
Zaki terlihat menuruni tangga, Zaki melihat ayah dan bundanya sedang mengobrol di ruang tengah Zaki pun ikut bergabung bersama kedua orang tuanya, karena Zaki juga akan membicarakan hal penting dengan mereka.
"Ayah, bunda Zaki mau ngomong sesuatu sama kalian" ucap Zaki.
"Mau ngomong apa abang" tanya bunda melihat sang putra.
"Bunda, ayah, Zaki sudah memikirkan dengan baik kalau Zaki berencana akan segera melamar Mutiara" ucap Zaki melihat kedua orang tuanya.
"Itu bagus abang, bunda setuju lagian bunda liat Mutiara itu anak nya sopan" ucap bunda.
"Iya nak, ayah juga mendukung niat baik kamu, kamu memang udah waktunya nikah" ucap ayah tersenyum.
"Terimakasih ayah, bunda, Setelah menikah nanti Zaki akan tetap tinggal bersama ayah sama bunda" ucap Zaki.
"Iya nak, apa kau sudah membicarakan hal ini dengan Mutiara?" tanya bunda.
"Udah bunda, dan Mutiara nanti akan ngomong sama bapak dan ibu nya" ucap Zaki.
"Inya Allah semuanya akan berjalan lancar ya nak" ucap bunda.
"Iya bun makasih ya" ucap Zaki.
"Iya abang" ucap bunda.
Bunda, Ayah dan Zaki pun mengobrol soal persiapan hari lamar pada sang calon wanita, dan Ayah Adrian sudah menentukan tanggal dan hari yang bagus untuk melamar Mutiara.
☘☘☘☘
Malam harinya di kediaman rumah Gunawan, Iqbal sudah seperti pelayan naik turun tangga Iqbal membawakan nampang berisi makan malam untuk sang istri.
Sampai di dalam kamar Iqbal meletakan mampang yang berisi makan malam untuk sang istri, Iqbal duduk di sisi ranjang sampai malam ini kondisi demam Zahra sudah turun.
"Sayang bangun yuk makan malam dulu" ucap Iqbal.
"Mas, ini siapa yang anter ke sini?" tanya Zahra melihat nampang berisi makanan.
"Aku yang ambil buat kamu sayang" ucap Iqbal melihat sang istri.
"Astaga mas, maaf ya aku udah repotin kamu" ucap Zahra merasa bersalah.
"Udah gak papa, ini udah tugas aku sebagai suami, aku senang kok sayang perhatian sama kamu" ucap Iqbal.
"Makasih ya mas" ucap Zahra menangis.
Membuat Iqbal heran melihat sang istri yang tiba-tiba menangis, dengan cepat Iqbal menghapus air mata sang istri.
"Kenapa nangis sayang?" tanya Iqbal.
"Aku cuma terharu aja mas" ucap Zahra.
"Mas kira ada yang sakit, ayo makan mas suapin ya" ucap Iqbal.
"Iya mas" jawab Zahra.
Zahra pun mulai membuka mulutnya, suapan demi sampan masuk kedalam mulut, Iqbal memperlakukan sang istri dengan sangat istimewa, membuat Zahra sangat bersyukur.
Zahra pun membuka mulutnya untuk suapan yang terakhir, lalu Iqbal memberikan segelas air untuk sang istri.
"Mas udah makan?" hanya Zahra.
"Udah sayang mas makan sama papi dan mami tadi" ucap Iqbal merapikan piring bekas sang istri.
"Sayang pengen sesuatu gak, biara mas ambilin sekalian mau antar ini" ucap Iqbal menunjuk nampang berisi piring kotor.
"Aku mau jeruk aja mas" ucap Zahra, karena ia memang pengen makan yang manis-manis mungkin karena pembawaan hamil.
"Ya udah kamu tunggu di sini ya" ucap Iqbal yang mendapat anggukan kepala dari sang istri.
Iqbal keluar dari kamar dengan membawa nampang berisi piring kotor, sedangkan Zahra mengubah posisi sedikit berbaring menjadi duduk dengan bersandar di kepala ranjang.
Di lantai bawa Iqbal meletakan nampang di atas meja, lalu mengambil buah yang di minta sang istri di atas meja di tempat buah, Iqbal mengambil piring untuk meletakan buah itu yang akan di bawa kembali ke kamar.
"Sayang istri kamu udah makan" tanya mami Sisil.
"Udah ma, ini Zahra pengen buah" ucap Iqbal.
"Jangan lupa susu ibu hamil sayang" ucap mami Sisil.
"Iya mi Iqbal gak lupa kok, nanti dikit lagi Iqbal bikinin susu nya" ucap Iqbal.
"Ya sudah mami mau temuin papi kamu dulu ya" ucap mami Sisil.
"Iya mi Iqbal juga mau ke kamar" ucap Iqbal.
Iqbal kembali menaiki tangga menuju lantai atas, Iqbal melihat sang istri sudah duduk tak lagi berbaring, Iqbal meletakan piring buahnya di atas meja nakas.
"Bentar sayang mas kupasin ya" ucap Iqbal.
"Iya mas, makasih ya" ucap Zahra.
"Iya sayang, apapun akan mas lakukan buat istri mas yang cantik ini" ucap Iqbal menggoda sang istri.
"Ini" Iqbal memberikan buah jeruk yang selesai ia kupas pada sang istri.
"Mas aku suka" ucap Zahra.
Iqbal juga memakan buah jeruk yang ia kupas, lalu kembali menyuapkan ke mulut sang istri, membuat Zahra tersenyum senang.
"Mau lagi gak?" hanya Iqbal.
"Yang itu aja mas" tunjuk Zahra.
"Ayo buka lagi mulutnya biar mas suapin" ucap Iqbal.
Dan Zahra hanya menurut apa yang di katakan oleh sang suami.
Bersambung...