
Setelah acara kaburnya di gagalkan oleh Taeyong yang sudah berada di balkon kamarnya yang langsung mengarah dengan kamar Siyeon, lebih tepatnya jendela yang di lewati oleh Siyeon. Kini wanita itu terdiam di ruang baca Taeyong dengan sang pemilik tempat duduk di kursi kayu dan membaca sebuah buku tebal yang sempat di ambilnya.
Pria itu menarik Siyeon ke ruangan tersebut dengan paksaan, karena saat Siyeon meronta agara cekalan tangannya terlepas. Pria yang bersamanya itu langsung mengeluarkan kekuatan dari matanya membuat benda yang berada di dekat Siyeon hancur menjadi debu seketika. Dengan terpaksa Siyeon berhenti meronta dan mengikutinya, Siyeon sendiri malas membaca, sehingga ia lebih memilih memainkan miniatur kecil yang terdapat di atas meja panjang.
"Kau sudah mengantuk?" tanya Taeyong ketika melihat Siyeon menguap.
"Apakah kau tak melihatnya?" kesal Siyeon dengan mendelik ke arah Taeyong.
"Baiklah, aku akan mengantarmu ke kamarmu. Ayo!" Taeyong mengulurkan tangannya di hadapan Siyeon, dengan berat hati Siyeon menerima uluran tangan tersebut.
"Kau tak akan bisa kabur, jendelanya hanya bisa di buka olehku. Selamat malam," ujar Taeyong sebelum menutup pintu kamar tempat Siyeon berada.
"Dasar pria menyebalkan dan aneh," dengus Siyeon.
"Aku bisa mendengarmu, nona!" teriak Taeyong.
"Terserah!" kesal Siyeon memilih untuk tidur, matanya sudah tidak bisa menahan kantuknya. Dirinya menguap sekali lagi dan tak lama itu, ia sudah terlelap.
Siyeon membuka kedua matanya dan ia menatap tempatnya sekarang ini, sebuah hutan dengan warna biru cerah. Tanahnya juga berwarna biru pohon sampai hewan yang melintas di hadapannya juga berwarna biru. Sungguh aneh jika di lihat, tapi hutan tersebut begitu menakjubkan dengan butiran crystal yang selalu turun sseperti salju.
"Siyeon Lambency!" seru seseorang membuat Siyeon terdiam, ia menajamkan pendengarannya untuk memastikan keberadaan orang yang memanggil namanya.
'Siyeon Lambency!'suara itu berubah menjadi sebuah bisik yang terus menerus di telinga Siyeon, membuat wanita itu langsung menutup telinganya. Dirinya tidak kuat, karena bisikan itu bukan hanya satu, tetapi sangat banyak yang membuatkan kepalanya seakan pecah.
'SIYEON! AKH...' kini bisikan itu berubah menjadi teriakan yang amat menyakitkan di telinga Siyeon. Teriakan sangat keras dan bertambah banyak, seakan menyaratkan pertolongan kepadanya, Siyeon terus menekan daun telingannya yang terasa nyeri akibat teriakan itu.
"Siapa kalian? Katakan apa mau kalian?" teriak Siyeon yang sedang kesakitan itu. Nafas Siyeon mulai memburu, karena ia sempat tidak bisa bernafas, karena dadanya begitu sesak untuk menghirup oksigen yang ada di sekitarnya.
"Suaranya hilang?" gumam Siyeon dengan nafas terengah-engah, dirinya mulai bangkit dari duduknya dan kini angin kencang mulai menampakkan dirinya membuat daun-daun pohon bergerak dan beberapa hewan bertebarangan ke segala arah.
"Ada apa ini? Kenapa bisa begini?" bingung Siyeon yang mencoba mempertahankan ke seimbangan tubuhnya, anginya bertambah kencang dan menuju ke arahnya membuat Siyeon melebarkan matanya. Ia berusaha untuk beralari menjauhi angin terssebut, tetapi kakinya tidak bisa bergerak seakan sedang terkunci oleh sesuatu.
"BERHENTI!" angin yang hampir sampai kedapanya pun tiba-tiba terhenti dan lenyap begitu saja. Keadaan kembali normal dan terkontrol, Siyeon mengatur nafasnya yang mulai memberat. Entah kenapa Siyeon merasakan kekuatan terkuras begitu banyak, hingga tubuhnya melemah. Siyeon terduduk di batang pohon yang tumbang, akibat terjangan angin.
