Zahra'Tul Syita

Zahra'Tul Syita
ZahraTul Syita



Zahra terlihat sedang mengusap perutnya yang buncit, senyum manis terbit di bibit ibu hamil itu saat merasakan tendangan dari sang bayi yang ada di dalam perutnya.


"Sayang kamu aktif banget ya, suka banget nendang," ucap Zahra masi mengusap perutnya.


"Sayang, lagi apa hheemm?" tanya Iqbal yang baru saja datang.


"Lagi ngobrol sayang sama dedek, nih dari tadi dedek selalu nendang," ucap Zahra sambil tersenyum.


"Sayang, kamu lagi main ya sama bunda?" tanya Iqbal di depan perut buncit sang istri.


"Tuh kan mas, dedek nendang lagi nih," ucap Zahra sambil tersenyum.


"Sayang, dedek gak sabar pengen main bola sama ayah deh kayaknya," ucap Iqbal.


"Benar sayang, kami mau main bola sama ayah ya," ucap Zahra yang mendapat respon tendangan dari dedek lagi.


Iqbal lalu memperlihatkan sesuatu yang di bawa olehnya itu.


"Liat deh mas bawa apa sayang," ucap Iqbal.


"Ini apa mas?" tanya Zahra.


"Buka aja," ucap Iqbal.


Dan Zahra pun mulai membuka paper bang yang di berikan oleh sang suami, kedua mata Zahra berbinar melihat isi dalam paper bang itu.


"Mas, ini serius," ucap Zahra mengambil benda yang di berikan oleh sang suami.


"Untuk istri mas, kamu suka gak?" tanya Iqbal.


"Aku suka banget mas, makasih ya mas," ucap Zahra.


Rupanya Iqbal memberikan Zahra hadiah gelang cantik, Iqbal lalu langsung memakaikan di lengan sang istri dengan lembut. Membuat Zahra tersenyum melihat itu.


"Cantik kalau di pakai sama istri mas," ucap Iqbal membawa sang istri dalam pelukannya.


"Makasih ya mas, oh iya mas kata Tiara ntar malam mau ke sini mas, sama suaminya," ucap Zahra.


"Iya sayang sayang, Erik tadi juga nelpon mas ngasih tau," ucap Iqbal.


Iqbal kembali mengusap perut besar sang istri dengan lembut, tak lama lagi Zahra akan segera melahirkan, karena perkiraan dokter usia kandungan Zahra sudah masuk bulan ke sembilan.


"Masuk yuk," ucap Iqbal.


"Iya mas," ucap Zahra juga.


Iqbal membantu sang istri masuk ke dalam, jam saat ini sudah menunjukan pukul 4 sore, Zahra juga harus segera membersihkan diri, sebelum hari semakin sore.


☘☘☘☘


Pulang kantor Zaki mampir membeli mangga muda permintaan ibu hamil, sudah tiga tempat penjual buah Zaki datangi tapi mangga mudanya kosong.


"Harus cari di mana lagi ya, nanti kasian anak ku," ucap Zaki kembali masuk ke dalam mobil.


Zaki menjalankan mobilnya dengan pelan, sambil sesekali mata Zaki melihat pinggiran jalan kalau ada penjual buah keliling. Tiba di pembelokan, Zaki melihat seorang kakek mendorong gerobak kecil berisikan buah-buah.


Zaki pun menepikan mobilnya dan turun, lalu mendekati kakek itu.


"Kek,,,," panggil Zaki.


"Nak, mau beli buah?" tanya kakek.


"Iya kek, apa ada mangga muda kek?" tanya Zaki.


"Ada nak, ini tinggal sekilo juga," ucap kakek.


"Saya beli ya kek, buat istri saya lagi ngidam di rumah pengen mangga muda)" ucap Zaki sambil tersenyum.


"Iya kek, ini kakek jualan dari pagi ya keliling?" tanya Zaki berbincang di sela menunggu buah mangga.


"Gak pagi juga nak, kakek kelilingnya nanti udah jam 10, Alhamdulillah,, dagangan kakek hari ini laku banyak," ucap kakek.


"Berapa sekilonya mangga kek?" tanya Zaki.


"25.000 aja nak," ucap kakek memberikan plastik berisi buah mangga.


Zaki mengambil tas itu, lalu Zaki mengambil uang dari saku celananya dan membayar pada kakek itu.


"Sisa nya 75.000 ya nak," ucap kakek.


"Kembaliannya ambil buat kakek aja, anggap aja rejeki dari saya kek, kalau gitu saya pamit dulu ya kek," ucap Zaki.


"Benar ini nak, makasih banyak ya, semoga anak dan istri nya sehat selalu," ucap kakek itu.


"Amin, makasih ya kek," ucap Zaki lalu kembali lagi ke mobil.


Perasaan Zaki sudah tenang, karena mangga permintaan sang istri sudah dapat, Zaki lalu menjalankan mobilnya pulang ke rumah.


☘☘☘☘


Emon tak mau ketinggalan ke manapun kaka cantiknya itu pergi. Seperti saat ini mendengar sang kaka akan pergi ke rumah Iqbal dan Zahra pun bocah kecil itu langsung bersiap-siap.


"Sayang gak papa adik kamu ikut?" tanya mama Erik pada sang putra.


"Gak papa ma, kan cuma main ke rumah Iqbal aja," ucap Erik yang saat ini sedang menunggu sang istri.


"Ya sudah, tungguin tuh adik kamu lagi ganti baju," ucap mama Erik.


"Iya ma, Erik liat Tiara dulu ya ma," ucap Erik.


"Iya sayang, biar mama liat adik kamu," ucap mama Erik.


Erik pergi ke kamar, tapi pas hendak membuka pintu, tiba-tiba Tiara sudah bersiap hendak keluar.


"Mas, mau ke mana?" tanya Tiara.


"Mau liat kau sayang, habis lama sih," ucap Erik sambil tersenyum.


"Maaf ya mas, tapi ini udah siap kok," ucap Tiara sambil tersenyum.


"Sayang adik ikut, gak papa kan?" tanya Erik.


"Ya gak papa dong mas, malahan aku suka adek ikut rame," ucap Tiara.


"Rame apaan nanti ujung-ujungnya aku di cuekin lagi," ucap Erik cemberut.


"Hehehe, udah jangan ngambek, ayo berangkat adek mana?" ucap Tiara.


"Lagi di panggilin tuh sama mama di kamar," ucap Erik.


"Kak, Emon udah siap nih, berangkat sekarang yu," ucap bocah kecil itu.


"Ayo sayang," ajak Tiara juga.


"Ma, kita pamit dulu ya," ucap Erik dan Tiara.


"Iya sayang, kalian hati-hati ya," ucap mama Erik.


"Iya ma," ucap Erik, Tiara dan juga Emon.


Erik, Tiara dan juga Emon pun keluar dari dalam rumah, ketiganya masuk ke dalam mobil yang terparkir di garasi mobil. Kemudian mobil keluar dari halaman rumah besar.