
Zahra dan Iqbal saat ini sedang bersiap-siap untuk ikut bersama bunda, ayah dan abang Zaki ke rumah sang kekasih.
"Ayo sayang, semuanya sudah menunggu di bawa" ajak Iqbal.
"Ayo mas" ajak Zahra juga.
Pasangan suami dan istri pun keluar dari kamar turun ke lantai bawa, di bawa semuanya sudah menunggu.
"Kalau semuanya sudah siap, kita berangkat sekarang ya" ucap Ayah.
"Iya yah" ucap semuanya.
Iqbal dan Zahra naik mobil Iqbal, sedangkan Ayah, bunda dan Abang Zaki menaiki mobil ayah. Mobil pun keluar dari halaman rumah.
"Abang kok tegang gitu?" tanya bunda.
Sedangkan ayah hanya tersenyum melihat putra laki-lakinya itu, ayah mengerti karena ia juga pernah di posisi sang putra dulu.
"Ayah dulu juga gitu nak, waktu mau ngelamar bunda" ucap Ayah tersenyum melihat sang istri.
"Ayah masi ingat ya" ucap bunda.
"Iya lah bun, ayah gak akan pernah lupa itu" ucap ayah.
Gak lama kemudian dua mobil tiba di halaman rumah Mutiara, Iqbal terlihat membukakan pintu mobil untuk sang istri.
Terlihat bunda, ayah dan Zaki juga turun dari dalam mobil.
Kedatangan mereka semua di sambut dengan hangat oleh kedua orang tua Mutiara.
"Assalamualaikum" ucap ayah dan yang lain.
"Waalayikumsalam, mari pak, buk, nak Zaki dan nak Zahra juga suami masuk" ucap bapak Mutiara.
"Makasih pak, buk" ucap bunda dan ayah.
Semuanya di persilahkan duduk di ruang tamu, ibu lalu memanggil sang putri yang ada di kamar kalau tamu yang mereka tunggu sudah datang.
Mutiara keluar bersama sang ibu, dan menyalami punggung tangan kedua orang tua Zaki bergantian, lalu Mutiara duduk di dekat kedua orang tuanya.
Zaki menatap sang kekasih sambil tersenyum, membaut Mutiara menunduk malu. Dan hal itu tak luput dari pandangan Zahra yang juga tersenyum.
"Nak Zahra udah berapa bulan kandungannya" tanya ibu Mutiara.
"Baru mau jalan tiga bulan bu" ucap Zahra.
"Sehat selalu ya sama calon beby nya nak" ucap ibu Mutiara.
"Terimakasih bu" ucap Zahra.
Setelah mengobrol cukup lama, ayah langsung mengutarakan niat baik mereka datang ke rumah Mutiara.
"Pak, bu, pasti kalian sudah tau mengenai kedatangan kami kemari" ucap ayah.
"Iya pak, Andi putri kamu sudah mengatakannya" ucap bapak Mutiara.
"Niat baik kami adalah ingin melamar putri bapak, untuk menjadi istri sekaligus pendamping hidup putra kami Zaki" ucap ayah Andi.
"Nak, bagaimana jawaban kamu" tanya bapak.
Mutiara mengangkat wajahnya dan melihat Zaki yang duduk di dekat sang ayah, Zaki sangat ingin mendengar jawaban dari Mutiara.
"Iya Mutiara menerima lamaran abang Zaki" ucap Mutiara sambil tersenyum.
"Alhamdulillah" ucap semuanya yang ada di situ.
Semaunya tersenyum karen a bahagia dengan lamaran Zaki yang langsung di terima oleh Mutiara.
Tanggal pernikahan pun langsung di bicarakan oleh mereka, ayah dan bapak Mutiara sudah sepakat kalau satu bulan lagi Zaki dan Mutiara akan segera menikah.
Selesai mengobrol lamar, bapak sama ibu Mutiara mengajak semuanya untuk makan malam, karena semaunya sudah siap di atas meja.
"Mari bu, pak andi semaunya jangan sungkan" ucap bapak Mutiara.
Semaunya duduk di kursi ruang makan, Zahra melihat ada menu masakan kesukaannya di sana.
"Ayo silahkan semuanya" ucap tuan rumah mempersilahkan.
Sedangkan Mutiara menatap Zaki yang sedari tadi bingung mau ambil menu apa, Mutiara pun langsung bertanya pada Zaki.
"Abang mau menu yang mana, biar aku ambilkan" tanya Mutiara.
"Yang ini saja" ucap Zaki.
Mutiara pun langsung mengambilkan menu yang di tunjuk oleh Zaki, membuat ayah dan bunda tersenyum melihat itu, baru di lamar saja Mutiara sudah sangat perhatian dengan putra mereka.
"Sayang kamu mau ambil menu apa" tanya Iqbal ada sang istri.
"Itu aja mas" ucap Zahra menunjuk menu kesukaannya.
Suasana meja makan berlanjut dengan riang, kedua orang gua Mutiara tak henti-hentinya meminta tamu mereka untuk menambah lauk pauk yang masi banyak.
"Enak banget mas" ucap Zahra.
"Iya pelan-pelan makannya ya" ucap Iqbal.
"Iya mas" ucap Zahra.
Setelah hamil, Zahra memeng sering banyak makan bahkan baru beberapa menit makan aja, udah mau minta makan lagi.
Mutiara tersenyum melihat calon adik iparnya yang sedang di perhatianin oleh suaminya.
"Kenapa?" tanya Zaki.
"Gak papa kok bang" ucap Mutiara.
"Abang mau nambah nasi?" tanya Mutiara.
"Iya dikit aja" jawab Zaki, Mutiara pun mengambilkan sedikit nasi dan menaruh di piring Zaki.
Bersambung....