Deja Vu

Deja Vu
07| HIS NAME



Siyeon sudah di perbolehkan pulang sehari, setelah dirinya sadar. Ia sedang menunggu kabar dari Jiu tentang misinya malam ini, ia sungguh merindukan pekerjaannya. Tangannya terasa gatal, saat melihat pisau kesayangannya tidak meminum darah para korban. Namun, di satu sisi, Siyeon juga ingin menggunakan kekuatannya untuk menjadikan mereka bentengnya. Sangat menyenangkan, jika ia memiliki banyak benteng yang akan melindunginya.


"Hah...aku tidak sabar untuk menjadikan mereka semua sebagai benteng pertahanan ku, sungguh menyenangkan," gumam Siyeon sambil tersenyum lebar. Belum, pernah merasa sebahagia ini, dirinya sangat senang saat mengetahui kekuatan luar biasa yang di milikinya.


"Aku tidak tahu nama pria yang melatihku, kenapa aku sangat bodoh tidak menanyakan namanya? Bahkan, aku tidak tahu di mana tempat berlatih itu!" kesal Siyeon yang baru menyadari kebodohannya, ia sangat kesal kepada dirinya sendiri yang tidak menanyakan nama pria yang melatihnya itu. Karena, dirinya terlalu asik untuk melatih kekuatannya.


"Tunggu dulu? Bukankah manusia tidak memiliki kekuatan seperti ini? Apa mungkin aku adalah penyihir? Tapi, aku tidak membaca mantra apa pun? Akh...semua ini membuat kepalaku menjadi pecah!" teriak Siyeon yang bingung dengan keadaannya saat ini.


Siyeon memutuskan untuk mengambil makanan di dapur, tiba-tiba saja dirinya sangat kelaparan. Siyeon makan seperti orang yang tidak makan selama seminggu, jelas saja dirinya memang tidak makan selama itu. Selesai makan, Siyeon mengambil ponselnya yang menampilkan pesan dari Jiu bahwa ia masih belum di perbolehkan untuk bekerja oleh atasan meraka. Karena, dirinya yang baru keluar dari rumah sakit.


Siyeon dengan sifat keras kepalanya itu tentu saja melayangkan protes langsung kepada atasannya yang menyuruhnya untuk beristirahat selama seminggu ke depan. Dirinya tidak akan betah dengan berdiam diri di dalam apartemen. Sehingga ia bernegosiasi agar waktu istirahatnya di kurangi dan permintaannya langsung terkabul. Dirinya di beri waktu dua hari untuk kembali memulihkan tubuhnya, Siyeon cukup senang walaupun waktu dua hari itu akan terasa begitu lama baginya. Tapi, setidaknya dirinya tidak berdiam diri selama seminggu di dalam apartemen.


"Sungguh membosankan! Apa yang harus aku lakukan selama dua hari ini? Tidur? Tubuhku sudah sakit semua, karena terlalu banyak tidur," Siyeon terus merancau sendiri untuk menghilangkan keheningan di dalam apartemennya.


"Ah...sudahlah, lebih baik aku menonton televisi saja!" Siyeon menghidupkan layar lebar di hadapannya, tubuhnya bersandar di sofa empuk yang di duduki nya. Ia sengaja mengeraskan volume televisi yang sedang menyala, tetapi pandangannya menatap kosong layar yang sedang menampilkan gambar bergerak itu.


"Aku ingin kembali ke tempat itu dan bertemu dengannya, aku ingin bertanya banyak hal kepadanya," gumam Siyeon sambil menutup matanya. Ia kembali memutar memorinya tentang keindahan tempat indah tersebut dan tentunya wajah pria yang sudah mengajarinya banyak hal. Dirinya belum mengucapkan terima kasih kepadanya, hal itu yang menyebabkan dirinya tidak tenang. Ia ingin mengungkapkan betapa senangnya bisa mengendalikan kekuatannya dengan bantuan pria tersebut.


"Aku akan mengingat wajahmu," gumam Siyeon sebelum dirinya terlelap di atas sofa.


