Deja Vu

Deja Vu
62. Sarapan Berdua Tak Saling Bicara



Masih ditengah kemacetan di jalan tol. Wanda mendekati Neyna


“Kita masuk kemobil ya” ajak Wanda


Neyna pun menurut.


Didalam mobil Neyna hanya terdiam, Mengingat - ingat apa Yang barusan saja terjadi padanya, sementara Wanda bingung dengan kondisi Neyna.


Satu jam berlalu, mobil masih ditengah kemacetan panjang, karena mobil yang terlibat kecelakaan tersebut melintang ditengah jalan tol dan terbakar, para petugas Damkar dan pihak jasa marga bekerja sama memadamkan kobaran api dan mengevakuasi mobil bus yang terbakar tersebut.


Suasana hening di dalam mobil membuat Wanda menyalakan musik, sambil masih berfikir apakah ingatan Neyna memang benar - benar sudah kembali, karena melihat tatapan, sikap dan tingkah lakunya sudah kembali dingin padanya.


“Apa mungkin ingatan Neyna sudah kembali ? Ya Tuhan tolong jangan kembalikan ingatannya, mungkin aku sedikit jahat untuk hal ini, tapi aku tidak mau ingatannya kembali dan merusak semuanya, merusak hari - hari indah yang sudah kami alami selama beberapa bulan belakangan ini, tolong tuhan untuk kali ini saja”


Tak lama kendaraan sudah mulai bergerak, karena mobil yang kecelakaan itu sudah berhasil dievakuasi, Wanda pun mulai melajukan mobilnya.


Mereka masih saling diam, Wanda ragu memulai pembicaraan, dia hanya diam dan sesekali melirik kearah Neyna yang juga masih terdiam.


“Kita makan dulu ya,,kamu pasti lapar?” Ucap Wanda membuka pembicaraan, Neyna hanya mengangguk setuju.


Wanda pun memutar kemudinya memasuki parkiran rest area. Neyna keluar dari mobil dan diikuti Wanda.


“Kamu mau makan apa sayang?” Tanya Wanda


Neyna menoleh jutek mendengar ucapan Wanda, Wanda terkejut melihat reaksi Neyna atas ucapannya


“Fix,,,dia udah kembali kewujud aslinya!” Ucap Wanda pelan.


Ada sedikit rasa sedih dan kecewa melihat Neyna yang sudah ingat semuanya.


Neyna masuk di sebuah restauran dan mencari tempat duduk, sedang Wanda hanya mengikuti kemana arah Neyna berjalan.


Setelah mereka berdua duduk, pelayan restauran tersebut datang dan memberikan buku menu.


“Nasi goreng plus Tempe mendoannya satu ya mba” Ucap mereka serentak, kemudian mereka saling pandang


“Jadi nasi goreng plus mendoannya dua ya mba?” Ucap pelayan memastikan makanan pesanan mereka berdua


“Minumnya apa mas dan mba nya?” Tanya sipelayan


“Es teh manis satu” Ucap Neyna sambil menatap Wanda, apakah Wanda memesan minuman yang sama dengannya.


Kemudian Wanda yang mengerti arti tatapan Neyna langsung menyebutkan minuman pesanannya


“Orange jus nya Satu mba” Ucap Wanda


Lalu pelayan tersebut berlalu meninggakan mereka.


Tak lama makanan yang mereka pesanpun tiba. Mereka melahap makanannya tanpa berbincang sepatah katapun, sampai selesai.


Kemudian Wanda menuju kasir untuk membayar makanan mereka. Mereka menuju parkiran untuk segera berangkat melanjutkan perjalanan.


“Malam ini kita pulang keapartemen kamu ya?” Pinta Neyna


“Kenapa? Selama opa berobat kita tinggalnya dirumah opa, kenapa malam ini kita keapartemen” Tanya Wanda


“Gak ada,,ada yang perlu kuambil disana, besok pagi kita baru kerumah opa” Ucap Neyna


“Baiklah kalau kamu maunya begitu” Ucap Wanda singkat dan melajukan mobilnya kearah apartemennya.


Sesampainya diapartemen Wanda, Neyna langsung menuju kamar yang biasa dia tempati, pastinya kamar mereka berbeda.


Dan akhirnya Wanda pun yakin, ingatan Neyna sudah pulih kembali.


Wanda merasa sedih atas keadaan ini, batinnya berkata


“Ya Tuhan,,kenapa aku ini? Kenapa aku bersedih, saat ingatan Neyna sudah kembali? Apakah ini artinya dia akan menjalankan kembali perjanjian Yang sudah kami sepakati dulu?”


Wanda pun masuk kekamarnya, sesekali dia keluar kamar dan melihat kearah pintu kamar Neyna yang tertutup rapat.


Keesokan paginya, Neyna bangun pagi sekali, memasak sarapan didapur. Setelah ingatannya kembali, dia kembali menjalani rutinitas yang biasa di jalaninya dulu, hanya yang berbeda saat ini dia sudah tidak bekerja lagi.


