
Setelah tunangan selama hampir sebulan, Erik dan Tiara kini semakin serius, Erik juga sudah gak sabaran pengen cepat-cepat untuk menikahi gadisnya itu.
"Sayang kamu sudah siapa kan semaunya kan?" tanya mama Erik, saat ini mereka sedang berada di meja makan.
"Udah kok ma, Erik udah siapkan semaunya dari jauh-jauh hari," jawab Erik melihat sang mama.
"Semoga semuanya berjalan dengan lancar ya nak," ucap papa Erik juga.
"Iya pa, makasih ya kalian sudah mendukung Erik," ucap Erik tersenyum melihat kedua orang tuanya.
"Ya elah, kapan sih kaka cantik mau di bawa ke sini," ucap Emon sambil menyuapkan sarapannya.
Membaut mama Erik, papa Erik dan juga erik melihat ke arah bocah kecil itu sambil tersenyum. Emon memang selalu seperti itu, gak sabaran bertemu dengan calon kaka iparnya.
"Sabar ya dek, kaka cantik akan secepatnya kok tinggal bareng kita." ucap Erik tersenyum melihat sang adik.
"Benar ya kak, Emon tunggu lih kak," ucap bocah kecil itu lagi.
"Iya dek, ayo di habisin sarapannya nanti telat lagi ke sekolah, ucap mama Erik.
Emon dengan semangat menghabiskan sarapan yang ada di dalam piring nya. Bocah kecil itu memang sangat bersemangat kalau menyangkut calon kaka ipar kesayangannya itu.
Selesai menghabiskan sarapannya, Erik lalu pamit ke kantor. Hari ini ia tak menjemput Tiara, karena Tiara sedang libur kuliah.
"Ma, pa, Erik berangkat ke kantor dulu ya," ucap Erik menyalami punggung tangan ke dua orang tuannya.
"Iya sayang, kamu hati-hati ya ingat jangan ngebut," ucap mama Erik.
"Siap ma, Erik pergi dulu," ucap Erik berlalu dari ruang makan.
"Ayo sayang, mama anter kamu ke sekolah," ajak mama Erik pada putra bungsunya.
"Ayo ma," ucap Emon juga.
Sedangkan papa Erik hari ini gak ke kantor, karena sudah ada sang pura yang menggantikannya di kantor. Papa Erik hanya sesekali memantau perkembangan perusahaan.
"Pa, mama anter Emon ke sekolah dulu ya," ucap mama Erik, pamit pada sang suami.
"Iya ma, hati-hati ya, sayang jangan nakal ya," ucap papa Erik melihat putra bungsunya.
"Iya pa," jawab bocah kecil itu.
Mama Erik dan Emon pun keluar dari rumah besar itu, di luar sana pak sopir sudah menunggu keduanya.
☘☘☘☘
Zaki melihat sang istri yang sedari tadi terus berbaring di ranjang, Mutiara seolah-olah malas beranjak dari tempat tidur. Membaut Zaki menjadi heran dengan sang istri.
"Sayang, bangun yuk udah siang, abang harus pergi ke kantor," ucap Zaki duduk di sisi ranjang, sambil memegang pundak sang istri.
Zaki tersenyum melihat sang istri, lalu Zaki memegang tangan sang istri dengan lembut dan menciumnya cukup lama.
"Gak papa kok sayang, mas ngerti," ucap Zaki.
Pandangan Zaki lalu tak lepas dari wajah sang istri. Wajah yang terlihat begitu pucat, tidak seperti biasanya.
"Sayang kamu sakit?" tanya Zaki, memegang jidat sang istri.
"Gak kok bang, aku cuma malas ngapa-ngapain aja sekarang," ucap Mutiara.
"Tapi ini wajah kamu pucat banget sayang?" tanya Zaki dengan kuatir.
"Gak papa kok bang, ayo abang berangkat nanti telat lagi," ucap Mutiara.
"Gimana abang bisa ke kantor, kalau wajah kamu pucat gini sayang," ucap Zaki masi dengan kuatir.
"Gak papa bang, kan di rumah masih ada ayah sama bunda, jadi abang gak usah kuatir ya," ucap Mutiara.
"Ya sudah, tapi nanti jangan lupa kabarin abang ya, kalau kamu kurang sehat," ucap Zaki.
"Ia abang," ucap Mutiara.
Zaki lalu mencium kening sang istri sebelum berangkat ke kantor, begitu pun dengan Mutiara, mencium punggung tangan sang suami seperti biasa.
Entah kenapa akhir-akhir ini ia selalu malas ngapa-ngapain. Pengen nya tidur terus.
Zaki keluar dari kamar dan pergi ke ruang makan, di sana bunda dan ayah sudah menunggu mereka untuk sarapan bersama.
"Nak, istri kamu mana?" tanya bunda, karena melihat sang putra hanya keluar kamar sendirian.
"Masi di kamar bun, katanya lagi malas mau bangun," ucap Zaki duduk di kursi biasa.
Ayah dan bunda lalu saling pandang, kemudian kembali melihat Zaki.
"Istri kamu sakit nak?" tanya ayah.
"Badannya gak panas yah, cuma wajahnya pucat" ucap Zaki dengan raut kuatir.
"Istri kamu gak lagi ngidam kan nak?" tanya bunda.
Membaut Zaki menatap sang bunda, lalu beralih menatap sang ayah.
"Zaki juga gak tau bun, tapi kalau ngidam kan mual-mual," ucap Zaki.
"Orang ngidam itu berbeda-beda sayang," ucap bunda sambil tersenyum melihat sang putra
Zaki pun hanya tersenyum melihat kedua orang tuanya, begitu pun dengan ayah dan bunda.