
Selamat datang di cerita pertamaku yang bergenre horor fantasy
Semoga kalian suka sama cerita
Happy Reading
"Aku di mana? Kenapa tempat ini begitu aneh? Bajuku juga sangat anel?" Siyeon menatap aneh tempatnya berada. Bukan hanya tempat yang sekarang dirinya berdiri, baju yang di kenakan olehnya juga terlihat seperti gaun dengan permata di setiap lengannya dan punggungnya. Baju tersebut juga sangat berat, sehingga membuat kesusahan untuk berjalan.
"Apakah aku tersesat?" tanyanya lagi, ia seperti orang yang sedang tersesat. Ia mencoba mencari jalan keluar dari kamar yang terlihat begitu luas dengan beberapa crystal putih di setiap sudutnya. Ia membuka pintu dan hal pertama yang di lihatnya adalah beberapa pelayan yang menundukkan kepala kepadanya. Membuatnya semakin kebingung.
"Siapa kalian?" tanyanya kepada sepuluh pelayan wanita yang memakai baju putih dan biru dengan kalung crystal berwarna putih yang mereka kenakan.
"Kami adalah pelayan anda tuan Putri," jawab salah satu dari mereka yang terdapat warna merah di bajunya yang menunjukkan bahwa ia adalah kepala pelayan.
"Putri? Kenapa kalian memanggilku dengan sebutan itu?" tanyanya bingung dan mereka juga terlihat kebingungan dengan pertanyaan tersebut.
"Maaf tuan putri, anda adalah seorang putri dari kerajaan Lambency," ujarnya dengan menundukkan kepala.
"Haha...kalian ini sedang bercanda? Mana mungkin aku adalah seorang putri? Apakah kalian tahu namaku?" tanyanya dengan menatap tajam mereka. Sepuluh pelayan di hadapannya hanya mengangguk dengan wajah ketakutannya.
"Anda adalah putri Siyeon Lambency," jelasnya membuat wanita bernama Siyeon itu sangat terkejut. Ia menatap mereka satu-persatu dan menahan nafasnya.
"Kenapa mereka tahu nama panjangku? Aku harus mencari tahunya!" serunya dengan suara pelan, dengan langkah yang cukup lambat ia berjalan di sebuah lorong yang panjang dengan hiasan crystal putih di setiap dinding. Karpet merah yang panjang menjadi acuannya untuk mencari jalan keluar. Ia sangat yakin, bahwa karpet tersebut akan menuju ke arah pintu keluar atau salah satu ruangan yang akan menjelaskan semuanya.
"Aku harus keluar dari tempat aneh ini!" gumamnya yang kini berlari, meskipun hal itu bukan di sebut lari. Melainkan seperti berjalan cepat, karena baju yang di kenakan olehnya sangat mengganggu pergerakannya.
"Tuan Putri ingin ke mana? Biar kami yang akan mengantarnya," ujar salah satu prajurit saat Siyeon sampai di depan pintu yang sangat besar dengan dua puluh prajurit yang berjaga di depannya. Siyeon tidak menjawabnya, melainkan ia membuka pintu yang sangat berat itu dan masuk ke dalam. Ia terkejut, karena ruangan tersebut terdapat singgah sana yang terbuat dari crystal putih dan emas, di bawahnya.
"Ini sangat indah," gumamnya menatap kagum ruangan tersebut. Bahkan, ia tidak mengedipkan matanya sama sekali. Karena, ruangan yang mewah dan megah membuatnya tak percaya bisa melihat ini semua.
"Kau sedang apa putriku?" tanya seseorang yang keluar dari pintu belakangnya. Siyeon membalikkan tubuhnya dan melihat sepasang pria dan wanita sedang menatapnya dengan lembut dan senyum menawan di wajah mereka.
"Putri Siyeon?" panggil lembut sang wanita dengan mengusap lembut bahunya.
"Ibunda, Ayahanda!" serunya tanpa sadar dan memeluk erat mereka, entah kenapa tubuhnya seakan tidak bisa di kontrol oleh dirinya sendiri. Apalagi, sekarang ia mulai menangisn di dalam dekapan hangat mereka. Ia merasa sangat nyaman dan aman, mungkin ini adalah perasaan yang tak pernah rasakan. Karena, ia tidak mempunyai keluarga. Ia sebatang kara dan hidup sendiri selama hidupnya. Itu lah yang ia rasakan sampai sekarang.
"Putri raja tidak boleh menangis, nanti cantiknya hilang. Sekarang, kita sarapan bersama!" pria tersebut memakai mahkotanya yang berada id sebelah singgah sana, lalu ia menghampiri Siyeon dan istrinya yang masih berdiri di depan pintu.
"Mari sayang," ujarnya dengan menggandeng tangan Siyeon dan mereka sampai di ruang makan yang begitu luas, Siyeon menatap kagum ruangan tersebut. Begitu mewah dengan lapisan emas dan crystal putih. Seluruh ruangan di istana tersebut akan terdapat banyak crystal.
