
Siyeon di sambut hangat oleh warga kerajaan, istananya terawat dengan baik. Beberapa orang kepercayaan kedua orang tuanya yang mengurus kerajaan selama Siyeon pergi. Bahkan, kepala pelayan yang pernah di lihat olehnya masih tetap ada dengan guratan jelas di wajahnya. Waktu delapan tahun tidak bisa di katakan sebentar, semuanya sudah berbeda dan Siyeon sapat merasakan perbedaan itu.
"Ratu, untuk makan malam nanti apakah anda ingin di buatkan sesuatu?" tanya kepala pelayan ketika Siyeon berada di dalam kamarnya yang sangat luas. Semuanya masih sama, barang-barang dan warna kamarnya masih sama seperti yang ada di mimpi Siyeon.
"Tidak perlu, kau siapkan seperti biasa saja," jawab Siyeon yang tak mengalihkan pandangannya dari liontin empat warna yang menggantung di atas tempat tidurnya.
"Liontin ini pemberian dari seseorang laki-laki yang satu tahun lebih tua dariku, saat itu aku masih berumur delapan tahun. Semua kenangan di sini aku mengingatnya. Ayahanda, Ibunda, maafkan putrimu ini yang tak bisa melindungi kalian. Seharusnya kalian bersamaku, agar kejadian itu tidak menimpa kalian," lirih Siyeon ketika mengingat kejadian delapan tahun lalu, di mana kedua orang tuanya di bunuh tepat di depan matanya.
"Siyeon sendirian dan kesepian, tanpa kehadiran kalian berdua," isak kecil mulai keluar dari bibir Siyeon, wanita itu menangis pilu saat menatap lukisan kedua orang tuanya yang di temple di dinding kamarnya, dirinya berada di tengah-tengah mereka yang tersenyum hangat. Senyuman yang sangat menyakitkan untuk Siyeon, senyuman yang tidak bisa di lihatnya secara langsung.
Siyeon menatap sebuah buku yang tergeletak di bawah lukisan yang di lihatnya, ia mengambil buku tua itu. Terasa berat, ketika Siyeon membawanya menuju tempat tidur untuk membacanya, ia menatap tulisan yang bersinar di sampul buku tersebut. Cahaya yang tiba-tiba muncul, saat ia memegangnya. Sehingga terdapat tulisan di sana, yang sebelumnya hanya sampul kosong tanpa judul.
"Kekuatan empat crystal?" gumam Siyeon ketika membaca judul buku tersebut. Tanpa menunggu lama Siyeon mulai membuka buku tersebut dan membacanya.
"Ini buku tentang alam crystal dan kekuatannya, bisa saja di dalam buku ini terdapat tentang tongkat itu dan cara mendapatkannya," Siyeon mulai membacanya dengan teliti, ia berharap menemukan apa yang di carinya selama ini. Mata wanita itu menatap tak percaya saat tangannya membuka lembaran kertas yang menjelaskan tentang tongkat crystal yang di cari-cari olehnya. Senyumnya mulai mengembang.
"Tongkat crystal dapat di temukan pada kekuatan yang menyimpannya, kekuatan suci yang hanya di miliki oleh satu orang yang menjaga alam crystal dan Dewa. Tongkat crystal berada di dalam jiwa sang pemilik, pemimpin kerajaan dari crystal putih. Raja yang memimpi alam crystal dan Dewa, hanya sang raja yang bisa mengeluarkannya," ucap Siyeon ketika membaca penjelsan dari buku tersebut.
"Sang raja? Yang memimpin kerajaan crystal putih? Apakah Ayahanda?" gumam Siyeon, ia mencari lembaran yang menjelaskan tentang sang raja yang di maksud. Lembar demi lembar yang di buka olehnya tidak ada yang menunjukkan tentang siapa raja itu. Hingga ia sampai pada tiga lembar terakhir yang menujukkan foto raja yang di maksud.
"Jadi, tongkat itu ada di dalam tubuh Ayahanda? Tapi, bagaimana caranya aku bisa mendapatkan tongkat itu? Ayahanda sudah meninggal delapan tahun yang lalu," Siyeon hendak menutup buku yang di pegangnya, tapi ia mengurungkan niatnya ketika buku itu mengeluarkan sebuah cahaya yang sangat terang.
