siyeon menatap bayangannya sendiri dan ia bisa melihat bayangannya. Begitu pun dengan pohon-pohon di sini, semua ada banyangannya.
"Kenapa bayanganmu tidak ada?" tanya Siyeon ketika wanita itu tidak melihat bayangan Taeyong yang di hasilkan oleh cahaya matahari. Padahal dirinya ada bayangan dan mereka sama-sama berasal dari alam crytal bagaimana mungkin mereka tidak sama.
"Apakah kau lupa aku berasal dari clan apa?" tanya balik Taeyong membuat Siyeon terdiam, ia melebarkan matanya dan menatap Taeyong dengan ragu.
"Kau dari crystal hitam!"
TBC...