Deja Vu

Deja Vu
84. Berbagi berita bahagia



Pagi itu, Wanda sudah bangun dan berada didapur menyiapkan sarapan untuk mereka berdua, sementara Neyna belum keluar dari kamarnya.


Tak lama pintu kamar Neyna terbuka, Neyna keluar dan melihat Wanda sudah sibuk didapur


“Ney,,kamu udah bangun, sarapan dulu ya,,ini susunya diminum dulu” Ucap wanda sambil masih sibuk menyiapkan sandwich untuk sarapan.


Belakangan Neyna memang tidak banyak bicara, penurut tidak keras kepala seperti biasa, namun sikap Neyna seperti ini semakin membuat Wanda merasa bersalah.


Neyna duduk dimeja makan sambil meneguk susu dan sandwich nya. Rasa mualnya pun sudah semakin berkurang, ***** makannya semakin meningkat, membuat tubuhnya semakin berisi, perutnya juga sudah mulai terlihat buncit dan dadanya juga semakin membesar.


Setiap hari Wanda harus menelan shaliva nya melihat Neyna yang kian hari kian menggoda, aura nya semakin terpancar semenjak hamil, tubuhnya yang semakin berisi membuat Wanda sekuat tenaga menahan gejolak di tubuhnya yang sudah sejak lama tak tersalurkan karena ingatan Neyna sudah kembali.


“Ney,,selesai sarapan kita kerumah opa ya, ini kan weekend, minggu lalu kita gak jadi kerumah opa karena kamu gak enak badan, hari ini kamu bisa kan?” Tanya Wanda


“Iya,,aku ganti baju dulu” Ucap Neyna singkat.


“Ya tuhan kenapa pake dibilang sih Ney,,gak tau apa aku sedang bekerja keras” gumam hati Wanda.


Neyna pun beranjak menuju kamarnya, kemudian membuka lemari pakaiannya, mencoba beberapa dressnya, namun setelah dicoba, Neyna merasa tidak nyaman karena berat badannya yang sudah semakin bertambah, juga perutnya yang semakin buncit hingga tidak nyaman jika mengenakan celana.


Lama Neyna mencari - cari pakaian Yang nyaman, hampir tiga puluh menit Neyna belum juga keluar kamarnya, hingga Wanda memanggil Neyna


“Ney,,kamu udah selesai? Ada yang perlu dibantu?” Tanya Wanda dari depan pintu kamar Neyna yang tertutup.


Neyna keluar kamar dan masih mengenakan baju dasternya,


“Loh,,kok belum ganti baju, kamu gak apa - apa kan?” Tanya Wanda


“Baju aku udah gak ada yang muat, aku juga udah gak nyaman pake celana jeans, sesak banget” Keluh Neyna. Mendengar ucapan Neyna, Wanda tersenyum lembut,


“Kita beli baju kamu dulu ya, abis itu kita langsung kerumah opa” Ucap Wanda


“Terus aku harus pake baju apa pergi ketokonya?” Tanya Neyna


“Pake daster aja,,kan gak dilarang juga kalau keluar rumah pake daster, malahan seksi lagi” goda Wanda sambil tersenyum tipis.


Neyna mengerucutkan bibirnya, lalu mengganti dengan baju dasternya yang baru. Setelah Neyna berganti baju, ia keluar dari kamarnya.


Neyna mengenakan daster selutut berwarna biru muda dengan motif abstrak. Wanda menatapa Neyna dari ujung rambut sampai ujung kaki.


Wanda sedikit terganggu melihat daster Neyna yang hanya tertutup sampai diatas lutut


“Ney,,dasternya gak ada yang agak panjangan lagi? Ini tuh terlalu pendek, aku gak suka, ntar kamu diliatin cowok - cowok lagi!” Ucap Wanda


“Ya terus aku harus pake apa dong, bajunya udah gak ada yang muat, masa Iya aku pake kain sarung” kesal Neyna merasa Wanda berlebihan.


“Ya gak pake sarung juga sayang, pake legging kek apa lah gitu yang sejenisnya” ucap Wanda


“Kalau ada juga udah dari tadi aku pake, masalahnya itu semua celana aku yang karet juga udah pada gak muat” Keluh Neyna.


Neyna sudah tidak mempermasalahkan lagi jika Wanda menyebut kata sayang padanya, karena dia memang sudah benar - benar pasrah dan tidak mau berdebat dengan Wanda.


“Ok..ok..kita jalan langsung ya” ucap Wanda sambil tersenyum melihat wajah Neyna yang kesal.


Seperti biasa,Wanda selalu membuka kan pintu mobil untuk Neyna, kemudian dia menuju kursi kemudinya dan melajukan mobilnya menuju butik khusus ibu hamil dan perlengkapan bayi.


