Deja Vu

Deja Vu
43. Kecelakaan



Wanda menoleh kearah Neyna,


terkejut akan ucapan Neyna barusan. Bagaimana bisa Neyna mengeluarkan kata - kata yang baginya sangat pantang diucapkan.


“Aku mau kita cerai!!” Neyna mengulang kata - katanya.


“Apa karena Bram sudah kembali lantas kamu minta cerai?” Tanya Wanda yang masih menyetir dengan kecepatan tinggi.


“Memang dari awal aku tidak menginginkan pernikahan ini terjadi, Kau yang membuat aku dalam posisi yang sulit saat itu, siapa yang tega menghancurkan hati mereka?!”


ucap Neyna.


Wanda menghapus kasar wajahnya,


“aku gak mau!” Ucap Wanda singkat.


Neyna melotot kearah Wanda


“Terus mau kamu apa? Gak cukup kamu udah menghancurkan aku, dari dulu sampai sekarang yang nyaris membuatku berakhir di rumah sakit jiwa!” Ucap Neyna masih dengan nada emosi dan terisak.


“Buat aku, menikah hanya sekali seumur hidup, jadi aku gak mau bercerai! Kita akan tetap sebagai suami istri ada atau tidaknya opa” Ucap Wanda menegaskan.


“Baik,,kalau kamu tidak mau kita bercerai, lebih baik aku mati daripada harus terus bersama orang seperti kamu!” Ucap Neyna lirih sambil membuka handle pintu.


“Ney,,jangan Ney,,jangan nekat kamu ney!!” Teriak Wanda sambil mengunci kembali dari sentral locknya.


“Lepaskan,,,! Aku mau keluar, aku gak mau hidup bersama mimpi buruk ku..!” Neyna menepis tangan Wanda yang menghalanginya membuka handle pintu.


Tiba - tiba dari arah berlawanan muncul mobil truk pengangkut sayuran, Wanda tidak bisa mengendalikan mobilnya karena terlalu kencang. Dia pun membanting setir kekiri dan mobil mereka jatuh kesungai, Neyna terlempar keluar mobil karena tidak memakai safety belt, kepalanya membentur batu yang ada disungai.


Wanda yang terjepit karena air bag yang mengembang, berusaha keluar dari mobil yang kondisinya sudah ringset.


Bram yang mengejar mereka dibelakang, melihat mobil Wanda masuk kesungai, dia pun langsung menghentikan mobilnya dan mencoba menolong yang disusul mobil yang dikendarai Rendy yang membawa Rosi, Caca dan Mimi.


Bram turun kejurang yang tidak terlalu dalam itu, lalu menolong Wanda yang masih terjepit di kursi kemudi dan masih dalam keadaan sadar.


Setelah Bram membantu Wanda keluar dari mobil, dia mencari keberadaan Neyna yang sudah terlempar sampai ke Sungai dan tersangkut di bebatuan.


Rendy dan yang lain menolong Wanda keluar dari jurang, sementara Bram masih mencari - cari Neyna.


Bram pun melihat Neyna yang tersangkut di bebatuan sungai. Dia pun mendekat dan memeriksa kondisi Neyna.


Memeriksa nadinya, Bram melihat darah segar keluar dari telinga dan hidung Neyna, seketika wajah Bram berubah panik.


Bram langsung mengangkat tubuh Neyna dari sungai dan naik keatas yang dibantu Rendy.


Bram pun membawa Neyna ke mobilnya, sementara Wanda juga sudah berada didalam.


“Biar gua yang nyetir” Ucap Rendy dibalas anggukan Bram. Rosi pun menyusul dengan mengendarai mobilnya bersama Mimi dan Caca.


Didalam mobil, Bram tak henti menepuk - nepuk lembut pipi Neyna untuk menyadarkannya


“Ney..Neyna..Neyna bangun Ney..”panggil Bram khawatir karena melihat hidung dan telinga Neyna mengeluarkan darah.


Wanda yang duduk di jok depan masih terlihat lemah, dia masih shock dan hanya terdapat beberapa luka, karena terlindung airbag dan memakai safety belt.


Bram meneteskan air mata melihat kondisi Neyna, dengan suara sedikit terisak dia tetap memanggil - manggil nama Neyna menyadarkannya.


Rendy berbelok kekiri, kehalaman sebuah klinik kecil, untuk melakukan pertolongan pertama.


Mereka terlebih dahulu memeriksa Neyna yang kondisinya lebih parah dari Wanda.


Melihat kondisi Neyna yang sudah mengeluarkan darah dari hidung dan telinganya, pihak klinik langsung merujuk Neyna kerumah sakit.