Pagi ini dia memasak sarapan dengan menu omelet jamur sosis, dengan memanfaatkan bahan yang ada dikulkas.


Wanda terbangun mendengar suara alat masak yang beradu, juga mencium aroma masakan yang sangat lezat.


Sejenak Wanda terpaku didepan meja makan dan tersenyum


“Seandainya ingatanmu belum kembali, mungkin ini menjadi sarapan teromantis sepanjang pernikahan kita Ney” batin Wanda.


“Kamu lapar? Itu sarapannya udah aku siapin, biar kita bisa segera kerumah opa mempersiapkan semuanya” Ucap neyna singkat masih sambil membersihkan dapur.


Setelah selesai membersihkan dapur Neyna bergegas masuk kekamar


“Kamu mau kemana? Gak sarapan bareng?” Ucap Wanda


“Aku mau bersih - bersih dulu, setelah itu baru sarapan, kamu duluan aja” Ucap Neyna


Wanda menatap Neyna hingga masuk kedalam kamarnya


“Singa betinaku sudah kembali” Ucap Wanda pelan


Kemudian Wanda pun masuk kekamarnya untuk membersihkan diri, berharap bisa menikmati sarapan berdua dengan Neyna.


Secepat kilat Wanda membersihkan dirinya, terdengar suara pintu kamar Neyna terbuka, Wanda pun segera keluar kamarnya menuju meja makan.


Neyna juga sedang duduk dimeja makan sambil menikmati sarapannya.


Mereka duduk saling berhadapan, Neyna asyik dengan ponselnya, ntah chat dengan siapa, terlihat wajahnya sangat serius, sesekali dia menyuapkan omelet kedalam mulutnya.


Wanda melirik kearah Neyna yang masih asik dengan ponselnya.


“Yahh,,,kirain bisa sarapan romantis berdua, Ehh!! Dianya malah asyik mainin hp lagi,,nasib dah!!” Gerutu Wanda dalam hati, kemudian melahap sarapannya


“Astagaa sayang,,selain cantik, pinter, jutek, kamu juga pinter masak sayang, ini tuh enak banget,,enak yang bertubi- tubi” puji Wanda dalam hati.


“Rasanya ingin sekali dia memeluk Neyna, mengungkapkan perasaannya saat ini, hanya saja singa betina ini sudah bangun dari tidurnya, jadi aku harus tetap menjaga jarak, daripada ntar aku dicakar” gumam hati Wanda.


“Handphone lama aku kamu kemanakan, banyak kontak yang gak ada disini?” Tanya Neyna yang tidak mengalihkan pandangannya


“Handphone lama kamu udah hilang waktu kecelakaan, jadi aku ganti dengan yang ini” ucap Wanda singkat


Masih tetap mengotak- atik handphonenya, sampai dia selesai sarapan, kemudian bergegas kekamarnya mengambil tas tangannya.


“Kita jalan sekarang?” Tanya Neyna ke Wanda


“Ya udah..” ucapnya singkat.


Setelah mencuci piring bekas sarapan mereka, Neyna dan Wanda pun beranjak menuju rumah opa, untuk mempersiapkan kedatangan opa.


Sesampainya diparkiran apartemen, Neyna melihat jari tangannya, cincin pernikahannya tidak ada


“Bentar, ada Yang ketinggalan” Ucap Neyna sambil berbalik menuju pintu lift apartemen.


Wanda hanya terdiam dan menunggu Neyna.


Setelah Neyna kembali, dia melihat Neyna sudah memakai cincin pernikahan mereka.


Wanda tersenyum, kemudian bergumam dalam hatinya,


“ternyata cincinnya masih kamu simpan Ney,,aku kira udah kamu buang” sambil tersenyum dan membuka pintu mobilnya.


Mobil Wanda melaju dengan kecepatan sedang menuju rumah opa.


“Kamu udah hubungi oma, mereka berangkat jam berapa?” Tanya Neyna


“Sudah, pesawatnya jam 4 sore, mungkin makan malam dirumah, aku juga udah hubungi mba Dian untuk memasak makan malam” Terang Wanda.


Mata Wanda sesekali melirik kearah Neyna dan juga melirik pada jari tangan Neyna, melihat cincin pernikahan mereka yang dikenakannya pada jari manis disebelah kiri sedang kan cincin pemberian Bram masih melekat dijari manis sebelah kanan.


“Bahkan Cincin pemberiannya pun aku tak mampu menggeser posisinya, apalagi dia dihati kamu Ney”


Tepat tiga puluh menit kemudian mereka tiba dihalaman rumah opa. Semua susah terlihat sibuk bekerja mempersiapkan, Wanda meminta Dian untuk membersihkan kamar opa.


Neyna langsung menuju dapur melihat persiapan masakan untuk makan malam. Neyna menambahkan masakan tempe mendoan.


Hingga tepat pukul 4 sore, dia pun langsung bergegas membersihkan diri masuk kekamarnya yang terletak di lantai 2.