
Bagaikan petir disiang bolong, kala opa dan oma mendengar Kabar penyakit Yang diderita Wanda.
Seperti memflash back kejadian beberapa tahun Yang lalu, saat mereka mendengar kabar penyakit Yang diderita Ibu Wanda.
Seketika oma terduduk dan menghapus wajahnya dengan kedua telapak tangannya, bulir - bulir kristal bening menetes dari sudut matanya.
Opa yang terduduk terpaku, menatap kosong, dengan bibir Yang bergetar opa berucap
“Apa yang sudah terjadi pada keluargaku ini? Kenapa disaat - saat sisa usiaku ini, disaat aku sedang menikmati kebahagiaan berkumpul dengan anak dan cucuku, Kau memberikan kembali cobaan ini ya tuhan..apa salah ku hingga cobaan Yang hamba terima ini begitu bertubi - tubi, apa tidak cukupkah semua kejadian yang terjadi untuk menebus semua kesalahan hamba?” Ucap opa lirih.
Rania langsung merangkul pundak opa lalu memeluknya, seketika tangis opa pecah dalam pelukan Putri nya itu.
“Papa gak boleh bicara seperti itu, berhenti menyalahkan diri papa, ini sudah takdir yang kuasa, kita tidak dapat menolaknya, sekarang mari kita bersama - sama berusaha untuk kesembuhan Wanda, kita harus kuat pa,,kasihan Neyna” Ucap bude Rania sambil memeluk opa
Oma meraih tangan Neyna lalu menggenggamnya erat,
“Kamu yang kuat ya nak, ingat kandungan kamu, jangan sampai kamu setres, kita akan sama - sama berusaha, apapun akan kita lakukan demi kesembuhan Wanda” Ucap oma ke Neyna menguatkan.
Neyna mengangguk dengan wajah sendu menahan air matanya agar jangan tumpah.
Kemudian terdengar suara Wanda memanggil Neyna,
“Ney...” Ucap Wanda
Serentak mereka menatap kearah Wanda, Neyna pun langsung mendekati tempat tidur Wanda,
“Alhamdulillah kamu udah sadar, apa Yang kamu rasakan saat ini? Kamu mau minum?” Tanya Neyna
“Kamu kenapa, kamu nangis? Aku dimana? Kenapa semuanya berkumpul disini?” Wanda bertanya
Neyna berusaha tersenyum walau hatinya hancur, lalu memberi Wanda minum,
“Ini minum dulu, tenggorokan kamu pasti kering” Ucap Neyna tak menjawab pertanyaan Wanda.
Semua mendekati tempat tidur Wanda, menatap sendu kearahnya, membuat Wanda bingung akan tatapan semua,
“Kenapa ini? Ada apa,,kok tatapannya gitu banget, aku gak apa - apa kok opa, oma, bude dan Pakde, kok kalian liatinnya begitu sih?” Tanya Wanda berpura - pura tidak terjadi apa - apa.
“Kita semua akan berjuang demi kamu nak, apapun akan kami lakukan demi kesembuhan kamu nak, kamu gak sendiri” ucap opa memberi semangat.
“Ada apa sih ini? Opa kok ngomongnya gitu, berjuang untuk apa? Udah kaya mau perang aja deh opa,,apa masih belum terima kekalahan main catur tadi?” Ucap Wanda, untuk mencairkan suasana yang terlihat serius.
“Kita semua disini udah tau tentang penyakit kamu nak, jadi kamu gak perlu berpura - pura lagi nak, sekarang kamu harus semangat sembuh, demi anak kamu Yang akan lahir kedunia ini” Ucap oma dengan suara yang bergetar.
Wanda sadar, dia tidak perlu lagi berpura - pura untuk menutupi rahasia tentang penyakit yang dideritanya.
“Tapi aku beneran gak apa - apa kok,,tadi tuh cuma sedikit pusing aja, mungkin karena kecapekan,,,udah ah...kok jadi pada serem wajahnya,, senyum dong,,yang sakit aja udah semangat,,masa sih yang gak sakit masih pada lemes” ucap Wanda berusaha menutupi rasa sakitnya.
Neyna hanya menatap wajah Wanda lembut, dia tau apa yang sedang dilakukan Wanda pada keluarganya.
Terdengar suara ketukan di pintu ruangan Wanda,
Tok...tok..
“Gua udah bangun bro,,masuk sini” ucap Wanda menyambut sahabatnya itu.
