
Tepat pukul 10 malam Iqbal dan Zahra tiba di kediaman gunawan. Iqbal memarkirkan mobilnya di garasi mobil, lalu mengajak sang istri masuk ke dalam rumah.
"Mas aku ke dapur dulu ya" ucap Zahra.
"Mau apa sayang" tanya Iqbal.
"Mau liat buah di kulkas mas, aku laper lagi" ucap Zahra.
"Ayo mas temanin" ajak Iqbal mengajak sang istri.
"Tapi kan mas harus ganti baju" ucap Zahra melihat sang suami.
"Udah gak papa ayo, mas temanin mas gak mau istri mas ke dapur sendiri" ucap Iqbal.
Pasangan suami dan istri itu pergi ke dapur, Iqbal meminta sang istri duduk di kursi meja makan, Iqbal yang mengambil buah di dalam kulkas.
"Sayang, mami kayaknya baru belanja banyak deh ini ada melon kesukaan kamu" ucap Iqbal berbalik melihat sang istri.
"Iya mas aku mau melon" ucap Zahra sambil tersenyum senang.
"Tunggu ya mas kupas Sulu" ucap Iqbal mengeluarkan satu buah melon dari dalam kulkas.
Lalu Iqbal mengambil pisau dan mengupasnya di atas meja, Zahra duduk sambil menatap sang suami yang sedang asik mengupas melon.
"Mas, mbak Viona udah nikah ya?" tanya Zahra tiba-tiba.
"Iya sayang mas juga baru tau kemarin, mereka di butik yang sama waktu mas beli gaun kamu" ucap Iqbal.
"Jadi mas udah tau ya" tanya Zahra menatap wajah sang suami.
"Iya mas, tapi kalau dia udah nikah dan belum kan bukan urusan mas lagi" ucap Iqbal sambil tersenyum.
"Iya juga sih, tapi aku liat mbak Viona udah berubah deh mas, tadi buktinya mbak Viona nyapa aku" ucap Zahra.
"Tapi mas masi belum bisa percaya sama dia sayang" ucap Iqbal memotong melon yang sudah ia kupas kedalam piring.
"Mas gak boleh gitu, kalau ada yang berubah lebih baik lagi, kita harus bersyukur" ucap Zahra.
"Iya istri ku, ayo di makan melon nya" ucap Iqbal memberikan buah melon pada sang istri.
"Makasih ya mas" ucap Zahra mulai memakan melon nya.
Mami Sisil terlihat keluar dari kamar dengan mengunakan piyama tidur, wanita paru baya itu berjalan ke arah dapur.
Samar-samar mami Sisil mendengar suara tawa dan obrolan dari arah dapur, di sana mami Sisil melihat putra dan sang menantu sedang menikmati potongan buah, dan masi mengunakan baju kondangan tadi.
Mami Sisil lalu mendekati pasangan suami dan istri yang sedang asik mengobrol itu.
"Mi, iya kita bari pulang, dan istri aku pengen makan buah mi" ucap Iqbal melihat sang mami.
"Ibu hamil emang gitu sayang, banyak makan" ucap mami Sisil mengambil gelas di rak.
"Mami belum tidur, papi mana mi?" tanya Iqbal.
"Papi kamu di kamar, iya mami tiba-tiba haus sayang" ucap mami Sisil.
"Mami gak makan buah" tanya Zahra.
"Boleh deh" ucap mami Sisil duduk di dekat sang menantu.
Mami Sisil mengambil satu potong melon yang ada di dalam piring, lalu memakannya.
"Sayang, gimana acaranya lancar?" tanya mami Sisil.
"Lancar mi, di sana kita juga ketemu sama bang Zaki dan kak Mutiara" ucap Zahra.
Setelah memakan satu potong melon, mami Sisil kembali lagi ke kamar. Karena malam sudah semakin larut.
"Sayang udah?" tanya Iqbal.
"Udah mas, ayo kita ke kamar udah gerah nih pengen ganti baju" ajak Zahra.
Iqbal dan Zahra lalu naik ke lantai atas di mana kamar mereka berada, tiba di atas Zahra melepaskan hijab dan gaun yang ia kenakan.
Iqbal juga terlihat menganti jas dengan pakaian rumah, lalu berbaring di atas ranjang. Zahra terlihat sedang membersihkan sisa make up dengan kapas.
"Mas, aku cuci muka dulu ya" ucap Zahra melihat sang suami.
"Iya sayang sayang" ucap Iqbal.
Iqbal mengambil ponsel miliknya, lalu melihat pesan dari Erik dan Aldo dalam group khusus mereka bertiga.
Iqbal tertawa melihat pesan dari Erik yang sedang mengejek Aldo sang sahabat.
Zahra keluar dari kamar mandi melihat sang suami yang sedang tersenyum melihat ponsel miliknya.
"Mas, ada apa kok senyum-senyum sendiri sih?" tanya Zahra keluar dari kamar mandi dan duduk di depan meja rias.
"Iya sayang mas baca pesan di group sama Erik dan Aldo" ucap Iqbal tersenyum melihat sang istri.
Iqbal menanyakan apakah Erik dan Aldo sudah pulang setelah mengantar Tiara dan Suci pulang ke rumah, dan ternyata sudah saat ini mereka sedang berada dalam perjalanan pulang ke rumah masing-masing.
Selesai memakai krim malam, Zahra lalu ikut bergabung bersama sang suami, dan berbaring di dekat Iqbal, mereka harus segera istirahat karena malam sudah semakin larut.