Deja Vu

Deja Vu
81. Rahasia Besar Opa



Mobil keluarga Altriaman masuk kearea parkir restauran. Terlihat turun dari mobil Altrialman yang menyetir, Rania dan Bima di jok belakang sedangkan Bram tidak ikut bersama orang tuanya.


Mereka memasuki restauran, di meja kasir Altrialman menanyakan meja yang di booking atas nama Harry Atmaja. Opa memang meminta Harry yang mengaku sebagai CEO dari perusahaan opa. Kemudian pelayan restauran tersebur mengantarkannya ke meja yang sudah disiapkan.


“Selamat datang bapak Altrialman, silahkan duduk..” Sapa Harry yang muncul diantara mereka


“Terima kasih pak Harry” mereka pun saling berjabat tangan, kemudian Altri memperkenalkan satu persatu anggota keluarganya.


“Pak Harry,, kenalkan istri saya Rania, ini putri saya satu - satunya Rheina dan yang itu si bungsu Bima”


“Loh,,bukannya anak bapak ada tiga orang kan? Yang satu kemana, gak ikut?” Tanya Harry


“Ohh,,anak sulung saya, tadi dia ada kegiatan off road disekitar sini, nanti mungkin dia langsung nyusul kesini” terang Altrialman dan Harry pun mengangguk paham.


Kemudian Harry pamit kebelakang sebentar ada yang ingin diurusnya,


“Pak Al,,silahkan pesan minuman atau makanannya, saya tinggal sebentar ya, mau telpon keluarga saya” ucap Harry dan Altrialman pun mengangguk.


Harry pergi menemui opa yang berada tidak jauh dari meja yang sudah di booking.


“Pak,,bapak Altrialman sudah datang bersama keluarganya, tapi anak sulungnya belum datang, karena sedang ada kegiatan offroad didaerah sini, nanti setelah selesai akan menyusul kesini” lapor Harry


“Pa,,dia persis kamu,,hobbi offroad, aku jadi gak sabar pengen ketemua mereka” ucap oma bahagia


“Baiklah,,terima kasih Har, sebentar kita tunggu Wanda dan Neyna datang, baru kita keluar” ucap opa yang bahagia bercampur gugup.


Masih diperjalanan, Neyna meminta Wanda menepikan mobilnya,


“Stop..stop Didepan situ!” Pinta Neyna


“Kamu mau ngapai Ney?” Tanya Wanda heran


“Aku mau ke apotik itu, ada yang mau aku beli” ucap Neyna sambil meraih handle pintu


“Kamu mau beli obat, obat apa? Aku bawa stok obat - obatan nih di mobil, Ney..Neyna” panggil Wanda tapi Neyna mengacuhkan suara Wanda, Neyna langsung berjalan menuju apotik itu dengan fikiran yang campur aduk, takut dan gak siap.


Neyna pun membeli testpack, dengan tiga merek yang berbeda, untuk lebih memastikan, dari yang paling murah hingga yang paling mahal. Kemudian dia kembali ke mobil.


“Kamu beli apa sih? Kalau mau beli obat kenapa gak tanya aku dulu Ney,, aku kan bawa tas obat, kamu mau obat apa aja ada kok, memang kamu cari obat apa sih?” Tanya Wanda


“Gak beli obat,,cuma beli pembalut” ucap Neyna sekenanya.


Sontak Wanda kaget mendengarnya, apa yang sudah terjadi pada janin di kandungan Neyna, apakah Neyna keguguran, tapi kenapa dia terlihat baik - baik saja,,tapi buat apa dia beli pembalut,,ahh...Neyna jangan buat khawatir dong,,apa sebenarnya yang udah terjadi pada anak kita Ney,,” batin Wanda berkata - kata.


“Kok bisa..?!!” Ucap Wanda


Neyna langsung melotot dan menoleh kearah Wanda


“Maksud kamu bisa apanya?!” Merasa heran atas ucapan Wanda barusan, karena dia seorang wanita pastilah ada tamu bulanan, tapi kenapa Wanda bicara seperti itu, pikirnya.


“Ng..nggak maksud aku kok bisa - bisanya lagi dijalan kamu kedatangan tamu bulanan” ucap Wanda sekenanya.


