Zahra'Tul Syita

Zahra'Tul Syita
Ngomong Serius



Kediaman rumah Gunawan, Iqbal saat ini bersiap-siap turun ke lantai satu untuk menemui ke dua orang tuanya. Ia menuruni anak tangga, tiba di lantai bawah Iqbal melihat Papi dan Mami nya sedang menonton TV di ruang keluarga.


Iqbal mendekati Mami dan Papi nya lalu duduk di salah satu sofa, tujuan Iqbal kali ini adalah membicarakan tentang ia dan Zahra.


"My, Pi, Iqbal mau ngomong sesuatu" ucap Iqbal


Mario dan Sinta langsung menoleh ke arah sang putra..


"Apa yang mau kamu omongin sayang" kata Sinta


"Iqbal mau nikahin Zahra Pi,Mi" ucap Iqbal tuh dhe poin


Sinta dan Mario kaget dan saling pandang. Anak nya tiba-tiba ngomongin nikah.


"Kamu serius sayang" tanya Sinta


"Iya My, Pi, Iqbal serius" jawab Iqbal


"Kalau itu keputusan kamu Papi sama Mami merestui kalian" kata Mario, ia berencana akan menelpon Adrian setelah ini.


******


Tiara melihat sahabat nya yang sedang termenung.


"Zah, kenapa sih bengong aja" tanya Tiara


"Kak Iqbal ngajakin aku nikah Ra" jawab Zahra


"Yah bagus dong Zah, itu tandanya kak Iqbal serius sama kamu" ucap Tiara


Zahra tersenyum melihat sahabat nya, ia beruntung memiliki sahabat sebaik Tiara.


Ke dua gadis itu berjalan menuju kantin, tampa sengaja Tiara menabrak Erik sahabat Iqbal.


"Loh gak punya mata ya" ucap Tiara kesal


"Maaf manis tadi aku lagi buru-buru jadi gak liat kamu" ucap Erik


"Alesan aja" kata Tiara


"Udah-udah jangan berantem nanti cinta lagi" ucap Zahra


Tiara langsung saja melotot ke arah Zahra dan hal itu membuat Zahra senyum karena berhasil menjahili sahabat nya.


"Aku juga berharap gitu Zah" ucap Erik memandang Tiara


Tiara dengan cepat menarik tangan Zahra berlalu dari hadapan Erik.


"Menarik" ucap Erik


Tiba-tiba Aldo datang menepuk pundak Erik lalu berkata..


"Godain cewek mulu kerjaan loh" kata Aldo


"Kaya lo gak pernah aja" jawab Erik


"Loh mau seperti Iqbal, mau pensiun dari dunia ke play boy iayan" tanya Aldo


"Udah ah ayo kita ke kelas" ucap Erik


Ke dua pria itu pun pergi ke kelas mereka.


******


Mutiara mengetuk pintu ruangan atasan nya. Terdengar sahutan dari dalam, ia langsung masuk untuk mengantarkan berkas-berkas yang akan di tanda tangani oleh direktur.


"Pak, ada berkas yang harus bapak tanda tangani" ucap Mutiara menyerahkan berkas nya


Zaki langsung membuka map nya lalu membaca isi berkasnya, ia lalu menanda tangani berkas itu.


Zaki memberikan berkasnya lagi pada Mutiara.


"Jam berapa rapat bersama Gunawan Group" tanya Zaki


"Baik kalau begitu kamu atur tempatnya" jawab Zaki


"Baik pak" ucap Mutiara lalu kembali ke meja kerjanya


Waktu sudah menunjukan pukul 12 siang saat ini Zaki yang di ikuti oleh Mutiara dari belakang berjalan memasuki lift, tak ada pembicaraan di antara ke duanya hanya ada keheningan. Zaki dan Mutiara menaiki mobil milik Zaki hal itu tak luput dari pandangan wanita yang berusaha menggoda Zaki tempo hari.


"Seharusnya aku yang bersama pak Zaki sekarang bukan perempuan itu" ucap wanita itu


Mobil yang di kendarai oleh Zaki dan Mutiara kini memasuki parkiran restoran, ke dua nya turun dari mobil lalu berjalan memasuki restoran itu menuju ruangan VVIP. Terlihat dua orang pria tampan sedang duduk di ruangan itu.


