
"Sepertinya aku mulai mengantuk," ucap Siyeon dengan menguap, wanita itu menarik tangannya dari genggaman Taeyong. Siyeon beranjak dan pergi terlebih dahulu meninggalkan Taeyong yang masih terdiam menatap tangannya sendiri dengan tersenyum kecut. Pria itu menghembuskan nafas panjang dan mengusap rambutnya gusar.
"Aku tahu kau akan menjauhiku kalau aku mengatakan kata itu. Tetapi, aku sudah tidak bisa membohongi hatiku sendiri. Sudah lama aku ingin mengatakannya kepadamu," lirih Taeyong dengan tatapan sendunya, pria itu memejamkan kedua matanya.
"Selama aku masih bernafas, aku tidak akan pernah melepaskanmu. Kita akan bersama setiap saat," sorot mata Taeyong kini berubah menjadi tajam dengan matanya yang berwarna hitam legam, suara burung gagak yang berisik membuatnya menyeringai.
"Lihat saja, seberapa jauh kau menghindari ku," Taeyong bangkit dari duduknya dan matanya kini kembali berwarna merah, pria itu melangkah menuruni bukit untuk kembali ke istana. Taeyong merasakan detak jantung di pacu begitu cepat, amarahnya mulai menguasai jiwanya, membuat pria itu merubah jalur yang di ambil. Ia akan pergi ke suatu tempat, agar tidak ada yang mengetahui wujud aslinya.
Sedangkan Siyeon baru sampai di istana, ia langsung bergegas menuju kamarnya. Pintu besar yang baru di buka olehnya segera di tutup, ia meluruhkan tubuhnya di atas karpet dan bersandar di pintu. Nafasnya memburu, pandangannya mengabur. Siyeon tidak tahu ada apa dengan dirinya, tetapi jantung terus berpacu dengan sangat cepat. Bukan, karena ia berlari, melainkan ada hal lain yang mengacunya seperti itu.
"Aku tidak tahu ada apa denganku, aku juga merasa bersalah meninggalkannya sendirian di bukit. Apakah aku terlalu kejam kepadanya? Tapi, aku masih menaruh ragu kepadanya. Aku tidak ingin salah memilih orang," lirih Siyeon dengan meluruskan kakinya. Nafasnya mulai kembali normal dan pandangannya mulai kembali juga.
"Aku tak ingin memiliki perasaan ini, apakah waktu bisa di putar kembali? Aku ingin kembali ke waktu di mana masih ada kedua orang tuaku dan tidak bertemu dengan pria itu. Aku sangat ragu untuk memberikan hatiku untuk sembarang orang," ujar Siyeon. Wanita itu kembali menangis tanpa sebab, entah kenapa wanita itu terus menangis saat mengetahui isi hati pria itu. Siyeon tidak ingin pria itu menaruh hati kepadanya, wanita kejam yang selalu membunuh orang tanpa ampun. Dirinya bukan wanita baik-baik untuk Taeyong.
Siyeon beranjak dari duduknya, ia melangkah gontai ke arah tempat tidurnya menatap kembali lukisan kedua orang tuanya. Bibirnya menyunggingkan senyum, walau pun air matanya terus mengalir tanpa sebab. Wanita yang terlihat kejam itu, memilik hati yang sangat rapuh dan lemah. Ia selalu menangis dalam kegelapan malam yang sangat sunyi, sendirian tanpa seorang pun di sisinya. Wanita yang selalu menggunakan topeng untuk menutupi sifat aslinya, selalu bisa berpura-pura dengan sangat baik. Langkahnya menuju ke arah lukisan, di usapnya lukisan lama itu dengan sangat lembut, agar tidak merusaknya.
"Siyeon harus bagaimana? Siyeon tidak tahu apa yang harus di lakukan?"
"Siyeon takut," isaknya dengan suara yang mulai mengeras.
"Siyeon takut memilih orang yang salah, Siyeon takut mengecewakan kalian berdua," tubuhnya mulai bergetar sangat kencang, ia tidak bisa menopang tubuh rapuhnya. Hingga, ia terduduk di karpet yang di injaknya, wanita itu terus menangis dengan pilu. Membiarkan suara tangisannya mengisi kekosongan kamar yang di tempatinya.
Siyeon meringkuk di atas karpet dengan memeluk kakinya sendiri, matanya sangat merah dengan semua warna mata yang putih itu. Rambut putih panjangnya menutupi sebagian wajahnya yang basah, karena air matanya yang begitu banyak. Suara benda jatuh membuat tangisannya berhenti, wanita itu menatap buku tua yang di letakkan di atas tempat tidurnya terjatuh di lantai, ia bangkit dan mengambil buku itu.
