
"Namaku adalah Taeyong Bleak."
Pria itu memperkenalkan dirinya di hadapan Siyeon, dalam beberapa waktu Siyeon terdiam mengamati seksama wajah dan juga tatapan pria itu. Dirinya terhenyak, ketika pria berwajah dingin itu berdiri di depan wajahnya, sehingga nafas hangatnya menerpa wajah dingin Siyeon. Tangan pria itu mulai menangkup wajah Siyeon, sedang sang empu hanya terdiam.
"Aku merasa tidak asing denganmu!" seru Siyeon yang terus mengamati manik mata merah yang terdapat titik hitam di tengahnya. Tatapan dengan sorot yang begitu tajam, menusuk dan mengerikan itu membuat Siyeon tidak takut sama sekali.
"Apakah kita pernah bertemu?" pertanyaan itu muncul dari Siyeon.
"Ya...kita pernah bertemu. Aku adalah pria yang membantumu di alam Dewa!" jelasnya membuat Siyeon mengernyitkan dahinya, ia memicingkan matanya menatap aneh pria di hadapannya. Tidak asing, namun tatapan itu tidak pernah di lihatnya. Tatapan dingin yang tersirat luka dan penyesalan yang amat dalam dari pancaran tajam itu.
"Alam Dewa? Alam apa itu?" kerutan alis yang jelas di wajah Siyeon mengartikan bahwa perempuan itu sedang kebingungan dengan apa yang di jelaskan Taeyong.
"Alam yang bernuansa putih, terdapat air terjun crystal di sana. Aku adalah clan hitam," sontak Siyeon melebarkan matanya, ia tersenyum mendengar hal itu.
"Tapi, kenapa tatapanmu berbeda? Di alam Dewa kau menatapku lembut dan selalu tersenyum, sedangkan di sini... kenapa tatapanmu begitu dingin?" pertanyaan Siyeon membuatnya menghembuskan nafas panjang.
"Karena hatiku membeku dan hitam di sini. Sedangkan, di alam Dewa semua hati akan netral dan suci yang membuat kita tenang, seakan tidak ingin meninggalkan tempat itu. Oleh sebab itu, aku bisa tersenyum atau pun tertawa, namun di sini aku tidak bisa tersenyum atau pun menangis. Karena, yang aku rasakan hanya ke hampaan," jelasnya membuat Siyeon tertegun, awalnya ia tidak percaya. Namun, dirinya juga merasa tenang di sana dan begitu senang.
"Bagiamana caranya kita ke sana? Aku ingin bertanya banyak hal kepadamu," ujar Siyeon membuat tubuh Taeyong menegang seketika. Ia melirik ke manik mata Siyeon yang menatapnya penuh harap, membuatnya sedikit ragu untuk memberitahunya.
"Apakah kau ingin ke sana?" pertanyaan itu membuat Siyeon cukup kebingungan.
"Tentu saja, aku ingin ke sana lagi!" jawab Siyeon dengan penuh keyakinan di setiap katanya. Siyeon melihat Taeyong menghembuskan nafas kasar dan terlihat gelisah.
"Kalau kau ingin ke sana, kau tidak bisa kembali lagi ke dunia ini," jelas Taeyong.
"Kenapa bisa?" bingungnya.
"Mari ikut ke tempatku, aku akan menjelaskan tentang alam Dewa kepadamu. Karena, jika kita berlama-lama di sini. Mungkin saja, kita tidak akan selamat. Sudahlah, ikuti aku!" pertanyaan Siyeon tertahan, ketika Siyeon menggenggam tangannya dan menghilang seperti angin. Yang di lihat Siyeon hanya gelap dan tubuhnya terasa ringan.
Siyeon menatap sebuah rumah dua lantai dengan tembok kaca yang berada di tengah hutan, dirinya mengikuti langkah Taeyong yang memasuki rumah itu terlebih dahulu. Rumah tersebut sangat sepi, aroma kayu manis langsung menusuk indra penciumannya membuat dirinya tenang. Taeyong menyuruhnya untuk duduk di ruang tamu, sedangkan ia bergegas ke dapur untuk mengambil minum.
"Iya," jawabnya singkat dan memilih untuk membuka buku yang di ambilnya dari rak kecil di belakang Siyeon. Siyeon sendiri baru menyadari terdapat rak yang penuh dengan buku tepat di belakanganya, buku-buku dengan sampul kuno.
