Deja Vu

Deja Vu
113. Curiga



Setelah Bram meletakkan Rey diatas tempat tidur, terdengar suara ponsel Bram berdering, untungnya suara deringannya kecil hingga tidak membuat Rey terbangun, Bram pun langsung menjauh dari Rey kemudian meraih ponsel di saku celananya, terlihat panggilan dari oma.


“Ya oma..”


“Nak..gimana keadaan Rey, apa kata dokter ?” Tanya oma dengan nada suara khawatir


“Oh iya oma,.Bram dan Neyna belum kasi kabar ya, dokter bilang Rey dirawat inap dulu, takut nanti suhu tubuhnya naik, jadi saran dokter rawat inap dulu agar dokter terus memantau kondisi Rey oma”


“Gitu Bram ? Soalnya dari tadi oma telponin Neyna gak diangkat, makanya oma telpon kamu, baiklah oma dan opa segera kesana ya nak, ohya.. sampaikan sama Neyna apa yang kira - kira perlu dibawa dari rumah untuk keperluan Rey dan dia, kirim pesan ke Tari aja ya nak”


“Iya oma..nanti Bram sampaikan”


“Kamu tolong temenin Neyna ya nak,, Assalamu’alaikum”


“Walaykumsalam” jawab Bram dari seberang.


Bram pun menutup pembicaraannya dengan oma, kemudian mendekat Neyna yang baru keluar dari kamar mandi


“Ney..tadi oma telpon, kata oma, barang - barang apa aja yang perlu dibawa untuk kamu dan Rey, kamu kirim pesan ke Tari aja biar disiapin, karena oma dan opa mau kesini”


“Oh iya kak,,Makasi ya kak” jawab Neyna, Lalu dia meraih ponsel dari dalam tasnya.


“Ya ampun,,,oma dari tadi nelpon ke hp Neyna kak,,”


“Iya..dari tadi oma nelpon kamu, mau tanya kabar Reyhan, karena gak diangkat, jadi oma nelpon kakak”


Kemudian terdengar suara pintu diketok.


Tok..tok..


“Assalamu’alaikum,,gimana Ney ?” Ucap dokter Rian yang baru menerima kabar dari oma soal Rey yang dirawat Dirumah sakit.


“Dokter Rian ? Tau darimana Rey dirawat dok?” Tanya Neyna


“Tadi oma nelpon, tapi aku lagi ada pasien, jadi baru sempat kesini sekarang” terang dokter Rian sambil memeriksa kondisi Rey yang sedang tertidur pulas. Setelah itu dokter Rian menatap Bram


“Kamu sepupunya almarhum Wanda kan? Kenalkan saya Rian teman kuliahnya” ucap Rian sambil mengulurkan tangannya


“Eh...iya...saya Bram Altrialman, senang bertemu dengan anda dokter Rian” ucap Bram menyambut uluran tangan Rian


“Ahh...jangan panggil dokter lah,,,panggil aja Rian,, saya belum pernah liat anda sebelumnya Bram” ucap Rian


“Oh..iya..selama ini saya stay di Papua, tepatnya kerja di Papua, dan baru seminggu belakangan ini saya pulang” terang Bram


“Ohh..jauh..pantesan Wanda gak pernah cerita,, di Papua pasti kalau gak pertambangan atau perkebunan ?”


“Wah..wah...kalau owner itu memang gak pernah ngaku owner lah,,,hahaha...” canda Rian, sementara Neyna yang mendengarnya hanya tersenyum.


“Ney...kamu jangan khawatir ya,,insyaa Allah Rey gak apa - apa, mungkin karena perubahan cuaca, kamu tenang aja ya,, dia aman Dirumah sakit papanya” ucap Rian


“Terima kasih dokter, saya takut Rey juga mengalami hal yang sama seperti Wanda” ungkap kekhawatiran Neyna


“Insyaa Allah tidak, tadi juga udah diambil sample darahnya kok, sekalian untuk cek DBD juga dan setelah aku lihat, keduanya negatif, jadi hanya demam biasa, karena perubahan cuaca dari kemarau dan sekarang mulai memasuki musim penghujan, yang penting harus banyak minum air putih, konsumsi buah dan sayuran juga, kamu juga jaga kesehatan Ney,,,jangan kerja terus,, pikirkan juga kesehatan kamu, sama minum multyvitamin ini, buat jaga daya tahan tubuh kamu” ucap dokter Rian sambil menyerahkan vitamin pada Neyna.