“Ya bisa lah!! Suka - suka dia kapan dia mau datang, kenapa harus izin dulu,,hedeww!!” Ucap Neyna


Wajah Wanda terlihat panik, khawatir dan takut sesuatu yang buruk terjadi pada janin yang di kandungan Neyna.


Sementara itu , Bram juga sudah tiba di restauran dengan kostum offroad dan mobil yang penuh lumpur.


“Bram,,kesini sebentar” panggil papanya


“Iya pa,,kenapa?” Ucap Bram


“Kenalkan pak Harry, ini anak sulung saya Bram Altrialman, Bram ini om Harry calon investor untuk pertambangan yang ada di pulau Belitung” Altrialman memperkenalkan Bram ke Harry, mereka pun saling berjabat tangan.


“Wah...panggil Harry saja pak, sepertinya umur kami tidak jauh beda kok, saya jadi berasa tua sekali dipanggil om,,hahaha...” ucap Harry


“Oh...baiklah...kalau begitu panggil mas Harry saja ya Bram, kalau panggil Harry terlihat tidak sopan, bukan begitu Pak Harry?” Ucap Altrialman, lalu mereka tertawa


“Silahkan pesan makanannya pak Al,,sambil menunggu keluarga saya datang” ucap Harry mempersilahkan keluarga Bram.


“Terima kasih pak Harry,,baru kali ini ada yang mau invest ke kami tapi malah kami yang dijamu,,hahaha” ucap Altrialman


“Jangan sungkan pak, lanjut saja saya permisi sebentar ya” ucap Harry


“Silahkan pak Harry” ucap Altrialman.


Harry menemui Opa dan Oma, untuk menanyakan rencana selanjutnya.


“Gimana pak ?” Tanya Harry pada opa


“Sebentar saya telpon Wanda dulu ya” ucap opa yang kemudian menelpon Wanda


“Assalamu’alaikum nak,,kalian udah dimana?” Tanya opa


“Ok..nanti langsung masuk aja ya nak, hati - hati dijalan” ucap opa mengakhiri panggilan.


Kemudian opa beralih ke Harry, “baiklah Har,,tolong bawa saya ke sana” ucap opa dengan perasaan tegang.


Harry langsung mendorong kursi roda opa menuju meja tempat keluarga Altrialman berkumpul yang diikuti oma dan ibu Rahayu.


Oma tidak kalah tegang dengan opa, dia berkali - kali menghapus wajahnya dengan telapak tangan, mulutnya tak henti berdo’a agar tidak terjadi hal - hal yang tidak diinginkan.


Sedang asyik melihat buku menu restauran, Harry menyapa keluarga Altrialman


“Pak Al...perkenalkan ini keluarga saya” ucap Harry dengan suara khas nya sambil mendorong kursi roda opa.


Seketika Altrialman dan keluarganya menoleh kearah asal suara itu. Betapa terkejutnya Altrialman dan Rania istrinya ketika melihat sosok pria yang duduk diatas kursi roda dan wanita tua yang berdiri disebelahnya.


“Papa...” ucap Rania


Opa tersenyum sendu pada Rania, seketika suasana menjadi haru biru, Nia masih terdiam menatap kearah kedua orang tua itu, masih tidak percaya atas apa yang ada Didepan matanya, bergantian dia menatap kedua orang tuanya, dengan mata yang berkaca - kaca. Ada rindu yang memuncak pada tatapan matanya yang tergenang, dia tidak berani mendekat karena takut maafnya tidak diterima oleh orang tua yang sudah membesarkannya.


Seketika opa merentangkan kedua tangannya, menganggukkan kepalanya sebagai isyarat agar Nia mendekat dan memeluknya, Nia pun berjalan perlahan kemudian menyambut pelukan ayahnya yang sudah lama dirindukannya, puluhan tahun dia memendam rindu dan rasa bersalah yang terus menghantuinya hingga ia tidak memiliki keberanian untuk sekedar menanyakan kabar kedua orang tuanya itu.


Tangis pecah diantara keduanya, Rania memohon maaf, begitu juga dengan opa yang sangat merasa bersalah sudah membiarkannya pergi dan tidak memberikan restu atas hubungan mereka.


Setelah itu, Nia berganti memeluk oma yang sejak tadi sudah banjir air mata menyaksikan pertemuan ayah dan putrinya yang sudah berpuluh tahun tidak bertemu.


