Deja Vu

Deja Vu
04| MYSTERIOUS PERSON



Happy Reading


Siyeon membuka matanya, ia tidak melihat pria tadi. Ia sendirian dan semua orang tidak ada yang melihat ke arahnya. Ia menggelengkan kepalanya untuk menenangkan pikirannya, ia rasa dirinya sedang berhalusinasi. Tetapi, rambutnya sekarang sudah terikat dan ia tahu bahwa ikatan rambut yang di gunakan olehnya bukan miliknya.


"Ikat rambut berwarna merah dengan crystal hitam?" gumam Siyeon saat ia menarik ikat rambut tersebut. Dengan cepat ia melempar ikat rambut tersebut dan melangkah cepat ke arah kasir. Dirinya merasakan sesuatu yang aneh dan ia harus segera pulang.


Setelah sampai di dalam mobil Siyeon tak sengaja menatap kepalanya yang kembali terikat dengan ikat rambut yang sudah di buangnya tadi. Nafas Siyeon mulai memburu, ia langsung melepaskannya lagi dan melemparnya keluar jendela. Tak selang beberapa saat dirinya merasakan rambut yang sudah terurai kini kembali terikat lagi.


"Kenapa ini bisa terjadi? Sebenarnya apa ini? Kenapa kembali lagi setelah ku buang?" geram Siyeon yang memilih membiarkannya dan menjalankan mobilnya dengan kecepatan penuh. Siyeon merasa ada yang mengikutinya, tetapi saat ia menengok ke belakang tidak ada mobil atau seorang pun di belakangnya.


"Sial! Kenapa aku mulai ketakutan? Padahal, aku membunuh orang tidak pernah merasa takut sedikit pun! Lalu kenapa aku takut dengan pria aneh itu!" kesal Siyeon yang mulai memelankan mobilnya, ia bertekad untuk tidak menghindar. Ia tidak pernah takut kepada siapa pun, ia akan melenyapkan orang-orang yang menganggu hidupnya. Siyeon akan membunuh pria itu, ketika ia menampakkan dirinya di hadapan Siyeon.


"Ku tunggu kehadiranmu, pria aneh!" seringai kejam muncul di bibir Siyeon. Tak lama setelah ia mengucapkan hal itu, sebuah bisikan membuatnya langsung memberhentikan mobilnya tiba-tiba dan hampir menabrak pohon di hadapannya.


"Sebentar lagi," bisikan itu kembali terdengar di telinganya. Siyeon menatap ke arah belakang dan kursi belakang mobilnya, namun lagi-lagi tidak ada seorang pun di dalam mobilnya atau pun mengikutinya. Ia benar-benar sendiri, tapi suara tadi bukan hanya sekali. Itu berarti dirinya tidak sedang mangigau atau pun berhalusinasi.


"Siapa kau? Kenapa kau bersembunyi?" teriak Siyeon di dalam mobilnya. Tak ada yang menyahut, tetapi angin kencang tiba-tiba datang entah dari mana.


"Huuh...menyusahkan saja!" kesal Siyeon saat angin itu berhenti, ia kembali menjalankan mobilnya dengan mata yang tak berhenti melihat ke segala arah untuk memastikan sesuatu. Dirinya yakin, bahwa ada yang mengikutinya dan ia tak menampakkan dirinya kepada Siyeon membuat Siyeon sangat penasaran dengan hal itu.


Siyeon sampai di apartemennya, ia merebahkan tubuhnya di atas sofa panjang di ruang tamunya. Baru saja ia memejamkan matanya, ponselnya bergetar dan pesan itu berasal dari markasnya. Kenapa Siyeon yakin? Karena, hanya mereka yang mempunyai nomornya. Siyeon tidak pernah mengankat panggilan daro nomor asing, karena ia sangat malas dengan orang iseng.


"Nanti malam tepat pukul sepuluh malam? Haha...aku sudah bermimpi tentang nanti malam, tapi tiba-tiba mimpiku berubah dengan sosok bermata merah itu!" Siyeon menghembuskan nafasnya, ia meminum air yang di bawanya dari dapur. Ia melihat bayangan dirinya di dalam gelas kaca itu. Ia tertegun saat warna merah di kalungnya semakin melebar.