Cahaya itu membentuk sebuah hologram yang menampilkan sebuah video yang di dalamnya terdapat kedua orang tuanya yang sedang berbincang dengan meminum teh hangat di taman samping istana. Ia juga melihat anak perempuan kecil yang berumur lima tahun sedang bermain dengan kupu-kupu putih yang di tangkap olehnya. Siyeon tahu, bahwa anak perempuan itu adalah dirinya yang sedang asik dengan dunianya sendiri.
"Raja, apakah kau yakin akan mewarisi tongkat crystal itu kepada putri kita?" tanya sanga ratu kepada raja yang sedang mengawasi putri mereka.
"Tapi, bagaimana caranya? Bukankah tongkat itu berada di dalam tubuhmu?" tanya sang ratu yang menatap gelisah putri kecilnya yang sedang tertawa dengan kupu-kupu yang mengeluarkan cahaya putih dan merah itu.
"Tongkat itu akan menjadi miliknya, ketika kegelapan kembali berulah untuk menguasai alam crystal dan alam Dewa. Aku pun, tidak tahu kapan saat itu tiba. Tapi, aku sangat yakin kalau kegelapan tidak akan pernah berhenti untuk mewujudkan nafsunya. Hanya hati yang suci dan ketururan crystal putih yang bisa melawan kegelapan," raja meneguk the hangat di cangkirnya dan menatap sendu sang ratu yang masih terlihat gelisah.
"Kenapa kau sagat gelisah, Ratu?" tanya raja dengan mengusap punggung tangan ratu. Siyeon kecil terlihat berlari menghampiri kedua orang tuanya yang bercengkraman.
"Aku takut, kita tidak bisa berada di samping putri kita untuk waktu yang lama. Aku takut, putri kita akan kesepian, apalagi kegelepan yang ingin mengusai alam ini. Aku tidak ingin putri kita menderita dan melawan kegelapan sendirian, aku takut ia tidak mampu untuk menanggung semua ini," ujar ratu dengan air mata yang mulai meleleh di matanya.
"Kau jangan memikirkan hal itu, karena aku yakin putri kita adalah anak yang kuat. Buktinya, ia tidak menangis ketika terjatuh mengejar kupu-kupu," ucap sang raja untuk menenangkan ratunya. Sang ratu menggeleng lemah, tidak yakin dengan pernyataan sang raja. Siyeon sudah berdiri di hadapan kedua orang tuanya dan menatap sendu ratu yang sedang menangis, tangan kecilnya berusaha menggapai wajah ratu.
"Ibunda kenapa? Siyeon nakal ya?" tanyanya dengan suara yang bergetar, ratu meraih tubuh kecilnya dan memeluknya erat. Raja mengusap pelan punggung sang putri.
"Tidak sayang, Ibunda hanya kelilipan. Siyeon anak yang hebat dan anak kesayangan Ibunda," ujar ratu membuat Siyeon kecil tersenyum lebar.
"Anak kesayang Ayahanda juga, Siyeon adalah penerus Ayahanda yang memimpi kerajaan ini. Jadi, Siyeon harus berjanji untuk menjaga rumah kita. Kalau kami berdua sudah tidak bersama Siyeon lagi, cukup pejamkan mata Siyeon dan ingatlah wajah kami. Maka, kami akan berada di sisimu dan menjagamu," ujar sang raja membuat Siyeon kecil tidak mengerti dan menganggukkan kepalanya saja untuk menyetujui permintaan sang raja.
Hologram itu sudah mati, Siyeon memeluk erat buku tersebut. Dadanya begitu sesak saat melihat kenangan itu, dirinya memang sangat polos. Sehingga tidak tahu apa yang di maksud oleh kedua orang tuanya. Siyeon tidak menyangka, kalau perkataan kedua orang tuanya benar-benar tejadi dan mereka meninggalkannya sendirian.
"Ayahanda, Ibunda, Siyeon janji akan menepati janji Siyeon. Siyeon adalah putri kalian yang hebat dan kuat. Siyeon akan menjaga alam crystal dan alam Dewa. Siyeon tahu, kalian tidak akan meninggalkan Siyeon, Siyeon merasakan kehadiran kalian di sisi Siyeon."
TBC...