***


Dua hari sudah berlalu, hari ini Siyeon akan kembali menjalankan tugasnya. Namun, ada hal aneh yang mengusik jiwanya. Dirinya tidak bermimpi sama sekali, bahkan tentang kejadian malam ini. Dirinya sempat kebingungan untuk sesaat sampai ia sadar, dirinya akan baik-baik saja dengan kekuatan yang di milikinya. Ia yakin, tidak ada yang bisa melukainya dan orang itu akan terbunuh olehnya, Siyeon akan menjadikan mereka sebagai benteng pertahanannya.


"Aku sudah siap!" seru Siyeon saat mendapat pesan dari Jiu. Dirinya langsung bergegas menemui Jiu di bawah, seperti biasa tidak ada percakapan di antara mereka berdua sampai mereka tiba di tempat tujuan. Siyeon melangkah tenang dengan pakaian serba hitam, targetnya kali ini bukan orang biasa dan ia tidak langsung bertemu dengan target.


"Sepertinya ada yang mengikutiku," Siyeon menyeringai saat target menyadari kehadirannya. Dengan langkah tenang ia mendekati target yang berprofesi sebagai penculik wanita dan anak-anak yang akan di jual ke luar negeri atau di ambil organ dalamnya. Sudah lama Siyeon ingin menghabiskannya, namun bukti dari atasannya masih belum kuat untuk memberinya target tersebut.


"Siapa kau? Kenapa kau mengikutiku?" tanyanya yang kini menatap tajam Siyeon yang menyeringai di dalam tudung jaketnya. Pria di hadapannya mulai mengeluarkan pisau tajam di dalam jaket yang di kenakannya. Siyeon juga sudah menggenggam pisau ke sayangannya.


"Aku juga memiliki pisau," ujar Siyeon dengan mengeluarkan pisau kecil dari saku jaketnya, pria di hadapannya itu tertawa remeh melihat pisau yang di genggam Siyeon. Tetapi, berbeda dengan Siyeon yang menggeram kesal saat mendangar tawa meremehkan itu.


"Pisaumu sangat kecil dan tidak bisa di tandingi dengan pisau milikku!" serunya dengan menyombongkan dirinya. Kali ini giliran Siyeon yang tertawa keras membuat pria itu menggeram dan berlari cepat menghampiri Siyeon yang hanya terdiam di tempatnya.


"Berani sekali kau menertawakanku! Kau tak tahu siapa aku!" geramnya dengan menodongkan pisaunya ke arah Siyeon, dengan tangkas Siyeon menangkis serangan tersebut dan berbalik menodongkan pisaunya. Namun, dirinya salah sasaran pisau itu hanya menggores wajah pria di depannya itu.


"Sial! Apa yang kau tahu di pisau itu? Kenapa tubuhku kaku?" geramnya yang tidak bisa menggerakkan tubuhnya, meskipun hanya goresan kecil. Tetapi, hal itu langsung membuat sang korban terdiam kaku dan aliran darahnya mulai membeku dalam kurun waktu tak sampai satu menit, Siyeon tersenyum menyeramkan melihat wajah kesakitan pria di hadapannya itu.


"Siapa kau? Kenapa kau mencoba membunuh temanku?" teriak seseorang dari belakang tubuh Siyeon, pria di hadapannya sudah menghembuskan nafas terakhirnya dan ia sudah terkulai lemah di atas aspal yang begitu dingin, karena guyuran hujan yang sempat menyapa tadi sore.


Siyeon membalikkan tubuhnya dan melihat ada tiga pria yang berdiri di belakangnya tadi. Siyeon tersenyum senang ketika ketiga pria itu mulai berlari mendekatinya, Siyeon membuka tudung jaketnya dan memejamkan matanya. Tak lama kemudian, penampilannya berubah dan membuat ketiga pria itu terdim membeku akibat kekuatan es yang di keluarkan Siyeon. Tatapan Siyeon langsung terfokus ke arah jantung mereka.


"Seharusnya kalian tidak ikut campur!" seru Siyeon dalam sekejap mereka berubah menjadi debu dan roh mereka masuk ke dalam tangan Siyeon dengan cepat layaknya cahaya.


"Kau sudah pandai menguasi kekuatanmu!" seru seseorang dengan rambut merah dan mata merah menyala berdiri di hadapan Siyeon. Mata mereka saling terkunci satu sama lain.


"Namaku adalah Taeyong Bleak."


TBC...