
Zaki dan sang istri bersiap-siap akan kembali ke rumah Zaki, hari ini Zaki akan memboyong sang istri ke kediaman rumah Zaki.
Mutiara hanya membawa beberapa baju saja, karena nanti pasti mereka akan datang menginap juga di ruang Mutiara.
"Sayang kamu sudah siap?" tanya Zaki melihat sang istri.
"Udah bang" jawab Mutiara.
"Nanti kapan-kapan kita menginap di rumah bapak sama ibu ya" ucap Zaki mengelus jangan sang istri.
"Iya bang" jawab Mutiara.
Zaki dan Mutiara lalu keluar dari kamar, ibu dan bapak sudah menunggu di rumah tamu.
"Nak, kamu sudah siap?" tanya ibu melihat putri semata wayangnya.
"Udah ibu" jawab Mutiara.
"Dengar-dengar apa kata suami kamu yang nak" ucap ibu.
"Iya ibu, Mutiara akan selalu dengar sama suami Mutiara" ucap Mutiara memeluk sang ibu dengan erat.
"Sering-sering main ke sini ya" ucap ibu melepas pelukannya dari Mutiara.
"Iya ibu, bapak kita akan sering menginap di sini kok" ucap Zaki.
"Makasih ya nak Zaki" ucap bapak.
"Sama-sama bapak" ucap Zaki sambil tersenyum.
"Kalian hati-hati di jalan ya, salam bapak sama ibu buat ayah sama bunda" ucap ibu.
"Iya ibu nanti kita sampaikan salam ibu dan bapak ya)" ucap Zaki, yang mendapat anggukan dari ibu dan bapak.
"Kalau gitu kita pamit ya ibu, pak" ucap Zaki menyalami tangan kedua mertuanya, lalu di susul oleh Mutiara juga.
"Kita pamit ya ibu, bapak" ucap Mutiara juga.
"Iya sayang" ucap ibu dan bapak.
Zaki dan Mutiara masuk ke dalam mobil Zaki yang terparkir di luar rumah, ibu dan bapak juga mengantar keduanya ke halaman rumah.
Mobil Zaki pun keluar dari halaman rumah Mutiara, Zaki melihat sang istri yang duduk di dekatnya.
"Sayang" panggil Zaki melihat sang istri.
"Iya bang, ada apa?" tanya Mutiara.
"Karena kamu masi sekertaris aku, meja kerja kamu nanti ada di dalam ruangan aku juga" ucap Zaki.
"Apa gak papa bang" tanya Mutiara.
"Gak papa, kita kan udah sah jadi suami dan istri" ucap Zaki sambil tersenyum.
"Iya aku ikut apa kata abang aja" ucap Mutiara.
Tak berselang lama, mobil yang di kendari Zaki memasuki halaman rumah Zaki. Zaki mengajak sang istri turun dari mobil di dalam ayah sama bunda juga sudah menunggu kedua pasangan pengantin baru itu.
"Waalayikumsalam sayang, bunda sama ayah nungguin kalian dari tadi loh" ucap bunda memeluk sang menantu.
"Ayo nak masuk" ajak ayah sama bunda.
Zaki membawa masuk tas milik sang istri, sedangkan Mutiara sudah di bawa masuk duluan oleh bunda.
☘☘☘☘
Iqbal yang sedang sibuk di kantor mendadak mendapat telpon dari sang istri, kalau saat ini Zahra sangat ingin makan buah salak.
Iqbal pun meninggalkan pekerjaan nya hanya untuk mencari buah salak permintaan sang istri, Iqbal sangat bersyukur karena ngidam nya sang istri masi yang wajar saja. Tidak seperti mami nya mengidam waktu hamil Iqbal dulu.
Iqbal memikirkan mobilnya di depan penjual buah di pinggir jalan, Iqbal lalu turun dari mobil dan mendekati penjual buah itu.
"Mas, mau cari apa?" tanya penjual buah melihat Iqbal.
"Bang, ada buah salak gak? istri saya lagi ngidam" ucap Iqbal.
"Salak ada mas, ini masi fress" ucap penjual sambil mengangkat se okih buah salak.
"Sekilonya berapa bang?" tanya Iqbal.
"20 ribu aja mas" ucap penjual.
"Dua kilo deh bang" ucap Iqbal.
"Sebentar saya timbang sulu ya mas" ucap si penjual, lalu ia menimbang buah salak.
"Ini mas" pak penjual memberikan tas berisi dua kilo buah salak.
"Ini bang, kembaliannya buat abang aja" ucap Iqbal sambil tersenyum.
"Alhamdulillah makasih ya mas, semoga istri mas sama bayi nya sehat walafiat" ucap penjual.
"Amin, makasih ya bang saya permisi dulu" ucap Iqbal.
"Iya mas silahkan" ucap si penjual.
Iqbal kembali masuk ke dalama mobil, kemudian mobil itu kembali melaju di jalan raya, Iqbal sudah mendapat buah yang di minta oleh sang istri, saat ini Iqbal akan pulang ke rumah.
Setelah menempuh perjalanan hampir 30 menit, akhirnya mobil Iqbal memasuki gerbang rumah mereka.
Iqbal memikirkan mobilnya lalu turun dari mobil dan tidak lupa membawa tas yang berisikan buah salak, Iqbal masuk ke dalam rumah dan mencari keberadaan sang istri.
"Assalamualaikum" ucap Iqbal.
"Waalayikumsalam mas" jawab Zahra yang sedang membaca buku di ruang tengah.
"Mas bawa salak permintaan istri mas" ucap Iqbal duduk di dekat sang istri.
Wajah Zahra berbinar melihat buah yang ia inginkan saat ini sudah ada di atas meja.
Bersambung...