"Selamat makan!" seru raja dan sarapan pun di mulai dengan keheningan. Siyeon mencuri-curi pandang ke arah raja dan ratu yang memiliki wajah seperti dirinya.
"Aku merasakan hal aneh, aku mohon ayahanda dan ibunda bersembunyi di kamarku!" seru Siyeon ketika raja dan ratu hendak menuju singgah sana. Ia merasakan kekuatan hitam yang sangat kuat mulai mendekatinya, perasaannya mulai tak karuan dan ia yakin sesuatu yang besar akan terjadi sebentar lagi.
"Sayang, kau tak perlu khawatir. Kami adalah seorang raja dan ratu, kami akan meindungi diri kami dan warga kami. Kau tak perlu takut," ujar lembut raja.
"Tapi, aku merasakan aura kegelapan yang sangat kuat," jelas Siyeon dengan tubuh bergetarnya. Ratu mendekatinya dan memeluknya.
"Itu hanya perasaanmu. Semuanya akan baik-baik, kau harus istirahat. Karena, kau baru saja sembuh," ujar sang ratu membuat Siyeon mengernyit bingung.
"Sembuh? Memangnya aku kenapa?" tanya Siyeon.
"Kau pingsan selama tiga hari, karena mencoba kekuatan yang besar di dalam tubuhmu. Kau masih memerlukan istirahat yang banyak, dengan begitu kau tidak akan merasakan hal buruk terus. Cepatlah kembali ke kamarmu dan beristirahatlah," perintah raja membuat Siyeon mau tak mau menurutinya. Wajah raja berubah menjadi menyeramkan, sehingga ia takut untuk membantahnya. Dengan langkah berat, ia menuju ke arah kamarnya di antar oleh kepala pelayan.
Belum sampai di depan kamarnya, Siyeon mendengar suara teriakan dan sesuatu seperti ledakan. Ia berlari dengan sekuat tenaga menuju ke sumber suara. Saat ia tiba di depan, ia menutup mulutnya tak percaya. Semua prajurit jatuh dengan bersimpah darah, suara teriakan ratu membuat lamunan Siyeon hilang. Dengan cepat ia berlari ke singgah sana dan pintunya terbuka.
"Apa yang terjadi? Kenapa semuanya tewas seketika? Siapa pelakunya?" gumam Siyeon saat melihat prajurit yang mejaga pintu singgah sana juga tewas.s
"TIDAK!" teriak Siyeon saat melihat sesosok yang memakai jubah hitam menarik pedangnya dari tubuh ratu. Dengan tubuh yang bergetar hebat, Siyeon melangkah mendekati tempat raja dan ratu. Raja sudah tidak membuka matanya lagi, sedangkan ratu nafasnya mulai terputus-putus. Siyeon menatap keduanya dengan mata yang terus mengeluarkan air mata.
"Siapa kau? Kenapa kau membunuh kedua orang tuaku dan menyerang kerajaanku?" tanya Siyeon kepada sosok yang tak ketahui wajahnya itu.
"Kau tak perlu tahu siapa aku, karena nanti kita akan bertemu kembali. Selamat tinggal Ratuku!" dalam sekejap sosok itu menghilang dan Siyeon berlari ke arah ratu.
"Ibunda, bertahanlah! Aku akan mencari seseorang untuk membantu kita!" ujar Siyeon
"Tidak putriku, kau harus cepat meninggalkan tempat ini. Karena, nyawamu akan di incar oleh mereka. Pakailah kalung ini!" ratu menyerahkan sebuah crystal berwarna putih dan merah di tengahnya. Siyeon mengambilnya.
"Kami menyayangimu, Siyeon," setelah mengucapkan kata itu, ratu menghembuskan nafas terakhirnya. Siyeon pun berteriak dengan keras dan kalung crystal itu langsung terpasang di lehernya. Dalam sekejap tubuh Siyeon di tutupi cahaya putih dan ia berada di tempat yang berbeda yang sangat ia ketahui. Tepat di dalam kamar apartemennya, dengan nafas yang terengah-engah ia bangkit dan mengambil air yang berada di atas nakas.
"Mimpi itu lagi!Sudah tujuh kali mimpi itu datang dan semuanya sama persis, aku merasakan halaneh dari mimpi itu. Kalung itu sama dengan kalung yang aku kenakan. Tapi, akutidak pernah mengingat semuanya, kecuali namauku. Aku hanya tahu kalau ini adalahrumahku dan orang tuaku meninggal sudah lama, aku pun tak ingat wajah orangtuaku. Aku tidak tahu mereka," gumam Siyeon dengan mengusap keningnya yangmengeluarkan keringat dingin.
TBC...
***
Jangan lupa bintangnya, kalau suka bakal aku lanjutin ceritanya ;)