Sementara itu Altrialman dan ketiga anaknya hanya menyaksikan keharuan itu, terlebih Bram dan kedua adiknya yang tidak tau siapa dan apa yang sudah terjadi.


Setelah mereka selesai saling melepas rindu, Altrialman pun mendekat ke opa mencium tangan opa dan memeluk opa memohon maaf, kembali lagi tangis opa pecah, opa pun meminta maaf, kemudian Altrialman mencium tangan oma dan juga meminta maaf.


Rania memanggil ketiga anaknya untuk mendekat ke opa dan oma nya,


“Anak - anak, ini opa dan oma kalian, papa dan mamanya mama,,pa..ini anak sulungku bernama Bram, ini putriku satu - satunya Rheina dan ini si bungsu Bima, mereka bertiga cucu papa dan mama” terang Rania


Ketiganya menyalami opa dan oma kemudian memeluknya, sepengetahuan mereka selama ini opa dan oma nya sudah meninggal dunia, tapi hari ini mereka melihat keduanya masih ada dan memeluk mereka.


“Kamu hobbi offroad nak,,persis opa waktu muda” ucap oma dengan mata yang masih berkaca - kaca sambil menghapus punggung Bram. Bram hanya tersenyum menanggapi ucapan oma.


“Dan kamu Bima cucu opa, sudah kelas berapa?” Tanya opa pada Bima


“Saya kelas 2 SMU opa” jawab Bima sambil senyum.


“Dan kamu cucu opa yang cantik Rheina,,masih sekolah apa sudah selesai nak?” Tanya opa lagi


“Rheina kuliah opa, ambil jurusan ekonomi, baru semester 3” terang Rheina.


Sedang asyik ngobrol melepas rindu, antara opa, oma dan keluarga Altrialman, tiba - tiba Wanda dan Neyna muncul.


“Assalamu’alaikum opa,,oma” ucap Neyna menyapa keduanya dan meraih tangan kemudian menciumnya.


Sontak Neyna terkejut melihat ada Bram dan keluarga nya juga, begitu juga Wanda yang menatap Bram dan keluarganya.


“Walaykumsalam nak,,kalian sudah sampai,,syukurlah nak,,,” ucap oma


“Oma,,ada apa ini?” Tanya Wanda karena melihat Bram dan keluarganya juga ada disana.


Bram pun merasakan hal yang sama dengan Wanda,


“Ada apa ini, pa,,ma?” Tanya Bram pada kedua orang tuanya. Papa dan mama Bram yang tidak mengenal Wanda hanya menggelengkan kepalanya.


“Nia,,,ini Wanda anak semata wayang adikmu Ridwan, hanya dia yang kami punya, karena Ridwan sudah mendahului kita menghadap yang kuasa nak,,karena kecelakaan” ucap oma dengan suara bergetar.


Bagai disambar petir disiang bolong, Nia tak kuasa menahan tangisnya,ternyata sudah banyak yang terjadi semenjak dia memilih meninggalkan rumah kedua orang tuanya kala itu.


“Jadi istrinya Ridwan sekarang ada dimana pa?” Tanya Nia dengan suara lirih.


Opa menarik nafasnya dalam kemudian menghembuskannya pelan,


“Istri Ridwan Miranti adalah ibu nya Wanda, juga sudah lebih dulu meninggal dunia sebelum Ridwan, karena terkena kanker darah” terang opa dengan suara bergetar.


Bagai tersengat listrik beribu - ribu volt saat Bram mendengar penjelasan opa soal Wanda


“Ya tuhaann!!! Ternyata aku dan Wanda sepupu an?” Ucap batin Bram


Wanda terdiam mendengar semua kenyataan ini, kenyataan bahwa dia dan Bram adalah saudara sepupu.


Neyna yang masih berdiri, tiba - tiba ambruk jatuh kelantai setelah mendengar semuanya.


Gubraakk....


“Neynaaa...” teriak Bram mendekati Neyna yang sudah jatuh di lantai.


Pada saat yang bersamaan, Wanda pun mendekat ke arah Neyna. Bram yang sudah hendak mengangkat tubuh Neyna, dengan sigap Wanda mengangkat tubuh Neyna ke mobilnya dan membawanya ke rumah sakit.