Deja Vu

Deja Vu
90. Khawatir



Hari itu Wanda sangat sibuk dikantor, masih berkutat dengan laptopnya. Neyna selalu menelpon Wanda untuk sekedar mengingatkan makan dan minum obat. Neyna yang menyarankan Wanda untuk melakukan pengobatan herbal, karena tidak ada efek samping, setiap hari ada saja minuman herbal dari rempah - rempah yang disediakan Neyna, hingga Wanda merasa perutnya kembung karena terlalu banyak minum.


Kring..kring..


Ponsel Wanda berbunyi, dilihatnya pada layar ponselnya, muncul wajah oma yang tersenyum manis sekali, Wanda langsung mengangkatnya,


“Assalamu’alaikum oma sayang,,kangen sama cucu kesayangannya ya?” Ucap Wanda


“Walaykumsalam,,kamu dimana nak, masih dikantor? Iya deh oma kangen sama cucu kesayangan yang sombongnya gak ketulungan”ucap oma


“Hahaha...oma ada aja,,siapa yang sombong oma, orang cucu oma masih tinggal di bumi, kecuali cucu oma udah tinggal di planet baru deh sombong,,kenapa oma?” Tanya Wanda


“Besok Sabtu kalian nginap Dirumah kan?” Tanya oma


“Insyaallah nginap, emang kenapa oma?” Tanya Wanda balik


“Besok malam oma mau adain acara kumpul keluarga, sekarang kan kita udah rame tuh,,udah ada bude kamu, jadi besok oma juga mau ngajakin mereka kumpul dirumah” ucap oma


“Ohh gitu,,Ok deh,,besok pagi Wanda sama Neyna datang, ohya...bude dan keluarga nginap juga ma?” Tanya Wanda


“Ya iyyalah,,pokoknya kita semua bakal ngumpul, anak sama para cucu oma bakal menjalin silaturahmi biar makin akrab, udah ah..oma mau beres - beres, jangan lupa besok ya, Assalamu’alaikum” ucap oma menutup panggilannya.


Wanda terdiam sejenak, memikirkan perkataan oma,


“Berarti besok ada kemungkinan Bram akan hadir juga, waduh!! Gimana ini,,disaat Neyna sudah berjanji akan selalu bersamaku, kenapa Bram muncul diantara kami, bahkan semakin dekat” batin Wanda.


Wanda khawatir dan kepikiran akan kehadiran Bram besok di rumah opa.


Tepat pukul 17.00 WIb Wanda sudah bersiap - siap pulang, dia berjalan menuju pintu lift, kemudian masuk dan menekan tombolnya.


Pintu lift pun terbuka, Wanda keluar dan menerima kunci mobilnya yang sudah terparkir standby Didepan pintu utama. Wanda langsung melajukan mobilnya menuju apartemen.


Sesampainya Didepan pintu apartemen, Wanda memencet bel, lalu pintu pun terbuka, Wanda disambut dengan senyuman Neyna yang membukakan pintu


“Assalamu’alaikum,,” Wanda mengucap salam sambil tersenyum pada Neyna, lalu dijawab Neyna


“Walaykumsalam,,” sambut Neyna sambil meraih tangan Wanda dan menciumnya


Sejak Neyna sering mendengarkan ceramah tentang membina keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah, Neyna pun mulai melaksanakannya, seperti saat ini, ia menyambut Wanda Didepan pintu, meraih dan mencium tangannya lalu membawakan tas laptopnya.


Ada kecanggungan dirasa Wanda tapi sekaligus bahagia karena mendapat perlakuan selayaknya suami.


“Kamu bersih - bersih dulu ya, biar aku siapin baju ganti” ucap Neyna sambil masuk kekamar Wanda meletakkan laptop.


Wanda pun langsung masuk Kekamar mandi untuk membersihkan diri, setelah selesai, dia keluar dari kamar mandi yang hanya mengenakan handuk dipinggangnya, dilihatnya sudah tersedia baju ganti diatas tempat tidur.


Wanda tersenyum lalu mengambil baju tersebut dan memakainya. Setelah selesai bersih - bersih Wanda keluar kamar dan melihat Neyna sedang duduk di ruang TV.


