Zahra'Tul Syita

Zahra'Tul Syita
Ayah Sakit



Setelah di lamar oleh Zaki, Mutiara masi tetap menjadi sekertaris dari calon suaminya itu. Seperti saat ini Mutiara sedang merapikan beberapa berkas yang akan di tandatangani oleh Zaki.


Tokk...


Tokk...


"Masuk" ucap Zaki dalam dalam ruangannya.


Mutiara masuk dan langsung meletakan berkas-berkas yang ia bawa di atas meja Zaki, membuat Zaki melihat ke arah sang calon istri.


"Sayang buatin kopi dong" ucap Zaki.


"Ini kan masi pagi kok udah minta kopi sih" tanya Mutiara.


"Iya habis datang-datang ngantuk sih" ucap Zaki sambil tersenyum.


"Ya sudah tunggu sebentar ya" ucap Mutiara keluar dari ruangan Zaki.


Zaki memeriksa berkas yang di bawa oleh Mutiara tadi.


Clekk...


Zaki melihat ke arah pintu, Zaki kira yang datang adalah Mutiara. Ternyata ayah Adrian.


"Yah" sapa Zaki.


"Nak, ayah bisa minta tolong sama kamu?" hanya ayah.


"Minta tolong apa yah?" tanya Zaki melihat sang ayah.


"Nanti siang ayah ada meeting dengan klien di luar, tapi sepertinya asam urat ayah kambuh ini jadi gak bisa ke sana.


"Ayah mau pulang aja" tanya Zaki kuatir.


"Iya nak, sepertinya ayah mau pulang aja, pak sopir udah di jalan" ucap ayah.


"Ya udah ayah duduk dulu di sini ya" ucap Zaki membantu sang ayah duduk di sofa.


"Makasih ya nak" ucap ayah Adrian.


Tak lama kemudian Mutiara datang dengan membawa segelas kopi yang Zaki minta.


"Ayah kenapa" tanya Mutiara setelah meletakan kopi itu di atas meja.


"Asam uratnya ayah kamu sayang" ucap Zaki.


"Apa ayah udah minum obat?" tanya Mutiara.


"Belum nak, obat asam urat nya ayah ada di rumah" ucap ayah.


"Mutiara ambilkan air ya yah" ucap Mutiara.


"Iya nak, terimakasih ya" ucap Ayah Adrian.


"Iya ayah" ucap Mutiara berlalu dari hadapan Zaki dan ayah. Sedangkan Zaki duduk di dekat sang ayah.


☘☘☘☘


Iqbal dan Dimas siang ini ada rapat di kator papa nya Erik, Iqbal dan Dimas keluar dari lift dan berjalan ke arah di mana ruangan Erik berada.


Clekk...


"Wih, keren banget bro" ucap Iqbal melihat penampilan sang sahabat.


"Iya dong, gue pengen ngobrol sama sahabat gue yang udah jadi menejer" ucap Iqbal.


"Loh bisa aja" ucap Edit tersenyum.


Iqbal, Erik dan Diman mengobrol sambil menunggu jam rapat tiba, sesekali ketiga pria itu tertawa.


Sedangkan Aldo juga sudah mulai kerja di kantor sang papa, berbeda dengan Iqbal dan Erik yang sekarang bisa bertemu, Aldi di minta untuk memimpin perusahaan yang ada di luar kota saat ini.


"Kapan Aldo balik?" tanya Iqbal.


"Katanya minggu depan, gak tahan di di sana" ucap Erik.


"Terus gimana sama Tiara" tanya Iqbal.


"Nyokap minta di ajak ke rumah, adek gue udah cerita anjang banget soal Tiara" ucap Erik.


"Ya bagus dong, itu tandanya nyokap loh suka sama Tiara" ucap Iqbal.


"Iya bro, gue pengen cepat-cepat nikahin Tiara" ucap Erik.


"Wih, tumben loh pengen ngebet" tanya Iqbal.


"Loh aja dulu juga gitu kan" tanya Erik balik.


"Hahaha,," Iqbal tertawa terbahak-bahak melihat wajah kesal Erik.


Setelah jam rapat tiba, Iqbal, Erik dan Diman pun pergi ke ruangan rapat, di sana sudah ada papa Erik dan para rekan bisnis yang lain.


☘☘☘☘


Ayah Adrian tiba di rumah, Zahra dan bunda membantu ayah duduk di salah satu sofa, Lalau Zahra duduk di dekat sang ayah.


"Ayah bunda panggilkan dokter ya" ucap bunda.


"Gak usah bunda, ayah mau minum obat aja nanti juga hilang" ucap ayah.


"Ayah yakin?" tanya bunda.


"Iya bunda" jawab ayah.


"Sebentar bunda ambilkan obat dulu ya" ucap bunda pergi ke kamar untuk mengambil obat untuk ayah.


Sedangkan Zahra masi duduk di dekat sang ayah, dan mengusap lembut tangan sang ayah. Zahra dan Iqbal masi berada di kediaman ayah dan bunda saat ini.


Tak lama kemudian bunda kembali dengan membawa obat yang ia ambil, Zahra lalu pergi ke dapur untuk mengambil air puti untuk sang ayah.


"Sini sayang biar bunda yang pegang" ucap bunda mengambil air puti dari tangan sang putri.


"Ini obat nya yah" ucap bunda.


Ayah Adrian langsung meminum obat yang di berikan oleh sang istri, lalu ayah kembali memberikan gelas kosong itu pada bunda.


"Sekarang ayah istirahat ya" ucap bunda.


"Iya bunda, ayah mau istirahat di sini dulu ya" ucap ayah.


"Ya sudah" ucap bunda membantu sang suami berbaring di kursi sofa.


Bersambung....