
Mereka pulang menuju rumah opa, untuk sementara waktu mereka akan tinggal dirumah opa, karena kondisi Neyna yang masih dalam tahap pemulihan.
Dirumah opa Neyna diperlakukan bak seorang putri, segala apa yang dibutuhkannya tersedia, Wanda menugaskan 1 orang asisten khusus membantu Neyna selama dia tidak berada dirumah.
“Sayang,,kamu kalau perlu apa - apa bilang aja sama Vita, dia yang akan membantu kamu selama aku tidak dirumah, kamu jangan terlalu capek dan jangan terlalu banyak fikiran” pesan Wanda sebelum dia berangkat kekantor.
Semenjak kecelakaan itu, Wanda lebih banyak menghabiskan waktu dirumah menemani Neyna dan mengurus perusahaan property milik opa.
Selama opa sakit dan masih diluar negeri, segala urusan perusahaan diserahkan padanya yang membuat Wanda harus mengambil cuti kuliah spesialisnya.
Wanda sudah tidak pernah lagi nongkrong dan balapan bersama teman - temannya, waktunya lebih banyak dihabiskan untuk menemani Neyna dan bekerja.
Hari itu kedua orang tua Neyna akan pulang dan Wanda menugaskan asisten khusus yang bernama Vita untuk membantu Neyna.
Sebelum berangkat kekantor Wanda menyiapkan obat dan vitamin yang harus Neyna minum.
“Sayang,,obat dan vitaminnya jangan lupa diminum ya, kamu hati - hati dirumah, jangan sembarangan terima tamu ya, aku berangkat dulu” Wanda pamit berangkat kekantor sambil mencium kening Neyna.
Setelah Wanda berangkat kerja, Neyna lebih banyak menghabiskan waktu dengan membaca buku, menonton televisi dan sesekali dia berkeliling di taman belakang.
Semenjak kecelakaan, Wanda memang ingin menghapus memori lama Neyna. Wanda tidak mengambil barang - barang Neyna diapartemen yang mungkin bisa memulihkan ingatannya.
Wanda pun mengganti dengan yang baru, dari pakaian, sepatu, tas, aksessoris, gadget dengan nomor baru yang hanya diketahui oleh wanda dan kedua orang tua Neyna.
Bahkan mobil Neyna pun digantinya dengan membelikan Neyna mobil yang terbaru, agar Neyna tidak kembali ke ingatan masa lalunya.
Bram dan sahabat - sahabatnya kehilangan kontak dengan Neyna. Setiap kali mereka mencoba menemui Neyna, selalu dihalangi oleh security.
Neyna bagaikan hidup disangkar emas,terkungkung dari dunia luar.
Neyna juga sudah tidak bekerja sejak kecelakaan itu.
Sepulang dari kantor, Wanda selalu menemui security rumahnya untuk menanyakan apakah ada yang datang mencoba menemui Neyna dan juga meminta laporan Vita, apa saja yang Neyna lakukan dirumah.
Hampir setiap hari semenjak Neyna pulang dari rumah sakit, Bram mencoba untuk menemui Neyna tapi selalu saja tidak diizinkan.
Setelah Wanda menemui security dia langsung menuju lantai 2 kamarnya.
tok..
tok..
Wanda membuka pintu dan melihat Neyna sedang duduk menghadap kejendela kaca yang terbuka dengan tiupan angin sepoy - sepoy membelai rambutnya.
“Sayang,,kamu lagi ngapai?” Ucap Wanda membuyarkan lamunannya.
Neyna tersadar dan menatap kearah Wanda
“Lagi menikmati angin dan langit sore sambil berfikir sebenarnya aku ini seperti apa dulunya?” Ucap Neyna
“Kamu kok mikir itu sih, kamu ya Neyna istri aku, anaknya bapak Wira dan ibu Fina yang memiliki Satu orang kakak lelaki yang sedang melanjutkan kuliah diluar negeri” ucap Wanda
“Bukan itu,,aku ingin tau apa saja yang kulakukan setiap hari, apakah aku kuliah atau bekerja, kerjanya dimana dan dengan siapa saja, apa aku tidak memiliki Foto - foto kenangan masa kecil atau masa sekolah yang mungkin bisa membuatku teringat akan sesuatu” ucap Neyna.
Wanda terkejut mendengarnya, Neyna mulai ingin mencari tau tentang seperti apa dirinya dulu.
“Sayang,,buat apa kamu mengingat yang lalu, itu akan membuat kamu pusing, kan dokter udah bilang kamu jangan berfikir terlalu keras” terang Wanda
“Tapi kalau aku begini terus tanpa ada petunjuk atau apapun itu yang membuat aku teringat kemasa lalu bagaimana aku bisa ingat siapa aku sebenarnya, aku akan semakin keras berfikir untuk mencari tau” ucap Neyna.