"Apakah ini pengaruh tempat ini? Aku merasakan energi yang sangat kuat dan masuk ke dalam tubuhku," gumam Siyeon yang terlihat berbeda dari sebelumnya.
"Iya, aku merasakan kekutan alam yang begitu kuat di hutan ini," Siyeon membuka kedua matanya dan kembali berdiri. Ia berniat untuk menyusuri hutan aneh tersebut, dirinya ingin mengetahui sumber kekuatan terbesar yang ia rasakan dari tadi.
Siyeon terus melangkah mengikuti naluri yang ia rasakan, dirinya yakin jalan yang di ambil olehnya tidak salah. Kekuatan tersebut semakin dekat dengannya dan auranya begitu tajam, Siyeon menatap ke arah depan. Sebuah suara gemercik air terdengar jelas di telinganya.
"Aku yakin, air itu berada di kabut tebal biru itu!" ujar Siyeon dengan memicingkan matanya menatap sebuah kabut tebal berwarna biru di hadapannya, dengan langkah pelan Siyeon mendekati kabut itu yang semakin lama semakin memudar.
Semakin lama, kabut itu semakin memudar dan bayangan air terjun mulai nampak di penglihatan Siyeon. Ia mempercepat langkah kakinya, kekuatan yang di rasakannya tepat di hadapannya. Tubuh Siyeon langsung kaku, ketika melihat sebuah cahaya berwarna biru pekat tepat di bawah air terjun yang mengeluarkan crystal warna-warni sama seperti yang terdapat di alam Dewa, hanya saja di sini kelilingi oleh kabut biru yang amt kental.
"Aku ingin mengambil cahaya itu!" Siyeon tidak tahu, kenapa dirinya sangat berambisi untuk mengambil cahaya yang sudah memikat perhatiannya sejak tadi. Siyeon melangkah dengan hati-hati menuruni air tejun di hadapannya demi mencapai cahaya itu.
"Sedikit lagi," ucap Siyeon yang tinggal sepuluh langkah dirinya akan sampai di cahaya biru itu. Dengan hati-hati, Siyeon akhirnya sampai di tempat yang di tujunya.
"Bagaimana caraku mengambilnya?" bingung Siyeon yang terlihat tidak tahu membuat cahaya memikat itu masuk ke dalam tubuhnya. Siyeon berpikir keras untuk mendapatkan jawabannya, namun tetap saja otaknya tidak sampai segitu.
"Aku terlalu bodoh dalam hal seperti ini!" kesal Siyeon dengan mengacak rambutnya sendiri, dengan perasaan penasaran Siyeon mendekatkan tangannya dengan cahaya itu.
Tiba-tiba saja, cahaya putih keluar dari tubuhnya dan cahaya biru pekat itu mulai mendekati tangannya. Perlahan cahaya biru pekat itu menjalar di tangannya dan melilit tubuhnya. Di susul oleh cahaya hijau pekat yang berasal dari langit. Ketiga cahaya itu mulai menutupi tubuh Siyeon dan dengan perlahan cahaya tersebut terserap ke dalam tubuh Siyeon.
"Akh!" ringis Siyeon merasakan tubunya kesakitan dan akan remuk ketika ketiga cahaya itu sudah berada di dalam tubuhnya. Siyeon mengeluarkan air mata, karena sakit yang di rasakan olehnya begitu menyiksa dan ia tidak bisa menahannya.
"Hahh..." Siyeon menghembuskan nafasnya, terdengar suara seruling yang biasa di dengar olehnya. Tubuh Siyeon menengang ketika suara seruling itu mulai berbeda, awalnya memang sama, tetapi semakin lama kini suaranya sudah berbeda dan lebih lama durasinya.
"Kenapa suaranya menjadi beda dan sangat lama?" bingung Siyeon, karena suara seruling itu tidak berhenti. Sehingga di tempat lain ada seseorang yang tampak terkejut mendengar seruling tersebut, ia menatap tak percaya dengan apa yang di dengar olehnya.
"Tidak mungkin! Bagaimana ini bisa terjadi?" teriaknya dengan penuh amarah, sehingga barang-barang di hadapannya pecah seketika tanpa di sentuh atau di tatap olehnya. Menandakan bahwa kemarahannya begitu besar dan wajahnya semakin menyeramkan membuat siapa saja yang melihatnya langsung ketakutan.
TBC...