Zahra'Tul Syita

Zahra'Tul Syita
Kekuatiran Iqbal



Zahra baru saja keluar dari kamar mandi dengan handuk yang membungkus kepalanya, ia melihat ponselnya terus bergetar. Zahra merai benda pipi itu lalu melihat si penelpon yang tak lain adalah calon suaminya.


"Hallo... Assalamualaikum kak" ucap Zahra setelah panggilan telpon dari Iqbal tersambung.


"Sayang maaf ya aku gak bisa jemput kamu, ada rapat mendadak pagi ini" ucap Iqbal dari seberang telpon


"Iya gak papa kak, nanti Zahra bawa mobil sendiri" ucap Zahra


"Iya sayang kamu hati-hati ya" ucap Iqbal lagi dan panggilan telpon pun berakhir.


Selesai bersiap-siap Zahra turun ke lantai bawa, ia melangkah ke ruang makan Zahra melihat di sana sudah ada Ayah, Bunda dan Zaki abangnya. Zahra duduk di samping Zaki dan memulai sarapannya.


Setelah selesai sarapan Zahra pamit pada kedua orang tuanya, Zahra juga mengatakan ia akan berangkat sendiri. Karena Iqbal ada rapat mendadak pagi ini di kantor.


******


Iqbal tiba di kantor di temani oleh Dimas sekertaris nya. Kedua nya melangkah masuk ke dalam lift untuk menuju lantai ruangan mereka.


Tingg...


Pintu lift terbuka Iqbal dan Dimas masuk ke ruangan masing-masing untuk mempersiapkan berkas-berkas untuk rapat yang akan di langsungkan 15 menit lagi.


Cllekk...


Iqbal melihat pintu ruangannya yang terbuka di lihatnya sang Papi yang melangkah masuk.


"Nak, rapat kali ini akan di hadiri oleh Viona" ucap Mario


Iqbal langsung mengangkat kepalanya melihat sang Papi. Iqbal benci mendengar nama wanita itu, wanita yang sudah menyakiti hatinya waktu SMA dulu karena sakit di khianati Iqbal berubah menjadi seorang Playboy yang tidak pernah percaya yang namanya cinta, suka gonta ganti wanita dan sering mempermainkan wanita. Tapi setelah bertemu dengan Zahra membuat dunia ke playboy an Iqbal hilang karena sosok Zahra, lamunan Iqbal buyar saat sekertaris nya Raka menyentuh pundak Iqbal.


"Bal, rapat akan segera di mulai pak Mario sudah menunggu di ruang rapat" ucap Dimas


"Dim, papi gue tadi bilang ada Viona di rapat kali ini" ucap Iqbal menghela nafasnya dengan kasar


"Viona mantan pacar kamu waktu SMA" tanya Dimas


"Iya, kita ke ruangan rapat" ucap Iqbal langsung berdiri dari kursi besarnya melangkah keluar ruangan itu di ikuti Dimas dari belakang.


Iqbal dan Dimas memasuki ruangan itu, semua yang berada di ruangan itu mengalihkan pandangan nya ke arah pintu yang terbuka, mereka semua memandang biasa saja tak kecuali seorang wanita yang duduk di samping sang ayah.


Iqbal melangkah masuk tampa memperdulikan tatapan Viona yang memandang nya tampa berkedip sama sekali, Iqbal duduk di samping Papi nya di susul oleh Dimas di kursi berikutnya.


"Gila Iqbal tambah ganteng aja, mana udah jadi direktur lagi nyesal gua ninggalin dia dulu" ucap Viona dalam hatinya


Lamunan Viona buyar saat Mario mulai memimpin rapatnya.


Selama rapat berlangsung Viona tak henti-hentinya memandang Iqbal dan Iqbal tak pernah sedikit pun melihat ke arah Viona.


******


Zahra mengendarai mobilnya dengan pelan tiba-tiba ada sebuah mobil yang berniat ingin menyerempet mobil Zahra, Zahra yang melihat mobil yang di sampingnya berusaha menghindar tapi gagal. Zahra menambah kecepatan Mobilnya, mobil yang di samping melaju dengan sangat cepat dan menyerempet mobil Zahra sampai Zahra membelokkan stir mobilnya sehingga menabrak pembatas jalan jidat Zahra terluka mengeluarkan dara lalu ia tak sadarkan diri.