“Untuk apa Sayang? yang terpenting saat ini kamu sehat dan baik - baik saja, itu sudah cukup buat aku” ucap Wanda
“Tapi bagiku itu belum cukup! Sebelum aku tau seperti apa dan bagaimana aku dulu! Aku merasa saat ini aku sedang tidak baik - baik saja” Kesal Neyna
“Baiklah,,nanti aku akan mencoba mencari barang yang bisa membuat kamu teringat kemasa lalu, sekarang kamu mandi dulu ya” ucap Wanda
“Buat apa Sayang? Mereka itu emang bukan teman yang baik, buktinya mereka gak pernah jenguk kamu selama dirumah ini!” Ucap Wanda
“Gak mungkin!!kalau mereka bukan teman yang baik, mereka gak akan datang kerumah sakit waktu itu, memastikan keadaan ku! Kenapa kamu tidak mengizinkan aku ketemu dengan mereka?” Tanya Neyna dengan nada tinggi
“Karena mereka itu hanya membawa pengaruh buruk buat pernikahan kita!” Ucap Wanda dengan nada meninggi
“Kenapa ya aku merasa, sepertinya ada yang kamu tutupi dari aku” ucap Neyna
“Gak ada yang aku tutupi dari kamu! aku Cuma gak mau kamu terlalu berfikir keras, pesan dokter kamu belum boleh terlalu banyak fikiran, itu aja” terang Wanda
“Aku capek berfikir sendiri mencari - cari tau siapa aku yang sebenarnya, tanpa ada yang membantuku untuk mengingat nya, aku juga gak boleh ketemu teman - teman aku, aku gak boleh keluar dari rumah ini, aku seperti tawanan disini!” Neyna meluapkan kekesalannya.
“Aku khawatir kalau kamu keluar tanpa aku, orang - orang akan memanfaatkan kamu dalam keadaan seperti ini sayang tolong mengertilah, aku Cuma gak mau terjadi apa - apa sama kamu” sambil wanda membelai lembut pipi Neyna
“Ok,,,nanti aku akan panggil mereka kesini ya, sekarang kamu mandi gih, udah mau maghrib” ucap Wanda
Neyna terdiam, lalu beranjak masuk kekamar mandi untuk membersihkan diri. Tiba - tiba Neyna merasa pandangannya berputar dan seketika ia jatuh kelantai.
“Neyna,,,,!!” Teriak Wanda yang mendengar suara dari kamar mandi yang belum terkunci, dia melihat Neyna terduduk dilantai sambil memegang kepalanya.
Wanda langsung mengangkat Neyna yang masih memegangi kepalanya yang sakit luar biasa.
Setelah Neyna dibaringkan diatas tempat tidur, Wanda pun memberi kan air minum
“Kamu minum dulu”
“Apa yang kamu rasakan Sayang?” Tanya Wanda sambil memberi obat yang di resep kan dokter jika Neyna mengalami sakit kepala hebat.
“Kepalaku sakit seperti ditusuk, rasanya sakit sekali” ucap Neyna lemah
“Kan aku udah bilang, kamu jangan terlalu banyak berfikir, karena itu akan memicu sakit di kepala kamu, udah sekarang jangan mikir macam - macam ya, nanti ada saatnya kamu pasti ingat semuanya. Ucap Wanda
Setelah beberapa menit dan Neyna sudah terlihat agak tenang. Wanda melihat baju Neyna basah akibat terjatuh dikamar mandi tadi.
“Baju kamu basah, ntar masuk angin, aku bantu kamu bersih - bersih ya” ucap Wanda
Kemudian Wanda membuka dasi dan melepas jasnya, membuka kancing dan menggulung lengan bajunya.
“Ayo aku bantu” ajak Wanda.
Neyna menurut, Wanda menjepit rambut Neyna yang panjang, tapi dia tidak berhasil, berkali - kali dicobanya tetap tidak berhasil sampai akhirnya dia menemukan cara untuk mengikat rambut Neyna agar tidak basah.
Wanda meraih dasinya yang sudah dilepasnya tadi, mengikatkannya pada rambut Neyna, kemudian menggulungnya.
Terlihat sangat berantakan, tapi sukses mengikat semua rambut Neyna tak bersisa.
Rambut Neyna terikat diatas ubun - ubun, tampilannya sudah mirip seperti pemain film drama kolosal saja.
Neyna hanya terdiam dan memperhatikan Wanda. Sesampainya didepan pintu kamar mandi
“Aku bisa sendiri, biar aku saja” ucap Neyna sambil meraih handuk di tangan Wanda.
Wanda mengangkat kedua alis matanya dan berucap
“kamu yakin gak butuh bantuan aku sayang?” Tanya Wanda memastikan.
“Gak perlu!” Jawab Neyna. Wanda melotot mendengar nada bicara Neyna seperti nada bicaranya saat sebelum kecelakaan
“Apa jangan - jangan ingatannya sudah pulih, kenapa bicaranya sudah seperti singa betina yang keras kepala itu ya?” Ucap Wanda pelan.
Ciee..ciee...
Wanda modus yeee....😆