Wanda memarkirkan mobilnya dekat dengan pintu masuk toko tersebut agar Neyna tidak terlalu jauh berjalan.


“Selamat siang mba,,ada yang bisa dibantu?” Tanya pramuniaga itu pada Neyna


“Iya mba,,saya mau cari baju ibu hamil” Ucap Neyna, kemudian pelayan toko tersebut membawa Neyna kebagian baju ibu hamil, Wanda mengikuti dari belakang.


Neyna asik memilih baju yang cocok untuknya, kemudian ia memilih satu baju yang akan dikenakannya dan membawanya keruang ganti.


Saat didalam ruang ganti, Neyna bercermin pada cermin yang ada didalam ruang ganti, berputar kekanan dan kekiri, melihat dari sisi kanan dan sisi kiri tubuhnya, kemudian ia bergumam dalam hati,


“Ya ampun!! Kenapa aku gendut banget sih,,ini gak bisa dibiarkan,,aku herus mengurangi porsi makan ku nih,,bisa - bisa seperti gentong kalau aku makan terus”


Setelah selesai memilih baju dan mengganti bajunya, kemudian mereka menuju kasir dan Wanda membayarnya.


“Terus apa lagi yang kamu butuhkan?” Tanya Wanda, Neyna hanya menggeleng. Kemudian mereka beranjak masuk ke mobil.


Mobil Wanda memasuki halaman rumah opa dan langsung memarkirkannya. Wanda tidak lupa menggandeng tangan Neyna masuk kedalam rumah opa, namun Neyna merasa tidak nyaman dan malu


“Lepasin tangan ku,,nanti diliat opa Sama oma” Ucap Neyna


“biarin diliat opa Sama oma, justru mereka senang, berarti kita pasangan yang mesra” Ucap santai.


“Assalamu’alaikum oma sayang,,opa mana?” Ucap Wanda yang meihat oma sedang diruang makan.


“Walaykumsalam,,wah..kalian datang nak,,gimana Neyna udah sembuh nak?” Tanya oma, belum sempat Neyna menjawab, Wanda langsung berucap


“Neyna masih sakit oma, dia pengen oma masakin bubur ayam” Ucap Wanda yang sebenarnya itu adalah keinginannya.


“Bilang aja kamu yang pingin, ya kan?” Goda oma sambil mencubit hidung Wanda.


Sambil memegang hidungnya yang kemerahan Wanda berucap lagi,


“Beneran oma,,katanya dia tuh terbayang - bayang sampai kebawa mimpi” ucap Wanda


“Benar begitu nak?” Tanya oma ke Neyna sambil memegang tangan Neyna,


“Eh tapi tunggu dulu, kok oma liat ada yang beda dengan tampilan kamu hari ini nak, emm...apa ya?” Ucap oma sambil berfikir


Neyna hanya senyum melihat oma yang menatapnya dari ujung rambut hingga ujung kakinya, Wanda juga tersenyum bahagia.


“Naak...kamu hamil?” Tanya oma ke Neyna, Neyna tersenyum lalu mengangguk kan kepalanya.


“Alhamdulillah,,,ya Allah oma seneng banget dengarnya nak,,akhirnya sebentar lagi oma punya cicit,,opa..opa...” oma langsung menuju teras belakang tempat opa duduk bersantai, ingin memberi tahun opa kabar bahagia.


Wanda tersnyum bahagia melihat reaksi oma ketika tau Neyna sedang hamil, kemudian Wanda menoleh pada Neyna


“Lihat lah Ney, betapa bahagianya oma mendengar kabar kehamilan kamu, aku akan selalu membuat mereka tersenyum Ney, sampai akhir hayatku” Ucap Wanda yang berdiri disamping Neyna, Neyna langsung menoleh kearah Wanda dengan mengerutkan dahinya.


Wanda dan Neyna pun menuju teras belakang tempat dimana opa duduk. Lalu opa memastikan lagi pada mereka kabar yang didengarnya dari Oma,


“Apa benar yang dikatakan oma nak?” Tanya Opa dengan wajah dan senyuman berbinar


“Iya Opa,,Neyna hamil sudah dua belas minggu” Ucap Wanda.


“Alhamdulillah,,akhirnya apa yang opa harapkan terjadi, mudah - mudahan opa diberi kesempatan dan kesehatan untuk dapat melihatnya hingga lahir nanti ya nak” harap opa.


“Insyaallah opa pasti bisa melihat cicit opa yang tampan seperti papanya” Ucap Wanda sambil senyum dan menaik turunkan kedua alisnya, lalu mereka pun tertawa.