Iqbal langsung menyapa Zaki.


"Bang" ucap Iqbal berdiri memeluk Zaki seperti pelukan lelaki


Zaki menyambut pelukan Iqbal, lalu duduk di di kursi kosong di ikuti oleh Mutiara, Iqbal menatap Mutiara lalu beralih menatap Zaki.


Zaki yang mengerti arti tatapan Iqbal langsung memperkenalkan Mutiara.


"Kita makan siang dulu aja nanti selesai itu kita bahas tentang pekerjaan" ucap Zaki yang di anggukan oleh ke tiga nya.


1 Jam mereka membahas pekerjaan, saat ini ke empat orang itu keluar dari ruang VVIP.


"Bang, aku langsung balik ya mau langsung jemput Zahra" ucap Iqbal


"Iya hati-hati ya" ucap Zaki


Iqbal dan Raka langsung masuk ke dalam mobil Iqbal, begitu pun dengan Zaki dan Mutiara ke dua nya saat ini sudah berada di dalam mobil, Zaki menjalankan mobilnya di tenga-tenga perjalanan ada sebuah motor yang menghadang mobil mereka.


"Pengemudi motor itu langsung turun dan mengetuk kaca mobil Zaki.


"Hey, buka pintu nya" ucap preman itu


"Jangan keluar dari mobil" ucap Zaki lalu turun dari mobil dua preman itu langsung menghajar Zaki.


Mutiara yang melihat Zaki bertarung dengan dua preman menjadi sangat ketakutan tak tau apa yang harus ia lalukan.


Salah satu preman berhasil memegang ke dua tangan Zaki lalu preman yang satunya memukul Zaki dengan keras sontak hal itu membuat Mutiara menangis histeris di dalam mobil, ia lalu turun dan berteriak minta tolong tak lama kemudian datanglah beberapa warga. Ke dua preman itu dengan cepat menaiki motor mereka lalu pergi.


Mutiara berlari mendekati Zaki, ia memapah Zaki masuk ke dalam mobilnya. Melihat kondisi Zaki yang tak memungkinkan Mutiara yang menyetir mobil.


"Pak, kita ke rumah sakit atau langsung ke kantor" tanya Mutiara


"Ke kantor saja" jawab Zaki


Tiba di lobi kantor Mutiara langsung membukakan pintu untuk atasan nya, Zaki berjalan menuju lift di ikuti oleh Mutiara di belakang nya.


Tiba di lantai 10 Zaki berjalan menuju ruangan nya sebelum ia masuk ke ruangannya ia sempat berkata pada Mutiara.


"Tolong bawakan air hangat ke ruangan saya" ucap Zaki


"Baik pak" jawab Mutiara


Mutiara langsung mengambilkan air hangat untuk atasan nya. Ia berjalan masuk ke dalam ruangan Zaki, ia melihat Zaki sedang duduk di sofa memegangi pipi nya yang bekas di pukuli oleh preman tadi.


"Pak, ini air hangatnya" kata Mutiara


Zaki meminta Mutiara duduk di sisi nya lalu menunjuk pipinya yang memar. Mutiara melengos menatap atasan nya.


Melihat Mutiara yang hanya melengos saja Zaki langsung merai tangan Mutiara yang memegang handuk yang habis di bilas air hangat itu mengarahkan ke wajahnya. Mutiara mengusap wajah memar Zaki.


"Aaauuhh..Pelan-pelan dong" ucap Zaki merigis


"Iya-iya maaf ini juga udah pelan" ucap Mutiara kesal


Zaki memandang wajah cantik Mutiara dari jarak yang begitu dekat.


"Cantik" ucap Zaki dalam hatinya.


Mutiara menjadi salah tingkah karena Zaki melihatnya dengan intens, tiba-tiba tangan Zaki langsung memegang tangan Mutiara yang lagi mengusap wajahnya.


Mutiara memberanikan diri menatap wajah tampan Zaki , mata ke duanya saling tatap cukup lama. sampai Mutiara memalingkan wajahnya melihat ke arah lain.