Dengan menaiki ambulance, Bram membawa Neyna kerumah sakit.


sementara Wanda yang masih di klinik menolak tinggal, dia ingin ikut serta menaiki ambulance untuk membawa Neyna.


“Aku ikut naik ambulance, aku gak apa - apa” ucapnya pada perawat klinik tersebut.


Mereka mengizinkan Wanda ikut serta di ambulance yang membawa Neyna kerumah sakit.


Sepanjang perjalanan sopir ambulance menyalakan sirine darurat agar mereka cepat sampai kerumah sakit.


Neyna sangat takut mendengar suara sirine ambulance,


Dalam hati Neyna berkata - kata. Dia seperti sedang bermimpi mendengar suara sirine itu.


Bram yang duduk di sisi kanan tempat tidur ambulance menggenggam tangan Neyna sambil sesekali menghapus darah yang keluar dari hidung dan telinga Neyna, sambil dia meneteskan air mata.


“Sayang,,bangun kakak mau kamu buka mata kamu, kamu harus kuat ya, kamu pasti bisa, kamu harus bertahan sayang” sambil mengecup tangan Neyna.


Wanda yang juga berada dalam ambulance memperhatikan Bram.


“Ingin rasanya aku menggeser posisimu yang seenaknya menggenggam tangan istriku, dia itu istriku”


Sambil menahan rasa sakit disekujur tubuhnya dia meraih tangan kiri Neyna dan berucap dalam hati


“Maaf kan aku Neyna, ini salahku yang telah menarik paksa dirimu dari dekapannya, karena aku cemburu Neyna, ya aku cemburu dia bisa


sedekat itu dengan mu, sementara aku yang sah sebagai suami mu tidak pernah sedekat itu padamu, aku menyesal, Neyna tolong bertahanlah,bertahanlah Ney, setelah ini aku berjanji tak akan mengganggu mu lagi, tapi please jangan tinggalkan aku Neyna, aku mencintaimu”


Wanda sangat merasa bersalah atas kejadian ini. Bram dan Wanda berada disisi kanan dan kiri Neyna, mereka sama - sama menggenggam tangan Neyna.


Dua laki - laki yang mencintai Neyna sedang berharap yang sama. Berharap Neyna baik - baik saja.


Ambulance pun tiba didepan pintu ruangan IGD rumah sakit. Perawat dan Bram pun bergegas membawa Neyna kedalam ruangan IGD.


Tim medis dengan sigap memeriksa Neyna sedang Wanda, Bram dan yang lainnya menunggu di luar ruangan IGD.


Tak lama keluar salah satu perawat dari dalam ruang IGD.


“Maaf siapa keluarga mba korban kecelakaan yang barusan masuk?”


tanya perawat tersebut.


Wanda dengan sigap bangkit dari duduknya menahan segala rasa sakit disekujur tubuhnya.


“Saya sus,,saya keluarganya?” Ucap Wanda, Bram menatap heran.


“Bapak ini siapanya mba itu? Soalnya dokter mau bicara soal kondisinya?”


terang perawat tersebut.


“Kita tadi Sama - Sama kecelakaan suster, saya suaminya” Ucap Wanda.


Sontak Bram melotot terkejut menatap Wanda, mendengar Ucapan Wanda barusan.


“Ayo mari ikut saya, dokter mau bicara” Ucap suster sambil berlalu.


Bram sangat terkejut mendengar apa yang diucapkan Wanda barusan, begitu juga Rendy. Sementara Rosi, Caca dan Mimi saling pandang cemas.


Bram menatap kearah Rosi, Caca dan Mimi. Meminta penjelasan apa yang sebenarnya sudah terjadi.


Mimi tertunduk tak berani menatap Bram, begitu juga dengan Caca.


Rosi tak tega menceritakannya, tapi sudah saatnya Bram mengetahuinya.


Rosi pun mendekat ke Bram.


“Kak,,biar aku jelaskan semuanya, kakak duduk dulu” Ucap Rosi.


Pesan Author :


Kalau naik kendaraan jangan lupa pakai sabuk pengaman ya kalau naik motor jangan lupa pakai helmnya, biar gak kejadian kaya Neyna, Ok 👍🏻


Hai..hai...


gimana..gimana..? Sampe sini masih bisa diikutikan? Ya masih laa ya...


ok,,jangan lupa like, commen, vote dan hadiahnya😊


Jejak kalian sangat berarti bagi dirikuh😊


Salam,


La Shakila 🙏🏻🌷