Zahra'Tul Syita

Zahra'Tul Syita
ZahraTul Syita



Iqbal ke luar dari dalam mobil, tak lupa Iqbal membawa paper bang berisi gaun untuk sang istri. Iqbal langsung masuk ke dalam rumah dan melihat Zahra sedang menonton di ruang tengah.


"Assalamualaikum sayang" ucap Iqbal berjalan menghampiri sang istri.


"Waalayikumsalam mas" ucap Zahra menyambut kedatangan sang suami.


"Kok sendiri, mami mana sayang?" tanya Iqbal, karena tak mendapatkan keberadaan sang mami.


"Mami ada di kamar mas" ucap Zahra.


Zahra melihat paper bang yang ada di tangan sang suami, Iqbal lalu memberikan paper bang yang berisi gaun itu pada Zahra.


"Ini" ucap Iqbal menyodorkan paper bang.


"Ini apa mas?" tanya Zahra mengambil paper bang itu dari tangan sang suami.


"Buka aja" ucap Iqbal sambil tersenyum.


Zahra pin membuka paper bang itu, dan melihat isinya.


Senyum terbit di bibir Zahra kalah melihat isi paper bang itu, Zahra mengambil gaun itu dan membukanya.


"Mas, ini bagus banget" ucap Zahra melihat sang suami.


"Itu mas belikan untuk istri mas, besok malam temani mas datang ke acara rekan bisnis ya sayang" ucap Iqbal.


"Iya mas" ucap Zahra.


"Wah ada hijabnya juga" ucap Zahra.


"Iya mas, sekalian beli sama hijabnya" ucap Iqbal.


"Makasih ya mas, tapi apa ini muat kan aku sekarang gendutan" ucap Zahra.


"Muat kok sayang, mas udah tanya sama karyawan butiknya" ucap Iqbal.


"Aku coba dulu ya" ucap Zahra.


"Iya ayo di coba dulu di kamar" ajak Iqbal.


Zahra dan Iqbal lalu pergi ke lantai atas, di mana kamar mereka berada.


Zahra langsung mencoba gaun yang di berikan oleh sang suami, dan benar saja gaunnya muat di badan Zahra.


"Mas pas" ucap Zahra sambil melihat penampilannya di depan cermin.


"Iya sayang, kamu sangat cantik" ucap Iqbal melihat penampilan sang istri.


"Makasih mas" ucap Zahra.


"Iya sayang, kalau gitu mas mandi dulu ya" ucap Iqbal.


"Iya mas" jawab Zahra.


☘☘☘☘


Sepulang kantor, Zaki juga mengajak sang istri mampir di salah satu butik. Mobil yang di kendarai oleh Zaki memasuki parkiran salah satu butik.


"Bang, kita ngapain ke sini?" tanya Mutiara melihat sang suami.


"Ayo sayang ikut aja" ajak Zaki keluar dari mobil.


"Iya tapi kita ngapain ke sini?" tanya Mutiara lagi.


"Beli baju buat kamu, besok temani aku ke acara rekan bisnis ya" ucap Zaki mengandeng tangan sang istri masuk ke dalam butik itu.


"Tapi kan aku masi banyak baju di rumah bang, sayang loh kalau harus beli baru lagi" ucap Mutiara.


"Gak papa sayang, kan beli baju nya gak sering-sering" ucap Zaki.


Sampai di dalam butik, seorang karyawan butik menyambut Zaki dan Mutiara dengan ramah dan sopan.


"Selamat siang mba, mas mau cari apa" tanya karyawan butik.


"Tolong bawa istri saya untuk melihat-lihat gaun" ucap Zaki pada karyawan butik.


"Baik mas, mari mbak bisa ikut saya" ajak karyawan butik.


Mutiara pun ikut melihat gaun yang akan iya beli dan Zaki, karyawan butik menawarkan banyak gaun untuk Mutiara.


Mutiara melihat harga yang terpampang di sana, membuat Mutiara melotot kaget.


"Astaga mahal banget, nih bang Zaki yakin ngajak beli gaun di tempat ini" ucap Mutiara dalam hati.


"Bagaimana mbak, mau ambil yang mana?" tanya karyawan butik.


"Saya panggilkan suami saya dulu ya mbak" ucap Mutiara.


"Baik mbak" ucap karyawan butik.


Mutiara pergi menghampiri sang suami.


"Abang" panggil Mutiara.


"Ada apa sayang, gimana udah ada gaunnya?" tanya Zaki.


"Bang, cari tempat lain aja ya, harganya mahal di sini" ucap Mutiara berbisik pelan pada sang suami.


Zaki tersenyum mendengar perkataan sang istri, ada-ada saja Mutiara ini.


"Gak papa sayang, kita beli di sinis aja ya" ucap Zaki.


"Udah gak usah pikirin harga, oke" ucap Zaki.


Zaki pun meminta karyawan butik untuk mengambil gaun yang di pegang sang istri tadi, lalu segera membayarnya.