
Selesai sarapan Iqbal dan sang istri pamit pada bunda dan ayah, saat ini mereka berada di ruang tengah.
"Sayang jadi istri yang sholeha ya sama selalu nurut apa kata suami kamu" nasehat bunda pada sang putri yang saat ini sudah menjadi seorang istri.
"Iya bunda, Zahra akan selalu ingat nasehat bunda" ucap Zahra memeluk sang bunda dengan erat.
"Udah gak usah sedih, kalau kangen kan bisa ke sini ketemu bunda, ayah dan abang" ucap bunda.
"Iya bun, kita pamit ya" ucap Zahra.
"Iya sayang" ucap bunda.
"Ayah, kita pamit ya" ucap Zahra.
"Iya sayang, Iqbal titip putri ayah ya" ucap ayah Adrian.
"Pasti yah, kalau begitu kami pamit ya, ayah, bunda titip salah sama abang" ucap Iqbal memeluk kedua mertua nya, di susul juga oleh Zahra.
"Salam ayah sama bunda buat papi dan mami kalian ya" ucap ayah Adrian.
"Iya ayah" ucap Iqbal.
Pasangan pengantin baru itu masuk ke dalam mobil setelah keluar dari rumah Zahra, tujuan mereka saat ini adalah kediaman Gunawan. Di sana mami Sisil dan papi Mario sudah menunggu kedatangan mereka.
Iqbal yang melihat sang istri tidak mengunakan sabuk pengaman pun dengan siap Iqbal memakaikan nya.
"Kaka mau ngapain" tanya Zahra panik melihat sang suami mendekat.
"Kamu belum pakai sabuk pengaman sayang" ucap Iqbal sambil tersenyum.
Zahra hanya menunduk malu karena sudah berpikiran yang enga-enga pada sang suami, Iqbal tersenyum geli melihat wajah malu-malu sang istri.
"Sudah siap" tanya Iqbal.
Zahra hanya mengangguk kepala karena masih malu melihat sang suami, Iqbal menjalankan mobilnya keluar dari kediaman sang mertua, sesekali Iqbal melirik sang istri yang sedang melihat keluar jendela.
Tak lama kemudian mobil yang di kendarai oleh Iqbal memasuki halaman besar rumah Keluarga Gunawan, terlihat mami Sisil dan papi Mario sudah menunggu kedatangan mereka.
"Sayang, akhirnya kalian datang juga mami sama papi udah nungguin kalian dari tadi loh" ucap mami Sisil memeluk menantu dan anaknya, di gantikan oleh papi Mario.
"Ayo masuk" ajak papi Mario.
Mereka semua masuk ke dalam rumah besar itu, Zahra meli rumah yang lebih besar dari rumah mereka.
"Pi, Mi ada salam dari ayah, sama bunda" ucap Iqbal.
"Walaikumsalam" ucap papi Mario dan mami Sisil.
Mereka duduk di ruang keluarga sambil mengobrol perihal bulan madu, tapi Iqbal dan Zahra menunda bulan madu mereka karena Zahra sedang sibuk dengan kuliahnya dan juga Iqbal dengan pekerjaan kantor. Tapi nanti mereka akan pergi untuk pulan madu.
Di sisi lain, Zaki saat ini sedang sarapan di salah satu restoran bersama sang kekasih, rencananya ia juga akan segera melamar sang kekasih untuk menjadi istrinya, hanya tinggal menunggu waktu yang tepat.
"Sayang kamu tuh makannya belepotan tau" ucap Zaki mengambil tisu dan membersihkan sudah bibir sang kekasih dengan tisu.
Hal itu membuat Mutiara tersenyum malu, karena saat ini juga pengunjung restoran sedikit ramai.
Zaki tersenyum melihat wajah memerah sang kekasih karena malu, sedangkan Mutiara hanya menunduk malu.
"Memangnya kolong meja lebih tampan ya dari aku, sampai kamu liatnya lama banget" goda Zaki.
"Ih kamu apaan sih" ucap gadis yang berkerudung abu itu.
Zaki tersenyum geli melihat wajah kekasihnya yang begitu mengemaskan di matanya, hal itu membuat Zaki tak henti-hentinya untuk menggoda Mutiara.
"Kamu tuh makin gemesin tau gak" ucap Zaki lagi.
"Ish, udah ah, ayo kita ke kantor nanti telat lagi" ucap Mutiara mengajak pria yang suka menggoda nya itu.
"Gak papa dong kalau telat, kan aku bos nya" jawab Zaki.
"Iya tapi aku gak mau nanti karyawan lain mikirnya lain sama aku" ucap Mutiara.
"Gak usah di dengerin apa kata mereka" ucap Zaki.
Mutiara memang selalu kalah kalau berdebat dengan pria yang berstatus kekasihnya itu, Zaki akan selalu menang.
"Terserah kamu aja deh" ucap Mutiara mengalah.
Tak lama kemudian Zaki mengajak sang kekasih berangkat ke kantor bersama, Ini kali pertama mereka ke kantor bersama entah apa nanti pikiran para karyawan kantor yang lain.
Zaki melihat wajah Mutiara yang cemas setelah mobil keluar dari parkiran restoran itu.
"Sayang ada apa" tanya Zaki sesekali melihat gadis berhijab itu.
"Nanti aku turun di depan pos satpam ya, aku gak enak sama karyawan lain" ucap Mutiara.
Zaki mengernyit kening nya heran mendengar perkataan Mutiara.
"Memangnya kenapa" tanya Zaki.
"Aku gak mau nanti karyawan mikirnya aku manfaatin kamu" ucap Mutiara.
Zaki hanya tersenyum saja, entah apa yang ada di pikiran pria itu, hanya dialah yang tau.
Bersambung....
Jangan lupa Like, Komen sama Vote ya...