"Aku akan menjelaskan tentang alam Dewa, kau jangan memotongnya. Karena, aku malas untuk mengulanginya lagi!" seru Taeyong kepada Siyeon yang menganggukkan kepalanya. Siyeon terdiam memperhatikannya yang sedang membuka halaman yang di tuju olehnya. Bau buku itu langsung menyengat di indera penciuman Siyeon.
"Alam Dewa hanya bisa di datangi satu kali, oleh sebab itu tempatnya sangat sepi tidak ada orang, selain hewan dan tumbuhan. Di alam Dewa kita tidak akan merasa lelah, mengantuk dan kelaparan, hal itu yang kau rasakan ketika latihan waktu itu. Alam Dewa terkenal suci, sehingga hati yang sudah sangat kotor tidak ada lagi, semuanya menjadi netral dan putih, menjadi suci...
... jika kau ingin ke sana kembali, maka kau harus siap mengambil resiko besar yang akan membuatmu berpikir dua kali untuk mengambil tindakan tersebut. Resikonya adalah kau tidak bisa menginjaki bumi, kau tidak di terima di bumi dan akan terpental menuju ke alam Dewa lagi. Kecuali, kalau kau keturunan dari keluarga kerajaan crystal...
....Kerajaan crystal terbagi menjadi crystal putih, hitam, biru dan hijau. Tetapi, kini hanya tersisa hitam yang berkuasa dan putih terbengkalai. Alam Dewa juga sedang menanti ratu mereka yang sedang bersembunyi dari kegelapan yang berasal dari crystal hitam yang ingin menguasai alam Dewa dan juga crystal putih. Agar hidupnya abadi," Taeyong meminum tehnya, sepertinya ia mulai kehausan. Sedangkan Siyeon masih setia mendengarkannya.
"Tetapi, semua itu tidak bisa di lakukannya. Sebelum keturuan crystal putri lenyap dari alam ini, alam Dewa selalu melindungi kerajaan crystal putih. Karena, kegelapan akan selalu kalah melawan..., maaf aku terlalu banyak bercerita. Jadi, intinya, apakah kau rela tidak menginjak bumi lagi? Kalau kau nekat ingin ke sana," Taeyong tiba-tiba menghentikan ceritanya. Siyeon cukup kecewa dengan Taeyong yang tak melanjuti ceritanya.
"Siapa ratu itu?" Siyeon tidak menjawab Taeyong melainkan melepar pertanya ke arah pria di hadapannya itu. Taeyong hanya terdiam menatap lekat Siyeon yang terus menatapnya dalam, Taeyong berdehem dan menutup buku di tangannya.
"Kau akan mengetahuinya dengan sendirinya!" jawaban dari Taeyong membuat kesadaran Siyeon kembali. Ia menatap dirinya masih berdiri di sebuah jalan di mana targetnya tergeletak di tanah. Penampilannya sudah kembali seperti semula.
"Apa tadi? Kenapa begitu nyata?" geram Siyeon yang tak melihat siapa-siapa di sekitarnya. Ia melirik ke arah langit yang kini sudah sedikit berubah, menandakan sekarang sudah pagi dengan langkah cepat Siyeon meninggalkan tempat itu.
Siyeon berhenti di sebuah hutan belukar yang sangat luar, ia tidak tahu apakah jalan yang di ambilnya ini benar atau salah. Ia melewati jalan setapak dengan langkah tenang, dirinya begitu penasaran dengan apa yang di alaminya tadi. Seperti nyata dan sulit untuk di jabarkan membuat kepalanya terasa pening seketika. Nafasnya mulai memberat dan ia merasakan dadanya sakit.
"Aku harus keluar dari sini!" Siyeon terus mencari jalan keluar sampai ia melihat jalan raya di hadapannya. Dengan langkah lebar, ia melangkah mendekati jalan tersebut. Namun, langkahnya terhenti, ketika seorang pria menghalangi jalannya.
"Siapa kau? Kenapa menghalangi jalanku?" tanya Siyeon membuat pria itu menaikkan pandangannya dan wajahnya terlihat oleh Siyeon.
"Namaku adalah Taeyong Bleak."
TBC...