“Dokter.. gak perlu seperti ini,, saya masih ada kok dirumah, saya jadi merepotkan dokter” ucap Neyna


“Kok ngerepoti sih,, itu udah menjadi tanggung jawab kami sebagai tim medis untuk melayani dan merawat pasiennya, termasuk penjaga pasien juga” ucap rian sambil tersenyum


“Sejak kapan penjaga pasien juga menjadi tanggung jawab pihak rumah sakit?” ucap Neyna


“Sejak hari ini dan ini khusus buat mama yang udah capek kerja buat Rey, sampai lupa buat jagain kesehatannya sendiri, kamu harus tetap jaga kesehatan Ney, demi Reyhan, kalau kamu sakit gimana dengan Reyhan ? Aku tau semua vitamin yang aku kirim kerumah opa gak pernah kamu makan kan? kerja boleh, tapi jangan gila kerja sampai lupa jaga kesehatan, aku ngomong gini karena aku peduli sama kamu Ney, demi sahabat aku” ucap dokter Rian


“Harusnya dokter gak perlu segitunya sampai kirim - kirim vitamin ke rumah, aku minum kok cuma aku sering lupa aja, oh...ternyata yang sediain vitamin buat aku Dirumah itu dari dokter? Aku kira oma yang nyiapin,, maaf ya dok...Ok deh..nanti bakal aku minum kok, terima kasih ya dok” ucap Neyna


“Sama - sama, Ok Ney, aku keluar dulu ya, mau balik ke poly, Ok Bram,,aku ke poly dulu ya, ohya..senang bertemu dengan kamu Bram” ucap Rian sambil berjalan menuju pintu keluar ruangan VVIP tersebut, Bram pun ikut mengantarkan dokter Rian sampai keluar ruangan.


Setelah dokter Rian tidak terlihat, Bram masih tetap diluar, menatap punggung Rian yang semakin menjauh dari posisinya berdiri hingga tak terlihat.


“Sepertinya dokter ini begitu perhatian dengan Neyna? Apa dia menyukai Neyna,, atau hanya sekedar simpatik terhadap Neyna yang seorang single parent dari sahabatnya sendiri? ahhkkkk,,,,mikir apa sih aku ini! Tapi kenapa aku menangkap sinyal yang mencurigakan dari cara dia bicara dan menatap Neyna, bagaimanapun aku ini juga seorang laki - laki, aku tau ciri - ciri laki - laki yang sedang mencoba menarik perhatian wanita,, apa jangan - jangan Rian menyukai Neyna ? Waahhh..bisa gawat kalau begini,,hilang satu tumbuh seribu sepertinya,,” gumam hati Bram yang mulai gelisah akan kehadiran dokter Rian.


Bram pun kembali masuk kedalam ruangan, dilihatnya Neyna sudah tertidur dikursi sebelah kanan tempat tidur Reyhan dengan menyandarkan kepalanya diatas tempat tidur Reyhan.


Bram pun duduk di sebelah kiri tempat tidur Reyhan, ditatapnya lamat - lamat wajah yang sejak dulu selalu ada difikirannya, hingga saat ini masih tetap bersarang difikirannya, ingin rasanya dia mendekap tubuh mungil yang terlihat lemah karena beban yang dipikulnya sendiri, dimana dia harus menjalani kewajiban sebagai seorang ibu sekaligus ayah bagi Reyhan.


“Assalamu’alaikum...” ucap salam oma dari pintu, terlihat oma, opa, bude Rania dan Rheina datang.


“Gimana keadaan Reyhan nak,,apa kata dokter? Dokter Rian udah datang kan ya?” Rentetan pertanyaan oma lontarkan pada Bram karena Neyna masih tertidur.


“Walaykumsalam,, kok bisa datangnya bareng Rheina sama mama ? Iya dokter Rian tadi udah kesini, katanya Rey cuma demam biasa, karena perubahan cuaca aja” terang Bram yang membiarkan a Neyna tertidur.


“Alhamdulillah,,syukurlah kalau begitu, kasian Neyna terlihat lelah sekali, kalian udah makan nak?” Tanya oma


“Belum oma,, tadi mau tanya Neyna mau makan apa, cuma Bram kasian mau bangunan Neyna, kekuatannya dia capek banget, jadi ya Bram tungguin aja sampai Neyna bangun” ucap Bram, terlihat Rheina senyum penuh arti sambil menatap Bram dan menaik turunkan alisnya, menggoda kakaknya, namun Bram membuang pandangannya dari Rheina.


“Kamu kok bisa bareng Neyna Bram,, tadi katanya kamu mau ketemuan sama teman kuliah kamu yang kebetulan lagi ada tugas dikota ini?” Selidik mamanya, karena mulai curiga dengan kedekatan Bram dan Neyna, ditambah lagi ucapan Rheina kalau kakaknya sedang kecantol dengan janda.


Mendengar pertanyaan mamanya, Rheina spontan menutup mulutnya dengan telapak tangan kanannya, kemudian berlahan menjauh dari mama dan yang lainnya, sampai akhirnya dia memegang handle pintu keluar, sementara Bram melotot kearahnya, Rheina semakin takut, dia menggelengkan kepalanya dan mengacungkan jari tengah dan telunjung kanannya kearah Bram, mengisyaratkan pada Bram kalau dia tidak cerita apa - apa ke mamanya, lalu Rheina membuka handle pintu dan keluar perlahan.