"Kenapa kau jatuh? Apakah ada sessuatu yang ingin kau tunjukkan?" gumam Siyeon dengan menatap intens buku di tangannya. Tiba-tiba buku itu terbuka dengan sendirinya dan mengeluarkan cahaya merah yang sangat terang membuat Siyeon menutup matanya.
Buku itu menampilkan sebuah hologram lagi, Siyeon menatap dirinya sedang bermain di hutan kerajaan crystal putih yang sempat ia lewati bersama Taeyong saat menuju ke istana. Ia mengira umurnya saat itu adalah delapan tahun, ia sedang mengejar kelinci putih yang berlari memasuki kawasan hutan yang mulai jauh dari kerajaannya.
"Kelinci kemana kau?" teriak Siyeon dengan suara cemprengnya, tanpa sadar Siyeon tertawa mendengar suaranya yang melengking itu. Ia tidak tahu, kalau ia memiliki suara mengerikan itu. Sekarang, Siyeon kecil mengendap-ngendap saat kelinci itu berhenti untuk memakan daun-daunan yang tumbuh di akar sebuah pohon besar.
"Kelinci tunggu aku! Aku akan membawamu ke istana dan memberimu makan yang banyak!" teriak Siyeon kecil membuat kelinci itu semakin berlari dengan cepat.
"Aku lelah, dasar kelinci kecil. Padahal aku ingin membawanya ke istana," gerutu Siyeon kecil dengan menghentak-hentakkan kaki kecilnya, wajahnya terlihat muram dan bibirnya mengerucut kesal. Ia mengusap keringat di wajahnya yang sudah sangat banyak.
Saat Siyeon kecil memilih duduk di akar pohon yang menjulang, kelinci yang di kejar olehnya kembali melintas di hadapannya. Dengan wajah sumringah, Siyeon kembali mengejarnya tanpa merasa lelah. Padahal, dirinya sudah sangat jauh masuk ke dalam hutan. Bisa saja hewan buas akan menemuinya dan menerkam dirinya. tapi, Siyeon kecil tidak pernah mendengar kata takut, ia selalu datang menghampiri bahaya yang sebentar lagi akan menyapa dirinya. rumput di sebelahnya mulai bergerak membuatnya menghentikan langkah.
"Kenapa rumput itu bergerak? Apa kelincinya berada di sana?" tanyanya dengan menatap lekat rumput yang bergerak itu, dengan langkah pelan Siyeon mendekati rumput yang tingginya lebih tinggi dari tubuhnya. Tangan kecilnya mulai membuka rumput tersebut.
"Kelinci kecil?" ucapnya dengan tersenyum kecil.
"Aaa!" teriak Siyeon ketika di salam rumput itu bukan kelinci yang di carinya, melainkan seekor serigala putih yang mulutnya mulai mengeluarkan busa. Siyeon terduduk di tanah dan serigala itu melangkah mendekatinya dengan geramannya.
"Tolong aku," isak Siyeon kecil yang mulai ketakutan.
"Anjing bodoh menjauhlah dari gadis kecil itu!" seru seseorang yang melompat dari atas pohon, orang itu berdiri di hadapan Siyeon kecil untuk menghalangi serigala itu. Serigala itu mulai ketakutan dan berlari, ketika orang itu menatapnya.
"Kau tidak apa-apa?" tanyanya dengan mengulurkan tangan. Siyeon menatap seorang anak kecil laki-laki yang lebih tinggi darinya, ia menerima uluran tangan anak laki-laki yang bermata hitam legam, berambut hitam dan jubah berwarna hitam juga.
"Jangan menangis lagi, nanti cantikmu hilang. Aku akan memberimu hadiah," anak laki-laki itu mengeluarkan liontin merah dan mengalungkannya di leher Siyeon.
"Suatu saat nanti kau akan menjadi ratuku," ujarnya sebelum berlari pergi, karena mendengar teriakan dari raja, ayah Siyeon yang sedang mencari putrinya.
"Apa maksud dari ini? Kenapa buku ini memberi tahuku tentang anak laki-laki yang tidak ku ketahui namanya?" gumam Siyeon dengan menatap liontin pemberian anak laki-laki itu. Siyeon melihat liontin itu mengeluarkan cahaya merah yang sangat terang dan membuat dirinya langsung tertidur seketika. Di balik jendela kamarnya, ada seseorang yang tersenyum melihat hologram yang di lihat oleh Siyeon.
TBC...