“Gimana,,apa yang kamu keluhkan bro?” Tanya Rian
“Seperti yang lo liat,,aku baik dan saat ini aku merasa lapar” ucap Wanda tersenyum
Rian tau bahwa Wanda sedang berpura - pura baik Didepan keluarganya, ia tidak mau keluarganya melihat dia merasa kesakitan sehingga sebisa mungkin dia menutupinya.
“Ya udah,,,kamu mau makan apa, kalau jatah makan dari RS udah pasti kamu gak dapat, karena kamu masuknya udah lewat jam makan malam” ucap Rian
“Siapa yang minta makan rumah sakit, aku pingin makan sate Padang, hemmm enak banget kaya nya” ucap Wanda sambil tersenyum dan menaik turunkan alisnya.
“Dasar pasien sultan ! Ya udah bentar aku minta tolong belikan CS Rumah Sakit” ucap Rian sambil mengambil ponsel dalam saku celananya, memencet nomor seseorang untuk meminta tolong membelikan sate untuk Wanda, setelah Rian menutup panggilannya, Wanda pun berucap
“Opa, oma, dan lainnya balik aja, udah malam, kalian istirahat Dirumah, biar aku dan Neyna aja disini” ucap Wanda
“Iya oma,,,kalian balik aja istirahat,,Neyna gak apa kok sendirian nemeni Wanda, besok pagi kan opa dan oma bisa datang lagi” ucap Neyna
“Kamu gak apa nak nginap Disini ?” Tanya oma lagi memastikan, Neyna pun mengangguk sambil tersenyum.
Akhirnya opa, oma, bude, pakde, Rheina dan Bima pun pulang kerumah, Rian masih di ruangan mengobrol dengan Wanda, sementara Neyna sedang dikamar mandi.
“Udah,,sekarang lo gak perlu akting lagi, apa rencana lo bro?” Tanya Rian serius
“Gua gak mau keluarga melihat gua kesakitan bro, gua juga gak mau kemo, tolong lo kasi gua pereda rasa sakit buat jaga - jaga kalau gua kesakitan, gua mau menikmati sisa umur gua berkumpul dengan keluarga gua, mungkin hari ini, esok atau nanti,,saat gua akan tiba” pinta Wanda.
“Bro...pamalih ngomong begitu, ntar didengar malaikat di aminin nya lagi. Lo harus semangat dong kalau pun lo gak mau jalanin kemo, setidaknya lo rutin minum obat dan semangat dong,,kasian istri lo lagi hamil, mana bentar lagi mau lahiran kan,,jadi suami itu harus siaga, siap - siap kalau tiba - tiba Neyna melahirkan, walaupun belum bulannya, setidaknya lo dalam keadaan sehat dan gak drop kaya tadi” terang Rian.
“do’a gua cuma satu bro,,agar Tuhan memberikan aku izin untuk melihat dan mengazankan anakku, baru setelah itu, jika memang dia mau mengambilku, aku udah siap” ucap Wanda lirih
“Udah,, gua gak mau dengar lo ngomong gitu lagi” ucap Rian mengakhiri pembahasan mereka, karena Neyna sudah keluar dari kamar mandi.
“Ok..bro gua cabut dulu ya,,besok gua buatin resepnya. Neyna,,aku pamit dulu ya, kamu juga istirahat gih, ntar kamu kecapean jadi sakit lagi” ucap dokter Rian berpamitan.
Tak lama Rian keluar dari kamar Wanda, terdengar suara pintu di ketuk dari luar, Neyna pun segera membuka pintu,
“Ya,,siapa ?” Sambil mengintip dilubang pintu kamar VVIP tersebut.
Neyna membuka pintu dan menerima bungkusan nasi goreng yang dipesan Rian untuk Wanda
“Terima kasih banyak ya mas” ucap Neyna
“Iya,,sama - sama mba, mari mba” ucap sang CS sopan, Neyna pun mengangguk.
Kemudian disiapkannya piring dan sendok, lalu meletakkan bungkusan sate yang baru dibawanya diatas piring lalu menyerahkannya ke Wanda
“Kamu makan ya, ini sate nya,, apa mau aku suapin?” Tanya Neyna sambil tersenyum
“Mau dong,,kapan lagi bisa manja - manjaan sama istri, jarang - jarang lo dimanja kaya gini” ucap Wanda tersenyum lebar, Neyna hanya tersenyum kemudian meraih piring sate tersebut lalu mulai menyuapin Wanda.