Mobil yang menyerempet Zahra sudah kabur melihat begitu banyak petugas yang me gurumuni mobil Zahra.


Di Gunawan Group...


Drett..Drett..Drett..


Ponsel milik Iqbal tak henti-hentinya bergetar, Iqbal mengambil ponselnya dari saku jasnya. Iqbal mengangkat sebelah keningnya melihat nomor baru yang tertera di layar ponsel nya.


"Angkat saja siapa tau penting" ucap Dimas


Iqbal langsung mengangkat panggilan dari nomor baru itu, belum sempat Iqbal menjawab hallo si penelpon langsung mengatakan Zahra kecelakaan dan sudah di larikan ke rumah sakit.


Iqbal lalu berlari keluar dari ruangan rapat di temani oleh Dimas di belakangnya, kedua pria itu melangkah masuk ke dalam mobil dam meninggalkan area Gunawan Group.


"Dim, tolong cepat dikit nyetirnya" ucap Iqbal keliatan frustasi


Dimas menambahkan kecepatan gas mobil untuk segera sampai di rumah sakit.


30 menit Iqbal dan Dimas memasuki area parkiran rumah sakit. Tampa menunggu lama Iqbal langsung turun dari mobil meninggalkan Dimas.


Iqbal bertanya pada suster-suster yang berjaga di depan.


"Sus pasien yang mengalami kecelakaan barusan di ruangan mana" Iqbal bertanya pada suster


"Pasien yang bernama Zahra'Tul Syita masi berada di ruangan UGD pak ruangannya ada di sebelah kiri lorong ini" ucap suster itu dengan ramah


"Baik terima kasih sua" ucap Iqbal


"Iya sama-sama" ucap suster itu


Iqbal tiba di depan ruangan itu ia melihat ada Zaki dan Mutiara di situ sedang duduk menunggu Dokter keluar.


"Bang Zaki" panggil Iqbal


Zaki melihat ke asal suara, ia melihat calon adik iparnya tenga berdiri tak jauh darinya dengan pandangan kuatir.


Iqbal melangkah mendekati Zaki dan bertanya tentang kondisi Zahra.


"Bang gimana keadaan Zahra" tanya Iqbal


"Dokter masi nanganin Zahra di dalam" ucap Zaki sendu


Tak lama kemudian pintu ruang UGD terbuka lalu keluar seorang dokter wanita yang kira-kira sudah berumur 50 tahun.


Iqbal dan Zaki langsung mendekati dokter itu dan bertanya banyak pertanyaan.


"Dok bagaimana kondisi adik saya" tanya Zaki


"Dok bagaimana kondisi calon istri saya" tanya Iqbal


Dokter melihat Iqbal dan Zaki bergantian lalu mengatakan tentang kondisi pasien.


"Pasien tidak terluka parah hanya memar di bagian jidat saja yang mengakibatkan benturan kecil tapi sudah saya obati" ucap dokter itu


"Apa kami boleh melihatnya dok" ucap Iqbal


"Boleh kebetulan pasien baru saja sadar, kalau begitu saya pamit dulu" ucap dokter itu berlalu dari hadapan mereka


Iqbal, Zaki dan Mutiara masuk ke dalam ruangan itu, Iqbal melihat Zahra terbaring di ranjang pasien merasa tak tega melihatnya.


"Sayang" panggil Iqbal


Zahra menoleh ke asal suara yang sangat ia kenal itu.


"Kak Iqbal" ucap Zahra pelan


Iqbal mendekati Zahra lalu mengusap jidat Zahra yang di perban oleh kain has lalu mengecupnya singkat.


Zahra yang mendapatkan perlakuan seperti itu dari Iqbal merasa sangat malu, bagaimana tidak di ruangan itu bukan hanya ada Zaki dan Mutiara saja tapi ada Dimas juga yang baru masuk dan mereka melihat adegan romantis itu.


Bersambung...