Zahra'Tul Syita

Zahra'Tul Syita
ZahraTul Syita



Waktu terus berlalu, tak terasa saat ini usia kandungan Zahra sudah memasuki bulan ke sembilan, Iqbal selalu siap siaga menemani sang istri kemanapun.


Perkiraan Dokter beberapa waktu lalu saat mereka ke rumah sakit, Zahra akan melahirkan 2 minggu lagi.


Iqbal dan Zahra tidak sabar ingin menyambut buah hati pertama mereka, begitu pun dengan para orang tua.


Setelah usia kandungan Zahra memasuki bulan ke delapan, Iqbal dan sang istri sudah menempati kamar fi lantai bawa. Iqbal tidak mau sang istri kecapean naik turun tangga, apa lagi itu sangat bahaya buat ibu hamil.


"Sayang, mau lagi gak,?" tanya Iqbal saat ini Iqbal dan sang istri berada di ruang tengah sambil menikmati potongan buah apel.


"Mau lagi mas, apel nya toreh dan manis aku suka," ucap Zahra.


"Ini sayang," ucap Iqbal memberikan potongan apel yang ia kupas.


"Makasih ya mas, mas gak makan lagi ya?" tanya Zahra.


"Mas udah cukup sayang, makan 4 potong tadi," ucap Iqbal sambil tersenyum mengelus kepala sang istri.


Lalu Iqbal berganti mengelus perut buncit sang istri, membuat malaikat kecil di dalam perut Zahra meresponnya dengan tendangan.


"Sayang beby nendang," ucap Iqbal tersenyum senang.


"Beby tau kalau yang mengelus mereka adalah ayahnya," ucap Zahra juga.


"Sabar ya sayang, gak lama lagi kita akan bertemu," ucap Iqbal berbisik pelan di depan perut buncit sang istri.


Dan lagi-lagi perkataan Iqbal di respon tendangan beberapa kali oleh beby, membuat kedua pasangan suami dan istri itu tersenyum bahagia.


"Udah cukup mas, aku udah kenyang," ucap Zahra.


"Benar nih sayang udah?" tanya Iqbal lagi.


"Oya mas, aku mau minum aja," ucap Zahra.


"Ya sudah tunggu di sini ya mas ambilkan," ucap Iqbal beranjak dari duduknya.


Iqbal pergi ke dapur untuk mengambilkan air untuk sang istri, sedangkan Zahra menunggu di ruang tengah sambil menonton.


"Sayang kok sendiri, suami kamu mana?" tanya mami Sisil yang baru saja tiba dan sudah terlihat rapi.


"Mas Iqbal lagi ambil air mi di dapur," ucap Zahra.


"Ooh gitu, ya sudah mami pergi dulu ya," ucap mami Sisil.


"Iya mi, mami mau ke mana?" tanya Zahra.


"Mami mau nemanin papi ke acara sayang, papi udah nunggu di kantor, mami pergi dulu ya sayang," ucap mami Sisil.


"Iya mi, mami hati-hati ya," ucap Zahra.


"Iya sayang, daaahh," ucap mami Sisil.


Setelah mami Sisil pamit, Iqbal pun datang sambil membawa air minum untuk sang istri, Iqbal kembali duduk di dekat Zahra.


"Sayang tadi mas dengar suara mami, kemana?" tanya Iqbal.


"Udah pergi mas, katanya mau ke kantor, mau nemanin papi ke acara," ucap Zahra.


"Mungkin ke acara kantor," ucap Iqbal.


"Masih mau duduk di sini apa mau istirahat di kamar?" tanya Iqbal.


"Ke kamar aja mas, aku juga pengen ke kamar mandi," ucap Zahra meletakan gelas kosongnya di atas meja.


"Ya udah ayo mas bantu," ucap Iqbal membantu sang istri berdiri dari sofa.


Iqbal dan Zahra pergi ke kamar mereka yang di lantai bawa, Iqbal membantu sang istri sampai masuk ke dalam kamar.


☘☘☘☘


Kalau usia kandungan Zahra memasuki bulan ke 9, maka usia kandungan Mutiara sudah memasuki bulan ke 5, terlihat perut Mutiara juga sudah mulai membuncit sekarang.


"Nak, mau ke mana?" tanya bunda melihat sang menantu.


"Gak tau sama mas Zaki bun, tadi nelpon minta Mutiara siap-siap," jawab Mutiara.


"Suami kamu mau jemput?" tanya Bunda.


"Iya bunda, aku juga gak tau mau ke mana," ucap Mutiara sambil tersenyum.


"Bunda, ayah mana kok gak keliatan ya?" tanya Mutiara melihat ke sekeliling.


"Ayah lagi di kamar sayang, biasa lagi meriksa laporan kantor," ucap Bunda.


Tak lama kemudian suar deru mobil Zaki terdengar berhenti di halaman depan, Mutiara pun beranjak dari duduknya untuk menyambut kedatangan sang suami.


"Assalamualaikum,, bun, sayang," ucap Zaki.


"Waalayikumsalam," ucap bunda dan Mutiara.


"Sayang sudah siap?" tanya Zaki melihat sang istri.


"Udah mas, mas mau ajak aku kemana?" tanya Mutiara.


"Ada aja, kejutan sayang ayo," ucap Zaki.


"Bunda, aku sama istri aku pamit," ucap Zaki.


"Iya sayang, kalian hati-hati ya," ucap bunda.


"Iya bunda," ucap Zaki dan Mutiara.


Setelah menyalami punggung tangan bunda, Zaki dan sang istri kembali masuk ke dalam mobil, Mutiara masi penasaran kemana suaminya itu akan membawanya pergi.


Mobil keluar dari halaman rumah, tapi Zaki masi engan mengatakan akan kepergian mereka.


"Mas, mau ke mana sih kok pake rahasia segala," ucap Mutiara.


"Iya sayang, mas mau kasih kejutan buat kamu, kamu lupa ya hari ini hari apa?" tanya Zaki melihat sang istri.


"Ini hari Rabu mas, gak mungkin lah aku lupa," ucap Mutiara.


Rupanya Mutiara hanya mengingat harinya saja, tapi tidak mengingat tanggalnya. Zaki mengajak sang istri ke suatu tempat, karena hari ini adalah hari ulang tahun sang istri, tapi Mutiara tidak mengingatnya sama sekali.


Tak lama kemudian mobil yang di kendarai oleh Zaki memasuki salah satu restoran, sebelum turun Zaki mengikat kedua mata sang istri mengunakan kain kecil, Mutiara pun hanya menuruti saja apa perkataan sang suami.