"Bukankah warna merah hanya berada di tengah dan itu seperti sebuah titik tebal? Lalu kenapa sekarang warna merahnya menjadi melebar?" gumam Siyeon yang mencoba untuk melepaskan kalung tersebut. Namun, usahanya sia-sia, kalung itu tidak pernah lepas dari lehernya, meskipun ia sudah menariknya dan mencoba untuk memutuskannya.


"Percuma saja aku melepaskan kalung aneh ini! Ia tidak ingin lepas dariku!" kesal Siyeon memilih menghidupkan televisi yang sangat besar di hadapannya. Dirinya tidak akan menonton, hanya saja ia akan menghidupkannya agar ada suara di dalam apartemennya.


Siyeon sudah siap dengan semuanya, ia melirik ke arah jam ternyata sudah pukul setengah sepuluh. Ia mendapat pesan, bahwa mobil yang menjemputnya sudah tiba. Dengan langkah cepat Siyeon keluar dari apartemennya. Saat masuk ke dalam mobil tersebut, mereka tidak banyak bicara dan langsung melesat ke tempat tujuan.


Siyeon menatap target seorang wanita muda yang terlihat cukup mabuk, targetnya siapa saja, bukan hanya pria, namun wanita juga. Siyeon tidak akan merasa kasihan kepada mereka yang sudah berkhianat, tujuannya hanya melenyapkan mereka semua dan memberikan keadilan untuk korban mereka yang sudah di peras oleh orang yang tak bertanggung jawab.


"Sekretaris Yoora?" sapa Siyeon kepada wanita yang menjabat sebagai sekretaris di sebuah perusahan properti yang sedang naik dua tahun terakhir ini. Yoora sering membocorkan projek perusahaan tempatnya bekerja kepada perusahaan musuh dan tentu tanpa sepengetahuan sang atasan. Mengingat cara mainnya yang sangat bersih, hingga hampir dua bulan ini sudah menjualnya ke beberapa perusahan dalam atau pun luar.


"Iya? Apakah anda nona Siren?" tanyanya dengan menyebutkan nama samaran Siyeon.


"Iya, aku adalah Siren," jawab Siyeon dengan menyeringai samar.


"Kenapa anda ingin meeting di sebuag taman yang sepi ini?" tanyanya dengan membuka laptop yang di bawanya. Siyeon hanya terdiam dan menatap bagaimana caranya bekerja.


"Kenapa anda tidak menjawab pertanyaanku?" tanyanya lagi, karena Siyeon tidak menjawab pertanyaan yang di lontarkan olehnya.


"Apakah aku perlu menjawab pertanyaan yang tidak penting itu?" tanya balik Siyeon dengan suara dinginnya membuat Yoora tertegun dan memilih menjelaskan rancangan baru dari perusahaannya. Siyeon hanya terdiam dan melirik ke arah jam tangan yang di gunakan Yoora.


"Bagus, mari ikut denganku. Uangnya ada di dalam mobilku, sekalian kau ku antar pulang," ujar Siyeon dengan berjalan terlebih dahulu. Ia melihat Yoora tersenyum senang mendengar ajakannya itu. Padahal, ia tidak tahu kalau ajalnya akan menjemput dua menit lagi.


"Kenapa kita berjalan di jalanan yang gelap? Di mana mobil anda?" tanyanya yang mulai penasaran ketika Siyeon membawanya ke sebuah jalan yang begitu gelap dan sepi.


"Kau sangat cerewet!" kesal Siyeon dan mengeluarkan pisaunya. Suara seruling mulai terdengar membuat Siyeon menyeringai sedangkan Yoora hanya terdiam mendengar suara aneh itu. Siyeon medekatinya dan Yoora membulatkan matanya saat melihat pisau di tangan Siyeon.


"A—apa yang kau lakukan?" tanyanya dengan suara bergetar ketakutan.


"Menjemput ajalmu, bodoh!" setelah mengucapkan kalimat itu, Yoora sudah tak bernafas lagi suara seruling kembali terdengar sebagai penutup untuk misinya kali ini.


Siyeon membalikkan tubunya dan ia terdiam saat melihat sesosok pria asing yang melihat aksinya di ujung jalan yang sangat gelap. Ia menajamkan penglihatannya untuk melihat lebih jelas pria itu. Namun, seketika pria misterius itu menghilang dalam sekejap.


TBC...