Wanda mendekat dan duduk disamping Neyna


“Lagi nonton apa sayang?” Ucap Wanda


“Gak ada, lagi nungguin adzan maghrib” ucap Neyna singkat


Sambil tersenyum Wanda berucap,


“emang bulan puasa, jam segini duduk depan TV nungguin adzan maghrib di TV”


“Habis acaranya gak ada yang asyik, mending liat iklan sambil nungguin adzan aja” ucap Neyna


Neyna bingung harus senang atau sedih, karena dengan datangnya bude Rania sekeluarga akan ada kemungkinan Bram juga ada, fikirnya, tapi dia sudah berjanji pada dirinya untuk melupakan Bram dan menjalani rumah tangganya bersama Wanda.


Tak lama terdengar suara adzan berkumandang, lalu Neyna pun mengajak Wanda untuk melaksanakan shalat maghrib berjamaah


“Shalat yuk,,” ajak Neyna


Wanda pun setuju dan langsung beranjak kekamar mandi mengambil wudhu.


Neyna yang sudah terlebih dulu berwudhu langsung menyiapkan sajadah untuk mereka berdua.


Wanda pun mulai melaksanakan shalat maghrib yang mengimami Neyna.


Setelah selesai melaksanakan shalat dan berdo’a, Neyna langsung meraih tangan Wanda dan mencium punggung tangannya, lalu Wanda pun mencium pucuk kepala Neyna.


Terlihat mereka sangat menghayati sekali, Neyna yang sudah bisa menerima pernikahannya dengan Wanda, ia pun berusaha menjalankan perannya sebagai istri yang baik dan benar sesuai artikel dan ceramah ustadz yang selama ini didengarnya.


Selesai shalat mereka berdua menuju dapur untuk makan malam. Melihat meja makan yang penuh dengan hidangan masakan Neyna.


Hari ini Neyna belanja bahan masakan melalui aplikasi, karena dia belum sempat untuk kepasar, ditambah lagi perutnya yang sudah membuncit membuatnya susah untuk bergerak.


Di meja makan sudah terhidang sup iga sapi lengkap dengan sambelnya


“Sayang ini kamu yang masak? Kamu belanja sendiri?” Tanya Wanda


“Iya aku yang belanja dan yang masak, memangnya kenapa?” Tanya Neyna balik


“Kamu kepasar sendirian? Kok gak tungguin aku pulang aja sih, atau pas weekend aja belanjanya, kalau kamu kenapa - napa dipasar gimana, jangan gitu lagi dong sayang, aku gak mau terjadi apa - apa sama kamu dan kesayangan yang ada didalam sini” ucap Wanda khawatir sambil mengelus perut Neyna


“Aku gak kepasar kok, pesan via on


line aja, kalau masaknya gampang, cuma masak sup doang” ucap Neyna


“Ohh syukurlah kalau begitu, pokoknya jangan sekali - kali kamu belanja sendiri ya, kalau ada yang mau dibeli bilang sama aku aja ya, kalau aku gak sempat, nanti aku suruh orang buat bantu” ucap Wanda


“Iya deh,,,udah hayuk makan, ntar sup nya dingin” ajak Neyna


Mereka pun mulai menyantap makan malam mereka, Wanda terlihat sangat lahap, karena selain mengagumi Neyna, dia juga sangat menyukai masakan Neyna, makanya sebisa mungkin Neyna memasak untuk Wanda, karena dia tau Wanda sangat suka dengan masakannya.


“Sayang,,besok di rumah oma, kamu masak begini lagi ya,,aku suka banget lo, tapi sambelnya jangan terlalu pedas dong, ntar pada mules yang makan,,kamu tuh doyan banget pedas ya, aku sampai mules - mules” ucap Wanda


“Ya kalau gak pedes ya nggak seru dong,,cemen ah..” ucap Neyna setengah menggoda


“Iddihh tega banget amat sama suami sendiri,, udah tau suami gak tahan pedes, ehh malah sambelnya dibuat pedes,,” Ucap Wanda


“Susah amat sih,,kalau terlalu pedas ya udah, gak usah pake sambel dong” Jawab Neyna


Wanda gemes melihat Neyna yang selalu saja ada jawabannya jika berdebat,


“Kamu tuh adaaa.. aja jawabannya ya,,bikin gemes pengen....” Wanda tidak meneruskan kata - katanya tapi malah memberikan ciuman di bibir Neyna.


Neyna kaget, wajahnya langsung bersemu merah dan mengalihkan perhatiannya.


“Ya ampun!! Kenapa sih aku ini,,kok jadi salah tingkah begini sih, dia kan suami aku, dan ciuman itu kan hal yang wajar ya?!ahhh...” batin Neyna


Wanda tersenyum melihat perubahan sikat Neyna dan dia sangat menyukai Neyna yang sekarang, Neyna yang pemalu dan salah tingkah didepannya.